LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Fake Identity (Revisi)


__ADS_3

Langit mendung senja telah berganti menjadi langit gelap. Hujan baru saja berhenti menyisakan rintik-rintik gerimis. Langit nampak mulai terlihat berbintang di beberapa titik. Alex duduk santai sambil senderan di kursi teras belakang rumah Morin. Merenung dengan kepala menengadah dan tangan terlipat di depan dada.


Ia menghela nafas dalam udara dingin yang telah membuat kedua telinga dan hidungnya memerah. Syal Zoya di lehernya entah sejak kapan menghilang.


Tiba-tiba ia tersentak saat mendapatkan panggilan masuk yang membuat handphone di saku celananya bergetar. Ia merogoh handphone itu dan sesaat menatap layar untuk mencari tau siapa yang menelponnya.


Nama sang kekasih muncul di layar dan membuatnya tersenyum. Setelahnya ia langsung menjawab panggilan itu dengan perasaan senang.


"Kenapa? Kangen? " Tanya Alex dengan suara lembut.


Iya, kangen banget. Kenapa gak ke sini? Gak ada waktu ya?


Alex terkekeh mendengar kejujuran kekasihnya itu.


"Maaf, di sini hujan. Aku aja masih di rumah Zoya, hujannya baru berhenti. " Lirih Alex karena mulai merasa kedinginan.


Dan sepertinya sang kekasih menyadarinya.


Kamu lagi di luar ya? Kamu pasti kedinginan, suara kamu berubah. Masuk sekarang, Babe. Kamu bisa mati kedinginan, kamu tau itu kan? Jangan bikin khawatir deh!


Lagi-lagi Alex terkekeh.


"Tapi udaranya seger loh, Babe. Kapan lagi kota udaranya seger gini? "


Alex tampak senang menggoda kekasihnya sampai tidak menyadari Morin berdiri di ambang pintu yang menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. Di tangannya nampak sebuah selimut ukuran kecil berwarna hitam dengan corak kuning dan hijau army.


Morin menghela nafas kemudian tersenyum dan akhirnya berjalan mendekati Alex. Memasang selimut itu di tubuh Alex dan membuat teman kecilnya menoleh dengan tatapan terkejut. Handphone masih di tangannya yang tidak ikut berubah posisi.


"Udah gue kasih selimut nih pacar lo, marahin aja Bee. Udah mau mati aja masih senyum-senyum. " Ucap Morin sambil mencondongkan tubuhnya mendekati handphone Alex dan berbicara pada orang di seberang panggilan.


Thanks banget ya, Rin. Gue pengen mukul kepala Alex, dia tuh kebiasaan kayak gitu. Cari mati terus.


Morin terkekeh setelah kembali berdiri tegak sementara Alex masih terdiam di posisi terkejutnya karena Morin yang seenaknya mencondongkan badan di depan Alex dan membuat jarak mereka menipis. Pipi Alex memanas saat melihat wajah Morin dari dekat.


"Mau gue wakili gak? Gue bisa nih mukul pacar lo dengan senang hati. " Tawar Morin pada Bee yang membuat Alex melotot dan mulai menjauhkan handphonenya dari Morin.


Bee tertawa di seberang.


Kalian lagi marahan ya? Tapi boleh deh.


Morin tersenyum sumringah saat masih bisa mendengar jawaban Bee. Matanya menatap jahil pada Alex yang justru balik menatapnya dengan waspada. Morin melakukan peregangan sebelum kemudian melayangkan pukulannya.

__ADS_1


Alex yang sudah waspada dengan cepat menangkap tangan Morin. Dan tanpa diduga tubuh Morin malah oleng karena tenaga Alex yang cukup kuat. Handphone Alex terjatuh ke lantai teras dan membuat handphone itu mati.


Mata sepasang manusia itu terbelalak. Tubuh Morin hampir saja menubruk Alex yang terduduk di kursi jika saja kedua tangannya tidak sigap bertumpu pada bahu Alex.


Keduanya nampak mematung beberapa detik sebelum Alex menjauhkan tubuh Morin. Baru beberapa saat berdiri tegap, Morin langsung memukul kepala Alex saat Alex lengah.


Alex sontak menoleh dan menatap Morin kesal sementara Morin malah tertawa puas. Dibandingkan membalas Morin, Alex lebih memilih mengambil handphonenya yang terlihat tidak tergores sama sekali.


Jari telunjuknya bergerak menekan tombol power dan ternyata handphonenya mati. Ia mencari nomor sang kekasih dan menelponnya. Morin yang merasa akan diabaikan langsung saja pergi meninggalkan Alex di teras.


...***...


Hari baru dimulai dengan terbitnya matahari pagi ini. Tapi, siapa sangka hari baru justru menimbulkan masalah baru untuk sebagian orang. Rico terbangun di apartemennya dengan perasaan terkejut saat pagi ini tiba-tiba ia sudah jadi tranding topik.


Salah satu anak buahnya menelpon pagi ini dan memberitahu kabar itu padanya. Rico tentu saja marah dan langsung berangkat ke kantor pusat saat anak buahnya tengah menunggu di sana untuk membicarakan sesuatu.


Ditengah perjalanan Ayahnya tiba-tiba menelpon. Ia berdecak dengan wajah marahnya sebelum kemudian menjawab panggilan itu. Rico menghela nafas sebelum mulai bicara.


"Kenapa, Yah? " Tanya Rico dengan mata yang masih fokus melihat jalanan di depannya yang cukup padat.


"... "


"Lagi di jalan mau ke kantor pusat. "


"... "


"... "


"Oke, Rico gak akan ke sana. "


"... "


"Oke "


Tangan Rico mencengkram kemudi mobil dengan kuat. Menyalurkan amarahnya yang tertahan. Pikirannya langsung menyorot seseorang sebagai tersangka utama. Ia berteriak frustasi.


"Sialan lo Adhitama! Kenapa gue gak pernah kepikiran lo bakal gunain rahasia ini?! Sialan! Lo dan si brengsek itu bakal mati di tangan gue, lo berdua bakal tau rasanya tersiksa sampai lo bakal mohon-mohon sama gue buat mati. Gue bakal bikin lo menderita! "


Rico yang penuh amarah langsung menancap gas, menyalip beberapa mobil dengan kecepatan tinggi tanpa peduli. Beberapa kali menerobos lampu merah dan kini ia akan melakukannya lagi saat beberapa anak SD menyebrang bersama guru mereka.


Tatapan matanya beradu dengan seorang anak yang begitu familiar di antara rombongan yang hampir saja ia tabrak jika saja tidak langsung membanting stir.

__ADS_1


Mobilnya berputar-putar tidak terkendali sebelum akhirnya terhenti karena menabrak pembatas jalan lumayan kuat. Ia nampak terluka cukup parah tapi malah terkekeh.


Pandangannya tertuju pada seorang anak SD yang nampak mematung karena syok. Sang guru membawa rombongan anak SD itu menjauh saat polisi dan para pengendara lain yang melihat kejadian itu buru-buru menghampirinya.


"Bodoh! Hampir aja gue nabrak anak itu. "


Polisi membantunya keluar dari mobil yang sudah penyok dibeberapa bagian. Evakuasi yang dilakukan polisi sedikit mengalami kendala saat kaki Rico ternyata terjepit. Meski pada akhirnya ia tetap berhasil diselamatkan dan dibawa ke dalam ambulans yang telah disiapkan.


Lagi-lagi mata Rico beradu pandang dengan anak itu. Ia tersenyum tipis sebelum kemudian kehilangan kesadarannya.


'Sunny, maaf. '


Sementara itu pagi ini Alex mendapat panggilan dari kantor pusat untuk datang. Ia bergegas pergi dengan banyak pertanyaan dalam benaknya. Sesampainya di kantor pusat yang pertama ia lihat adalah wartawan. Bukan hanya satu tapi banyak sekali. Lagi, benaknya bertanya-tanya.


"Sebenarnya ini ada apa sih? Kenapa bisa rame kayak gini? Kalau tentang Chelsea harusnya gak kesini juga, kan Tuan Besar Xil udah gak pernah kesini lagi. "


"Coba buka sosmed, ada trending topik baru. " Ucap seseorang membuat Alex tersentak kaget.


Seorang pria berpakaian cerah dengan kamera dan nametag yang dikalungkan di leher tampak berdiri dengan tatapan lurus. Meski tidak mengenal pria itu tapi Alex tetap menuruti ucapan pria itu.


Alex membuka handphone dan mencari-cari hal apa yang menjadi trending topik pagi ini. Alex mengernyit dan mata penuh keterkejutan. Ia terkekeh.


"Apa-apa ini? Kejutan baru? Semuanya penuh dengan kepalsuan. "


Sementara itu di kediaman Megardante Octa dan sang ayah tengah minum kopi bersama di ruang keluarga sambil menonton berita di televisi.


Octa tidak terlalu memperhatikan berita itu karena sebagian besar tentang masalah politik dan ia tidak suka pembahasan itu. Berbeda dengan sang ayah yang nampak begitu memperhatikan.


"Eh, itu bukannya aktor yang lagi hits itu ya? Temen kamu kan itu? "


Mendengar kata teman yang diucapkan sang ayah membuat Octa mengernyit dan ikut memperhatikan berita di televisi. Octa menatap tak percaya sebelum kemudian terkekeh.


'Jadi ini rahasia lo, Rico? Semuanya palsu, jadi ini alasannya kenapa lo deket banget sama Chelsea? Lo selalu ada buat Chelsea dan melindungi dia sampai bikin gue dan Alex curiga, karena Chelsea itu adik lo. Lo putra keluarga Xilent. Selama ini gue selalu hati-hati sama lo karena lo tau rahasia gue dan sekarang apa? '


"Kita sama-sama penipu. " Gumam Octa dengan wajah kakunya.


Sementara sang ayah masih saja memperhatikan berita itu dengan tatapan tak percaya.


"Ayah gak nyangka, ternyata dia anak konglomerat itu. Apa mungkin dia Direktur Utama Xil grup yang identitasnya selalu dirahasiakan itu? "


Mendengar dugaan sang ayah membuat Octa sontak menoleh. Dahinya mengernyit dan benaknya pun menyetujui dugaan yang sangat masuk akal itu.

__ADS_1


"Bener juga, itu masuk akal. "


'Wah! Ini gila, skandal fake identity yang nyaris sempurna. '


__ADS_2