LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Teror (Revisi)


__ADS_3

Rico menarik nafas dan mempersiapkan diri sebelum acara dimulai. Sebenarnya Rico tidak gugup sama sekali, ia hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi pertanyaan yang akan didapatkannya dari para wartawan nanti. Rico menatap pantulannya di cermin.


"Ayo Rico! Lo bisa! Demi nama baik Rian! " Ucapnya menyemangati diri sendiri.


Apa yang Rico lakukan itu tidak lepas dari perhatian Alex. Alex tersenyum meski matanya jelas memancarkan kesedihan. Alex sangat tau betapa dekatnya Rico dan Rian selama ini dan Alex tau seberapa hancurnya perasaan Rico melihat keadaan Rian saat ini. Perasaan bersalah di hati Alex semakin membuncah.


'Kali ini gue salah, harusnya gue gak nutupin keadaan Rian dari Rico. Seharusnya Rico tau kenyataannya sejak awal. Gue harus jelasin semuanya. '


Alex berjalan menghampiri Rico dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu. Sontak Rico menoleh.


"Udah waktunya, ayo! " Ajak Alex yang dibalas anggukan oleh Rico.


Alex berjalan lebih dulu dan Rico mengikutinya. Flash kamera wartawan mulai menyilaukan mata saat keduanya memasuki ruang acara. Mereka duduk di tempat yang sudah ditentukan dan acara pun segera dimulai.


Pertanyaan mulai menghujani Rico dan Rico berusaha menjawabnya dengan baik. Rico menjelaskan setiap jawaban dengan rinci setelah memikirkan setiap katanya dengan matang. Kadang Alex membantunya menemukan kata yang tepat.


Setelah hampir satu jam berlalu akhirnya acara itu selesai juga. Rico nampak duduk di sofa ruang rias untuk menyalurkan rasa lelahnya. Kepalanya menengadah sementara matanya tertutup.


'Gue harap apa yang gue lakuin sekarang bisa bantu lo, Rian. Gue harap lo cepat sadar dan kali ini gue bakal selalu ada buat lo. '


Tiba-tiba Alex datang menghampirinya tanpa Rico sadari. Rico sontak membuka matanya saat merasakan benda dingin menempel di dahinya. Alex tersenyum saat Rico menatapnya dengan wajah terkejut.


"Es krim? " Tanya Rico tidak percaya.


Setelahnya Rico terkekeh.


"Cara lo balikin mood gue kayak bapak ke anaknya. Thanks. " Ucap Rico sambil menerima es krim dari Alex.


Alex menepuk pundak Rico pelan.


"Saat kayak gini kita butuh saling menguatkan. "


"Lo emang selalu paling bijak. Gak heran sih kalo diliat dari umur lo yang udah sepuh. " Canda Rico di sela-sela makan es krimnya.


"Makanya jaga sikap sama gue. " Balas Alex tidak terduga membuat Rico bengong sesaat.


"Sandika, Gusti. "


Setelahnya mereka tertawa bersama.


...***...


Octa berjalan gontai menuju kantin rumah sakit. Semalaman ia memantau keadaan Rian dan masih belum ada perkembangan. Octa justru khawatir keadaan Rian akan kembali memburuk seperti beberapa hari yang lalu. Tubuh Octa terlihat lemah dan wajahnya pun sangat jelas menyiratkan kelelahan.


Octa duduk di salah satu bangku kantin dan memutuskan memesan secangkir kopi. Dan tak perlu menunggu lama, kopi pesanannya pun datang. Ia baru hendak meminum kopinya saat tangan seseorang menggeser secangkir kopi itu dari hadapannya. Kemudian diganti dengan segelas air putih dan semangkuk bubur ayam.


"Kamu perlu tetap sehat dan kuat buat terus jaga Rian. "


Octa tersenyum saat mendapati Morin di sampingnya. Morin ikut tersenyum sambil memperhatikan Octa yang mulai memakan bubur ayam di hadapannya.


"Kamu gak makan? " Tanya Octa pada Morin yang hanya memperhatikannya.


"Ini udah siang, jelas aku udah makan. Kamu yang kesiangan makannya. "


Octa mengangguk-angguk mendengar jawaban Morin.


"Oh iya, hari ini si Alex sama Rico balik kerja lagi, yah? " Tanya Octa dengan masih menikmati bubur ayam.


"Ya, gitu deh. Pagi-pagi Alex udah jemput Rico, susah keluar gedung katanya, banyak wartawan. "


Octa lagi-lagi hanya mengangguk-angguk sambil menikmati bubur ayamnya. Tiba-tiba handphonenya berbunyi menandakan pesan masuk. Octa menerka siapa yang mengirim pesan padanya karena dia yakin bukan Alex ataupun Rico. Kedua sahabatnya itu pasti langsung menelpon. Mata Octa terbelalak dan membuat Morin penasaran. Terlihat tangan Octa mengepal.


"Siapa? " Tanya Morin penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan Morin, Octa malah memberinya perintah.


"Pergi! Sekarang! "

__ADS_1


"Kenapa? Ada apa? "


"Pergi! "


Dengan perasaan campur aduk Morin pergi meninggalkan kantin. Sementara Octa menggebrak meja dan membuat semua pasang mata yang ada di sana menatap aneh padanya.


"Sialan! "


Sementara itu di ruang rawatnya Chelsea tengah terbaring sambil menatap kosong langit-langit rumah sakit. Cahaya matahari menembus jendela kaca ruangan, tapi rasa panas tidak Chelsea rasakan karena terhalau hawa sejuk AC.


"Ayah! " Panggil Chelsea pada Tuan Besar Xil yang tengah duduk di sofa sambil membaca tulisan di layar handphonenya.


"Iya,kenapa? " Jawab Tuan Besar Xil sambil mengalihkan pandangannya.


"Chelsea pengen jalan-jalan. "


Ayahnya itu tampak menghela nafas.


"Ke taman rumah sakit aja ya? Jangan jauh-jauh. "


Chelsea mengangguk setuju. Lebih baik dari pada harus terus menerus berbaring.


"Oke, ayah ambil kursi roda dulu. Biar sekalian ayah temenin. "


Belum sempat ayahnya beranjak, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.


"Biar aku aja yang nemenin Chelsea, Om. "


Kedua pasang mata yang berada di ruangan itu langsung mengalihkan perhatian ke sumber suara.


"B-bang Saka?! "


Mendengar suara Chelsea yang gelagapan saat memanggilnya sukses membuat si pemilik nama terkekeh. Saka berjalan mendekati Chelsea tanpa peduli ekspresi tidak suka Tuan Besar Xil. Chelsea tampak mematung sampai tiba-tiba memintanya berhenti.


"Stop! Please. "


Saka tampak mengerutkan dahinya karena bingung melihat reaksi Chelsea. Tidak berbeda jauh dengan ekspresi yang ditunjukkan Tuan Besar Xil, karena biasanya Chelsea sangat menempeli kakak sepupunya itu. Nampak jelas raut ketakutan di wajah Chelsea membuat sang ayah segera menghampiri putrinya dan membawanya ke dalam dekapan.


Chelsea sama sekali tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Saka yang sama khawatirnya langsung berjalan mendekati Chelsea dan membuat Chelsea semakin ketakutan.


"Kamu kenapa? Kamu takut sama abang? "


Lagi, Chelsea hanya diam sambil mengatur nafasnya saat kilasan mimpi buruk itu berputar di benaknya. Chelsea berusaha menenangkan dirinya dengan meyakinkan bahwa semua itu hanya mimpi buruk.


'Bang Saka gak mungkin sejahat itu. Tenang Chelsea, Bang Saka itu baik. '


Setelah merasa lebih tenang, Chelsea memberanikan diri membiarkan Saka mendekatinya.


"Maafin Chelsea, Bang. Chelsea tadi abis mimpi buruk, jadi kebawa-bawa takutnya. "


Saka tersenyum memaklumi.


"Ya udah, kita ke taman sekarang gimana? Biar kamu juga bisa refreshing. " Ajak Saka yang kemudian dibalas anggukan oleh Chelsea.


Dengan menggunakan kursi roda, Chelsea pergi ke taman rumah sakit dengan ditemani Saka. Suasana canggung antara keduanya semakin menghilang setelah obrolan-obrolan kecil yang mereka lakukan.


'Sebenarnya apa yang aku pikirkan? Bang Saka itu jelas-jelas orang yang baik, nggak mungkin dia ngelakuin hal yang kejam. Aku gak ngerti, bisa-bisanya aku punya prasangka buruk sama orang yang selalu ada buat aku selama ini. '


...***...


Waktu menunjukkan pukul 18.07 saat Rico dan Alex datang ke ruang rawat yang ditempati Rian. Octa yang memang selalu berada di sana menyambut kedatangan mereka.


"Gimana? Lancar? "


Alex mengangguk.


"Gue berharap semua ini bakal menjaga nama baik Rian. Jadi, dia gak bakal nerima celaan apapun setelah sadar nanti. " Ucap Rico sambil menatap Rian yang masih tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Octa dan Alex bisa merasakan besarnya kesedihan yang Rico rasakan saat ini. Setelah saling mengobrol tentang beberapa hal, Rico berpamitan. Ia merasa harus menemui Chelsea juga, tapi tentu saja dia tidak mengatakannya pada Octa dan Alex.


"Gue pulang dulu, malam ini biar gue yang jagain Rian. Nanti gue balik lagi setelah ambil beberapa barang. "


Sebelum Rico benar-benar pergi, tiba-tiba Alex menghentikannya dan membuat Octa menatap aneh. Alex meminta Rico mengikutinya ke taman rumah sakit dan Rico setuju. Saat sampai di sana, mereka langsung duduk di bangku taman. Rico menatap Alex yang menengadah menatap langit bertabur bintang. Alex nampak menghela nafas.


"Gue bakal jelasin apa yang harusnya lo tau sejak awal. " Ucap Alex membuat Rico menatap serius.


Setiap kata yang keluar dari mulut Alex, Rico mendengarkan dengan seksama. Beberapa kali tangan Alex terkepal saat mendengar penjelasan itu. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan penjelasan, karena memang Alex dan Octa tidak merahasiakan hal lain selain itu.


"Jadi, lo berdua sengaja nutupin hal sebesar ini dari gue? Hal sepenting ini? Lo berdua tau kan, gue gak mungkin bisa dengan mudah maafin lo berdua. Ini bukan hal sepele. "


Alex tersenyum miris.


"Iya, gue cukup tau itu. Lo berhak marah. "


Sementara itu Octa baru saja kembali dari toilet saat handphonenya berbunyi. Dengan cepat Octa membuka pesan yang masuk.


Unknown Number:


Gue serius sama ancaman gue tadi, lo atau gue yang bongkar semuanya?


Octa berdecak sebal kemudian mengabaikan pesan itu. Dan lagi, handphonenya berbunyi, dengan kesal Octa membuka pesan itu.


Unknown Number:


Atau lo mau liat adik lo itu celaka lebih dari ini?


Gue udah berbaik hati gak langsung bongkar semua kedok busuk lo, lo beneran serius mau gue yang turun tangan?


Lo mau adik lo itu makin menderita?


PENGECUT!!!


Pesan-pesan dari nomor tidak dikenal itu terus menghantuinya. Kadang hatinya membenarkan setiap isi pesan itu. Tapi, ia benar-benar tidak punya keberanian menghadapi kebencian adiknya nanti.


'Apa yang harus gue lakuin sekarang? '


...***...


Rico berjalan gontai di Koridor rumah sakit. Menghadapi kenyataan bahwa sahabatnya benar-benar menyembunyikan hal penting darinya membuat ia lagi-lagi merasa dikhianati. Rico mencoba tersenyum sebelum masuk ke ruang rawat Chelsea.


"Orang sibuk datang juga akhirnya. " Sindir Chelsea saat Rico masuk ke ruangan.


Rico hanya terkekeh kemudian mengernyitkan saat menemukan Saka yang duduk bersama ayahnya si sofa.


"Ngapain lo? " Ketus Rico yang kemudian mendapatkan lemparan bantal dari Chelsea.


"Jenguk aku lah, abisnya punya kakak sok sibuk banget. Harusnya kak Rico bilang terimakasih sama Bang Saka yang rela ngobatin kebosanan Chelsea. Kakak sama aja kayak ayah. "


Rico dan sang ayah mendengus sebal sementara Saka tertawa karena merasa menang.


"Iya deh iya, nanti kak Rico beliin dia mobil sebagai ucapan terimakasih. "


"Wah! Gue terima dengan senang hati. Btw, ada mobil sport keluaran terbaru. Bisalah ya, makasih loh sebelumnya. " Celetuk Saka tidak tau diri.


"Dasar gak tau diri! "


"Kak Rico! Jangan gitu! " Amuk Chelsea membuat Rico ingin mengumpat.


Akhirnya Rico memilih bersabar dan menghampiri Chelsea.


"Gimana keadaan kamu sekarang? Udah baikan? " Tanya Rico dengan suara lembut.


Chelsea tersenyum sebagai balasan.


"Tapi, aku gak pernah liat kak Ian datang. Kak Ian gak mungkin gak tau aku sakit, kan? Katanya berita aku sakit udah tersebar, masa kak Ian gak ada waktu jenguk aku? "

__ADS_1


Rico menatap adiknya prihatin.


'Apa yang harus gue jawab? Apa gue harus bohong lagi? '


__ADS_2