LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Hanya Mimpi (Revisi)


__ADS_3

"Jadi sebenarnya lo udah tau kalo dalang semua kekacauan ini tuh dia? "


Atensi Octa teralihkan saat pertanyaan itu sampai ke telinganya. Tampak seorang pria yang beberapa waktu lalu menjemputnya itu tengah menatap penuh tanya padanya.


"Dasar bego!" Celetuk seorang wanita bermasker yang membuat pria itu mendelik tajam.


"Ya iyalah, terus lo kira dia nyuruh kita awasi tuh orang buat apaan? Dia gak kurang kerjaan kaya lo. "


"Mia emang selalu lebih cerdas dari pada lo. "


Pria itu berdecak sebal dan melenggang keluar dari ruang remang-remang itu saat mendengar ledekan Octa. Sementara wanita bermasker yang dipanggil Mia itu terkekeh sebelum menghampiri Octa dan membisikkan sesuatu.


"Oke, kalo lo sama R.01 sanggup gue gak akan ikut campur. "


"Lo paling tau gimana gue, Ta. Tapi sekarang gue harus ngurusin tuh bocah ngambekan. "


Octa mengangguk pelan sementara wanita itu keluar menyusul pria dengan panggilan R.01 itu. Setelahnya Octa hanya menatap barisan data di layar komputer dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sementara di lain tempat seseorang yang menjadi sasaran utama Octa itu kini ternyata tengah berdiri tidak jauh dari bangunan tua yang menjadi markas Octa saat ini. Hanya iris abunya yang tidak bisa menutup identitas dirinya. Sayangnya petunjuk itu bahkan tidak bisa disadari oleh orang terdekatnya.


Perlahan nampak ia menghela nafas, ada segaris rasa lelah tergambar dimatanya. Ditatapnya langit mendung dengan sayu sebelum kemudian tersenyum miris.


"Melelahkan, harus segera diakhiri. "


Sebaris kalimat penuh tanda tanya itu terucap tepat sebelum ia melenggang mendekati bangunan yang telah ia perhatikan. Langkahnya cepat namun tidak meninggalkan jejak suara yang mampu di dengar dua orang penjaga di pintu depan.


Dengan beberapa gerakan mengendap-endap dan bersembunyi ia telah mampu masuk ke dalam bangunan dengan aman. Satu tarikan nafas sebelum pintu dihadapannya ia dobrak. Tapi perkiraannya meleset jauh dan dunia tiba-tiba menjadi gelap.


Terdengar suara tetesan air yang menenangkan tapi sekaligus menjelaskan kesendirian. Sorot cahaya tiba-tiba tertuju padanya seakan dia pemeran utama di panggung teater. Tapi, matanya seketika membulat sempurna saat keberadaan sebuah cermin di hadapannya memantulkan bayangan yang sangat ia kenali adalah tubuhnya saat ini.


"Apa itu gue? "


Belum lama bergelung dalam kebingungan, ketakutan dan kesepian, tiba-tiba kaca itu retak. Darah mengalir keluar dari setiap retakan dan perlahan menghancurkan bayangannya. Dan ia jatuh bersimpuh dalam ketakutan yang hampir merenggut kewarasannya.


Keringat dan tangisan membawa dia kembali pada kegelapan. Tapi teriakan-teriakan memekakkan telinga tidak membiarkan dia sendirian dalam kegelapan dan ketakutan. Bayangan orang-orang yang ia sayangi menyambar seperti petir ke hadapannya.


Mereka saling memaki, saling menyalahkan karena kepergiannya. Jeritan tangis orang-orang yang ia tinggalkan membuat dia tersiksa. Dan ketika bayangan pertumpahan darah orang-orang yang ia sayangi muncul tanpa aba-aba, ia terjengkang dan jatuh meringkuk. Memeluk erat tubuhnya sendiri dengan kewarasan yang sekuat tenaga ia pertahankan.


Ia ingin berteriak sekeras mungkin, ingin memohon siapapun untuk membawanya pergi dari tempat itu. Tapi suaranya tidak pernah terdengar. Kemarahan, kesedihan dan ketakutannya berubah menjadi badai berpetir yang tidak kunjung datang hujan. Angin bertiup membawa kedinginan yang memaksanya jatuh sedalam-dalamnya pada kesepian yang membuat jiwanya membeku.


"Siapapun, bawa gue pergi dari sini. " Ucapnya dengan pasrah.


Matanya mulai terpejam ketika dengan perlahan ia pasrah atas apa yang tengah terjadi pada dirinya. Dan badai emosi itu pun hilang dalam sekejap digantikan cahaya redup yang semakin lama semakin terang.


'Aku ikhlas, kamu bisa pergi. '

__ADS_1


Matanya terbuka perlahan saat sebuah bisikan merdu sampai ke telinganya.


'Istirahatlah, Mama tau kamu lelah. '


'Jangan pergi sekarang, Rian. Kembali! Ayah minta maaf. '


'Kakak tau kamu lelah, tapi jangan tidur terlalu lama. Kita bahkan belum kenalan. '


'Buka mata kakak, kak Ian gak boleh pergi sejauh ini dari Chelsea. '


'Gue gak bisa lihat lo kaya gini. '


'Please, lo sahabat gue. Gue tau lo kuat. '


Banyak bisikan masuk ke telinganya dan ia dengarkan setiap bisikan itu sambil berbaring terlentang di atas genangan air yg berkilau tersorot cahaya. Segala sudut disekitarnya tampak putih dan bersinar terang. Matanya menatap lurus ke atas dan hanya bentangan langit biru dengan awan-awan tipis yang bisa ia lihat.


Bisikan itu menemaninya dalam dinginnya kesendirian. Aroma bunga lavender perlahan masuk ke hidungnya dan membuatnya benar-benar tenang. Hembusan angin sejuk menerpa surai coklatnya. Wajah dengan sudut sempurna miliknya tampak hangat meski tak berekspresi.


Tenang, semakin tenang. Sampai ia mulai dihinggapi rasa kantuk yang tidak bisa ditahan. Matanya terpejam dengan perlahan dan sepenuhnya ia terlelap.


Perlahan kelopak mata indah itu berkedut, jari-jari kaku yang mulai mendingin itu pun tampak bergerak pelan dalam genggaman tangan yang tampak mulai keriput. Genggaman itu semakin erat saat tersadar akan gerakan kecil yang lama ditunggu.


"Rian, ini Mama. "


Waktu beralih ke hari ketika...


"Saya menerima laporan kesehatan Tuan Rian beberapa saat yang lalu. "


Mendengar nama Rian disebut, Chelsea mengerutkan dahi sambil menajamkan telinga.


"Bagaimana perkembangannya? Bukankah dia baru saja sadar dari komanya? "


Pertanyaan Tuan Besar Xil membuat Chelsea tertegun.


"Betul, Tuan. Tapi, beberapa saat yang lalu manager Alex mengabari saya untuk melaporkan bahwa... "


Pengawal itu menggantung kata-katanya dan membuat jantung Chelsea berdegup kencang.


"Tuan Rian telah meninggal dunia. "


Deg!


Pyarr!!


Suara nyaring gelas pecah itu berhasil mengalihkan perhatian Tuan Besar Xil dan si pengawal. Sontak mata Tuan Besar Xil terbelalak ketika melihat Chelsea tengah berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah pucat pasi.

__ADS_1


"Chelsea! "


"Lelucon macam apa ini, ayah? "


Tuan Besar Xil segera menghampiri putrinya. Chelsea menepis kasar tangan ayahnya yang hendak membawa ia ke dalam pelukan. Chelsea terlihat sangat syok.


"Lelucon macam apa ini?! Kalian akan rahasiakan semua ini? Kalian gila?! " Teriak Chelsea membuat banyak pelayan berkumpul.


"Chelsea, dengerin ayah! "


"Apa?! Apa ayah? "


Teriakan Chelsea semakin melemah bersama tubuhnya yang terduduk di lantai. Isak nya terdengar memilukan membuat sang ayah benar-benar tidak sanggup mendengarnya.


'Inilah kenapa ayah tidak ingin kamu tau. Karena Rian terlalu berarti untukmu, Chelsea. '


Nafas Chelsea mulai kembali sesak dan membuat ayahnya dan para pelayan panik. Mereka berusaha membantu Chelsea tapi semua ditolak mentah-mentah. Chelsea tetap menangis, meraung-raung mengungkapkan kekesalan, kekecewaan, rasa sakit dan kesedihannya.


"Ini.. Yang.. Ayah.. Mau.. Kan? Biarin.. Chelsea.. Ikut.. Kak.. Ian. "


Chelsea bicara dengan terbata-bata.


"Enggak, Chelsea! Dengerin ayah! " Tegas Tuan Besar Xil sambil memeluk tubuh Chelsea yang semakin lemah.


"Ayo kita ke sana sekarang! " Ajak sang Ayah membuat Chelsea kembali meraung-raung.


Sesaat sebelum beranjak membawa Chelsea menuju mobil, Tuan Besar Xil menoleh kebelakang dan tampak memberikan isyarat pada pengawal tadi. Dan tidak lama setelah Chelsea dan Tuan Besar Xil meninggalkan kediaman mereka, pengawal itu tampak menelpon.


"Lanjutkan rencana, Nona dalam perjalanan. "


Sementara itu beberapa saat sebelumnya di rumah sakit.


"B-bagaimana keadaannya, dok? Dia baik-baik aja, kan? "


"Syukurlah, pasien terselamatkan. Tapi, pasien mengalami koma dengan waktu yang tidak bisa diperkirakan. "


Mendengar hal itu membuat Rico sedikit lega, ia melenggang pergi meninggalkan Alex, Morin dan Octa yang mengira kepergiannya karena ia tidak bisa menerima kenyataan. Tapi tidak lama ia kembali dan membuat teman-temannya kebingungan karena ide gilanya.


"Gak mungkin, Chelsea gak bakal bisa terima kenyataan. " Tolak Alex tidak setuju dengan ide Rico.


"Dia bisa, gue yakin. "


"Dari mana lo punya keyakinan itu? " Tanya Octa heran.


Rico menghela nafas.

__ADS_1


"Karena gue kakak kandungnya. "


Dan kebohongan tentang kematian Rian menjadi rahasia mereka, keluarga Rian dan orang-orang dibawah perintah khusus Tuan Besar Xil. Setelah kabar itu tersebar luas, Chelsea akhirnya terpaksa dikirim ke luar negeri bersama sepupunya, Saka.


__ADS_2