
Di dalam sebuah mobil yang terparkir di basement sebuah gedung rumah sakit nampak Octa yang lengkap dengan kacamata hitam dan Topi senada tengah duduk di depan kemudi. Tangannya menyilang di depan dada dan tubuhnya dengan nyaman bersandar.
Di basement itu suasana cukup sepi. Hanya sesekali ia melihat orang berjalan melewati mobilnya dengan acuh. Octa menghela nafas kemudian mengeluarkan sebuah permen karet dari saku mantelnya.
Sesaat Octa sempat memperhatikan bungkus permen karet itu dan tertawa. Setelahnya iya membuka bungkus permen karet itu dan mengunyahnya sambil menatap Ran yang tengah berjalan menghampiri mobilnya.
"Bagaimana keadaan temanmu? " Tanya Octa saat Ran sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
"Bukan urusanmu, jangan membuatku muak. " Ketus Ran yang kemudian memilih memainkan handphonenya.
Octa tampak tersenyum sinis sebelum kemudian melajukan mobilnya keluar dari basement. Ia sesekali melirik Ran dengan ekor matanya kemudian tersenyum.
Tidak jauh dari sana tampak seseorang dengan topi hitam yang tertutup hoodie tengah memperhatikan mobil Octa yang melaju keluar basement. Orang itu bersembunyi dibalik salah satu pilar penyangga.
Sementara itu di rumah sakit yang berbeda Saka tengah berjalan dari ruang rawat Chelsea menuju tempat administrasi rumah sakit. Iya tersenyum sinis saat menemukan dua bodyguard mengikutinya dari jarak yang cukup jauh.
"Bodoh! Dari mana keluarga Xilent mendapatkan orang-orang bodoh itu? " Gumamnya sambil terus berjalan dengan santainya.
"Em, harusnya mereka mendapat sedikit pelajaran. Mereka pikir mudah mengelabui seorang Adhitama? "
Saka terkekeh dengan mata yang berkeliaran mencari akal. Tiba-tiba ia tersenyum sambil menghentikan langkahnya. Kedua bodyguard yang tengah mengikutinya sontak berhenti dan bersembunyi.
"Oke, satu, dua, tiga! "
Saka menoleh sebentar kemudian dengan cepat berlari masuk ke dalam salah satu lift yang terbuka. Dan sesuai perkiraannya lift itu tertutup sebelum kedua bodyguard keluar dari persembunyian mereka.
Di dalam lift ia tertawa tanpa peduli pada beberapa pasang mata yang kemudian menatapnya aneh. Iya puas menertawakan kedua bodyguard yang pasti tengah kebingungan mencari jejaknya.
Begitu sampai di depan meja tempat administrasi Saka langsung tersenyum pada seorang perawat yang tengah berjaga. Bukannya membalas senyuman Saka perawat itu justru menatap Saka dengan malas.
'Ganjen banget sih'
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan? " Tanya perawat itu dengan senyum yang dipaksakan.
"Berikan data pasien minggu ini. "
Perawat itu tampak mengernyit dan menatap Saka dengan curiga. Dengan terang-terangan perawat itu memperhatikan penampilan Saka yang sangat mencurigakan.
Bagaimana tidak, dengan bandana terikat di kepalanya, telinga dengan tindikan, sweater rajut oversize warna senada bandana nya dan jeans putih yang ketat. Perawat itu pantas mencurigainya.
"Apa yang lo liat?! " Tanya Saka sewot saat ditatap penuh kecurigaan.
'Style aneh, omongan kasar, terus minta data pasien? Ngerasa jadi anak raja? Apa aku panggil security aja yah? '
"Heh! Ngapain lo bengong kayak gitu? Mana data pasiennya? " Tanya Saka tidak sabaran.
__ADS_1
"Maaf tuan, siapapun anda tidak berhak meminta data pasien rumah sakit ini. Lebih baik anda pergi selagi saya masih bersikap baik. "
Saka terperangah mendengar ucapan perawat itu. Ia menghela nafas dan menahan diri agar tidak bersikap kasar.
"Apa lo perawat baru? "
Perawat itu kembali mengernyit.
"Maaf, anda tidak berhak mengetahuinya. "
"Lo gak tau siapa gue? " Tanya Saka lagi.
"Maaf tuan, siapapun anda, saya tetap tidak bisa memberikan apa yang anda minta. Silahkan pergi sebelum security yang datang dan menyeret anda keluar. "
"Rumah sakit ini punya om gue. "
"Jangan mengada-ngada tuan. Anda tidak akan bisa hidup tenang jika Tuan Besar tau orang seperti anda membawa-bawa namanya dengan sembarangan. "
Saka tiba-tiba tertawa. Ia merogoh saku jeansnya untuk mengambil dompetnya dan bermaksud mengambil kartu namanya. Tapi ternyata dompetnya ia tinggalkan di ruang rawat Chelsea.
"Ah, ya ampun. Hey! " Teriak Saka setelah habis kesabaran.
Beberapa pasang mata menatap aneh padanya tapi Saka tetap tidak peduli. Baru saja ia akan bertindak kasar tiba-tiba lengan seseorang menahan tubuhnya. Saat menoleh ia menemukan Alex di sampingnya. Perawat yang ikut menoleh menatap Alex langsung saja membungkuk hormat.
"Gak usah ikut campur! " Sewot Saka membuat Alex tersenyum.
"Bisa diam? " Balas Alex membuat Saka kesal.
"Kenapa bisa ada keributan di sini? " Tanya Alex pada perawat itu.
"Maaf tuan muda, tuan ini memaksa saya untuk memberikan data pasien. Sedangkan data itu merupakan rahasia rumah sakit. " Adu perawat itu membuat Saka semakin kesal.
"Hey! Kapan gue maksa?! Gue udah minta baik-baik! " Teriak Saka tidak terima.
"Diam! "
"Lo juga, apa hak lo nyuruh-nyuruh gue?! "
Alex meringis mendengar teriakan Saka. Setelahnya menghela nafas kemudian tersenyum pada perawat itu.
"Berikan yang dia minta! " Titah Alex membuat perawat itu heran.
"Tapi tuan muda, data itu tidak bisa diberikan pada orang sembarangan. "
Alex menoleh dan melihat Saka dari atas sampai bawah. Setelahnya ia meringis melihat penampilan Saka yang memang patut diragukan.
__ADS_1
"Ah, cukup bisa dimengerti. " Gumam Alex membuat Saka yang sejak tadi menatap aneh padanya kini mengernyit.
"Apa lo liat-liat?! " Sewot Saka.
Bukannya menjawab pertanyaan sewot dari Saka, Alex malah kembali menoleh pada perawat.
"Apa kau juga menilai dia dari penampilannya? " Tanya Alex membuat perawat itu terkejut.
"Maaf? "
Alex menghela nafas.
"Apa kau terbiasa menilai seseorang dari penampilannya? Kau pikir sudah sehebat apa dirimu sampai berani menilai orang lain? Dia keponakan Tuan Besar Xil, berikan yang dia minta. "
Nada dingin Alex saat berbicara membuat perawat itu tertunduk. Apalagi setelah mengetahui identitas Saka, ia tertunduk dalam.
"Baik, tuan muda. "
"Minta maaf padanya dan tolong dimaklumi, karena mungkin dia akan menyulitkan mu. " Ucap Alex setengah berbisik.
Saka berdecak sebal saat telinganya masih bisa mendengar bisikan Alex pada perawat itu dengan jelas. Dan perawat itu masih tertunduk. Sementara Alex menepuk pundak Saka pelan.
"Lain kali pahami, kesan pertama itu selalu dari penampilan. " Ucap Alex kemudian beranjak meninggalkan Saka.
Saka geram dengan kelakuan Alex tapi ia masih punya urusan lain yang harus ia selesaikan. Akhirnya ia hanya bisa menghela nafas dan menoleh pada si perawat yang memberikan sebuah map data pasien padanya dengan kepala yang masih tertunduk.
Saka menerimanya dengan kesal. Tapi sebelum dia beranjak dari sana, ia menatap tajam si perawat dengan tangan terlipat di depan dada. Sementara si perawat itu sepertinya tidak akan berani menatap Saka lagi.
"Maaf, tuan. Saya benar-benar minta maaf atas sikap kurang ajar saya terhadap anda. "
Saka menyipitkan matanya seolah tengah membuat pertimbangan. Dan hal itu membuat si perawat makin takut dan malu.
"Lo tau dengan jelas, kan? Maaf? Kata itu gak bisa selalu menyelesaikan masalah. Dan setiap kesalahan tentunya harus ditebus dengan hukuman. Meskipun pemilik rumah sakit ini masih kerabat gue, tapi catat ini! Permintaan maaf lo sama gue gak bisa merubah apapun keputusan Tuan Besar Xil. "
Perawat itu menghela nafas.
"Semoga lo beruntung... "
Saka tampak menyipitkan matanya untuk membaca nametag perawat itu.
"Natta? " Lanjut Saka sambil tersenyum.
Setelahnya Saka pergi dari sana menuju lift. Lagi-lagi perawat itu menghela nafas, kali ini ia tidak lagi tertunduk. Tapi ekspresi wajahnya berubah murung. Perawat itu duduk di kursinya dan menaruh kepalanya pada tangan yang ia simpan di atas meja kerjanya.
"Sial banget, sih. "
__ADS_1