LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Kebaikan Itu Beban (Revisi)


__ADS_3

Raja menghela nafas setelah membaca berkas di tangannya. Ia mengulum bibirnya kemudian menyimpan berkas itu di atas meja samping ranjang. Tangannya beralih mengambil handphone miliknya yang tergeletak di atas meja yang sama.


Setelah membuka lock screen ia tampak mengetikkan sesuatu. Dan beberapa saat kemudian ia terdiam sambil tetap melihat layar handphonenya. Baru setelah beberapa detik berlalu ia menyipitkan matanya seperti tengah membaca sesuatu yang tertulis di layar handphone.


Dan lagi-lagi ia tampak menghela nafas sebelum kemudian raut wajahnya berubah murung. Tangannya kembali terulur untuk menyimpan handphonenya ke atas meja. Ia sempat melamun sebelum mamanya datang dan menghampirinya.


"Bagaimana? Sudah kamu putuskan? " Tanya mama Membuat Raja menoleh.


"Apa mama tidak merasa ini terlalu berlebihan? "


"Jangan menjawab pertanyaan mama dengan pertanyaan, Sayang. "


"Buat keputusan yang tidak akan merugikan kamu, jangan berpikir tentang orang lain untuk saat ini. " Lanjut mamanya membuat Raja tertunduk.


Raja kembali menghela nafas.


"Beri Raja waktu, ma. "


"Oke, tapi ingat sayang, jangan mengulur waktu. Ini demi kebaikan kamu. " Ucap sang mama yang kemudian mengusap kepala Raja dengan lembut.


Setelahnya sang mama pergi keluar ruang rawat karena waktu istirahatnya sudah hampir berakhir. Dan Raja malah menatap kosong dengan pikiran menerawang.


'Apa setiap kebaikan itu terasa seperti ini? Sangat membebani. '


Sementara itu Saka berjalan menuju ruang rawat Chelsea setelah keluar dari lift. Beberapa saat yang lalu dia duduk cukup lama di bangku taman rumah sakit sambil memeriksa data pasien yang ia dapatkan dengan susah payah dari bagian administrasi rumah sakit.


Mengingat bagian administrasi membuat Saka jadi menggerutu sendiri sepanjang jalan. Meskipun begitu setelah sampai di depan ruang rawat Chelsea ia kembali tersenyum sumringah karena berhasil memenuhi permintaan Chelsea.


Saka langsung masuk ke dalam ruang rawat melewati beberapa bodyguard yang berjaga. Tiba-tiba langkahnya terhenti dan ia tampak mengernyit heran saat tidak menemukan Alex di ruangan itu.


Chelsea ikut mengernyit saat melihat Saka mengernyit heran. Dia yang tengah duduk di atas ranjang sambil memakan puding buah yang dibawa Saka saat datang itu tidak lantas berhenti menyuapkan potongan puding ke mulutnya.


"Kenapa, Bang? Ada yang aneh? " Tanya Chelsea setelah menelan puding di mulutnya.


"Si Om itu mana? Udah pulang? " Tanya Saka sambil berjalan menghampiri Chelsea.


Chelsea mengernyit saat mendapat pertanyaan itu.


"Jelas lagi ngurusin urusannya, kan Chelsea udah pernah bilang sama abang. " Jawab Chelsea membuat Saka semakin heran.


"Emang dia gak ke sini? "


"Enggak tuh, abang kenapa sih? Masih waras kan, Bang? " Canda Chelsea.


"Aish! Kalo abang gak waras, abang gak mungkin bawa ini. " Balas Saka sambil menunjukkan map yang ia bawa dari bagian administrasi.


Chelsea ternganga kemudian tersenyum sumringah saat melihat Saka membawa map yang ia yakini adalah data yang ia minta. Saka tersenyum saat melihat reaksi Chelsea terhadap keberhasilannya.


Saking senangnya Chelsea sampai melompat dari ranjang tanpa memikirkan kondisinya. Saka tampak terkejut dan refleks menahan tubuh Chelsea yang terhuyung. Saka menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan kelakuan Chelsea. Sementara Chelsea tersenyum tak berdosa sambil menatap Saka.


Saka membantu Chelsea untuk kembali ke atas ranjang. Setelahnya ia duduk di kursi samping ranjang Chelsea. Tangannya terulur memberikan map yang ia bawa pada Chelsea dan membuat Chelsea kembali tersenyum senang.

__ADS_1


"Abang gak suka yah kamu gak mikirin kondisi kayak tadi. "


Chelsea malah cengengesan saat mendengar ucapan Saka.


"Iya, Bang. Gak gitu lagi. " Ucapnya sambil menerima map yang diulurkan Saka padanya.


Ia membuka map itu dan melihat-lihat isinya sebentar sebelum kemudian menyimpan map itu di pangkuannya. Setelahnya ia menghela nafas dan membuat Saka mengernyit heran.


"Kenapa? " Tanya Saka sembari mengambil kotak puding di atas meja.


Saat melihat puding buah yang dibawanya masih tersisa, ia langsung menyuapkan potongan puding itu ke mulutnya.


"Pusing tau liat data sebanyak itu, abang gak punya yang lebih singkat gitu datanya? " Rengek Chelsea.


"Ada." Jawab Saka enteng.


Chelsea yang melihatnya langsung memukulkan map itu pada bahu Saka. Saka hanya tersentak kaget sementara Chelsea jelas terlihat kesal. Saka tertawa melihat wajah kesal Chelsea.


"Kenapa gak ngomong dari tadi? "


"Kamu rusuh sendiri, heboh lompat dari ranjang dan gak nanya dulu sebelum buka map. Jadi salah siapa? "


Chelsea memutar bola matanya jengah.


"Dasar nyebelin! "


Saka sontak menoleh pada Chelsea.


Chelsea meringis sambil mengusap keningnya yang disentil Saka.


"Tega banget, dasar abang kejam! "


Kali ini Saka hanya tertawa melihat Chelsea yang terlihat sangat kesal padanya. Setelahnya tanpa permisi Chelsea mengambil potongan terakhir puding buah dan melahapnya tanpa peduli pada tatapan heran Saka.


"Hey! " Protes Saka yang kini terlihat kesal.


Chelsea tertawa setelah menelan potongan puding buah di dalam mulutnya.


"Abang sengaja sisain potongan paling besar buat dimakan terakhir, kenapa kamu makan? " Tanya Saka frustasi.


"Makanya jangan berani usil sama Chelsea, senangnya bisa bikin Bang Saka kesal. "


Melihat Chelsea yang tertawa lepas membuat kekesalan Saka lenyap begitu saja. Akhirnya ia hanya tersenyum sambil menatap Chelsea yang tertawa.


'Abang senang kamu bisa tertawa lepas seperti ini, abang kira setelah kematian aktor itu kamu akan benar-benar terpuruk. '


"Jadi gimana, Bang? " Tanya Chelsea tiba-tiba membuat Saka kaget dan akhirnya bingung sendiri.


Chelsea memutar bola matanya jengah.


"Katanya abang punya data yang lebih singkat. Jadi abang nemuin orang namanya Raja gak di rumah sakit ini? " Tanya Chelsea sekali lagi.

__ADS_1


Saka yang sudah paham dengan pertanyaan Chelsea langsung mengangguk-angguk pelan.


"Ada, abang nemuin orang yang namanya Raja. " Jawab Saka yakin.


"Berapa orang? " Tanya Chelsea memotong jawaban Saka.


"Abang belum beres ngomong. Tapi kebetulan nih, abang cuma nemu lima orang yang namanya Raja. "


Chelsea tampak terkejut dengan jawaban Saka.


"Cuma? Lima orang loh ini. "


"Kenapa? Itu sedikit, my angel. "


"Sedikit dari mananya? Ya iya kalo rumah sakit ini kecil. Abang pikir gampang nyari lima orang di rumah sakit sebesar ini? Masa harus dicek tiap kamar? "


"Emang kalo cuma satu orang kamu bakal gimana nyarinya? Sama aja kan? "


Saka menghela nafas.


"Lagian siapa juga orang yang sebegitu bodohnya sampai nyari orang di rumah sakit harus dicek setiap kamar? Dramatis banget, terus gunanya map data itu buat apa? " Lanjut Saka menjelaskan.


Chelsea hanya nyengir saat menyadari kebodohannya.


"Gini nih kalo waktu sekolah suka bolos, pelajaran gak ada yang nempel di otak. "


"Apaan sih?! Siapa juga yang suka bolos?! " Sewot Chelsea


"Eh, jangan kira abang gak tau ya, my angel. "


"Yasudah lah, ngapain juga bahas masa lalu? Mendingan abang temenin Chelsea ngecek kamar orang-orang yang namanya Raja. "


"Enggak sekarang ya, ini udah sore. Kita cek besok aja, ya? "


Chelsea tampak berpikir beberapa saat sebelum kemudian mengangguk setuju.


Sementara di ruang rawatnya Raja baru selesai menceritakan keluh kesahnya pada Alex. Ia tidak berniat menceritakan hal itu pada Alex karena takut membebani tapi Alex terus saja memaksanya. Akhirnya ia bercerita juga.


"Jadi gimana keputusan lo sekarang? " Tanya Alex yang tengah duduk di kursi samping ranjang.


Raja yang setengah berbaring di atas ranjang menoleh pada Alex. Dan Alex membalas tatapan Raja.


"Gue harus pergi, Kak. " Putus Raja membuat Alex menghela nafas.


"Jangan gunakan kesempatan ini untuk lari dari masalah. "


"Nggak, Kak. Gue cuma sadar kalo gue harus pergi buat bisa jadi pantas. "


Alex tersenyum.


"Gue seneng lo mikirin kebaikan lo sendiri. " Ucap Alex membuat Raja tertawa.

__ADS_1


"Jangan ngomong tentang kebaikan, Kak. Kebaikan itu beban. "


__ADS_2