LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Sudah Sesuai Takdir (Revisi)


__ADS_3

"Rian, ini Mama. "


Dan mata yang lama terpejam itu akhirnya terbuka. Pandangannya buram dan beberapa kali berkedip menyesuaikan cahaya yang terasa sangat silau. Bibirnya bergerak seakan berucap, tapi suaranya tidak pernah terdengar.


Telinganya perlahan menangkap suara tangisan saat matanya masih menatap kosong langit-langit ruangan berwarna abu muda itu. Saat indera pendengarannya sepenuhnya berfungsi, ia mengarahkan pandangan pada seorang wanita paruh baya yang menggenggam tangannya dengan bercucuran air mata.


Tampak segaris kerinduan di matanya pada sosok wanita yang begitu ia sayangi itu. Ia ingin tersenyum dan memeluk, tapi badannya kaku dan suaranya pun hilang membuat Rian hanya bisa ikut meneteskan air mata. Sepasang ibu dan anak yang kini hanya berdua di ruangan itu saling melepaskan kerinduan dengan air mata tanpa mampu berkata-kata.


Waktu terasa cepat berlalu setelah ia membuka mata tapi yang mampu ia ketahui saat ini hanya satu tahun telah berlalu semenjak hari itu. Hari dimana ia hampir pergi untuk selamanya. Hari dimana cerita ini bermula, cerita penuh drama yang ternyata hanya ada dalam mimpinya ketika dokter memastikan ia koma.


Dan sekarang hari telah beranjak senja, satu hari akan terlewati setelah tadi pagi sang surya terbit bersama terbukanya mata yang lama terpejam itu. Hampir semua orang terdekatnya telah terlihat oleh matanya, hampir semua.


'Chelsea, kamu dimana? '


***


Dua bulan berlalu, kini suara Rian perlahan mulai terdengar. Sayangnya tubuh yang dulu sangat aktif itu perlu waktu yang lama untuk kembali pulih. Dan keadaannya kini mengharuskan ia memakai kursi roda kemanapun ia ingin pergi.


Matahari baru saja terbit dan Rian nampak duduk di atas kursi rodanya memperhatikan kemunculan sang surya jauh di balik dinding kaca kamarnya itu. Pemandangan kota metropolitan yang tidak seharusnya menjadi tempat pemulihan baginya saat ini malah sangat ia nikmati.


Kota kecil tempat kelahirannya itu belum banyak berubah, meski dengan gedung-gedung menjulang, tapi pepohonan dan bukit-bukit masih bisa menghiasi terbitnya sang surya di pagi hari. Udara yang sejuk dan bersih pun masih bisa ia hirup setiap harinya.


Tok tok tok


"Masuk, gak dikunci. " Ucapnya memberikan izin bagi siapapun yang telah mengetuk pintu kamarnya.


Pintu terbuka ketika ia pun telah bergerak meninggalkan tempat semula dengan kursi rodanya. Kamar bergaya modern kontemporer itu sangat bertolak belakang dengan kepribadian hangatnya.


Matanya beradu pandang dengan sosok pria yang berdiri tegap dengan tuxedo mahalnya di ambang pintu. Rian tersenyum saat pria itu berjalan menghampirinya.


"Kenapa belum siap-siap? Acaranya bentar lagi dimulai. "


Rian terkekeh saat mendapatkan teguran.


"Cie yang gak sabar mau married, mataharinya baru terbit. Sabar dong, Ta." Ejeknya yang langsung mendapatkan pelototan dari lawan bicaranya.


"Eh, iya deh kakak ku yang baik hati dan tidak sombong. Gak usah melotot. "


Ya, Octa yang selama ini menjadi sahabatnya adalah kak Vian yang selalu dirindukan Rian. Waktu telah mengubah banyak hal dan juga mengungkapkan banyak rahasia. Takdir benar-benar tidak bisa diprediksi dan yang seharusnya dilakukan adalah menerima dengan ikhlas.

__ADS_1


Hari ini pernikahan Octa dengan Morin. Siapa yang mengira akhirnya mereka benar-benar bisa bersama. Bahkan Rian yang telah merasakan kehilangan wanita yang dicintainya itu dalam mimpi sulit percaya jika takdir justru sedang memberinya isyarat untuk mempersiapkan hati.


Beberapa kali Rian seakan dejavu dan kemudian setelah lama baru menyadari, sebuah mimpi kadang bukan hanya sebagai bunga tidur, reaksi psikologis atau gambaran emosi. Tapi kadang mimpi adalah cara takdir memberikan kita isyarat untuk bersiap dengan banyaknya kemungkinan rasa sakit, rasa senang dan bahkan kejadian baik dan buruk yang mungkin akan terjadi dalam hidup. Kadang mimpi bukan sekadar ungkapan ego tapi bisa jadi pelajaran untuk tetap dan selalu waspada.


Rian kini tengah menatap sepasang insan yang tampak bahagia di atas pelaminan. Senyum mereka membuat ia tersenyum. Dua orang yang sama-sama ia cintai kini telah bersama.


Rian menghela nafas, bohong bahwa ia baik-baik saja. Bagaimanapun Morin adalah wanita yang telah lama bersamanya dalam hubungan atas dasar cinta. Dan hari ini ia harus melihat wanita itu bersanding dengan kakak yang juga begitu lama ia rindukan kehadirannya. Ia merasakan cinta dan luka itu mengisi hatinya diwaktu yang sama.


Matanya seketika beralih menatap tangan hangat yang tiba-tiba menggenggam tangannya. Genggaman itu jelas bermaksud memberinya kekuatan. Dan Perlahan ia mendongak untuk menatap gadis dengan dress lilac yang berdiri di sampingnya.


Gadis itu telah menjadi semakin cantik sejak terakhir kali ia melihatnya sebelum koma. Dan satu bulan yang lalu saat pertama kali Rian kembali melihat gadis itu setelah tersadar dari koma, ia merasa harus jatuh cinta.


Ia dengan jelas bisa mengingat bagaimana gadis itu menangis sampai hampir tidak sadarkan diri saat bertemu dengannya. Saat itu ia hampir membenci orang-orang terdekatnya saat tau ternyata Chelsea dibohongi dengan kabar kematiannya yang palsu.


Tapi setelah mendengar penjelasan, ia mulai mengerti meskipun butuh waktu sangat lama sampai Chelsea kembali memberikan kepercayaannya pada orang-orang yang membohonginya. Dan selama itu Chelsea hanya percaya padanya.


Semua kejadian diluar dugaannya itu menjelaskan ketiadaan Chelsea saat pertama kali ia membuka mata dari koma. Rian sempat kecewa dan takut karena mengira gadis itu telah meninggalkannya karena keadaan. Tapi sekarang gadis itu ada untuk menggenggam tangannya.


"Kak Ian gak perlu lihatin Chelsea segitunya sih meskipun Chelsea ini emang mempesona. "


Ya, satu lagi yang mengejutkan bagi Rian. Chelsea semakin mirip dengan sahabatnya Rico yang notabene memang kakak kandung gadis itu. Rian selalu dibuat melongo dengan tingkah ajaib gadis yang sekarang mulai beranjak dewasa itu.


"Kamu makin mirip sama Rico. Lucu. "


"Iya sih aku emang lucu tapi kalo dibandingin sama bang Rico, mending gak jadi deh lucunya. "


Rian tertawa mendengar Chelsea yang selalu menistakan Rico.


"Bagus ya, pinter banget mengejek abang sendiri. Orang seganteng ini bisa-bisanya di ejek upik abu. " Celetuk Rico yang datang tiba-tiba bersama Alex dan Bee yang bergandengan mesra dibelakangnya.


Chelsea malah terus mengejek Rico sambil memeluk Rian dari belakang dengan manja.


"Ganteng doang, laku kagak. " Balas Chelsea yang disambut tawa orang disekitarnya.


Dan acara pernikahan itu malah heboh dengan kelakuan bar-bar adik kakak keluarga konglomerat yang kini sudah diketahui publik. Derai tawa melengkapi kebahagiaan mereka dan cahaya dimata setiap orang kini bersinar terang.


Rian tersenyum lebar sambil sesekali terpesona oleh Chelsea. Genggaman tangan mereka bahkan tidak terlepas dan terus bertautan dengan erat seakan badai seganas apapun tidak lagi bisa memisahkan mereka.


Chelsea tampak mendorong kursi roda yang ditempati Rian. Waktu telah beranjak sore dan keduanya kini berada di tengah-tengah hamparan padang lavender yang menjadi tempat favorit mereka.

__ADS_1


"Kak Ian pernah ngerasa takut gak? " Tanya Chelsea tiba-tiba.


Tampak Rian berpikir sejenak sebelum kemudian memberi jawaban.


"Pernah."


"Kapan dan kenapa? " Tanya Chelsea lagi.


Rian tersenyum menanggapi rasa penasaran Chelsea. Ia meraih tangan Chelsea yang membantunya mendorong kursi roda. Saat itu juga kursi roda berhenti bergerak.


Chelsea tampak semakin bingung saat Rian menggenggam erat tangannya sambil menatapnya dengan dalam. Ia tertunduk dengan pipi yang bersemu karena malu sambil terus menghindari tatapan Rian. Sementara Rian tersenyum manis melihat reaksi malu-malu gadis dihadapannya yang sangat langka itu.


"Hari yang sama saat kak Ian pertama kali membuka mata dari koma adalah hari yang menakutkan buat kak Ian. "


Chelsea tampak semakin penasaran. Dengan suara pelan kembali ia bertanya.


"Kenapa? "


"Karena kak Ian gak liat kamu."


Seketika Chelsea membalas tatapan Rian untuk mencari kesungguhan dimata pria itu. Dan kesungguhan dari setiap kata itu tergambar jelas pada iris matanya.


"Kamu gak ada di depan mata kak Ian saat itu, saat orang-orang berdiri di sana menunggu kak Ian membuka mata."


"Kak Ian takut, takut kamu ninggalin Kak Ian karena kondisi kak Ian saat itu. Takut kamu memutuskan pergi dan berhenti mencintai kak Ian. "


"Gak mungkin! Chelsea gak mungkin ninggalin Kak Ian! " Sanggah Chelsea dengan mata berkaca-kaca.


Rian tersenyum.


"Iya, Kak Ian percaya, maaf karena Aku pernah meragukan kamu. "


Chelsea langsung memeluk Rian tanpa aba-aba. Dan Rian membalas pelukan itu sama eratnya. Sorot senja menyelimuti raga keduanya, menghangatkan hati yang semula saling dingin karena ketidakjelasan.


Rian menikmati hangat cahaya senja yang menerpa wajahnya, masih banyak tanda tanya tak terjawab di pikirannya. Masih banyak juga orang-orang baru disekitar Chelsea yang belum ia kenal.


'Semua orang berpotensi mengubah takdir, aku hanya berharap cinta kita sudah sesuai takdir, Chelsea. '


Dan

__ADS_1


"Semuanya belum berakhir. "


...Selesai...


__ADS_2