LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)

LIGHT IN YOUR EYES (Cahaya Di Matamu)
Rencana Gila (Revisi)


__ADS_3

Ruang remang-remang itu dipenuhi gema teriakan frustasi. Semua barang nampak berserakan di lantai. Pria yang masih mengenakan hoodie hitam itu beberapa kali melayangkan pukulannya ke tembok. Jelas tak ada yang berubah dengan tembok itu, justru kini tangannya yang nampak berdarah. Tapi, ia mengabaikannya.


"Kenapa, kenapa, kenapa?! Kenapa Chelsea? "


Pria itu berteriak, memaki dan bersumpah serapah.


"Bisa-bisanya dia bersikap seperti si brengsek itu! Bisa-bisanya dia jadiin Chelsea kambing hitam! Juan sialan! Lo benar-benar cari mati! "


Pria itu melempar handphonenya dan membuat cermin yang memantulkan bayangan tubuhnya pecah. Bayangannya langsung tersamar dan membuat identitasnya lagi-lagi tertutupi.


Tiba-tiba cahaya masuk ke ruangan itu saat pintu dibelakangnya terbuka. Tampak seorang pria berpakaian serba hitam menghampiri pria dengan hoodie dengan kepala tertunduk antara takut dan hormat. Pria dengan hoodie menghela nafas untuk meredam amarahnya.


"Gue bakal bikin lo ninggalin raga di dunia kalo informasi yang lo bawa gak bikin gue puas"


Pria berpakaian serba hitam itu tampak gemetar ketakutan mendengar kalimat mematikan yang mengintimidasinya. Setelah menelan saliva dengan kasar dan mengambil langkah mendekati tuannya pria itu masih menghela nafas sebelum benar-benar bicara.


"Dia sudah tau informasi tentang anda tuan, mungkin saja dalam waktu dekat kita akan mendapat serangan balik. "


Pria dengan hoodie menghembuskan nafas kasar.


"Sialan! Gimana bisa lo semua kecolongan, hah?! " Amukan pria dengan hoodie sambil menendang kursi didekatnya.


"Gue gak mau tau! Sebelum dia menghancurkan kita, hancurkan Xil grup! "


Pria berpakaian serba hitam itu tampak terkejut dengan perintah tuannya.


"Tuan, dia hanya batu loncatan. "


Pria dengan hoodie itu berbalik menunjukkan iris abu yang penuh intimidasi. Si pria berpakaian serba hitam tertunduk takut.


"Atau lo pengen gue bikin hancur duluan? "


Pria berpakaian serba hitam itu langsung berlutut di depan tuannya. Kepalanya tertunduk dalam sementara tubuhnya bergetar ketakutan.


"Gue bisa bikin kematian yang paling berkesan buat lo, lo boleh pilih sendiri. Cara mati yang mana yang lo mau. "


Pria berpakaian serba hitam itu semakin ketakutan. Terlihat jelas dari bagaimana nafasnya yang semakin tidak teratur dan keringat dingin yang tampak mengucur. Dan tiba-tiba suara tawa membuatnya semakin kehilangan harapan untuk hidup.


"Tapi, gue gak punya mood buat mengotori tangan gue sekarang. Gue bakal lepasin lo. "


Pria berpakaian serba hitam itu tampak bernafas lega.


"Tapi, setelah lo menghancurkan Xil grup. " Lanjut pria dengan hoodie sambil tersenyum sinis.


Pria berpakaian serba hitam lagi-lagi menelan saliva dengan kasar. Itu bukan syarat yang harus dipenuhi tapi perintah yang harus dilaksanakan. Akhirnya ia dengan berani mengangguk menyanggupi perintah tuannya yang mempertaruhkan nyawa itu.


"Saya akan selesaikan sebelum matahari terbit besok pagi. "


Pria dengan hoodie tertawa kemudian berdecak beberapa kali sambil memutari tubuh anak buahnya itu.


"Lo bakal mati duluan kalo kerja lo lelet kayak gitu. Lo harus beresin sebelum tengah malam dan nyawa lo aman. "


Pria berpakaian serba hitam itu tampak terbebani dengan keinginan tuannya. Meski begitu ia tetap memilih mengiyakan perintah gila itu. Setidaknya hidupnya masih aman sampai tengah malam.


"Bagus, gue gak sabar liat Xil hancur. "


...***...


Morin langsung berjongkok saat sampai di teras depan rumahnya. Nafasnya nampak putus-putus setelah berlari dari kejaran Alex sambil terus tertawa. Setelahnya Alex datang dengan kondisi yang tidak jauh berbeda. Keduanya kembali tertawa.


"Gue menyerah! "

__ADS_1


Alex tertawa dengan nafasnya yang masih putus-putus. Sebelah tangannya bertumpu ke tiang rumah Morin.


"Segitu doang udah menyerah, payah! "


Morin cemberut dan membuat Alex kembali tertawa. Tapi, kemudian Morin tersenyum jahil.


"Ma! Anak mama yang tercantik ini disebut anak macan! " Teriak Morin yang membuat Alex dengan sigap membekap mulut teman kecilnya itu.


Keduanya terduduk di teras tapi ternyata rencana Morin berhasil. Mamanya keluar dari rumah dan langsung menatap keduanya aneh.


"Kalian ngapain lesehan di teras? Mau simulasi jadi pengemis? "


"Eh, tante. Gak sengaja jatuh tadi. "


Mama Morin nampak percaya begitu saja dengan jawaban yang diberikan Alex.


"Itu ngapain pakai bekap-bekapan kayak gitu? Tau nih, kalo mau mesra-mesraan jangan di depan rumah, nanti diliat tetangga. "


Morin langsung menepis tangan Alex yang membekap mulutnya saat mendengar tuduhan mamanya yang membuat ia bergidik. Mamanya malah senyum-senyum melihat anaknya itu.


"Sembarangan! Amit-amit ya ma, harusnya mama marahin Lexan. " Ucap Morin sambil berdiri dan menghampiri mamanya.


Alex ikut berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya.


"Kenapa gitu? Masa mama marahin Lexan tanpa alasan, lagian Lexan kan calon menantu idaman mama. "


Mama Morin nampak menatap putrinya dengan wajah bingung. Sementara Alex berubah canggung saat mendengar kata calon menantu idaman itu keluar dari mulut mama teman kecilnya. Meski senang juga karena ia tidak jadi dimarahi.


"Amit-amit ya, Ma. Menantu idaman dari mana? Masa dia ngatain Zoya anak macan. Yang kayak gitu mau mama jadiin menantu? " Protes Morin sambil bergidik.


Mamanya tersenyum sementara Alex nampak semakin canggung.


"Mama gak bilang bakal jadiin Lexan menantu loh, berarti mau dong ya kalo mama nikahin kamu sama Lexan? Cocok loh kalian berdua. " Ucap sang Mama dengan senyuman penuh arti.


Alex dan Morin jadi salah tingkah. Alex nampak menunduk sambil memainkan kakinya sementara Morin menepuk pelan pundak sang mama.


"Apa sih ma?! Kan bukan itu topiknya! " Protes Morin sambil terus mengalihkan pandangannya.


Sang mama terkekeh.


"Gak papa, gak usah malu-malu gitu. Lagian Lexan ngatain kamu anak macan gara-gara kamu galak pasti sama dia. "


"Bener tante! Bener banget! Masa Lexan dianiaya di pinggir jalan, tega dia emang. Galak banget! " Sewot Alex balas mengadu.


Morin langsung menatap tajam Alex sambil cemberut dan membuat Alex memeletkan lidah mengejeknya. Sang mama melototi Morin dan membuat Morin tersenyum kikuk.


"Gak gitu ma, masa mama lebih percaya Lexan sih? "


Morin memasang wajah teraniaya.


"Emang mama lebih percaya Lexan, lain kali lapor tante kalo Zoya galak sama kamu lagi, ya Lex? "


Alex tersenyum senang.


"Siap tante. "


"Ih! Mama jahat! Mama tega! " Rajuk Morin kemudian masuk ke rumahnya.


Sang mama dan Alex malah tertawa melihat Morin yang ngambek. Hal seperti ini memang sudah biasa terjadi sejak mereka masih kecil.


"Ayo masuk dulu, Lex. Tante baru buat kue kesukaan kamu, lagian udah gerimis juga. "

__ADS_1


Alex mengangguk dan menerima tawaran Mama Morin. Mereka masuk ke dalam rumah saat gerimis mulai berubah deras menjadi rintik-rintik hujan. Mereka duduk di ruang keluarga rumah Morin, tampak televisi yang menyala dan beberapa majalah di atas meja yang berserakan bersama beberapa barang lainnya.


Alex terlihat risih dengan pemandangan itu. Saat mama Morin pergi untuk mengambil kue buatannya, Alex mulai membereskan barang-barang di meja.


Tidak lama akhirnya mama Morin datang dan melihat Alex yang tengah membereskan barang-barang di meja. Ia sempat menghentikan langkahnya dan tersenyum kemudian kembali berjalan menghampiri Alex.


"Kamu gak berubah ya, masih suka banget bersih-bersih. "


Alex sontak menoleh.


"Eh, tante. Udah kebiasaan sih, agak risih juga liatnya. " Balas Alex dengan sopan sambil tersenyum ramah.


Mama Morin tersenyum dan menyodorkan sepotong kue pada Alex. Alex menerimanya dengan ramah.


"Kenapa tante buat kue kesukaan aku? " Tanya Alex sambil mulai memakan kue itu.


Mama Morin tersenyum.


"Tadi siang tante liat Zoya keluar rumah buru-buru, tante ada firasat dia mau nemuin kamu. Tante iseng aja buat kue kesukaan kamu, siapa tau kamu mampir. Eh, ternyata bener, dia mau ketemu sama kamu. Kamu juga beneran mampir. "


Alex tersenyum.


"Bisa kebetulan gitu. "


"Itu takdir. "


Alex menatap bingung pada mama Morin yang malah tersenyum penuh arti.


"Maksudnya gimana, tan? "


"Kalian mungkin emang jodoh. "


Alex langsung tersedak mendengar jawaban mama teman kecilnya itu. Bukannya memberi minum saat Alex terbatuk-batuk, mama Morin malah memanggil Morin sambil terus tersenyum.


Morin tampak datang dengan wajah malas. Meski Alex terlihat terbatuk-batuk, Morin hanya melirik sekilas dengan tidak peduli.


"Kenapa ma? "


"Kamu gak peka banget, itu kasian Lexan batuk-batuk kayak gitu. Ambilkan minum sana! "


Morin memutar bola mata jengah kemudian dengan ogah-ogahan mengambil minum untuk Alex.


"Aneh deh, padahal kalo mama yang ambil kan lebih cepat. Kalo manggil gue dulu mah keburu sekarat tuh orang. " Gerutu Morin sambil berjalan ke dapur.


Karena Morin yang terlalu lama mengambil minum untuk Alex, sekarang Alex malah jadi sakit tenggorokan. Beberapa kali Alex berdeham karena tenggorokannya tidak nyaman.


"Kamu sih Zoy, kelamaan ambil minumnya. Kasian Lexan jadi sakit tenggorokan gitu. "


Alex hanya tersenyum. Ia kesulitan untuk bicara. Sementara Morin lagi-lagi memutar bola mata jengah. Tiba-tiba mata mama Morin menyipit membuat Alex berkedip beberapa kali. Morin menatap mamanya dengan curiga.


"Tapi, kalo mama perhatiin ya Zoy, kayaknya kalian emang cocok deh. Gimana kalo kalian nikah aja? "


Morin mengernyit sementara Alex menatap bingung.


"Itu yang kamu pakai syal Zoya, kan Lex? "


Morin ingin berteriak frustasi dengan perjodohan konyol mamanya. Lagi-lagi mamanya membuat rencana gila hanya karena hal sepele.


Sementara Alex menatap ngeri pada mama Morin sebelum menoleh pada Morin yang juga menatap padanya. Kontak mata itu mengisyaratkan satu kata di benak keduanya.


'Gila'

__ADS_1


__ADS_2