
Chelsea sedang sibuk menikmati batagor di kantin setelah menghindari dua makhluk aneh yang terus membuntutinya. Belum lama bernafas lega, dua makhluk aneh itu sudah kembali menemukannya. Alhasil Chelsea kembali beranjak meninggalkan batagor di atas piring yang baru ia makan beberapa suap.
Raja dan Kara yang melihat Chelsea hendak kembali menghindari mereka segera mencegat langkah Chelsea. Berdiri berjajar seperti pagar rumah dengan gaya sok keren untuk menghalangi jalan Chelsea. Chelsea menghela nafas dan menatap keduanya jengah.
"Bisa gak lo berdua gak usah ngikutin gue? "
Kedua pria itu nampak berpikir sebelum dengan kompak menjawab.
"Gak bisa. "
Chelsea mendengus kesal.
Tiba-tiba atensi ketiganya teralihkan pada seorang pria bertubuh jangkung dengan senyum manisnya dan lesung pipi yang memanggil nama Chelsea dengan lantang. Suara tenornya membuat para penghuni kantin lainnya ikut menatap dengan tatapan yang berbeda satu sama lain.
Chelsea menyeringai penuh arti kemudian berjalan melewati Raja dan Kara begitu saja untuk menghampiri pria itu. Kara dan Raja melongo heran. Apalagi saat Chelsea dan pria itu terlihat mengobrol dengan akrab.
"Tumben Bang Alfa panggil-panggil, biasanya datang langsung acak-acak rambut aku. " Sindir Chelsea yang membuat pria dengan nametag 'Nareska Dalfa De Adhitama' itu terkekeh.
"Bisa aja kamu, kalo beneran di acak-acak entar nangis lagi. Ujung-ujungnya ngadu ke Bang Saka biar abang dimarahin. "
"Tau aja deh abangnya Chelsea. " Ucap Chelsea sambil menonjok lengan Alfa.
Alfa sampai terdorong dengan tonjokan Chelsea yang ternyata tidak main-main.
"Biasa aja dong! Gak usah pakai tenaga juga. "
Chelsea hanya nyengir tak berdosa. Raja dan Kara yang melihat interaksi akrab Chelsea dan Alfa langsung berjalan menghampiri keduanya.
"Eh, ada lo juga. Ngapain di kantin SMP? " Tanya Alfa saat melihat Kara.
"Lo juga kesini mau ngapain? "
"Oh iya, hampir lupa. Kamu disuruh ke ruang Ketua yayasan, dek. " Ucap Alfa yang baru mengingat maksud kedatangannya.
Raja dan Kara menatap heran sementara Chelsea tersenyum tipis.
"Ada urusan apa ketua yayasan panggilan Chelsea? " Tanya Raja dengan tatapan herannya.
" Ya, mana abang tau. "
"Ya udah, aku ke ruang ketua yayasan dulu ya. " Pamit Chelsea kemudian melangkah pergi sambil menggenggam bandul kalung berbentuk bunga matahari yang ia pakai.
Ada senyum penuh arti yang terlukis di wajahnya.
'Akhirnya datang juga, udah waktunya ya? Rasanya singkat banget. '
...***...
Hari mulai beranjak siang saat Alex meminta Morin menemuinya di kafe langganan mereka sejak masa putih abu-abu. Alex sudah menempati salah satu meja saat memutuskan menelpon Morin.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Morin datang juga. Lumayan cepat karena jarak kafe yang dekat dengan rumah Morin. Keduanya bertegur sapa dengan singkat dan langsung saja memesan minuman.
Alex terkekeh hambar saat menyadari bahwa apa yang mereka suka tidak pernah berubah sejak dulu. Ia dan jus semangkanya dan Morin dengan yogurt stroberinya. Tapi kemudian wajahnya kembali datar tanpa ekspresi. Rasa kecewa menyerang hatinya membuat ia lama terdiam. Morin pun ikut diam saat Alex tidak juga memulai pembicaraan.
"Gue udah tau semuanya. "
Morin yang tengah tertunduk sambil menikmati yogurt stroberinya itu sontak mendongak. Tatapan bingungnya ia layangan pada teman kecilnya yang balik menatap tanpa ekspresi.
"Tentang lo, Octa dan.. Rian. Gue pengen dengar dari mulut lo sendiri. " Lanjut Alex membuat Morin mematung.
Morin menegakkan duduknya, meremas jari-jarinya dan menunduk dalam. Alex masih diam menunggu tanggapan Morin.
__ADS_1
"Dari mana lo tau? " Tanya Morin sambil menatap Alex dengan wajah bersalah.
Alex menghela nafas sambil bersandar di kursi.
"Bukan itu yang mau gue dengar, itu gak penting sekarang. "
Lagi, Morin terdiam.
"Lo mau jelasin atau gue yang harus kasih tau lo apa yang udah gue tau? "
Morin menghela nafas.
"Gue gak tau apa yang lo pikirin tentang gue, tapi kenyataannya gak kayak gitu, Lex. Lo harus percaya sama gue, gue juga terpaksa. "
Alex mengernyit.
"Jadi? "
"Gini Lex, masalahnya gue sama.. G-gue... "
Morin menghembuskan nafas kasar sambil memalingkan wajahnya. Nampak jelas Morin kesulitan untuk memberi penjelasan. Apalagi saat benaknya kembali mengingat tentang Rian. Rasa bersalahnya benar-benar membuatnya sesak.
"Gue gak tau harus ngomong apa, Lex. " Lirih Morin sambil tertunduk dalam menyembunyikan air matanya yang menetes tanpa bisa ia kendalikan.
"Gue ngerasa benar-benar jahat, gue bersalah. "
Morin mulai terisak dan membuat beberapa pasang mata di sekitarnya menatap mereka dengan tatapan aneh. Alex menengadah sambil menghela nafas kemudian beranjak mendekap Morin yang duduk terisak.
Tangan Alex refleks mengelus kepala Morin sementara Morin pun langsung memeluk pinggang Alex yang berdiri di sampingnya. Alex membiarkan Morin menangis sampai yakin teman kecilnya itu sudah tenang.
"Lo gak perlu paksain diri buat jelasin semuanya kalo lo gak sanggup, Zoy. "
Morin sontak melepaskan pelukannya kemudian mendongak menatap Alex dengan mata sembabnya. Kepalanya menggeleng beberapa kali.
Alex menghela nafas kemudian mengelus punggung Morin sebelum kembali duduk di kursinya. Morin menghapus air matanya kemudian menatap Alex. Beberapa saat Morin terdiam.
"Waktu itu... "
Flashback On
Nampak punggung wanita berseragam SMA dengan rambut panjang lurus sepinggangnya yang dibiarkan tergerai. Wanita itu tampak cantik meski dilihat dari belakang. Di sampingnya dua siswi duduk menemani, mereka tampak asyik mengobrol.
"Zoya!! "
Wanita berambut lurus itu menoleh saat mendengar panggilan seseorang dari belakang. Ia tersenyum manis pada Alex yang berdiri bersama ketiga sahabatnya yang punya karakter berbeda-beda. Ia bahkan sempat merasa aneh saat mengetahui empat pria itu bersahabat.
Wanita pemilik nama lengkap 'Zoyya Morina Allen' itu berjalan menghampiri Alex dengan senyuman yang masih tercetak di wajah cantiknya. Matanya sempat melirik manik kelam Octa yang berdiri di sebelah Alex sebelum kembali menatap teman kecilnya itu. Belum sempat bertanya maksud kedatangan Alex, Rian menghampirinya dengan senyum jenaka membuat kedua pria lainnya terkekeh.
"Hi, Morin. "
Morin hanya tersenyum membalas sapaan Rian yang sudah biasa ia dapatkan. Bukan rahasia lagi kalau pria jenaka itu memang sudah lama mengharapkannya. Bahkan pria itu beberapa kali menyatakan cintanya didepan umum dan membuatnya malu. Tapi Morin berusaha tetap bersikap baik padanya karena Rian adalah sahabat Alex.
Hari ini Alex mengajaknya ikut pesta barbeque bersama ketiga sahabat Alex tentunya. Awalnya Morin enggan untuk ikut karena ada Rian, tapi ia berubah pikiran saat Octa yang memintanya ikut. Ya, hanya karena Octa yang meminta.
Malam harinya Morin datang ke rumah Alex bersama kedua siswi yang menemaninya tadi siang. Pesta barbeque diadakan di halaman belakang rumah Alex. Saat Morin datang tentu saja Rian yang paling antusias menyambutnya. Meski tidak nyaman Morin tetap berusaha tersenyum.
Morin berusaha menikmati pesta itu sampai lagi-lagi ia dipermalukan. Rian kembali menyatakan cintanya di depan Alex dan teman-temannya. Ia malu dan untuk kali ini dia sudah benar-benar muak.
"Gue udah bilang berapa kali, kenapa lo selalu buat gue malu?! Gue muak! Berhenti ganggu gue! " Teriak Morin membuat Rian mematung.
Sorakan riuh teman-temannya sontak terhenti. Mereka bungkam mendengar jawaban tidak terduga dari Morin. Morin beranjak pergi dari tempat itu tanpa peduli apapun. Alex hendak menyusul Morin tapi kemudian Octa mencegatnya.
__ADS_1
"Lo hibur Rian dulu, biar gue yang nyusul Morin. "
Alex mengiyakan saja ucapan Octa dan langsung menenangkan Rian yang tampak sangat terluka. Sementara Morin masih bergelut dengan amarahnya, ia sangat kesal. Morin sudah berjalan lumayan jauh dari rumah Alex. Jalanan tiba-tiba saja sepi, tidak ada kendaraan umum lewat. Hanya ada mobil-mobil pribadi yang lewat beberapa kali.
Ia berhenti saat menemukan halte bus dan memutuskan duduk di bangku halte berharap masih ada bus yang lewat. Sialnya hujan turun dengan deras. Morin bukan orang bodoh yang akan hujan-hujanan sambil duduk di trotoar seperti drama-drama.
"Untung ada halte, sial banget hidup gue. "
Morin belum sempat bernafas lega saat seseorang tiba-tiba menyelimutinya dengan sebuah mantel. Ia akan mengumpat jika saja wangi parfum yang begitu familiar itu tidak tercium oleh hidungnya. Sebuah senyuman mengembang di wajahnya.
Ia menoleh dan menemukan Octa yang tengah berdiri di sampingnya sambil melipat tangan di depan dada. Pria itu tampak menghela nafas sebelum ikut duduk di bangku halte. Manik kelamnya menatap setiap rintik air hujan yang jatuh membasahi trotoar dan jalanan yang mulai sepi.
"Enak yah main pergi gitu aja setelah bikin ricuh. "
Senyum di wajah Morin hilang seketika, berganti dengan wajah cemberutnya. Morin menatap Octa dengan kesal. Tapi Octa sama sekali tidak terganggu dengan tatapan itu.
"Aku rasa kamu keterlaluan, kasian Rian. "
Morin mendelik.
"Kamu selalu pikirin perasaan Rian, aku pacar kamu. Sampai kapan kita harus main kucing-kucingan kayak gini? "
Kali ini Octa menoleh dan menatap Morin dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kita gak bisa, aku gak perlu jelasin lagi ke kamu seberapa berartinya Rian. "
Morin mengernyit.
"Maksud kamu apa? Kita udah lama jalanin hubungan ini. "
"Terima cinta Rian, jadi pacar dia. "
Morin menatap tak percaya.
"Ini gak seperti yang aku pikirin, kan? Kamu jangan ngada-ngada! Hubungan kita bukan lelucon! Aku gak bisa! Aku gak mau! "
Octa menghela nafas kemudian menggenggam tangan Morin. Matanya menatap dalam pada iris Morin. Nampak jelas betapa Morin tidak main-main dengan penolakannya.
"Apa aku harus memohon sama kamu? Tolong, jangan buat Rian sakit hati. " Pinta Octa dengan sungguh-sungguh.
Morin memalingkan wajahnya. Air mata sudah mengalir tanpa izin melewati pipinya. Ia mencoba menenangkan hati sebelum kemudian menatap Octa yang tengah menatapnya dengan sorot mata bersalah. Mereka sama-sama terluka.
"Oke, kita lihat besok. " Putus Morin pada akhirnya membuat Octa bernafas lega sekaligus sakit hati.
Dan Besoknya kabar Morin yang telah menerima Rian menggemparkan satu angkatan. Awalnya Rian tidak percaya saat Morin mengatakan bahwa perasaannya Morin terima. Masih ada rasa sakit yang membekas di hatinya akibat perlakuan Morin semalam, tapi setelah Morin meyakinkannya, rasa sakit itu hilang begitu saja.
Flashback Off
"Jadi, malam itu Octa minta lo nerima Rian dan lo turutin? " Tanya Alex sambil menatap Morin tidak percaya.
"Gue bingung waktu itu, sebenarnya setelah itu gue maksa Octa buat tetap lanjutin hubungan kami dan dia selalu nolak. Akhirnya emang hubungan itu tetep kami jalanin dibelakang Rian. Sampai gue sadar, ternyata gue udah jatuh cinta sama Rian. "
Alex menghela nafas.
"Kalo lo sadar, kenapa kalian masih jalanin hubungan itu? "
"Kadang lo harus tetap bertahan walaupun cuma karena alasan butuh. "
Alex menatap Morin dengan tatapan yang sulit diartikan. Manik Morin nampak kosong saat menjawab pertanyaannya. Ia tidak lagi mampu mengerti jalan pikiran teman kecilnya itu.
"Kadang lo juga harus jadi antagonis buat tetap ada dalam sebuah cerita. "
__ADS_1
"Maksud lo? "