
Octa berjalan menuruni tangga dari kamarnya menuju ke ruang tengah mansion keluarga Megardante. Tersenyum hangat menyapa kedua orang tuanya yang telah berpakaian rapi dengan beberapa koper yang telah terisi pakaian.
"Ran mana, mah? Dia jadi ikut nganterin mamah sama ayah ke bandara, kan? "
Sama seperti Octa, kedua orang tuanya juga nampak heran.
"Benar juga, Ran belum keluar kamar dari tadi. Apa belum selesai siap-siap, yah? Coba kamu cek ke kamarnya, Vi. "
"Kalo Vian yang cek, mamah tau sendiri bakal gimana responnya. "
"Yasudah, biar ayah aja yang cek ke kamar Ran. "
Baru saja ayahnya akan beranjak Ran sudah datang dengan wajah dinginnya. Berjalan dengan ekspresi yang sama seperti yang selalu ia tunjukan selama 3 tahun terakhir. Meski mendapat sambutan hangat dari keluarganya, Ran tetap bersikap acuh.
Octa dan kedua orang tuanya hanya bisa menghela nafas kemudian tersenyum memaklumi sikap Ran untuk kesekian kalinya. Setelahnya berjalan mengikuti Ran yang sudah lebih dulu keluar menuju mobil yang sudah terparkir menunggu mereka.
Octa memutuskan untuk menyetir hari ini. Membawa seluruh anggota keluarganya menuju bandara. Hari beranjak siang saat mereka sampai.
"Mamah titip Ran, Vi. Meskipun kamu sibuk sama syuting dan pemotretan, tapi tolong kamu luangkan waktu buat ngawasin Ran. " Pesan sang mamah pada Octa.
Octa tersenyum menanggapi pesan mamahnya. Sementara Ran hanya menghela nafas dan menatap jengah pada keluarganya.
"Gak usah, aku bukan anak kecil lagi. " Tolak Ran kemudian pergi tanpa pamit.
Sang ayah menghela nafas dan menepuk-nepuk punggung istrinya dengan pelan.
"Mamah tenang aja, Vian bakal selalu jaga Ran. " Ucap Octa saat melihat kilatan sendu di manik mamahnya.
Sang mamah berusaha tersenyum meski jelas terlihat di matanya kesedihan. Setelah sedikit berbincang tentang beberapa hal, akhirnya Octa harus berpisah dengan kedua orang tuanya. Lambaian tangan mengantarkan kepergian kedua orang tuanya.
Sementara itu di dalam mobil tampak Ran tengah mengetikkan sesuatu di handphonenya. Wajah dinginnya tiba-tiba terhias senyum sinis yang penuh misteri. Ia menutup handphonenya saat Octa datang dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu bisa kan gak usah bersikap kayak gitu sama mamah dan ayah? " Tegur Octa membuat Ran muak.
"Gak usah sok peduli. "
Di lain tempat Alex dan Chelsea sedang dalam perjalanan menuju rumah Morin. Alex memang berniat untuk mengunjungi keluarga Morin dan saat mengetahui hal itu Chelsea langsung memaksa ikut.
__ADS_1
Apalagi saat mengetahui kalau Alex akan pergi tanpa pengawalan bodyguard dan menyetir sendiri. Kapan lagi Chelsea bisa keluar dari kediamannya dengan sebebas itu, kan? Bahkan Tuan Besar Xil sampai kewalahan karena bujukan Chelsea.
Dan setelah banyak drama, akhirnya Chelsea diizinkan keluar bersama Alex asalkan bodyguard tetap mengikuti mereka dari jarak yang ditentukan Chelsea. Alex sampai menghela nafas beberapa kali melihat drama perdebatan keluarga itu.
"Aku jadi pengen tau, gimana sih ceritanya Om bisa akrab gitu sama Kak Morin? "
Alex yang sedang mengemudi terkekeh kemudian tersenyum.
"Kan emang kami temenan dari kecil, makanya bisa akrab. " Jawab Alex seadanya.
"Ih! Bukan gitu, Om. Maksud aku tuh lebih detailnya. Masa harus aku jelasin, sih? " Timpal Chelsea tidak puas.
"Kepo banget, buat apa sih nanyain hal ini? Yang penting masih akrab sampai sekarang. "
Chelsea jadi kesal sendiri karena tidak juga mendapat jawaban yang ia inginkan dari Alex. Akhirnya ia memilih memainkan handphonenya dan mengabaikan Alex.
Alex yang menyadari kalau Chelsea kesal padanya malah cengengesan. Saat Chelsea mengabaikannya pun Alex bukannya membujuk Chelsea. Dia malah ikut-ikutan mengabaikan Chelsea dan membuat Chelsea semakin kesal.
Chelsea berteriak kesal dan membuat Alex menahan tawanya. Setelahnya kembali memainkan handphonenya dengan wajah cemberut.
Tiba-tiba Alex mengernyit saat hampir sampai ke rumah Morin. Nampak banyak orang berkerumun di jalanan komplek perumahan itu yang membuat laju mobil Alex terhambat.
Alex dan Chelsea turun dari mobil dengan panik saat melihat asap mengepul dari rumah Morin. Banyak orang berusaha memadamkan yang berkobar. Alex mengedarkan matanya mencari Morin dan keluarganya. Tapi ia tidak bisa menemukan Morin dan keluarganya di manapun.
"Pak, ini yang punya rumahnya dimana? " Tanya Alex pada salah satu warga komplek yang ikut memadamkan api.
"Masih di dalam, dek. Kami gak ada yang berani masuk tapi tadi petugas sudah dihubungi. "
"Makasih pak infonya. "
Alex tidak bisa menahan diri untuk tetap diam. Saat Alex akan berlari masuk ke dalam rumah, Chelsea dengan cepat menahan Alex.
"Om mau ngapain? Jangan gila! Itu bahaya, Om! "
"Aku gak bisa nunggu petugas dan membahayakan hidup Zoya dan keluarganya. Gak bisa! Tunggu disini! " Ucap Alex kemudian berlari masuk tanpa peduli teriakan Chelsea yang berusaha mencegahnya.
"Om! Ish! Kenapa sih keras kepala banget?! Bikin khawatir aja, kan jadinya aku juga gak bisa diam kayak gini. " Gerutu Chelsea dengan cemas.
__ADS_1
Chelsea beberapa saat bergelut dengan ketakutannya sambil menunggu Alex yang tidak juga keluar dari rumah Morin. Akhirnya Chelsea tidak bisa menahan dirinya untuk ikut masuk.
Chelsea menyimpan barang-barangnya ke dalam mobil Alex dan berdiri menatap rumah dengan api yang berkobar beberapa meter di hadapannya. Menghela nafas beberapa kali sambil memegang bandul kalung peninggalan Rian.
'Bantu Chelsea, Kak Ian. '
Setelah mengecup singkat bandul kalung itu Chelsea langsung berlari masuk. Tepat saat beberapa bodyguard keluarga Xilent sampai ke tempat itu. Saat para bodyguard akan ikut masuk, warga menahan mereka.
Chelsea menerobos masuk melewati kepulan asap yang membuatnya terbatuk-batuk. Memaksa dirinya berlari melewati panasnya udara akibat kobaran api yang hampir melalap seluruh bagian rumah.
"Om! Kak Morin! Om! "
Chelsea terus berteriak meski beberapa kali terbatuk-batuk. Ia berlari semakin masuk ke dalam rumah dan sampai di sebuah kamar. Pintu kamar terbakar dan hampir jatuh menimpa Chelsea.
Awalnya Chelsea akan kembali keluar rumah sebelum kemudian matanya melihat sesosok tubuh anak kecil yang tergeletak di dekat ranjang. Chelsea dengan cepat menghampiri tubuh anak itu.
Air matanya tiba-tiba mengalir saat melihat anak kecil itu tergeletak tidak sadarkan diri dengan memeluk bunga lavender dalam pot kecil. Ia menggendong anak kecil itu dan meninggalkan pot kecil yang terlepas dari pelukan anak itu.
Sebelum benar-benar pergi, Chelsea menendang pot kecil itu ke kolong ranjang kemudian dengan sisa kekuatannya ia keluar dari rumah Morin. Saat sampai di luar Alex datang menghampirinya bersama para bodyguard yang mengambil alih anak kecil dari gendongannya.
Chelsea jatuh terduduk sementara Alex menatapnya dengan khawatir. Mata Chelsea melihat Morin yang baru sadar dari pingsannya.
"Kak Morin. " Ucap Chelsea dengan lemah saat melihat Morin yang akan berlari masuk ke dalam rumah.
Alex berlari menahan Morin dan membuat Morin berteriak histeris sambil berusaha melepaskan diri dari Alex.
"Mama di sana, mama masih di dalam Lex! Mama! " Teriak Morin dengan derai air mata.
Tiba-tiba ledakan terjadi dan Alex menggunakan punggungnya untuk melindungi Morin dalam pelukannya. Sementara Chelsea sudah tidak sadarkan diri dan membuat para bodyguard panik.
Morin menangis tersedu dalam pelukan Alex dan para bodyguard membawa Chelsea menuju mobil untuk kemudian dilarikan ke rumah sakit. Setelahnya petugas pemadam kebakaran datang. Alex membawa Morin menjauh supaya tidak mengganggu petugas pemadam kebakaran. Morin sempat menolak sebelum akhirnya ia tetap ikut dengan Alex.
Setelah api berhasil dipadamkan para petugas mendatangi Morin dan Alex dengan membawa kantong jenazah. Morin langsung jatuh terduduk dengan tangisan yang tidak bisa disembunyikannya. Alex membawa Morin ke dalam dekapannya dan mengelus rambut Morin untuk memberikan ketenangan.
"Kami menemukan buku catatan dan pot bunga lavender ini di bawah ranjang. " Ucap seorang petugas sambil memberikan kedua benda itu pada Alex.
Alex menerima benda itu dan petugas langsung pergi sambil membawa kantong jenazah menuju ambulans. Beberapa saat memperhatikan kedua benda itu dan Alex mengetahui pemilik benda-benda itu.
__ADS_1
'Buku ini pasti punya tante dan bunga ini... Ini jelas punya Sunny, ini pemberian lo Rian. Ini jelas dari lo. '