LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Bocah Dan Si Iris Abu (Revisi)


__ADS_3

Alex sedang mengemudikan mobil saat handphonenya bergetar pukul 8 malam. Panggilan masuk dari kontak bernama 'Zoya' membuatnya menghembuskan nafas kasar.


"Gue udah mau nyampe lokasi. "


"... "


"Entar gue cari waktu, gue lagi nyetir. "


"... "


"Iya, gue dengerin nanti. "


"... "


Alex memutuskan panggilan sepihak dan kembali fokus mengemudi. Alex pribadi yang ramah di kesehariannya, hanya saja sekarang ia benar-benar sedang lelah. Gangguan kecil saja akan membuatnya kesal.


Seperti yang dikatakannya, Alex hampir sampai ke tujuan. Tidak butuh banyak waktu sampai mobilnya memasuki area parkir yang masih dipenuhi mobil. Lampu-lampu dan kamera masih menyala karena syuting pun belum selesai. Tampak dari kejauhan Morin melambaikan tangan pada Alex sambil berlari kecil.


"Lama banget sih! Jalan ke sini tuh gak pernah macet apalagi jam-jam segini. " Omel Morin yang hanya diabaikan Alex.


Alex segera menyerahkan tas berukuran agak besar pada Morin kemudian nyelonong pergi menuju tempat Rian yang sedang istirahat. Terlihat Rian duduk bersandar dengan mata terpejam. Tidak mau mengganggu Rian, Alex memilih langsung duduk di kursi sebelah Rian sambil bersandar dan memejamkan mata seperti yang Rian lakukan.


Hari ini sangat melelahkan bagi keduanya. Yang satu harus syuting seharian melawan ketakutannya setelah lama tidak menginjak dunia entertainment dan yang satu lagi ke sana kemari mengurus keperluan aktornya dan mengurus masalah kerja sama di agensi. Jarak Agensi dan lokasi syuting yang lumayan jauh tentu akan sangat menguras tenaga jika harus bolak-balik.


"Capek ya, Lex? "


Alex sontak membuka matanya saat mendapat pertanyaan dari Rian yang ternyata sama sekali tidak tertidur. Kepalanya menoleh ke samping menatap Rian yang ternyata sedang menatapnya sambil tersenyum dengan wajah lelahnya.


"Gitu deh. Hari ini agensi bikin kesel, kalo gak digaji gue ogah bolak-balik. "


Rian terkekeh.


"Baru tau gue kalo seorang Alex bisa ngeluh pakai segala bilang kesel. Biasanya Tuan Alex yang budiman ini di pihak agensi sambil ngeluarin kata-kata bijak. "


Alex kembali ke posisi semula sambil terkekeh dengan mata terpejam. Ia terlalu lelah untuk sekedar tertawa.


"Ternyata ketawa juga butuh energi. "


...***...


Kamar bernuansa feminim berukuran 8x8 meter yang biasanya berisik dengan alunan lagu K-pop itu tiba-tiba berubah hening seharian ini. Si penghuni kamar yang baru menyelesaikan ritual mandinya itu kini tengah rebahan di ranjang queen size miliknya sambil berguling-guling tidak jelas.


Pikirannya penuh dengan banyak hal yang lama-lama membuatnya pusing sendiri. Dia berteriak frustasi membuat para pelayan yang terbiasa dengan tingkah anehnya geleng-geleng kepala.


Setelah lelah dengan pikirannya sendiri, dia memilih terlentang di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang dipasangi lampu berbentuk bintang-bintang kecil. Matanya menatap kosong bintang-bintang kecil itu kemudian menyipit seakan sedang menerawang.


"Akhirnya aku tau, ternyata... " Ucapannya menggantung.


Dia mendesis sebelum melanjutkan ucapannya.


"Aku lapar. " Lanjutnya sambil mengubah posisi tubuhnya jadi telungkup.


Setelah cukup lama telungkup di atas ranjang, tiba-tiba dia mengubah posisi jadi duduk dan selanjutnya berlari keluar kamar seperti orang kesetanan. Para pelayan dan pengawalnya hanya bisa menatap aneh dengan kelakuan nona mereka.

__ADS_1


Dan saat sampai di dapur matanya langsung berbinar. Senyum cerah tercetak di wajah cantiknya membuat seseorang yang sedari tadi tengah menunggunya di meja makan terkekeh.


"Akhirnya kamu turun juga, ayah pikir harus menyeret Rian dulu ke sini untuk membujuk putri ayah yang ngambek ini. "


Dia berdecak menanggapi gurauan ayahnya.


"Ayah, berhenti menyebut nama dia! Selera makan Chelsea rasanya akan hilang. "


Yah! Siapa lagi anak konglomerat yang ada di cerita ini selain Chelsea. Rengekan Chelsea membuat ayahnya kembali terkekeh karena gemas. Chelsea akhirnya bergabung bersama ayahnya di meja makan.


"Dimana kakakmu yang sok sibuk itu? "


"Dimana lagi yah, di lokasi palingan. Biarin yah, kalo lapar juga nanti pulang sendiri. " Jawab Chelsea yang masih fokus dengan makanannya.


"Kak Chelsea jangan gitu! "


Sontak atensi Chelsea dan Ayahnya teralihkan ke sumber suara. Nampak seorang anak perempuan datang bersama pengasuhnya kemudian ikut bergabung bersama mereka.


"Tumben kamu belain kakak kamu yang satu itu, Arshie? " Heran sang ayah pada putri bungsunya yang baru bergabung.


Anak perempuan yang dipanggil Arshie itu menoleh.


"Ayah nanya apaan sih? Aku gak belain siapa-siapa, maksud aku tuh kak Chelsea jangan makan duluan. Ayah aja belum makan karena nungguin kakak, Kak Chelsea malah anteng. Gak tau diri! "


Celetukan Arshie membuat Chelsea cemberut sementara sang ayah terkekeh. Anak bungsunya memang yang paling bermulut tajam.


"Gak mau kehabisan mah ngomong aja! Pake segala sok bijak, boncel! " Gerutu Chelsea sambil tetap mengunyah makanannya.


Ayahnya masih enak tertawa sendiri sampai tidak menyadari kehadiran seseorang dengan hoodie hitam dilengkapi kacamata dan masker senada. Kepalanya tertutup hoodie persis seperti orang yang akan maling.


"Wah, wah, wah, kakaknya capek cari duit sampai kelaparan dan keluarganya dengan santai bergosip sambil makan? " Sindir orang itu sambil ikut bergabung ke meja makan.


"Sok sibuk cari duit, ngasih mah kagak. " Celetuk sang ayah.


"Sok ganteng lagi, padahal masih lebih ganteng kak Ian. " Sahut Chelsea ikut mengejek kakaknya.


"Kak Ian terus yang disebut. Capek Arshie dengerinnya tapi gak pernah kesampaian dari dulu. Arshie saranin menyerah aja deh, Arshie prihatin liatnya. "


Celetukan Adik bungsunya membuat si kakak sulung dan sang ayah tertawa.


"Bener tuh, gue setuju! " Dukung si sulung yang merasa menang karena tidak lagi disudutkan.


"Tapi yah Kak, kak Ian emang lebih ganteng dari kakak. Arshie bosen deh rasanya liat muka kakak dari lahir. Lagian kakak cari duit terus tapi gak pernah ngasih Arshie jajan. "


'Sialan keluarga gue! Matre semua, pakai kompak menistakan gue segala. Tapi, gue kan ganteng jadi gue bakal sabar. '


Si sulung hanya mengelus dada menghadapi tingkah ajaib keluarganya. Setelah diangkat ke langit, akhirnya tetap dihempas ke bumi. Malam itu terlewati oleh setiap orang dengan berbeda kegiatan.


...***...


Matahari baru mulai terasa panasnya, sebagian orang masih memilih tidur di pagi cerah hari libur. Tapi Alex sudah dipaksa untuk mengemudi, padahal semalam ia pulang larut. Mobil Alex melaju di jalanan yang cukup lengang. Laju mobilnya lumayan cepat karena ingin segera sampai ke tujuan.


15 menit dan Alex sampai di tujuannya, Bandara. Hari ini dia bertugas menjemput seseorang. Tidak lama menunggu, nampak seorang pria berpakaian serba hitam bersama bocah laki-laki usia 11 tahun melambaikan tangan pada Alex yang tengah senderan ke mobilnya.

__ADS_1


"Hello, Kak. " Sapa si bocah dengan wajah datarnya.


Alex menghela nafas menanggapi sapaan dingin bocah itu.


"Lo siapa sih? Gak ketemu bentar doang udah sok cuek. "


Bocah itu tertawa hambar dengan masih memasang wajah datarnya.


"Bener juga sih, 2 tahun emang bentar. " Sahut si bocah kemudian nyelonong masuk ke dalam mobil Alex.


Seorang pria berpakaian serba hitam nampak tengah menunggu Alex masuk mobil sementara yang ditunggu masih syok dengan kelakuan adiknya.


'Udah 2 tahun ternyata. '


Perjalanan Alex terhenti di supermarket yang lumayan dekat dengan rumahnya. Ia hampir lupa membeli bahan makanan. Karena terbiasa hidup sendiri dan hanya fokus pada kesibukannya menjadi manager membuatnya tidak pernah memikirkan bahan makanan.


Biasanya jika lapar dan sedang berada di rumah saja Alex akan memesan makanan cepat saji. Tapi berhubung adiknya kini tinggal bersamanya Alex jadi harus repot-repot belanja.


Si bocah yang menyadari mereka berhenti di supermarket langsung saja turun dari mobil saat mobil Alex berhenti di parkiran supermarket. Jiwa anak kecilnya tidak bisa diajak kompromi jika masalah jajanan. Dan yang dilakukan Alex hanya geleng-geleng kepala sambil menyusul adiknya yang sudah nyelonong masuk ke supermarket.


Di dalam supermarket Alex fokus memilih bahan makanan sampai tidak sadar kalau adiknya berkeliaran ke sana kemari. Si bocah berjalan menuju rak pasta dengan gaya sok jaim.


Saat sampai matanya berbinar melihat puluhan bungkus pasta yang berjejer berbagai rasa. Dan saat hendak mengambil bungkus pasta yang diinginkannya, seorang anak perempuan menabraknya dengan cukup keras sehingga keduanya terjatuh.


Si bocah segera berdiri tanpa memperdulikan anak perempuan yang sedang meringis karena ternyata pergelangan kakinya memar. Anak perempuan itu berusaha berdiri tapi tetap sulit dan si bocah malah fokus memilih bungkus pasta tanpa peduli sekitarnya.


"Hey! "


Si bocah menengok ke sana kemari sebelum menyadari bahwa anak perempuan yang terduduk itu yang ternyata memanggilnya dengan suara cempreng.


"Apa? " Tanya si bocah dengan nada datar.


"Kau tidak berniat membantuku? Tidak lihat aku kesulitan berdiri? " Ketus si anak perempuan.


"Aku tidak mengenalmu. "


Si bocah sudah mulai melangkah hendak pergi meninggalkan anak perempuan itu dengan beberapa bungkus pasta dikedua tangannya saat tangan anak perempuan itu berhasil menggapai sweater yang dipakainya. Langkah pendek si bocah terhenti dan kepalanya menoleh, menatap anak perempuan itu dengan tatapan bertanya.


"Ara! "


Si bocah menoleh ke sumber suara. Tampak Alex berlari kecil menghampiri si bocah yang dipanggil Ara itu dengan wajah cemas. Saat sampai Alex langsung membantu anak perempuan yang terduduk di lantai supermarket itu untuk berdiri. Anak perempuan itu meringis saat merasakan sakit di pergelangan kakinya.


"Coba jelasin Ara! Ada apa sebenarnya? " Tanya Alex menuntut sambil menahan tubuh si anak perempuan agar tidak jatuh.


"Dia menabrak ku dan terjatuh. Selesai. " Jawab Ara dengan santainya.


Alex baru akan mengomel saat seorang pria datang menghampiri mereka dengan hoodie hitam, topi, dan masker senada yang dipakainya. Tatapan Alex dan pria itu beradu. Tampak keterkejutan di iris si pria.


Setelah berpamitan si pria bergegas menggendong anak perempuan tadi dan pergi meninggalkan Alex yang tampak mengernyit. Alex mematung sambil membatin.


'Iris abu itu kayak familiar, kayaknya gue pernah ketemu sama tuh orang. Penampilannya juga gak asing. Ketemu dimana yah? '


"Kak! Mau pulang gak? "

__ADS_1


__ADS_2