
"A-apa maksud ayah? " Tanya Rico dengan gugup.
Plak!
Satu tamparan mengenai pipi Rico dan menciptakan luka baru di sudut bibirnya. Tamparan itu sangat keras sampai membuat kepalanya menoleh. Alex bahkan terpejam setelah melihat hal itu.
"Apa yang kurang dari segala yang udah ayah kasih ke kamu, Rico? Bilang sama ayah! Ayah akan kasih semuanya. Tapi, jangan kayak gini, Rico. Jangan siksa ayah kayak gini. "
Rico mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari kemudian terkekeh. Setelahnya menatap sang ayah dengan tatapan meremehkan.
"Rico mau Rian tetap hidup, dan ayah gak bisa kasih itu, kan? " Tanya Rico sinis.
Ayahnya nampak terkejut mendengar pertanyaan Rico.
"Jadi, semua ini karena dia? Kamu seperti ini karena dia? " Tanya Tuan Besar dengan tidak percaya.
Alex ikut menatap tak percaya pada Rico.
"Ayah gak akan ngerti, ayah gak akan tau seberapa tersiksanya Rico liat Rian menderita! Ayah gak akan ngerti, Rian itu seperti saudara buat Rico. Ayah gak akan tau gimana rasanya saat jadi orang yang paling tau penderitaan sahabat sendiri tapi gak bisa lakuin apa-apa buat bantu. " Ujar Rico sambil sesekali terisak.
"Gimana rasanya ngeliat sahabat sendiri mati di depan mata dan Rico gak bisa apa-apa. Rian bakal hidup kalo Rico gak diam, ayah gak tau seberapa menyiksanya rasa bersalah itu, ayah gak akan tau! "
Mata Rico sudah sembab dan memerah dan nafasnya menderu.
"Ayah emang gak tau! Tapi, jangan bodoh Rico! Kamu hidup kayak gini gak akan menghidupkan orang mati! " Bentak Tuan Besar membuat orang-orang dalam ruangan itu tersentak.
"Sadar! Rian udah gak ada dan kamu harus terima itu. " Lanjut Tuan Besar memberi pengertian.
Tapi Rico malah mengamuk dan membuat para perawat kewalahan. Tuan Besar memerintahkan para perawat untuk menjauhi Rico dan ia maju menghampiri putranya.
"Kamu ngerasa udah jadi jagoan dengan ngelakuin ini semua, hah?! Sini! Lawan ayah! "
Rico mengepalkan tangannya sambil menghampiri ayahnya dengan penuh amarah.
Bugh! Bugh!
Belum sempat Rico melayangkan pukulan, dua pukulan mengenai pipi kiri dan perutnya. Rico jatuh terduduk di lantai dengan tatapan tajam yang terarah pada ayahnya. Sementara yang ditatap nampak menatap dingin.
Rico kembali mengamuk dan Tuan Besar langsung mengerahkan para bodyguardnya untuk membantu para perawat sampai akhirnya Rico kembali tenang setelah diberi suntikan obat penenang. Disisi lain Alex tampak mematung setelah menyaksikan hal itu.
'Gue gak nyangka lo bisa sampai kayak gini, Rico. '
Alex yang tidak tahan dengan keadaan seperti itu langsung pergi keluar ruangan. Tuan Besar hanya menoleh, menatap kepergian Alex dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelahnya menghela nafas tanpa berniat menyusul Alex keluar.
Sementara itu di tempat rehabilitasi sedang diadakan seminar. Chelsea ikut duduk lesehan bersama beberapa teman sekamarnya meski awalnya ragu. Dia tidak terlalu suka duduk dengan orang-orang yang asing baginya. Chelsea juga tidak suka seminar karena menurutnya sangat membosankan. Tapi dengan terpaksa Chelsea mengikuti seminar itu sekarang.
Diluar dugaan, ternyata seminar itu tidak membosankan seperti perkiraan Chelsea. Mata Chelsea sesekali berbinar saat mendengar setiap kata motivasi dari motivator yang mengisi materi seminar. Chelsea tersenyum saat menyadari sesuatu.
'Kayaknya aku emang perlu masuk ke tempat kayak gini. '
__ADS_1
Seminar hanya berlangsung setengah jam dan bukannya membuat Chelsea senang malah hal itu membuatnya kecewa. Setelah kegiatan seminar masih ada kegiatan lainnya yakni ibadah. Setiap orang di sana mulai memasuki tempat ibadah mereka masing-masing. Dan yang dilakukan Chelsea hanya berdiri mematung dengan pikirannya sendiri.
'Sudah berapa lama aku melupakan sang pencipta? '
...***...
Langit semakin terang menegaskan bahwa hari beranjak siang. Alex tampak duduk termenung di kursi tunggu. Setelah keluar dari ruang rawat Rico, Alex langsung duduk termenung dan hanya seperti itu sampai hampir satu jam. Dan Tuan Besar pun belum terlihat meninggalkan ruang rawat putranya itu.
Kaki Alex mulai terasa pegal dan kesemutan. Alex meluruskan kakinya di lorong yang terlihat sepi itu. Ia menghela nafas kemudian berusaha tenang. Kenyataan yang terungkap di depan matanya nampak sangat sulit ia terima. Sampai harus beberapa kali menghela nafas dan berusaha menenangkan diri.
Cklek
Suara pintu terbuka itu membuat Alex menoleh dan akhirnya mendapati Tuan Besar yang keluar bersama bodyguardnya. Alex sontak berdiri dan membungkuk hormat membuat Tuan Besar tersenyum tipis.
"Mari kita makan siang dulu, Tuan Lexan. " Ajak Tuan Besar kemudian langsung pergi.
Alex mengikuti langkah Tuan Besar kemudian para bodyguard berjalan mengikuti keduanya. Tuan Besar berjalan menuju roof top gedung rumah sakit dan membuat Alex mengernyit. Tapi kemudian matanya terbelalak saat melihat roof top yang sudah tersedia sebuah meja makan dengan makanan yang berjejer di atasnya. Terik matahari terhalang tenda yang berdiri kokoh memayungi meja beserta kursi di sana.
Tuan Besar berjalan menuju meja itu dan Alex masih mengikutinya. Setelah dipersilahkan duduk di salah satu kursi, Alex berusaha menikmati makanannya meski nampak canggung.
'Tuan Besar bisa sebaik ini sama gue setelah mukulin anaknya, gue jadi bingung harus anggap dia orang baik atau psychopath? '
Meski pikirannya sudah dipenuhi banyak hal tapi Alex berusaha tetap tenang dan bersikap sewajarnya. Sementara Tuan Besar beberapa kali melihat kearah Alex kemudian tersenyum tipis. Ia tau betul Alex sedang memiliki banyak pikiran meski berusaha di sembunyikan.
"Maafkan saya harus memperlihatkan hal tidak baik itu di depan kamu. Saya tau kamu sangat terkejut dengan apa yang saya lakukan terhadap Rico. "
Alex malah merasa tidak enak hati saat mendengar Tuan Besar meminta maaf padanya.
Tuan Besar lagi-lagi tersenyum dan membuat Alex pun ikut tersenyum.
"Di usia semuda ini kamu bisa bersikap dewasa, saya merasa kamu memang pantas untuk saya banggakan. "
Alex tertunduk.
"Saya merasa tidak pantas, Tuan Besar. "
"Jangan pernah merendah seperti itu ketika kamu mampu, Tuan Lexan. "
Setelahnya banyak obrolan-obrolan kecil yang mengisi waktu makan siang mereka. Suasana sedikit lebih santai dari pada sebelumnya. Mereka nampak semakin akrab satu sama lain. Terbukti dengan tawa yang terdengar akibat candaan yang beberapa kali terlontar.
"Kamu ternyata teman ngobrol yang asyik, kamu bisa dengan cepat mengubah suasana hati saya. "
Tuan Besar nampak sangat senang dan membuat Alex tersenyum.
"Terimakasih, Tuan Besar. Mungkin lain waktu kita harus minum teh bersama. "
"Saya sangat setuju, mari atur waktu dan tempatnya. " Balas Tuan Besar membuat Alex langsung berpikir.
"Bagaimana kalau setelah semua masalah ini selesai, Tuan Besar? "
__ADS_1
"Kamu punya banyak ide yang membuat saya dengan mudah setuju, sepertinya kamu dengan mudah memahami saya. " Jawab Tuan Besar yang nampak sangat tersanjung.
Alex terkekeh.
"Anda terlalu banyak memuji saya, jangan sampai saya jadi besar kepala dan membuat anda kesal sendiri nantinya. " Balas Alex membuat keduanya terkekeh.
"Sudahlah, mari selesaikan makan siang ini dan kita bicarakan hal ini lain kali. Jika tidak makan siang ini benar-benar tidak akan selesai sampai waktu makan malam datang. " Canda Tuan Besar membuat keduanya lagi-lagi terkekeh.
"Tentu, mari. "
Dan mereka benar-benar menyelesaikan makan siang dengan cepat. Tiba-tiba seorang bodyguard menghampiri Tuan Besar dan membisikkan sesuatu. Alex nampak mengernyit kemudian mengalihkan pandangannya pada langit biru yang membentang luas dengan dihiasi beberapa gumpalan awan tipis.
Angin berhembus membuat rasa gerah karena terik matahari yang mendera tubuh Alex hilang seketika. Alex berusaha tidak peduli meski nyatanya ia sangat penasaran. Apalagi saat melihat raut wajah Tuan Besar yang berubah.
"Tuan Lexan, mari ikuti saya. "
Tanpa banyak bertanya Alex segera beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Tuan Besar. Beberapa bodyguard mengikuti mereka masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit Xil grup. Dengan cepat mereka sampai ke ruangan Direktur Utama rumah sakit yang memang berada di lantai paling atas.
Saat Tuan Besar dan Alex masuk ke sana Direktur Utama langsung menyambut mereka. Nampak seorang pria berpenampilan formal dengan jas hitam bermotif garis-garis abu yang melapisi kaos rajut turtleneck warna light gray yang dipakainya. Kacamata bening dengan bingkai berwarna emas yang dikenakan tidak membuat Alex kesulitan menebak usia pria itu.
'Penampilannya sih dewasa, tapi gue tau dia pasti masih bocah SMA. Tebakan gue gak mungkin salah. '
Dan benar saja, pria itu adalah 'Nareska Dalfa De Adhitama'. Sepupu Rico dan Chelsea yang juga putra bungsu dari satu-satunya saudara Tuan Besar Xil yaitu pemilik Adhitama Corporation. Tuan Besar menyapa Alfa dengan ramah dan begitupun sebaliknya.
"Apa yang membawamu datang ke sini, Al? Bukankah hari ini tidak libur? "Tanya Tuan Besar setelah mereka duduk bersama di sofa.
Alfa tersenyum dan membuat kedua lesung pipi tercetak jelas. Matanya pun sedikit menyipit dan mengingatkan Alex pada sosok Rian. Alex tersenyum kecut mengingat hal itu.
"Aku tidak tau harus mulai dari mana, Uncle Xil. Tapi, aku datang ke sini atas perintah kak Saka. "
Tuan Besar mengernyit.
"Apa yang terjadi? Apa sesuatu yang buruk telah terjadi? " Tanya Tuan Besar membuat Alfa menghela nafas.
"Begini Uncle Xil, kak Saka sudah mengurus Adhitama Corporation cabang Malaysia beberapa tahun ini dan semua memang baik-baik saja. Tapi, beberapa hari yang lalu saham perusahaan menurun drastis secara tiba-tiba. Setelah ditelusuri kami akhirnya menemukan pelakunya. "
Alfa menggantung ucapannya dan membuat Alex dan Tuan Besar mengernyit.
"Siapa pelakunya? Uncle akan membantu Saka menyelesaikan masalah ini. "
Alfa nampak ragu-ragu untuk menjawab dan membuat Alex curiga.
'Jangan bilang pelakunya seperti yang gue duga. '
"Masalahnya pelakunya Rico, Uncle Xil. "
Tuan Besar memejamkan matanya kemudian berdecak. Tangannya terangkat untuk memijat pangkal hidung. Sementara Alex mematung tidak percaya.
"Anak itu benar-benar ingin membunuhku. "
__ADS_1
Sementara itu Rico tengah sendirian di ruang rawatnya. Handphonenya masih berada dalam genggaman setelah mendapat pesan dari anak buahnya beberapa saat yang lalu. Sekarang ia terlihat sangat senang bahkan sampai tertawa.
"Selamat menikmati kejutan ini, ayah. "