LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Hidup Untukmu (Revisi)


__ADS_3

"Tapi, aku gak pernah liat kak Ian datang. Kak Ian gak mungkin gak tau aku sakit, kan? Katanya berita aku sakit udah tersebar, masa kak Ian gak ada waktu jenguk aku? "


Rico menatap adiknya prihatin.


"Eem, Rian sebenarnya dapat rekomendasi dari agensi dan dipindahin ke luar negeri. Dia udah jenguk kamu, kok. Pas kamu belum sadar, dia yang jenguk pertama kali. "


Chelsea tampak cemberut.


"Padahal harusnya Kak Ian pamitan dulu sama aku. "


Rico mengelus rambut Chelsea dengan lembut. Dengan berusaha terus tersenyum, Rico menyembunyikan kenyataan tentang Rian. Saka dan Tuan Besar Xil yang tau kenyataannya pun hanya bisa diam karena mengerti pilihan yang diambil Rico adalah yang terbaik untuk Chelsea.


"Rico, kamu ke sini bawa mobil? " Tanya Tuan Besar Xil membuat Rico langsung menoleh.


"Enggak, Yah. Susah, banyak wartawan. " Jawab Rico sambil duduk di kursi dekat ranjang.


"Ya udah, kita bisa pulang bareng. Kamu gak ada kerjaan lagi, kan? "


"Gak bisa, Yah. Rico ada urusan sama Alex. "


Rico nampak fokus mengupas jeruk yang diminta Chelsea. Seolah mengerti maksud Rico, Tuan Besar Xil hanya mengiyakan tanpa kembali bertanya.


"Kak Rico jangan kerja terus sampai lupa waktu, gak usah sok sibuk deh, Kak. Sampai gak punya waktu buat Chelsea. "


Rico terkekeh saat mendapatkan teguran dari Chelsea.


"Iya deh, iya. Tapi gak janji. "


Chelsea yang awalnya ingin tersenyum malah cemberut. Tiba-tiba Saka beranjak dari sofa dan mendekati Chelsea. Saka duduk di ujung ranjang sebelah kanan Rico.


"Biarkan kakakmu fokus bekerja, kan masih ada Bang Saka. "


Rico mendengus sementara Chelsea tersenyum sambil menikmati jeruk yang telah dikupas Rico.


"Setelah dipikir-pikir, kayaknya bener juga. Kak Rico kerja aja, ada Bang Saka yang jagain Chelsea. "


Rico menatap tajam Saka yang malah tertawa karena merasa menang. Sementara Tuan Besar Xil hanya geleng-geleng kepala.


"Oh iya kak, kalo Chelsea udah keluar dari rumah sakit, kayak Chelsea mau nyusul kak Ian aja. " Ucap Chelsea dengan mata berbinar.


"Hush! Sembarangan kamu! " Sewot sang ayah spontan.


Chelsea mengerutkan dahi bingung dengan sang ayah. Sementara Saka malah gelagapan seperti orang yang ketahuan berbohong.

__ADS_1


"Maksud ayah apa? Kok gitu ngomongnya? Chelsea gak ngerasa ada yang salah, Chelsea kan cuma bilang mau nyusul kak Ian, katanya Kak Ian direkomendasikan ke luar negeri. "


Sang ayah ikut gelagapan seperti Saka dan membuat Rico jengah dan menggerutu dalam hati.


'Udah gak bisa jaga rahasia, gak pinter acting lagi. Gue lagi akhirnya yang harus nanggung dosa. '


"Gini loh, Chelsea. Maksud ayah tuh kamu kan sekolah disini, kalo nyusul Rian ke luar negeri, masa kamu harus izin berhari-hari. Atau bahkan bisa sampai hitungan minggu. "


Mendengar penjelasan Rico membuat Chelsea mengangguk-angguk paham dan membuat Saka dan sang ayah bernafas lega.


"Ngomong dong dari tadi, malah pada gelagapan kayak orang lagi bohong aja. " Celetuk Chelsea membuat sang ayah dan Saka seketika gugup.


"Tapi kan, Yah. "


Chelsea menggantung ucapannya dan membuat sang ayah kembali merasa tidak tenang.


"Kita kan orang kaya, Chelsea bisa dengan mudah pindah sekolah, pindahin aja Chelsea ke tempatnya Kak Ian. Kan gampang. " Ucap Chelsea dengan entengnya.


Ketiga pria di sana hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat mendengar ide gila Chelsea.


...***...


Tidak terasa satu minggu telah berlalu dan hari ini langit terlihat mendung. Chelsea sudah keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu tapi di sinilah Rico berada saat ini. Duduk gelisah bersama Alex dan Octa di kursi tunggu depan ruang rawat Rian. Sesekali mata ketiganya menatap pintu rawat Rian dengan tatapan penuh harap.


"Ini benar-benar sebuah keajaiban, pasien sadar di saat seharusnya kami mencabut semua alat penunjang hidupnya. Tapi, tolong jangan membebani pikirannya dulu, karena mungkin pasien butuh beradaptasi dengan kondisinya saat ini. " Ujar dokter membuat ketiganya benar-benar merasa lega.


Alex dan Rico masuk ke ruang rawat Rian lebih dulu sementara langkah Octa terhenti. Octa tersenyum sambil mengelus dada. Tiba-tiba saat ia hendak masuk kedalam ruang rawat Rian suara notifikasi handphone menghentikan langkahnya. Octa merogoh handphone yang ia simpan di saku celana. Lagi, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Octa membuka pesan itu dan sontak matanya menatap tajam.


Unknown Number:


Tuhan udah kasih lo kesempatan, gunain sebaik-baiknya.


Sementara itu di dalam ruang rawat terlihat Rian yang tengah menatap kosong. Rico tidak bisa menahan air mata haru saat melihat Rian benar-benar sadar. Langkah Rico menuntunnya mendekat ke ranjang Rian.


"Rico, Chelsea gak tau keadaan gue, kan? "


Pertanyaan Rian membuat Alex dan Rico sendiri tertegun. Bersamaan dengan kedatangan Morin dan Octa yang juga samar-samar mendengar pertanyaan Rian. Morin nampak mematung sesaat.


'Kenapa? Kenapa gue ngerasa gak rela? '


"Morin? "


Mata Rico dan Rian sontak menoleh ke arah pandangan Alex yang memanggil nama Morin. Morin tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Setelahnya berlari kecil menghampiri Rian dan menangis sambil memeluk tubuh Rian yang masih terbaring lemah di ranjang. Rian tersenyum kemudian berusaha mengangkat sebelah tangannya untuk mengusap rambut Morin.

__ADS_1


"Kenapa kamu selalu bikin aku takut, sayang? "


Rian melepaskan pelukan Morin dengan pelan kemudian menatap mata sembab Morin sambil tersenyum.


"Mulai sekarang aku bakal hidup untukmu, Honey. "


Sementara itu di kediaman keluarga Xil, Chelsea tengah duduk di teras belakang menikmati secangkir teh hijau sambil menghirup udara segar di pagi hari. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain bersantai ria karena hari ini adalah akhir pekan.


Pagi-pagi buta Chelsea memergoki Rico yang pergi dengan terburu-buru padahal semalam ia tidak ingat jam berapa Rico pulang. Sempat Chelsea berpikir untuk membuntuti kakaknya itu tapi sialnya sang ayah malah memergokinya. Alhasil Chelsea tidak bisa keluar rumah karena kesulitan mencari alasan.


"Kak Ian gimana ya kabarnya? Jadi kangen deh. " Gumam Chelsea sambil menengadah menatap langit yang mulai mendung.


Tiba-tiba nafasnya sesak, jantungnya berdebar kencang dan pandangannya semakin kabur. Chelsea beranjak dari duduk kemudian berjalan sempoyongan ke arah pintu masuk. Beberapa kali ia hampir tersungkur, untung saja tangannya sigap mencari penopang.


"Kenapa ini? Nafas aku sesak. "


Chelsea melanjutkan langkahnya kemudian kembali terhuyung. Kali ini tangannya tidak menemukan penopang, untungnya seseorang sigap menahan tubuhnya sehingga tidak menghantam lantai. Chelsea mendongak dengan lemah dan mendapati raut khawatir terpampang jelas di wajah penyelamatnya yang lagi-lagi adalah Saka.


"Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan? "


"Nafas.. Aku.. Sesak.. " Jawab Chelsea dengan terbata-bata.


Tanpa meminta persetujuan Chelsea, Saka langsung memangku tubuh lemah Chelsea menuju kamar. Di luar hujan turun dengan derasnya. Sesekali petir menyambar menciptakan kilatan cahaya yang membuat banyak orang terkejut. Di susul gemuruh yang menakutkan.


Sampai di kamar Chelsea, Saka segera membaringkan tubuh lemah Chelsea di atas ranjang. Beberapa pelayan rumah yang melihat Saka memangku Chelsea langsung ikut masuk ke kamar Chelsea dengan wajah-wajah penasaran.


"Cepat panggil dokter! Lapor juga ke Om, sekarang! " Teriak Saka saking paniknya.


Mata Chelsea mulai terlihat sayu. Terlihat air mata mengalir dari sudut matanya. Bibirnya memucat dan tangan dan kakinya mulai mendingin. Chelsea tampak semakin kelelahan dan perlahan kesadarannya semakin menipis dan akhirnya ia benar-benar tidak sadarkan diri.


'Kak Ian, Chelsea rindu. '


Di ruang rawatnya Rian yang tengah mengobrol dan bercanda ringan tiba-tiba memegangi dadanya sambil meringis kesakitan. Morin dan ketiga sahabatnya langsung panik melihat Rian yang sampai meringkuk di ranjangnya karena menahan sakit. Kepala Rian berdenyut nyeri bersamaan dengan darah yang mengalir dari telinganya.


Lagi, pemandangan mengerikan itu terjadi didepan mata Octa. Rian terbatuk-batuk dan memuntahkan darah ke lantai ruang rawatnya membuat tubuh Octa bergetar. Morin memekik histeris sementara Rico langsung menghampiri Rian dan membawa sahabatnya itu ke dalam dekapannya. Alex tidak tinggal diam, ia berlari seperti orang kesetanan mencari dokter padahal di ruang rawat ada bel darurat.


Bola mata Rian mulai juling dan tubuhnya kejang-kejang. Morin menangis sampai terduduk di lantai rumah sakit karena lemas. Sementara Octa mematung dengan tubuh bergetar. Rico yang tidak sanggup melihat keadaan Rian sampai menangis sambil terus mengajak Rian bicara untuk mempertahankan kesadaran.


"Rian, lo denger gue, kan? Jangan tutup mata! Jangan pernah lo tutup mata! "


Pakaian Rico sudah kotor dengan noda darah. Tapi Rico tetap mempertahankan Rian dalam dekapannya. Rico beberapa kali mengumpat saat Alex tidak datang juga.


'Chelsea, Kak Ian gak ngerti. Tapi rasanya pengen hidup, hidup untukmu. '

__ADS_1


...***...


__ADS_2