
"Gue percaya sama lo. "
Chelsea menatap Raja dengan wajah yang nampak terkejut. Setelahnya tersenyum miris kemudian menghempaskan tangan Raja yang menahan pergelangan tangannya dengan kasar. Chelsea berjalan keluar kelas tanpa menghiraukan Raja yang terus memanggil namanya. Teman-teman sekelas Chelsea tampak mulai bergosip tentangnya.
Raja baru akan berjalan menyusul Chelsea saat Citra berdiri di hadapannya dan mencegat langkahnya. Raja menatap Citra dengan tatapan jengah sementara yang ditatap malah tersenyum lebar. Raja menghela nafas saat Citra terus menerus mencegahnya menyusul Chelsea.
"Lo bisa kan gak usah ganggu gue? Minggir dari jalan gue! " Hardik Raja yang tidak membuat Citra takut.
"Gak, aku gak mau. Aku gak akan biarin kamu pergi dari sini. "
Raja lagi-lagi menghela nafas.
"Apa sih mau lo?! Minggir gue bilang! "
Raja mulai kehilangan kesabarannya dan membentak Citra. Citra tampak sangat terkejut bahkan sampai mematung dan membuat Raja leluasa untuk pergi. Saat mendapatkan kembali kesadarannya Citra langsung menggerutu tidak jelas kemudian pergi menyusul Raja. Teman-teman sekelas Chelsea hanya menatap aneh pada mereka.
Saat ini Chelsea sudah berada di kantin bersama dua bodyguard yang membuat suasana hatinya semakin buruk. Ia duduk di bangku pojok dengan dinding setengah kaca yang langsung memperlihatkan waduk belakang sekolah dengan jembatan yang tampak basah karena air hujan.
Chelsea menatap langit mendung yang tengah menjatuhkan rintik-rintik hujan itu dari balik kacamata hitamnya. Dengan dagu yang bertumpu pada lipatan tangannya di atas meja Chelsea menikmati derasnya hujan yang menyamarkan suara bising orang-orang yang mencelanya. Dan tangannya menggenggam bandul kalung yang tergantung di lehernya sambil menghela nafas.
"Bantu Chelsea, Kak Ian. "
...***...
"Apa-apaan ini? "
Alex yang tengah sibuk bekerja di meja kerja barunya sontak menoleh. Tampak Rico menatapnya dari ambang pintu. Dia masih duduk di kursi roda dengan sebelah tangan dan kaki yang terbalut perban. Tampak raut tidak percaya di wajah Rico yang membuat Alex dengan cepat bangkit dari kursinya dan menghampiri Rico.
"Wah! Dalam beberapa hari lo udah ambil semua yang gue capai dengan perjuangan. Wah! Hidup ternyata bisa bercanda gini sama gue. "
Rico terkekeh sementara Alex nampak tertunduk dengan raut bersalah.
"Rico, gue mohon sama lo. Percaya sama gue, jangan salah paham kayak gini. " Ucap Alex membuat Rico tertawa hambar.
"Gue yang salah paham apa emang ini tujuan lo? " Tuduh Rico.
Alex menatap Rico tak percaya. Tampak jelas Alex kecewa dengan pertanyaan yang diajukan Rico padanya. Kemudian menghela nafas dengan mata terpejam. Ia masih berdiri beberapa langkah di hadapan Rico. Tatapan mata Alex berubah serius.
"Jadi selama ini lo pengen jabatan direktur utama? Oke, ambil! " Lanjut Rico membuat Alex malah terkekeh.
Rico mengernyit heran dengan reaksi Alex.
__ADS_1
"Jadi dugaan gue selama ini emang bener, persahabatan yang kita jalanin itu cuma formalitas. Penuh kebohongan dan gak ada sama sekali rasa saling percaya. "
"Apa maksud lo kayak gitu? Lo seolah-olah nuduh gue jadiin persahabatan cuma formalitas doang. Ngaca! Lo juga sama! Gue! Lo sama si Octa sama-sama penipu! Gak usah ngerasa paling suci, b*b*! " Ucap Rico dengan tangan terkepal menahan amarah.
Nada bicara Rico yang semakin naik membuat Alex memejamkan matanya. Ia berusaha tetap berpikir jernih saat banyak pikiran di kepalanya yang membuat Alex pusing seharian ini. Apalagi sekarang nada bicara Rico membuat amarah Alex mulai terpancing.
"Terserah apa mau lo, lo mau menganggap gue kayak gimana. Terserah lo dan mendingan sekarang lo pulang. " Usir Alex berusaha tetap bersikap sopan.
Rico tertawa.
"Bahkan sekarang lo berani usir gue, wah!. Oke! Tapi lain kali lo gak bakal lolos. "
'Bisa-bisanya lo mengkhianati gue, Lex. Gue benci pengkhianat! Dan lo malah cari mati dengan berani mengkhianati gue. '
Rico keluar dari ruangan yang pernah jadi miliknya dulu dengan bantuan dari seorang bodyguard yang mengawalnya. Tatapan Rico tampak kosong tapi jelas terlukis di wajahnya amarah yang ia coba tahan.
Sementara Alex nampak mematung dengan raut wajah bersalah yang sangat kentara. Alex mengusap wajahnya kasar dan mengacak rambut dengan frustasi. Ia berjalan kembali ke kursinya dan memutar kursi yang ia duduki agar menghadap dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung kota yang berjejer.
Alex menghela nafas dan matanya terpejam. Kepalanya menengadah dan tangannya mengepal erat. Saat ia membuka mata, matanya sudah memerah dan berkaca-kaca.
"Gue benci jadi lemah! Kenapa harus gue?! " Teriak Alex tanpa peduli jika ada yang akan mendengar.
Sementara itu Octa tengah mengendarai mobilnya untuk pulang ke mansion Megardante setelah mengurus segala hal yang ia perlukan untuk keberangkatannya ke Aussie. Besok ia harus berangkat pagi-pagi dan karena itu Octa harus menyelesaikan persiapannya hari ini juga.
Tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan panggilan masuk. Octa dengan cepat memasang headset bluetooth ke telinganya dan menjawab panggilan yang ia tau itu pasti dari kekasihnya.
Kemarin ia benar-benar harus memohon agar Morin memaafkannya. Dan sekarang meski ia sedang mengemudi ia harus tetap menjawab panggilan itu. Jika tidak Octa pasti lagi-lagi harus menghadapi kemarahan Morin.
"Ada apa, Babe? "
Kamu ada dimana sekarang? Kamu belum ke Aussie, kan?
"Maafin aku, Babe. "
Belum selesai Octa bicara, Morin sudah menyahut.
Apa? Kenapa minta maaf? Jangan bilang kamu benar-benar udah pergi ke Aussie tanpa pamit sama aku!
Octa menghela nafas.
"Babe, aku belum selesai ngomong. "
__ADS_1
Ya selesaikan dong!
"Ya kamu jangan motong omongan aku terus dong, Babe. " Ucap Octa gemas.
Morin nyengir tak berdosa di seberang panggilan.
"Aku lagi di jalan mau pulang, lagi nyetir. Makanya aku minta maaf, aku mau tutup panggilannya dulu, Babe. "
Sorry Babe, aku cuma khawatir. Lagian kamu dari mana? Baru jam sepuluh, belum siang tapi udah pergi ke sana kemari.
Octa terkekeh tanpa sadar beberapa motor mengikutinya. Belum sempat menjawab pertanyaan Morin, Octa tiba-tiba mengerem mobil mendadak saat beberapa motor itu menyalip dan membuat ia kaget.
Handphonenya yang terbanting tidak membuat panggilan dari Morin terputus tapi justru menimbulkan suara yang membuat kekasih Octa itu khawatir.
Babe, apa yang terjadi? Suara apa itu? Apa yang terjadi padamu? Babe! Jawab! Babe!
Morin terus menerus berteriak dengan panik. Sementara Octa meringis karena kepalanya terbentur cukup keras. Benturan itu menciptakan memar di keningnya. Klakson bersahutan karena mobilnya berhenti di tengah jalan.
"Sialan! " Umpat Octa membuat Morin semakin panik.
Babe, kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kamu baik-baik aja, kan? Jawab aku, Babe!
Octa menghela nafas sebelum menjawab Morin.
"Aku baik-baik aja, Babe. Jangan khawatir, tenang yah. " Jawab Octa berusaha menenangkan Morin.
Tapi Morin menolak percaya. Ia memaksa Octa untuk melakukan panggilan video tapi Octa menolak karena ia harus mengemudi.
"Babe, aku kan harus cepat pulang. Aku janji bakal baik-baik aja, nanti kalo udah sampai mansion, aku langsung video call kamu. " Bujuk Octa sambil kembali mengemudikan mobilnya.
Ya udah deh kalo gitu, tapi janji ya Babe?
"Iya, aku janji. Kalo gitu sekarang aku tutup ya panggilannya? "
Oke, take care Babe. Love you.
"Iya, Babe. Love you more. "
Akhirnya panggilan terputus dan Octa bisa mengemudi dengan fokus.
'Kejadian ini gak mungkin cuma kecelakaan, pasti ada yang mau main-main sama gue. Ini bahaya! Gue harus cari tau siapa orang yang berani cari masalah sama gue. '
__ADS_1