
"Jadi gimana rencana lo kedepannya? " Tanya Alex pada Rico saat hari beranjak malam.
Sejak sore tadi mereka hanya mengobrol tentang hal tidak penting. Tapi belum sempat Rico menjawab handphonenya bergetar menunjukkan pesan masuk. Rico segera membuka handphonenya dan beberapa saat kemudian matanya mulai menyipit.
"Kenapa Ric? Ada masalah? " Tanya Alex penasaran setelah melihat reaksi Rico terhadap pesan masuk di handphonenya.
Rico tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Alex.
"Kayaknya gue harus balik sekarang, kita bahas lain kali aja. " Jawab Rico kemudian beranjak dari duduknya.
Alex tampak bingung dengan sikap Rico yang tiba-tiba memutuskan untuk pulang. Tapi Alex pun tidak lantas mencegah niat Rico. Rico menepuk pundak Alex dan berlalu mengusap kepala anak laki-laki yang tertutup topi di seberang meja. Setelahnya Rico benar-benar pergi dari tempat itu.
Anak laki-laki itu menyeringai saat sudut matanya menangkap pergerakan wanita misterius yang mengawasi mereka. Setelahnya terkekeh dan membuat Alex menoleh padanya dengan tatapan heran.
"Kenapa? Ada yang lucu? " Tanya Alex membuat anak laki-laki itu menghela nafas.
"Ada tikus pengganggu. "
Alex malah semakin terlihat kebingungan setelah mendengar jawaban singkat padat dan tidak jelas dari anak laki-laki itu. Sedangkan anak laki-laki itu dengan santai beranjak dari kursinya hendak pergi.
"Hati-hati dengan orang asing disekitar anda, pak tua. " Pesan anak laki-laki itu sekaligus meledek sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alex yang tampak kesal.
"Bisa-bisanya gue diledek anak kecil? "
Alex meneguk habis minumannya kemudian merogoh handphone dari saku celana. Waktu belum terlalu larut dan tanpa banyak berpikir dia menelpon seseorang. Setelah beberapa saat menunggu akhirnya telepon tersambung.
"Kamu punya waktu luang? Aku tunggu di kafe dekat mansion keluarga Megardante. "
Sementara itu Rico buru-buru masuk ke dalam mobilnya setelah keluar dari kafe. Ia berdecak sebal saat melihat bayangan seorang wanita misterius yang mengikutinya. Tiba-tiba handphonenya berdering menunjukkan panggilan masuk. Rico segera menjawab panggilan itu.
Di samping bangunan kafe tampak anak laki-laki yang satu meja dengan Rico beberapa saat lalu tengah berdiri sambil bersandar pada dinding bangunan kafe. Sebuah headset bluetooth terpasang di telinganya untuk menghubungkannya dengan panggilan yang tengah ia lakukan.
"Perlu bantuan, Mr. Xil? "
Orang di seberang panggilan terdengar menghela nafas.
Identitas kamu lebih penting untuk dirahasiakan, jangan mencari masalah.
Anak laki-laki itu terkekeh.
"Jangan meremehkan aku, Mr. Xil. "
__ADS_1
Bersikap baiklah dengan tidak ikut campur dalam hal seperti ini. Kamu masih punya tugas yang lebih penting. Jadi, jaga identitas kamu apapun yang terjadi nantinya.
"Baiklah, aku mulai tidak suka berdebat dengan anda, Mr. Xil. Jaga diri anda, karena mungkin dia mata-mata. "
Lagi, orang di seberang panggilan terdengar menghela nafas.
Hanya tikus pengganggu, kan?
Anak laki-laki itu terkekeh mendengar pertanyaan meremehkan dari orang di seberang panggilan.
"Jangan menciptakan kelemahan untuk diri anda, Mr. Xil. Pecundang biasanya punya sifat angkuh dan menyepelekan hal kecil. Anda harus berhati-hati dengan hal itu mulai sekarang. "
Terdengar orang di seberang panggil mengumpat beberapa kali dan anak laki-laki itu dengan santainya memutuskan panggilan tanpa permisi. Setelahnya anak itu menghilang di gelapnya gang sempit samping bangunan kafe.
Sementara di dalam mobilnya Rico tengah mengumpat. Ia terlihat sangat kesal setelah menerima panggilan dari anak laki-laki yang duduk satu meja dengannya beberapa saat lalu di kafe yang ada di hadapannya.
"Sialan! Kakaknya petakilan, tukang lawak. Kenapa nih bocah sama resenya? Mana jutek banget, untung gue orang baik. "
...***...
Rico menguap sesaat setelah cahaya matahari menyelinap ke sela-sela gorden kamar apartemennya dan membuat matanya berkedip beberapa kali karena silau. Rico bangkit dari posisi berbaring dan duduk di ranjangnya.
Rico menghela nafas kemudian berjalan menuju lemari es di dekat televisi. Ia tampak mengambil botol air dingin ukuran besar dan setelahnya meneguk air langsung dari botol itu. Air itu tersisa setengah botol dan Rico menyimpan kembali botol itu ke dalam lemari es setelah ditutup rapat.
"Sebenarnya wanita itu siapa sih? Dari kemarin dia ngikutin gue terus, bahkan sekarang mobilnya masih stand by di depan gedung. Apa bener dia itu mata-mata? " Ucap Rico penuh tanya sambil duduk di sofa kamar yang menghadap televisi.
"Kalau bener dia mata-mata, berarti ayah udah sadar kalo gue gak ada di Aussie. "
"Tapi gue lapar sekarang, mendingan gue makan baru nanti mikir lagi. Pusing juga jadi orang licik. " Lanjutnya sambil berjalan menuju dapur apartemennya.
Tapi saat sampai di dapur Rico malah tersentak kaget saat mendapati seorang wanita yang tengah memasak. Wanita yang berdiri membelakanginya itu tampak tidak sadar dengan kehadiran Rico.
"Heh! Siapa lo?! " Teriak Rico membuat wanita berbalik dan menatapnya dengan sebal.
"Gue tau lo bisa ngomong tanpa teriak! Jadi, gunain mulut lo buat ngomong yang bener dari pada gue masak tuh mulut sekalian sama masakan gue sekarang. " Omel wanita itu membuat telinga Rico sakit.
"Ish! Pagi-pagi udah bikin gue budek, dasar ratu tawon! "
Wanita yang adalah Bee itu tampak tidak peduli dengan ejekan Rico yang sudah biasa ia dengar. Bee lebih memilih melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda karena harus mengomeli sahabat pacarnya sekaligus rivalnya dari masa taman kanak-kanak dulu.
Tidak mendapat balasan dari Bee membuat Rico memilih menunggu di meja makan. Beberapa saat kemudian Bee datang membawa telur balado yang dibuatnya untuk melengkapi nasi, sayuran dan tempe goreng yang sudah ia siapkan sebelumnya. Rico tampak berkedip beberapa kali melihat menu sarapannya pagi ini.
__ADS_1
"Ini menu sarapan? " Tanya Rico sambil menoleh pada Bee yang duduk tidak jauh darinya.
Bee hanya membalas dengan tatapan malas.
"Lo yakin? Ini menu makan siang dan lo jadiin sarapan? " Tanya Rico sekali lagi dengan tidak percaya.
Bee yang sedang mengambil lauk langsung menatap jengah pada Rico.
"Gak makan nasi berarti belum makan. Itu prinsip gue. "
"Lo kalo gak mau gak usah makan. Gitu aja repot. " Lanjut Bee kemudian memulai sarapannya dengan nikmat.
Sementara Rico yang lagi-lagi diomeli Bee hanya menatap ragu pada makanan di hadapannya. Sebelum kemudian dengan ragu-ragu mengambil sedikit nasi ke atas piringnya dan mengambil sedikit telur balado sebagai lauk.
Dan dengan ragu-ragu juga Rico mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Tiba-tiba matanya berkedip cepat saat merasakan makanan buatan Bee. Setelahnya ia makan dengan lahap dan membuat Bee diam-diam mengolok-oloknya dalam hati.
'Gak tau malu emang nih orang. '
Bee dan Rico menyelesaikan sarapan mereka dengan cepat. Setelah beres-beres Bee segera bersiap untuk pulang. Sebelum benar-benar keluar dari apartemen itu, Rico menahannya dan mengucapkan terimakasih. Bukannya membalas dengan tulus Bee malah tertawa. Dan hal itu membuat Rico heran.
"Lo waras? " Tanya Rico.
"Harusnya pertanyaan itu buat lo, gue baru denger seorang Juan yang teramat angkuh ini bilang terimakasih. Terharu gue dengernya. "
Rico cemberut mendengar ejekan Bee.
"Nyesel gue bilang terimakasih sama ratu tawon. " Keluh Rico yang membuat tawa Bee semakin keras.
"Eh! Asal lo tau, gue juga ke sini karena pacar gue yang minta. Kalo enggak, ogah banget gue berurusan sama orang gak penting kayak lo. Awas aja kalo lo baper sama gue! "
Rico bergidik mendengar ucapan Bee yang begitu percaya diri itu. Setelah beberapa perdebatan kecil lainnya Bee akhirnya keluar juga dari apartemen Rico. Ia memasang maskernya dan topi bucket untuk menyamarkan identitas.
Setelahnya Bee berjalan menuju lift dan turun sampai basement gedung apartemen itu. Ia akhirnya keluar dari basement menggunakan motor sportnya setelah lengkap mengunakan helm dan jaket bomber yang sukses membuatnya sulit dikenali.
Sebelum benar-benar pergi keluar dari gerbang apartemen, dari kejauhan Bee sempat melihat seorang wanita dengan topi baseball dan kacamata hitam yang terus melihat ke salah satu lantai gedung apartemen.
"Jadi ini mata-matanya? Boleh juga kayaknya. " Gumam Bee sebelum kemudian melajukan motornya keluar dari kawasan gedung apartemen.
Sementara itu si wanita misterius tampak menyeringai. Ia bersandar pada mobilnya sambil tetap melihat objek yang sama dalam waktu yang lama.
"Orang-orang yang cukup menghibur. "
__ADS_1