
"Wah! Gak! Gak bisa, lo curang, a*j*r! "
"Kalah mah kalah aja. Kagak usah banyak cing-cong lo! "
"Apaan?! Gak bisa lah! Lo curang pokoknya! "
Di sofa tampak Alex yang menyimak sambil sesekali terkekeh dan geleng-geleng kepala. Sementara Octa fokus mengunyah camilan tanpa peduli dengan kehebohan Rico dan Rian yang sedang main billiard dan beradu argumen.
Lengan kanan Rian sudah kembali pulih setelah perawatan selama 3 minggu lamanya. Hanya sesekali Rian mengeluh sakit saat lengannya itu dipaksa membawa beban sedikit berat. Kakinya pun sudah bisa dipakai berjalan meski kadang keram. Selebihnya Rian tidak menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Meski begitu Octa dan Alex tetap waspada dengan banyak kemungkinan buruk yang bisa Rian alami. Terlebih dua hari yang lalu keduanya mendapati kenyataan bahwa Rian mengalami trauma cukup serius pada otaknya. Sewaktu-waktu bisa saja Rian mengalami sakit kepala hebat atau bahkan penyakit yang lebih serius.
Semenjak saat itu Octa selalu memaksa ikut kemanapun Rian pergi kecuali ke rumah. Rian tidak pernah lagi mengizinkan Octa atau siapapun masuk ke rumah ayahnya setelah hari dimana Octa mengantarnya pulang. Setelah semua yang terjadi, untungnya tak ada yang berubah dari diri seorang Rian. Kekonyolan dan sikap narsisnya masih sama kecuali satu hal. Memang ada yang hilang dari Rian.
"Rico, 1 jam lagi ada pemotretan. " Tegur Alex sambil melihat arloji di pergelangan tangannya.
Perdebatan Rico dan Rian terhenti. Ada tatapan tidak rela di manik pekat Rico. Nampak wajahnya cemberut begitu mendengar teguran Alex.
"Gak bisa di undur atau dibatalin aja sekalian? " Tanya Rico dengan wajah jengkel.
"Profesional dong, gak bisa! Lo harus pergi! Gak ada protes! " Balas Alex tegas.
"Lagian Rian juga udah lama di luar, sekarang waktu buat istirahat sama minum obat. " Sahut Octa saat mendapati wajah murung Rico.
"Lagian lo maksa banget pengen deket-deket sama gue, jadi curiga. Lo normal kan? " Celetuk Rian sok curiga.
"Emang cuma Octa yang waras. "
Octa yang merasa namanya disebut langsung menoleh dengan sebelah alis terangkat. Wajah Rico yang semula terlihat jengkel berubah saat tatapan Octa mengintimidasinya.
Senyuman konyol yang sangat kontras di wajah tegas Rico membuat Alex dan Rian tertawa. Octa pun terkekeh saat berhasil mengerjai sahabatnya itu. Tawa memenuhi seisi ruangan berukuran 4x8 meter yang mereka sebut 'Basecamp'.
...***...
Hari beranjak sore dan matahari bersiap kembali ke peraduan saat seorang wanita berpakaian casual dengan topi hitam dan kacamata hitam itu menyeret kopernya keluar bandara. Headset bluetooth nampak terpasang di sebelah telinganya. Langkah elegan itu terhenti saat iris matanya menangkap sosok pria bermasker dan bertopi hitam yang menatap penuh kerinduan.
Matanya berkedip beberapa kali sebelum senyum manis bertengger di wajah teduhnya. Setelahnya kaki jenjang berbalut celana bahan berwarna pastel itu membawanya sampai ke pelukan sang pria berwajah jenaka yang berjarak sekitar 3 meter darinya.
"I miss you, honey. "
Si wanita hanya terkekeh mendengar ungkapan rindu itu.
"Kamu gak pernah berubah, Rian. "
"Aku bukan power rangers, honey. "
Setelahnya hanya ada tawa dan pelukan diantara keduanya. Di dalam mobil yang terparkir beberapa meter dibelakang mereka, seseorang tengah menatap dari kaca spion dengan sorot mata tak terbaca.
Menit selanjutnya Rian menggenggam erat tangan wanita itu yang dibalas dengan rangkulan mesra di lengan kanannya. Sementara tangan kiri Rian menyeret koper milik wanita itu. Mereka berjalan menuju mobil dibelakang mereka dan masuk ke kursi belakang belakang setelah Rian memasukkan koper sang kekasih ke bagasi.
"Hi, Octa. Long time no see. " Sapa si wanita pada Octa yang duduk di kursi kemudi.
"Hi, Morin. "
Wanita bernama Morin itu terkekeh mendengar jawaban singkat Octa.
"Dia juga gak berubah ya, sayang. Masih lebih waras dari kamu. "
__ADS_1
"Yang penting aku lebih seksi. " Celetuk Rian narsis.
Wanita itu kini tertawa lepas. Perjalanan mereka dipenuhi tawa dan canda yang bahkan berhasil membuat Octa menyunggingkan senyuman. Bahkan kadang Octa terkekeh menanggapi candaan kedua pasangan konyol itu. Meski begitu tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Memang dasarnya Octa terlalu malas untuk bicara hal-hal tidak penting.
Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk sampai ke apartemen Morin. Saat turun dari mobil, langit sudah mulai gelap. Rian mengantar Morin sampai kamar apartemen Morin sementara Octa menolak ikut tanpa alasan yang kuat. Dia hanya mengatakan dia sedang malas berjalan dan hal itu berhasil membuat Rian dan Morin tertawa sebelum masuk gedung apartemen.
"Gimana di sana? Lingkungannya bersih gak? Kamu baik-baik aja kan selama di sana? " Tanya Rian sambil duduk di sofa begitu mereka masuk ke kamar apartemen Morin.
Morin tersenyum mendapat pertanyaan beruntun dari Rian. Dia yang baru kembali dari kamarnya setelah menyimpan koper langsung duduk di samping Rian.
"Harusnya aku yang khawatir sama kamu, sayang. Bagus yah, mulai main rahasia. Kamu kira aku gak tau soal kecelakaan itu? Kamu itu aktor terkenal, media gak mungkin cuma lewat doang pas tau kecelakaan itu. "
Rian nyengir tak berdosa mendapatkan omelan Morin.
"Maaf, Honey. Aku gak bermaksud tutupin ini dari kamu. Kamu kan ada kerjaan di sana dan aku gak mau kamu repot-repot pulang cuma buat aku. "
"Aku udah pulang sekarang, pokoknya aku ikut kemanapun kamu pergi. " Putus Morin tidak mau dibantah.
Rian menghembuskan nafas kasar membuat Morin mendelik tajam.
"Why?! Kamu gak suka aku dekat kamu terus?! Mau bantah?! Ayo coba! Bantah cepat! "
Rian gelagapan mendapat amukan dari Morin.
"Eh! Enggak, Honey. Enggak, serius deh. " Sangkal Rian dengan memasang pieces.
'Astaga! Pacar gue makin galak aja. Tau gini gue seret tadi si Octa biar ikut. Kan biasanya Morin suka sok imut depan orang lain. Gimana nih nasib gue sekarang? Sorry, kuping. Lo harus dengerin kesayangan gue ngomel seksi. Cuma 2 jam doang, kok. '
Membatin membuat Rian sesaat melamun. Saat ia tersadar tampak dua jengkal di depan wajahnya wajah Morin yang menatapnya dengan seram.
'Mampus! '
...***...
Setelah mendengar omelan Morin yang untungnya kurang dari dua jam itu, akhirnya sekarang Rian bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Meski pikirannya belum bisa tenang karena Morin malah ngambek padanya.
'Ya jelas Morin ngambek lah, lo ngatain dia setan. Bego emang lo, Rian. Mulut gue lemes banget sih kalo dipake ngomong kasar. Kena batunya, kan? Susah pasti bujuknya. Morin kan gak luluh sama makan kayak gue. Disogok pakai mobil aja biasanya mikir lama dulu. Mampus gue! Mana bakal nempel terus, abis riwayat gue! '
Dan kurang ajarnya lagi selama Rian diomeli, Octa yang ternyata ikut ke apartemen Morin dengan santainya menonton sambil makan cemilan di meja ruang tamu. Akhirnya Rian ikutan ngambek sampai saat ini.
Rian duduk di kursi sebelah Octa yang sedang mengemudi. Sesekali melirik Octa yang terlihat fokus ke jalanan. Rian kesal sendiri karena Octa tidak sekalipun membujuknya. Malah Octa bersikap seolah tidak ada masalah apapun dengannya seperti biasa. Rian mendengus sebelum memiringkan posisinya ke sebelah Octa.
"Lo gak ada niat bujuk gue gitu?! " Ketus Rian.
"Emang harus? " Jawab Octa sok polos.
"Gue kan lagi ngambek, gak peka banget sih jadi cowok. Gue pokoknya gak mau ngomong sama lo! "
"Cowok kok ngambek? "
Rian semakin kesal dan cemberut mendapat ledekan dari Octa. Bahkan sampai mobil yang mereka kendarai masuk ke halaman rumah Octa, Rian masih dalam mode ngambeknya. Saat keluar dari mobil matanya menangkap kehadiran Alex dan Rico yang tengah menunggu kepulangan mereka di depan rumah yang Octa tempati.
Rian berjalan menghentak-hentakan kaki sambil menjaga jarak dari Octa untuk menghampiri Alex dan Rico. Saat sampai Rian langsung menempeli Rico dengan wajah cemberut nya.
"Kenapa lagi tuh bayi? Ampe mukanya kucel kayak gitu? " Tanya Alex pada Octa.
"Kaya lo gak tau aja. " Jawab Octa sekenanya.
__ADS_1
Alex memang biasa memanggil Rian bayi saat Rian ngambek. Bukan hanya karena umur Rian yang memang paling muda diantara mereka, tapi juga karena kelakuan manjanya yang akan semakin menjadi saat ngambek.
"Gue diomelin Morin tapi si Octa malah enak-enakan nonton sambil makan cemilan, kan sialan banget! Hukum bang Alex! Hukum aja si Octa! "
"Lo giliran ada butuhnya baru sadar gue lebih tua dari lo. " Celetuk Alex jengah.
"Rico!! Mereka jahat! " Adu Rian sambil merengek manja.
Alex tertawa dengan kurang ajarnya sementara Rico kikuk sendiri saat mendapat rengekan dari Rian.
'*B*uset! Ni setengah manusia malah ngadu ke gue. Gak sadar apa ya kalo si Octa tuh serem. Selama ini padahal nih orang doang yang paling berani nempel terus sama tuh "Arca berjalan". Gimana cara bikin ni orang diem yah? Apa lain kali gue antar aja ke rumah sakit jiwa? '
Rico hanya membatin bingung. Rico yang kena padahal Alex yang paling tua.
" Lo gak takut kalo Morin liat lo kayak gini? Mana tau dia jadi ilfil sama lo. Emang lo mau ditinggalin si Morin? Mending udahan deh ngambeknya, yah? " Ucap Rico mencoba menenangkan.
Sementara Alex masih tertawa dan Octa sudah nyelonong masuk ke rumahnya.
"Lo pada mau diluar aja? Ya udah deh. "
"Eh! Kurang ajar bener lo! " Sahut Alex ngegas.
Tiba-tiba Rian ikut masuk ke rumah Octa dengan masih mode ngambek. Diikuti Rico dan Alex dibelakangnya. Setelah masuk ke rumah Octa, Rian langsung ditarik Octa sampai ke meja makan. Mata Rian langsung berbinar saat melihat makanan memenuhi meja makan. Rian segera memasang wajah cemberut lagi saat sadar dirinya sedang ngambek.
"Jadi, lo mutusin buat nyogok gue biar maafin lo? Jangan harap! " Ketus Rian sok jual mahal.
"Oh, ya udah. Lagian gue gak salah. " Jawab Octa santai seperti biasa.
Sementara Rico melongo heran.
"Tumben tuh bayi nolak makanan? " Heran Alex.
"Ini mustahil! " Sahut Rico menanggapi.
"Lex! Ric! Makan! Abisin kalo perlu! " Titah Octa tiba-tiba.
Mata Rian terbelalak.
"Eh! Gak bisa! Kan lo nyiapin ini buat gue! Oke deh! Buat sekarang gue maafin. " Sewot Rian sambil memakan makanan di meja dengan tidak tau diri.
"Kan! Apa gue bilang?! Rian tuh gak mungkin nolak pesona makanan. " Heboh Rico membuat Rian berdecak.
Sementara Alex mengangguk-angguk kepala pelan dengan tangan terlipat di depan dada menyetujui ucapan Rico.
"Gue kasih, lo pasti makan juga. "
"Ya iyalah! Sayang kalo dibuang. "
"Lo berdua ribut mulu, tinggal makan doang pakai banyak bacot! " Tegur Alex sambil mencomot makanan di depan Rian.
"Eh! Kurang ajar! Main comot aja! "
"Udah! Makan! " Titah Rico sambil memasukkan makanan ke mulut Rian.
Octa terkekeh melihat ketiga sahabat anehnya.
"Emang gak waras! "
__ADS_1