LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Pengganggu Kecil (Revisi)


__ADS_3

Rico baru mulai menghirup oksigen saat seorang gadis berseragam SMP meneriakkan namanya dari kejauhan.


" Rico!! I am coming! "


Rico memutar bola mata jengah. Gadis itu tidak datang sendiri karena terlihat jelas dua pria jangkung berpakaian serba hitam dilengkapi masker, kacamata dan headset ditelinga dengan warna yang sama. Untung kulit mereka lumayan putih dan berwajah lumayan menarik. Setau Rico gadis itu cukup maniak dengan pria tampan apalagi mirip idol k-pop.


"Temen lo yang ganteng badai kemana? " Tanya si gadis dengan mata jelalatan yang terus menengok ke sana kemari.


Rico memberikan sentilan pada kening gadis itu dengan kesal.


"B*b*! Sakit b*go! "


"Lo datang panggil-panggil gue gak pakai embel-embel dan dengan kurang ajarnya lo malah nanyain temen gue? Yang paling ganteng di sini tuh gue. "


"Dih! Dengerin yah abang tercinta! Gue tuh udah bosen liat muka lo dari lahir dan sekarang gue mau cuci mata, jadi jangan banyak bacot deh! Mana My Lovely Rian?! "


Rico hanya bisa memijat pangkal hidungnya sambil membatin.


'Ini beneran adik gue yah? Apa ke tuker pas mommy lahiran di rumah sakit? Pasti beneran ke tuker! Yakin gue! Kalo fans gue denger ni bocah ngatain kegantengan gue membosankan, abis pasti ni bocah! '


Tiba-tiba senyum gadis itu mengembang. Jika orang lain memuji kecantikan gadis itu, Rico malah bergidik ngeri melihat sikap sok cantik dan sok polos adiknya saat kedatangan Rian.


"Hi, Kak Ian. " Sapa gadis itu dengan anggun.


Rian tersenyum manis sambil berjalan mendekat ke tempat Rico duduk dan gadis itu yang berdiri dengan dua pengawal tidak jauh darinya. Rian berjalan semakin mendekat pada gadis itu membuat wajah gadis itu memerah. Badannya menolak bergerak.


Gadis itu hampir saja terjengkang dan menghantam tanah jika tangan Rian tidak sigap menarik kursi yang berada tepat dibelakang gadis itu. Tubuh gadis itu terduduk di kursi. Wajahnya masih bersemu dan matanya berkedip cepat beberapa kali kemudian melotot saat jarak wajahnya dan Rian semakin terkikis.


'Aduh mommy! Cobaan apakah ini? '


"Hi, Bocah. " Bisik Rian di telinga gadis itu.


Mata gadis itu nampak terbelalak dan seketika tubuhnya panas dingin. Tiba-tiba Rian meniup matanya dan beranjak menuju kursi yang tidak jauh di samping Rico.


Gadis itu menatap tajam pada Rian sambil cemberut. Sementara Rico sudah menertawakannya tanpa peduli adiknya itu akan marah.


"Kak Ian! Aku bukan bocah! " Rengek gadis itu sambil berdiri membuat Rian terkekeh.


Setelahnya gadis itu duduk dengan kasar di kursi. Wajahnya semakin cemberut apalagi saat ternyata kedua pengawalnya pun menahan tawa mereka.


"Cukup, Sayang. Jangan mengejeknya terus. " Tegur Morin yang tiba-tiba datang menghampiri Rian.


Bukannya tersenyum senang, Rian malah cemberut.


'Kan? Udah gue duga! Kalo depan orang lain bakal sok imut. Untung pacar! '


Rian menghela nafas kemudian tersenyum manis pada Morin. Sementara Tatapan tajam dari gadis SMP itu terarah pada pasangan yang nampak serasi.


"Kamu usil terus deh, Sayang! Kasian kan dia. " Ucap Morin selembut mungkin sambil mengacak rambut Rian dengan gemas.


Dan yang dilakukan Rian hanya pasrah sementara Rico menonton drama yang dibuat Morin dengan anteng. Meski bukan kali pertama drama ini terjadi, tapi Rico selalu penasaran dengan setiap aksi menakjubkan Morin. Morin berjalan elegan bak model menghampiri gadis SMP yang menatap tajam padanya.

__ADS_1


"Maafkan pacarku itu, oke? Dia memang sedikit nakal, apalagi sama para PENGGANGGU. Lain kali kita bisa makan bersama, biar aku traktir. " Ucap Morin penuh peringatan meski masih tersenyum manis.


Si gadis SMP tertawa hambar.


"Aku minta maaf, tapi aku merasa lebih kaya darimu, Kakak. Habiskan saja uangmu untuk membeli pakaian yang lebih menyilaukan dari ini. Mungkin pacarmu itu akan merasa silau dan berbalik padaku. " Balas gadis SMP itu sama sinis.


Morin terkekeh seolah mendengar hal lucu.


"Berusahalah sekeras mungkin, nona Chelsea Xilent yang terhormat. "


'Dasar bocah ganjen! '


Morin melangkah meninggalkan gadis bernama Chelsea itu dengan senyuman yang dibuat sangat anggun.


'Lo belum tau apa yang bisa seorang Chelsea Moranka Zui Xilent ini lakuin. Tunggu tanggal mainnya. '


Rian hanya bisa menghela nafas melihat Morin yang baru saja mengibarkan bendera perang. Kemudian bergidik ngeri membayangkan perang antara kedua 'Medusa' itu.


'Belum tau aja kalo tuh bocah bisa nekat, semoga gue gak jadi korban keganasan mereka. Emang susah kalo terlalu mempesona, di rebutin kan jadinya. '


Sementara Rico yang dengan jelas melihat senyum misterius adiknya malah ikut tersenyum sambil membatin.


'Wah! Bakalan seru nih! '


...***...


"Kau pikir saja sendiri! Skandal murahan itu tidak akan menjatuhkannya! "


Seorang pria dengan hoodie hitam dilengkapi kacamata, masker dan topi yang senada nampak membanting handphonenya dengan kesal ke atas sofa setelah memutuskan panggilan sepihak. Ruangan yang cukup terang itu tidak sedikitpun membongkar identitasnya.


Pria itu kembali berpikir setelah berkali-kali bermonolog. Berjalan ke sana kemari sambil terus memutar otak. Mencari ide paling masuk akal untuk dilakukan. Tiba-tiba pria itu berhenti dan kemudian menyeringai misterius dibalik maskernya.


"Bocah itu pasti bisa gue jadikan senjata! Setelahnya si Brengsek akan dengan leluasa gue jadiin kambing hitam. "


"Menakjubkan, sangat menakjubkan. " Lanjutnya memuji ide yang telah ia susun.


Sementara di sisi lain, Alex tengah berbincang bersama sutradara. Membahas beberapa hal seputar perfilman. Kadang keduanya terlihat saling melemparkan candaan kemudian tertawa bersama.


Di tengah keasyikannya, tiba-tiba handphonenya berbunyi cukup nyaring menandakan panggilan masuk. Alex segera pergi untuk mengangkat telpon setelah meminta izin pada sutradara.


Alex tersenyum tulus saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Sudah lama sekali sosok itu tidak menelpon.


"Hello, Ma. "


"..."


Alex nampak terkekeh.


"Iya, nanti aku jemput dia. "


"... "

__ADS_1


"Iya, Ma. Aku akan menjaganya. Don't worry, dia aman kalo sama Alex. "


"... "


Dan lagi-lagi Alex terkekeh.


"Baiklah, cukup Ma. Akan lebih baik kalo Mama percaya padaku. "


"... "


"Iya, Miss you, Ma. "


"... "


Senyum Alex masih terpampang dengan jelas. Seperti sudah keharusan tetap tercetak seperti itu di wajahnya. Setelahnya Alex kembali ke tempat semula.


Sebelum sampai ke tujuan, matanya lebih dulu menangkap pemandangan yang membuat keningnya berkerut kemudian terkekeh. Tampak tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini Rian yang jelas terlihat risih saat ditempeli dua wanita beda usia. Yang satu bersikap sok anggun yang satunya lagi sok imut.


Tapi tiba-tiba mata Rian tampak berbinar saat menyadari kehadiran Alex. Wajah menderita Rian membuat Alex ingin tertawa. Jika tidak ingat tempat mungkin Alex akan dengan biadabnya menertawakan Rian. Rian menatap Alex dengan tatapan memelas. Dan mata Rian kembali terlihat berbinar saat Alex memutuskan menghampirinya.


"Hay, nona-nona. Boleh ku pinjam sahabatku sebentar? " Tanya Alex dengan memasang senyum menawannya.


"Om ini apaan sih?! Ganggu aja! " Ketus Chelsea.


Alex kembali tersenyum.


"Nona Xil yang terhormat, beberapa saat lagi Rian harus syuting. "


"Ya udah deh, semangat ya, Sayang. " Sahut Morin kemudian mengecup pipi Rian tiba-tiba.


Chelsea yang notabene masih dibawah umur tampak mematung karena kaget. Sementara Alex yang terbiasa melihat drama agresif Morin hanya terkekeh dan dengan cepat membawa Rian pergi sebelum Chelsea menahan mereka berdua.


"Eh? Om! Hey! Aku kan belum kasih izin! " Teriak Chelsea saat melihat Alex dan Rian sudah pergi jauh.


"Izin dari lo kan gak penting! " Celetuk Morin membuat Chelsea geram.


Morin pergi dengan gaya elegannya meninggalkan Chelsea yang terus menggerutu. Seringai misterius tercetak di wajah Chelsea.


"Oke, kita pakai cara agresif mulai sekarang. "


...***...


Tawa terdengar memenuhi seisi ruangan. Tampak Bee tengah bersenda gurau bersama kru perempuan yang meriasnya. Matanya menyipit saat ia tertawa lepas membuat Alex yang tengah melipat tangan di depan dada sambil senderan di ambang pintu meringis saking gemesnya.


"Seneng banget kayaknya. "


Bee menoleh ke sumber suara saat suara familiar sampai ke telinganya. Senyum cantiknya membuat Alex ikut tersenyum. Kru perempuan di sebelah Bee tersenyum penuh arti kemudian keluar ruangan saat mengerti situasi itu.


"Kamu selalu cantik, Bee. " Puji Alex sambil mendekat ke arah pacarnya yang tengah duduk di depan cermin itu.


"I know. Apa yang kau lakukan di sini Tuan Manager? Kau tidak sedang sengaja membuat skandal, kan? " Canda Bee membuat Alex terkekeh.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Alex malah sengaja mengambil kursi dan duduk di sebelah Bee. Tangannya mengubah posisi kursi Bee agar menghadapnya. Setelahnya mengusap pipi sang pacar dengan tatapan tak terbaca dan senyuman yang masih tercetak di wajahnya.


"Ide kamu bagus juga. Ayo buat sensasi, Babe! "


__ADS_2