LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Malapetaka (Revisi)


__ADS_3

Lagi, mata dengan sorot jenaka itu menutup. Rico tidak mampu menahan kesedihannya, ia terduduk di lantai dengan tembok koridor rumah sakit sebagai sandaran. Beberapa kali ia memukul pelan dadanya untuk sekadar menghilangkan rasa sesak.


Hatinya ngilu sampai membuat air mata terus mengalir menuruni pipinya. Berbeda dengan Alex yang nampak berusaha tenang. Ia duduk termenung di kursi ruang tunggu, terus menerus berdoa dalam hati dengan berusaha tetap berpikir positif.


'Gue yakin lo kuat, gue yakin. '


Sementara itu Octa nampak benar-benar terguncang, ia nampak duduk dengan setengah kesadaran. Matanya tidak bisa dibaca dan wajahnya pucat pasi. Morin duduk di sampingnya dan sesekali menepuk pelan punggung Octa untuk sekadar memberi ketenangan. Morin pun sama terguncangnya, namun ia berusaha tetap tenang.


'Rian, kamu harus hidup. Jangan ingkar janji! Kamu bilang akan hidup untukku, kan? Ayo buktikan! '


Pintu ruang rawat Rian terbuka menampilkan seorang dokter dengan raut wajah yang sulit diartikan. Rico buru-buru menghampirinya dan dokter itu nampak menghela nafas.


"B-bagaimana keadaannya, dok? Dia baik-baik aja, kan? "


Sementara itu di ruang tengah kediaman keluarga Xil, nampak Tuan Besar Xil tengah menikmati secangkir teh dengan mata yang fokus membaca rentetan kata di surat kabar. Tiba-tiba seorang pengawal datang dengan terburu-buru membuat keningnya berkerut.


"Apa yang membuatmu terlihat begitu panik? "


"Ada laporan darurat dari Tuan Muda. "


Tuan Besar Xil langsung beranjak dari duduknya.


"Ikuti aku! "


Pengawal itu dengan patuh mengikuti kemana tuannya melangkah. Tanpa mereka sadari sepasang mata menyipit karena rasa penasaran. Orang itu adalah Chelsea. Dan rasa penasaran itu menuntunnya mengikuti langkah keduanya orang itu menuju ruang kerja sang ayah. Tangan Chelsea memegang segelas susu, niatnya yang hendak kembali ke kamar batal karena penasaran dengan hal penting yang ingin disampaikan pengawal yang katanya laporan darurat dari kakaknya.


Chelsea berdiri didepan pintu ruang kerja ayahnya yang nampak sedikit terbuka. Sedangkan sang ayah sudah duduk di kursi kerjanya. Si pengawal yang berdiri di seberang meja kerja nampak menunduk patuh.


"Katakan! " Titah Tuan Besar Xil yang membuat si pengawal dengan refleks mengangguk.


"Saya menerima laporan kesehatan Tuan Rian beberapa saat yang lalu. "


Mendengar nama Rian disebut, Chelsea mengerutkan dahi sambil menajamkan telinga.


'Apa maksudnya? Bukannya Kak Ian di luar negeri? Laporan kesehatan? Apa maksudnya? Apa yang terjadi sebenarnya? '


"Bagaimana perkembangannya? Bukankah dia baru saja sadar dari komanya? "


Pertanyaan Tuan Besar Xil membuat Chelsea tertegun.


'Koma? Maksudnya apa? Maksudnya selama ini Kak Ian koma dan mereka nutupin semua ini dari aku? '


"Betul, Tuan. Tapi, beberapa saat yang lalu manager Alex mengabari saya untuk melaporkan bahwa... "


Pengawal itu menggantung kata-katanya dan membuat jantung Chelsea berdegup kencang.


"Tuan Rian telah meninggal dunia. "


Deg!


Pyarr!!


Suara nyaring gelas pecah itu berhasil mengalihkan perhatian Tuan Besar Xil dan si pengawal. Sontak mata Tuan Besar Xil terbelalak ketika melihat Chelsea tengah berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.


'Mereka berniat menyembunyikan hal ini dariku? Aku tidak percaya ini! '


"Chelsea! "


"Lelucon macam apa ini, ayah? "


Tuan Besar Xil segera menghampiri putrinya. Chelsea menepis kasar tangan ayahnya yang hendak membawa ia ke dalam pelukan. Chelsea terlihat sangat syok.


"Lelucon macam apa ini?! Kalian akan rahasiakan semua ini? Kalian gila?! " Teriak Chelsea membuat banyak pelayan berkumpul.


"Chelsea, dengerin ayah! "


"Apa?! Apa ayah? "

__ADS_1


Teriakan Chelsea semakin melemah bersama tubuhnya yang terduduk di lantai. Isak nya terdengar memilukan membuat sang ayah benar-benar tidak sanggup mendengarnya.


'Inilah kenapa ayah tidak ingin kamu tau. Karena Rian terlalu berarti untukmu, Chelsea. '


Nafas Chelsea mulai kembali sesak dan membuat ayahnya dan para pelayan panik. Mereka berusaha membantu Chelsea tapi semua ditolak mentah-mentah. Chelsea tetap menangis, meraung-raung mengungkapkan kekesalan, kekecewaan, rasa sakit dan kesedihannya.


"Ini.. Yang.. Ayah.. Mau.. Kan? Biarin.. Chelsea.. Ikut.. Kak.. Ian. "


Chelsea bicara dengan terbata-bata.


"Enggak, Chelsea! Dengerin ayah! " Tegas Tuan Besar Xil sambil memeluk tubuh Chelsea yang semakin lemah.


"Ayo kita ke sana sekarang! " Ajak sang Ayah membuat Chelsea kembali meraung-raung.


'Kak Ian, jangan jahat sama Chelsea, jangan bohongin Chelsea. Chelsea takut, Chelsea gak bisa, Kak! '


...***...


Semilir angin menerbangkan rambut hitamnya yang pendek. Kepalanya menengadah, langit terlihat cerah setelah hujan deras beberapa saat yang lalu. Hamparan langit itu begitu luas dari tempatnya berdiri saat ini, roof top gedung rumah sakit milik Xil grup. Tangannya merogoh saku jaket bomber yang tengah ia pakai. Tampak sebuah botol kecil berisi beberapa butir pil, ia mengeluarkan lima pil itu dan menelannya sekaligus. Beberapa saat nampak tak ada reaksi apapun sampai suara tawanya terdengar.


"Bisa-bisanya lo ninggalin gue, Rian! Kenapa lo bikin gue jadi sahabat yang buruk?! Lo bisa ngomong ke gue! lo bisa ngeluh ke gue! Tapi kenapa lo milih buat menderita sendiri?! "


Pria itu kemudian terdiam, tangannya terkepal. Tapi, lagi-lagi ia tertawa seperti orang gila.


"Gue bakal bunuh orang-orang itu, gue bakal buat mereka menderita. Gue janji, gue bakal ganti nyawa lo dengan nyawa. Mereka yang berani bikin cahaya di mata lo hilang bakal mati, Rian. "


Sementara itu di depan ruang rawat Rian, nampak keluarga Xil, keluarga Megardante dan sahabat-sahabat Rian tengah berkumpul. Pemandangan duka itu berhasil menyedot pehatian orang-orang di rumah sakit. Untungnya para pengawal keluarga Xil dengan sigap mengamankan lokasi.


Saat kabar duka itu sampai ke keluarga Megardante, awalnya hal itu dianggap lelucon tapi kemudian mereka datang ke rumah sakit bersamaan dengan kedatangan keluarga Xil. Kedua orang tua Rian nampak menangis menyesali kesalahan mereka. Begitu juga dengan Chelsea yang baru mengetahui keadaan Rian, ia sempat beberapa kali jatuh pingsan. Sementara Ran hanya meneteskan air mata. Tampak anak berusia 9 tahun itu terguncang dengan kepergian Rian.


"Ta, gue gak liat Rico. Tolong cari dia, gue takut terjadi sesuatu yang buruk. " Ucap Alex.


Octa yang juga baru sadar dengan ketidakhadiran Rico sontak mengangguk kemudian melangkah pergi mencari keberadaan Rico. Di tengah perjalanan, tiba-tiba suara notifikasi dari handphone menghentikan langkahnya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil handphone dan mendapati sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Unknown Number:


Nyesel gak?


Padahal udah dikasih kesempatan buat jujur


Dasarnya emang PENGECUT!!!


Dasar PEMBUNUH!!!


Octa kehilangan kesabarannya setelah membaca pesan misterius itu. Dengan penuh amarah ia menelpon nomor tidak dikenal yang selalu menerornya. Dan tidak disangka-sangka panggilan itu dijawab oleh si pemilik nomor.


Hello, Octavian Ranendra Megardante.


"Siapa lo?! "


Penerima telpon itu tertawa.


Kenapa lo pengen tau? Bukannya si Rian itu udah mati?


Octa semakin tersulut emosi, ia meninju tembok koridor di sampingnya.


"Kalo lo berani, tunjukkin diri lo! " Tantang Octa membuat si penerima telpon tertawa.


Gue gak mungkin takut sama pengecut kayak lo, kecuali kalo lo emang pembunuh berdarah dingin yang berani mengorbankan nyawa adik sendiri karena kepengecutan lo.


"Gak usah banyak omong! Tunjukkin diri lo sekarang juga! "


Iris abu, find me!


Panggilan itu langsung terputus dan membuat Octa semakin marah. Dia menendang dan memukul tembok dengan membabi-buta untuk melampiaskan kemarahannya.


Tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan panggilan masuk. Octa berusaha meredam kemarahannya saat melihat nama Alex tertera di layar handphonenya. Beberapa kali menarik nafas kemudian menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Kenapa Lex? "


Rico katanya udah pulang ke rumahnya, lo balik ke sini, bentar lagi Keluarga Om Dante bakal pulang. Kita harus ikut nganterin mereka.


Octa lagi-lagi merasakan ngilu di hatinya saat mengingat betapa keluarga itu tega memberi penderitaan pada adiknya. Penyesalan di hatinya tidak pernah hilang saat ia ternyata tidak punya keberanian menghentikan penderitaan Rian sampai ajal lebih dulu menjemput adiknya itu.


"Oke, gue ke sana sekarang. "


20 menit di perjalanan membawa rombongan jenazah sampai ke rumah duka. Berita kematian putra keluarga Megardante sekaligus aktor yang menjadi idola remaja itu dengan cepat menyebar di jagat maya.


Hampir semua stasiun televisi menayangkan berita itu dan membuat berita skandal yang sebelumnya menjadi tranding topik menghilang begitu saja seperti memang tidak pernah ada.


Di dalam mansion keluarga Megardante Chelsea masih melantur sambil menatap tidak percaya pada jasad di depannya. Air matanya memang tidak lagi mengalir namun mata sembab itu menjelaskan betapa lama ia menangis. Tubuhnya terduduk lemah di lantai, tangannya terus menerus menggenggam tangan dingin Rian.


"Kak Ian, jangan pergi. "


Kalimat itulah yang terus berulang-ulang keluar dari mulut Chelsea. Matanya berkaca-kaca tapi tetap enggan untuk menangis. Hal itu membuat seluruh pasang mata menatap prihatin. Morin yang adalah pacar Rian bahkan tidak sampai seperti itu.


Sementara kedua orang tua Rian hanya bisa terduduk lemah melihat jasad putranya yang selama ini selalu berusaha mengambil hati mereka telah terbujur kaku di hadapan mereka. Kepala keluarga Megardante itu terus menerus berusaha menenangkan istrinya yang tak henti menangis meski dirinya pun sama hancurnya. Bayangan ketika Rian meminta perhatiannya terus berputar di ingatan. Membuat rasa bersalahnya kian sulit untuk dihilangkan.


'Rian, kamu ingin keluarga bahagia, kan? Bangun sekarang! Dengarkan ayah! Bangun! Jangan begini! Ayah tidak ingin kehilangan lagi. '


Hari beranjak malam saat semua pelayat meninggalkan kediaman keluarga Megardante. Pemakaman telah selesai dilakukan sore tadi, jenazah Rian dimakamkan di sebuah perbukitan kecil yang menurut Chelsea adalah keinginan Rian. Mengingat itu membuat Chelsea melamun sepanjang perjalanan pulang.


Di sebuah perbukitan, banyak peralatan syuting dan orang-orang yang berkalung nametag bertuliskan 'kru'. Di puncak salah satu bukti kecil Rian nampak duduk selonjoran di atas rerumputan yang mengering. Matanya menatap padang bunga lavender yang membentang luas di lembah bukit.


Dari arah belakang Chelsea berjalan mengendap-endap sambil membawa sebotol air dalam genggamannya. Chelsea berjalan semakin mendekat, saat akan mengagetkan Rian tiba-tiba Rian berbicara.


"Untuk apa mengendap-endap seperti itu? "


Rian menoleh kebelakang dimana Chelsea tengah berdiri sambil nyengir tidak berdosa.


"Mau ngagetin, yah? " Tuduh Rian.


"Kak Ian tau aja. "


"Panas-panas gini enaknya minum yang seger-seger sambil liat yang bikin seger. " Lanjut Chelsea menyerahkan minuman dalam genggamannya sambil ikut selonjoran di samping Rian.


Rian tertawa menanggapi sikap percaya diri Chelsea.


"PD gila. "


Chelsea ikut tertawa karena candaan Rian. Lama mereka saling diam menikmati keindahan hamparan padang lavender. Sampai Rian buka suara.


"Kak Ian kayaknya kalo meninggal pengen dimakamin di sini aja. "


Chelsea sontak menoleh saat mendengar ucapan ngawur Rian.


"Kak Ian apaan sih? Gak usah ngawur! " Amuk Chelsea yang malah ditanggapi Rian dengan tawa.


"Kan indah tempatnya. "


"Indah sih indah, tapi gak usah sampai ngomongin mati dan bilang mau dimakamin di sini juga! Maksudnya apa coba?! " Amuk Chelsea lagi dengan wajah cemberutnya.


"Ih, kak Ian serius tau. "


"Terserah! "


Reaksi ngambek Chelsea membuat Rian tertawa sampai terbaring di atas rerumputan kering.


"Janji ya? Kamu bakal kasih tau mereka nanti. "


Kejadian beberapa minggu yang lalu itu terngiang di ingatan Chelsea. Matanya dipaksa terpejam menolak keinginan air mata untuk kembali jatuh. Hatinya teramat sangat ngilu. Sang ayah yang duduk di sampingnya menggenggam erat tangan Chelsea untuk memberi ketenangan. Chelsea menoleh saat merasa tangannya di genggam.


"Ayah tau kamu kuat. "


Chelsea berusaha tersenyum untuk menunjukkan dia kuat. Tapi justru senyuman itu malah semakin membuatnya terlihat menyedihkan di mata sang ayah.

__ADS_1


'Aku udah menepati janji aku, kak Ian. '


__ADS_2