LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Kesempatan Yang Hilang (Revisi)


__ADS_3

Langit sudah berubah warna dan sorot matahari menjadi jingga. Sore ini Raja tengah berdiri di balkon rumahnya. Menikmati semilir angin sore dan pemandangan senja yang membuatnya sejenak terkagum. Langit cerah dan Raja berharap malam ini tidak akan turun hujan.


"Kamu belum siap-siap, sayang? Udah sore loh ini. "


Raja menoleh saat mendengar teguran seseorang. Raja tersenyum saat melihat mamanya yang tengah berdiri di pintu balkon. Setelahnya berjalan menghampiri sang mama dan langsung mendapat usapan lembut di kepalanya.


"Lagi mikirin apa sih? Katanya ada acara malam ini. "


Raja lagi-lagi tersenyum.


"Nggak ada, ma. Kalo gitu Raja siap-siap sekarang yah. " Jawab Raja lembut.


"Ya udah, jangan lama-lama yah. Takutnya kamu telat nanti. "


Raja mengangguk kemudian mengecup pipi mamanya dan langsung pergi menuju kamar. Sementara sang mama hanya tersenyum melihat tingkah putra semata wayangnya itu.


"Mama harap ada yang bisa mencintai kamu dengan tulus setelah Mama. Mama gak bisa bayangin gimana keadaan kamu kalo Mama gak ada, siapa yang akan menemani kamu, Raja? "


Sementara itu di kediaman keluarga Xilent Chelsea masih sibuk di kamarnya. Alex dan Saka yang sudah datang beberapa waktu yang lalu tengah mengobrol bersama Tuan Besar di ruang tengah. Keduanya hanya pulang sebentar untuk sekadar mandi, ganti baju dan makan siang setelah mengantar Chelsea pulang tadi siang.


"Om senang kamu bisa kembali Saka. "


"Aku juga senang Om, apalagi saat Chelsea sakit dulu aku cuma bisa jenguk sebentar karena sibuk sama kerjaan. " Balas Saka sambil tersenyum.


"Sepertinya Om hutang permintaan maaf padamu karena ulah Rico dulu. Pasti sangat merepotkan, Om benar-benar minta maaf padamu. "


"Tidak usah dibahas lagi Om, itu sudah lama sekali. Dan ya, aku penasaran. Dimana Rico sekarang? Aku tidak melihatnya. " Tanya Saka heran.


Tuan Besar tampak menghela nafas.


"Om mengirimnya ke Aussie dan Xil grup pindah ke tangan Tuan Lexan. "


"Aku percaya pada penilaian, Om. Meskipun awal pertemuan kami cukup buruk. "


Alex yang sejak tadi hanya menyimak sembari sesekali menyeruput teh yang disuguhkan itu tersenyum.


"Ya, perkenalan kita memang sedikit tidak menyenangkan, saya sempat terkejut karena Tuan Adhitama mencegat mobil yang saya dan nona kendarai di jalanan. " Ucap Alex sebelum kembali menyeruput teh.


Saka dan Tuan Besar terkekeh.


"Om tidak heran lagi dengan kebiasaan kamu itu, Saka. "


Saka tertawa.


"Sepertinya kami harus sering mengobrol bersama, Om. Bagaimana menurutmu Lexan?"


Alex mengangguk setuju dengan saran Saka.


"Tidak buruk, mungkin akan jadi awal yang baik. "


"Om juga setuju dengan saran kamu, Saka. Om yakin kalian akan cocok jika bekerja sama. "


Setelahnya mereka tertawa bersama. Dan tak lama Chelsea datang dengan dress tanpa lengan selutut berwarna abu muda. Rambutnya ditata rapih dan dipasang pita berwarna biru tua senada dengan sepatu hak tinggi yang ia kenakan. Anting perak dan manik-manik pada dress-nya membuat ia tampak berkilauan.


Ketiga pria yang tadi tengah mengobrol asyik di ruang tengah sekarang sedang menatapnya kagum. Chelsea hanya tersenyum saat menyadari tatapan kagum para pria itu.


"Jadi siapa nih yang mau nganterin Chelsea? " Tanya Chelsea membuat ketiga pria saling tatap.

__ADS_1


"Sama abang aja. "


"Jadi abang mau bawa aku yang udah capek-capek dandan ini kebut-kebutan? " Tanya Chelsea tidak habis pikir.


"Ya udah, kalo gitu kamu sama Lexan aja yah? " Putus Tuan Besar.


"Bosen tau sama om Alex terus. " Tolak Chelsea membuat Tuan Besar mengernyit.


"Ya terus sama siapa lagi? Masa sama ayah? "


Chelsea tampak berpikir.


"Sama Kara aja. "


"No! " Ucap Saka dan Alex bersamaan.


Tuan Besar tempak terkejut sementara Chelsea menatap heran.


"Dia bawa motor dan kamu pakai dress, gak! Gak bisa pokoknya! " Tolak Saka tegas.


"Dia itu tengil, gak boleh! " Ucap Alex kemudian.


Chelsea menatap kedua pria itu dengan kesal.


"Ayah juga setuju sama Saka dan Lexan. Gak boleh! " Timpal Tuan Besar membuat Chelsea semakin kesal.


"Ih! Pada kenapa sih?! "


Setelah melewati banyak perdebatan akhirnya Chelsea malah berangkat bersama Raja yang tiba-tiba datang. Di dalam mobil keduanya hanya saling diam dan membuat suasana menjadi canggung.


Sementara di belakang mobil yang mereka tumpangi tiga mobil mengikuti sebagai pengawal. Mulai dari mobil Saka kemudian Alex dan terakhir bodyguard.


Dan mereka tetap diam sampai akhirnya mobil Raja memasuki gerbang sekolah. Tampak banyak orang di parkiran yang sama-sama baru datang.


Raja keluar dari mobilnya setelah mobil itu terparkir begitu pun dengan Chelsea. Ia menghindari perlakuan manis Raja yang mungkin akan ia dapatkan. Seperti membukakannya pintu mobil misalnya.


Tiba-tiba Kara datang menghampiri Chelsea bersama dengan Saka dan Alex. Raja yang melihat itu mengurungkan niatnya untuk bicara pada Chelsea. Tapi Chelsea menghampiri Raja dan berdiri di hadapannya.


"Malam ini di pinggir waduk, setelah acara selesai. " Ucap Chelsea kemudian pergi bersama Kara dan Saka.


Sementara Alex malah menghampiri Raja dan menepuk pelan pundak Raja sambil tersenyum. Raja ikut tersenyum mendapat tatapan yang menyemangatinya.


"Makasih. "


"Alex Ananda Regard, panggil sesuka lo. "


Raja kembali tersenyum.


"Iya, makasih Kak Alex. Saya benar-benar senang kalau Kak Alex dukung saya. "


"Santai aja, lo biasa ngomong pakai 'lo gue'. Gue juga gak keberatan, meskipun tadi siang gue ngomong formal tapi gue juga gak sekaku itu. "


"Yuk, masuk! Acaranya bentar lagi mulai, kan? " Lanjut Alex sambil merangkul pundak Raja.


Beberapa saat kemudian acara benar-benar dimulai. Selama acara berlangsung Citra terus mengikuti Raja dan membuat Raja jengah. Sementara Chelsea duduk tenang di salah satu gazebo. Ia akan menampilkan kemampuan bermain biolanya sebagai penutup acara.


Acara berlangsung sangat meriah dengan musik yang diputar oleh panitia. Lampu-lampu dan beberapa lampion membuat tempat acara terlihat semakin indah. Camilan tersedia si setiap gazebo dan meja. Dan beberapa orang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencicipi camilan itu.

__ADS_1


Acara hampir selesai dan beberapa saat lagi Chelsea akan berjalan ke panggung yang terletak di tengah jembatan. Raja tersenyum melihat Chelsea yang tengah menyiapkan biolanya sementara Citra menatap Chelsea dengan kesal.


Setelah MC selesai menyebutkan namanya, Chelsea berjalan dengan percaya diri menuju panggung. Tepat saat Chelsea memulai penampilannya handphone Raja bergetar. Raja merogoh handphone dari saku celananya dan mendapati panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.


Raja mengabaikan panggilan itu dan kembali melihat penampilan Chelsea. Saat permainan biola Chelsea selesai acara segera di tutup oleh MC. Setelahnya musik kembali diputar dan acara berlanjut pada sesi dansa sebagai sesi terakhir.


Raja hendak menghampiri Chelsea yang sudah kembali ke gazebo tapi Citra menahan langkahnya. Raja menoleh dan menatap Citra dengan dingin.


"Ada telpon buat kamu. "


Raja mengernyit sebelum kemudian pergi tanpa peduli.


"Ini tentang papa kamu. "


Langkah Raja langsung terhenti dan Citra langsung berlari menyusul Raja. Raja menoleh pada Citra dengan tatapan dinginnya.


"Dari siapa? "


"Kak Natasha, kamu harus pulang sekarang. "


Tanpa banyak bicara Raja langsung berlari menuju parkiran. Memasuki mobil dengan buru-buru dan setelahnya mobil itu melaju keluar gerbang sekolah. Sementara itu Citra tersenyum misterius dan tampak menelpon seseorang setelahnya.


"Tugas selesai. "


Tidak jauh dari tempat Citra berdiri seseorang bertopi hitam dengan masker senada yang menutupi identitasnya langsung mengeluarkan handphonenya dan menelpon seseorang.


"Ikuti mobil yang baru keluar dari gerbang sekolah sekarang. "


Raja mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Nampak jelas kekhawatiran tersirat di matanya. Saat sampai di depan rumahnya ia langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Ma! Mama! Mama dimana?! " Teriak Raja saat masuk ke rumahnya.


Tapi tidak ada yang menyahuti dan membuat Raja semakin khawatir. Tiba-tiba lampu rumah mati dan membuat Raja terkejut. Dan sebuah pukulan mengenai kepala bagian belakangnya membuat Raja tersungkur.


"Siapa?! Siapa yang berani pukul gue?! Tunjukan diri lo! "


Sebuah pukulan kini mengenai punggungnya dan membuat Raja yang sesaat berdiri kembali tersungkur. Dan di ruangan gelap itu Raja dipukuli habis-habisan. Sementara diluar hujan turun dengan deras.


Saat Raja mulai tidak berdaya lampu rumahnya kembali menyala. Lantai rumah tampak kotor dengan jejak sepatu dan darah. Raja tengkurap tak berdaya di lantai dengan nafas tersenggal. Ia berusaha mengambil handphone dari saku celana dengan sisa tenaganya. Dan menelpon seseorang setelah handphone itu berada dalam genggamannya.


"Ma, mama dimana? " Tanya Raja dengan lemah setelah panggilan tersambung.


Mama di rumah sakit, sayang. Hari ini mama bakal pulang malam, lagi banyak pasien. Kenapa? Kamu baik-baik saja, kan? Kenapa suara kamu lemah kayak gini?


Raja tersenyum miris.


"Aku ngantuk, hati-hati pulangnya, ma. " Jawab Raja kemudian menutup panggilan tanpa menunggu balasan mamanya.


Setelahnya Raja menatap foto Chelsea yang ia jadikan wallpaper handphonenya sambil tersenyum tipis. Dengan tenaga yang tersisa ia berusaha bangkit dan membuatnya beberapa kali terjatuh.


Setelah berhasil berdiri ia berjalan terhuyung keluar rumah. Dan lagi-lagi ia terjatuh. Terus seperti itu sampai ia berhasil masuk ke dalam mobilnya melewati derasnya hujan yang membuat darah dari kepalanya mengotori pakaian bagian belakangnya.


Kepalanya pusing dan tubuhnya semakin lemah. Tapi ia memaksakan diri mengemudikan mobilnya. Meski dengan waktu yang cukup lama, pada akhirnya Raja sampai di gerbang sekolah.


Tapi saat mobilnya sampai di parkiran ia melihat Chelsea yang masuk ke dalam mobil Saka. Dan mobil itu dengan cepat keluar dari kawasan sekolah. Matanya menyiratkan kekecewaan dan rasa sakit.


"Gue terlambat. "

__ADS_1


Setelahnya mata Raja yang sejak tadi telah sayu kini perlahan tertutup. Tubuhnya melemah dan akhirnya ia tidak sadarkan diri. Tidak jauh dari parkiran tampak Kara yang berdiri di tempat teduh dengan tangan yang terlipat di depan dada. Tatapannya jelas terarah pada mobil Raja yang terparkir di parkiran. Sorot matanya sangat sulit diartikan.


__ADS_2