
"Lo beneran gak salah kan? "
Ara mendelik saat untuk kesekian kalinya pertanyaan itu dilontarkan Alex padanya.
"Emang Ara keliatan kayak tukang bohong? "
Alex tampak berpikir sebelum menjawab.
"Muka lo itu lempeng macam jalan tol, gimana gue bisa tau lo bohong apa enggak. Lo senyum dikit kek, gak usah sok jaim. "
Ara menoleh pada Alex sambil tersenyum seperti permintaan Alex. Bukannya terlihat tampan justru di mata Alex adiknya itu terlihat aneh. Sangat aneh malahan.
'Bisa sakit mata gue lama-lama. '
"Udah, stop! Kayaknya lo mending datar aja deh. "
Mendengar ucapan Alex membuat Ara sontak mengubah kembali ekspresi wajahnya jadi datar seperti biasanya.
"Ara mau tidur, bye! " Pamit Ara kemudian pergi menuju kamar yang telah disiapkan Alex untuknya.
"Eh, bocah! Mandi dulu! badan lo bau asem! " Teriak Alex yang tidak dihiraukan Ara.
Alex berjalan menuju dapur. Di sana terlihat pria berpakaian serba hitam yang datang bersama Ara tengah membereskan bahan makanan.
"Lo bisa masak, kan? "
Si pria menoleh.
"Bisa, Tuan Lexan. " Jawab si pria dengan sopan.
"Oke, bangunin Ara 2 jam lagi, suruh mandi. Lo tau makanan kesukaan Ara, kan? "
Si pria mengangguk mengiyakan.
"Oke, lo yang masak. Gue ada urusan. " Ucap Alex kemudian melangkah.
Belum sempat Alex melangkah lebih jauh, pertanyaan si pria menghentikan langkahnya.
"Anda akan bekerja di hari libur, Tuan? "
'Gak tau aja nih orang kalo Xil Grup kagak ada liburnya. '
"Kenapa? Apa Tuan Regard memberimu perintah untuk mencegahku? "
Pertanyaan Alex membuat si pria tak berkutik. Alex menghembuskan nafas berat kemudian terkekeh.
"Ah, begitu yah. Jika ingin aku berhenti dari Xil Entertainment, hentikan bisnis ilegal itu. Katakan pada papaku yang tercinta. " Ucap Alex tanpa berbalik.
Tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Alex berjalan ke kamarnya untuk ganti baju. Beberapa saat setelah sampai di rumahnya, agensi menelpon dan memintanya untuk datang ke kantor. Kemarin Alex memang belum menyelesaikan urusannya dengan klien. Dan sekarang agensi menginginkan Alex untuk menyelesaikannya tidak peduli meski sekarang hari libur atau Alex butuh istirahat.
Alex bukan tidak keberatan dengan permintaan agensi, tapi memang kesalahannya kemarin tidak menyelesaikan urusannya dan hari ini Alex harus kehilangan waktu istirahatnya. Alex baru membuka pintu depan saat dua orang anak kecil berdiri di depan pintu dengan pakaian serupa.
Dua anak usia 9 tahun dengan rambut pendek itu menatap Alex dengan pandangan yang berbeda. Yang satu tersenyum manis dan yang satu lagi berekspresi persis seperti Ara.
"Wah! Apa yang kalian lakuin pagi-pagi di depan pintu rumah gue? "
__ADS_1
"Sunny mau ketemu Kak Ara. " Ucap si anak dengan senyum manis.
"Oh, oke. Tapi ngomong-ngomong lo gak mungkin datang cuma berdua, kan? Si Rian mana? Dianter si Rian kan lo berdua? " Tanya Alex sambil menengok ke sana kemari.
"Kenapa harus dianter bang Rian? Kan ada Ran yang jagain Sunny. "
"Banyak gaya lo berdua! Kecil-kecil udah pacaran. "
"Berisik! " Ketus Ran kemudian menarik tangan Sunny, membawanya masuk ke dalam rumah Alex tanpa permisi.
"Dasar bocah! "
...***...
"Ayah! Where are you?! "
Chelsea berkoar-koar sambil berjalan keluar kamarnya. Para pelayan dan pengawal yang berjalan di belakangnya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Chelsea. Chelsea berjalan menuruni tangga menuju ruang tengah rumahnya dengan penampilan casual dan tas selempang bulat berbahan rotan.
Di sofa ruang tengah tampak ayahnya yang sedang membaca koran pagi menoleh saat menyadari kehadiran Chelsea.
"Mau kemana nih? Pagi-pagi putri ayah udah rapih aja, libur kan? Rian juga kayaknya gak syuting hari ini. "
"Apa sih, Ayah? Chelsea bukan mau nyamperin Kak Ian, Chelsea mau nyusul kakak ke kantor pusat. "
Ayahnya terkekeh.
"Iya deh, Ayah percaya. "
Chelsea mendengus sebelum kemudian berpamitan dan pergi diikuti dua pengawalnya.
Sementara itu di sebuah ruangan bertuliskan 'Direktur Utama' di pintu masuknya seorang pria nampak berdiri membelakangi pintu masuk. Di depannya kaca tebal membuat ia leluasa melihat bangunan kota dari ruangan di lantai 40 gedung Xil Grup itu. Kantor pusat milik keluarga konglomerat Xilent yang diketahui khalayak ramai bahwa saat ini tengah dipimpin oleh seorang Direktur Utama bernama 'Juan Richard Xilent'. Seorang putra sulung dari keluarga Xilent yang tidak pernah diketahui wajahnya.
"Anda memanggil saya, Mr. Xil? "
"Keluar dari Xil Grup sekarang juga! " Titah Pria yang dipanggil Mr. Xil itu dengan penuh penekanan.
Seorang wanita berpakaian seksi yang tengah berdiri di ambang pintu itu sontak berlutut.
"Maafkan kesalahan saya Mr, saya tidak akan mengulanginya lagi. " Mohon si wanita dengan air mata berurai.
"Menggodaku bukan kesalahan. Tapi, membuatku jijik adalah bencana besar yang kau ciptakan untuk dirimu sendiri. " Ucap Mr. Xil dengan nada sarkas.
Kaki Mr. Xil melangkah menghampiri si wanita yang masih berlutut dengan takut. Tangan si wanita bergetar saat Mr. Xil berjongkok di depannya. Tangan Mr. Xil mengangkat dagu si wanita untuk melihat wajah berantakan wanita itu karena make up yang luntur akibat air mata.
"Menjijikkan! Berhentilah membuat perusahaan ini kotor! "
Mr. Xil berdiri setelah menghempaskan dagu si wanita dengan kasar. Setelahnya mengeluarkan hand sanitizer dari saku jasnya dan menyemprot kedua telapak tangannya. Sapu tangan di saku atas jasnya yang ia gunakan untuk mengelap tangan dilempar tepat ke wajah si wanita.
Mr. Xil kembali duduk di kursi kebesarannya sementara si wanita pergi dengan rasa malu akibat perlakuan Mr. Xil yang membuatnya jadi bahan gunjingan satu kantor. Dan sesuai perintah Mr. Xil, hari ini ia mengundurkan diri dari Xil Grup.
"Gue bakal bales semua penghinaan lo ke gue, Juan. " Sumpah si wanita yang tidak sadar sedang berpapasan dengan Chelsea.
Chelsea tersenyum miris.
"Korban lagi tuh pasti. Kasian, lumayan semok padahal. " Ucap Chelsea sok prihatin.
__ADS_1
Setelah sampai di dalam gedung kantor pusat lantai satu, Chelsea memutuskan untuk duduk di sofa yang tersedia di sana. Ia terlalu malas untuk naik ke lantai atas.
Setelah mencari posisi duduk paling nyaman, tangannya merogoh tas selempang yang ia pakai. Nampak sebuah smartphone keluaran terbaru ia keluarkan dari sana. Setelahnya Chelsea menelpon kontak yang ia namai 'Kakaknya Princess' .
"Abang tercinta, Princess Xil udah sampai nih. Ditunggu yah, gak pakai lama! "
Chelsea menutup panggilan sepihak kemudian kembali duduk nyaman di sofa. Setelah cukup lama menunggu, seorang pria berpakaian casual menghampirinya lengkap dengan kacamata dan topi berwarna senada. Chelsea belum sempat bicara saat Alex tiba-tiba datang dari luar dan menyapa keduanya.
"Wah, Rico? Ngapain jam segini di kantor pusat? Sama anak bos lagi. Lo berdua gak lagi bikin skandal, kan? " Tanya Alex membuat keduanya bingung.
'Gawat! Alex gak boleh sampai tau kalo gue anak keluarga Xil. Bisa kacau nih. '
"Malah pada bengong, tenang aja! Gak bakal gue kasih tau ke media. " Ucap Alex yang malah semakin salah paham.
"Om apaan sih? Kak Rico sama aku gak ada apa-apa! Kita ketemu juga di sini, kebetulan aja. Lagian ini kantor milik Xil Grup, jadi aku bebas aja mau datang kapanpun." Sahut Chelsea dengan nada sok sewot.
"Iya nih, otak lo pikirannya jelek mulu soal gue. Lagian si Chelsea sukanya sama si Rian, kan? Gak ada sejarahnya seorang Rico yang ganteng badai ini mepet gebetan orang. " Ucap Rico dengan narsisnya.
"Okelah, gue udah telat nih. Awas ada paparazi, entar gue yang repot. " Pesan Alex sebelum pergi menuju lift.
Setelah pintu lift tertutup, Rico dan Chelsea menghembuskan nafas lega.
"Hampir aja, untung gak ketauan. "
Chelsea menyodorkan sebuah sapu tangan pada Rico.
"Jaga-jaga, mana tau bakal ketemu kuman. "
...***...
Langit sudah mulai teduh saat Alex keluar dari lift di lobby, matanya langsung menangkap kehadiran Rico yang tengah duduk di sofa. Alex berjalan menghampiri Rico yang melambaikan tangan padanya sambil berdiri.
"Gue kira udah balik, si Chelsea mana? " Tanya Alex sambil menengok ke sana kemari.
"Balik dia, lagian ngapain juga lama-lama di sini? Keliatan banget tuh bocah kalo gak suka suasana perkantoran kayak gini. " Jawab Rico santai.
"Lah, elo ngapain masih di sini? "
"Pengen main gue ke rumah lo, gue denger adik lo balik dari luar negeri. " Jawab Rico sambil merangkul bahu Alex.
"Denger dari mana lo? Nguping ya lo pas gue lagi nelpon nyokap? "
Rico nyengir kikuk mendapat tuduhan dari Alex.
'Gue iya in aja kali yah? Dari pada nanya mulu, gak mungkin gue bilang kalo gue nyuruh pengawal nyari tau. Curiga dong entar. '
"Hehe, sorry, Lex. Gak maksud sih, tapi kedengaran. Ya udah, sekalian gue nguping. "
Alex mendengus sebelum kemudian keduanya berjalan menuju mobil Alex.
Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke rumah Alex. Saat keluar dari mobil langit sore menyambut mereka. Alex masuk lebih dulu ke rumahnya kemudian disusul oleh Rico.
"Lo berdua belum pada balik jam segini? Balik sono! Udah sore. " Ucap Alex saat melihat Ran dan Sunny yang tengah menonton televisi bersama Ara.
Ketiga anak itu menoleh ke arah Alex dan Rico. Rico tampak mematung saat netra kelamnya beradu pandang dengan Sunny. Bocah usia 9 tahun dengan rambut pendek dan baju anak laki-laki itu tampak cantik di mata Rico. Kesalahpahaman Rico tidak pernah dirinya sendiri sadari.
__ADS_1
Sejak mengklaim Sunny adalah anak laki-laki, Rico tidak pernah ada inisiatif mencari tau kebenarannya dan malah menganggap dirinya gila. Memang tidak sepenuhnya salah karena Rico memang sudah tidak waras dengan menyukai anak usia 9 tahun.
'Gue beneran gila! Itu anak laki-laki kenapa cantik banget di mata gue? '