Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
AKTIFITAS KELUARGA MORGAN


__ADS_3

Part 10 " Aktifitas keluarga Morgan "


Pagi ini aku bangun lebih siang dari biasanya karena semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Selain karena aku merasa tidak nyaman, aku juga masih memikirkan pelaku yang tega membuat rumah ku berantakan.


Sesaat setelah aku mengumpulkan kesadaran, pelayan yang mendapat tugas semalam datang mengetuk pintu kamar ku.


" Selamat pagi Nona. Apakah tidur anda nyenyak?" Tanya pelayan itu dengan begitu sopan dan terlatih.


" Ah.. pagi.. yaahh, lumayan. " Jawab ku sambil beranjak dari ranjang tidur ku.


" Saya akan membantu anda bersiap.. Nyonya sudah memilihkan pakaian untuk anda. " Kata pelayan itu yang baru kusadari di kedua tangan nya membawa sebuah pakaian bermotif bunga seperti sedang membawa bendera.


" Kenapa sampai repot repot begitu.. " Gumam ku salah tingkah.


" Tidak nona.. sama sekali tidak merepotkan.. nyonya sangat senang dengan kedatangan Nona Sesil. " Kata pelayan itu menjelaskan.


" Siapa nama kamu? " Kata ku sambil berkenalan.


" Saya Nora. " Jawabnya.


" Kamu pasti senang ya Nora, orangtua Morgan sangat baik.. berbeda dengan konglomerat seperti di film film. " Canda ku berusaha berteman dengan nya.


" Benar Nona.. tuan dan nyonya sangat baik bahkan kepada para pekerja dengan status terendah apapun. " Jawab Nora membanggakan majikannya.


' Tapi kenapa sifatnya tidak menurun ke anak nya ' Kata hati ku getir mengingat perilaku Morgan.


" By the way, Morgan itu anak tunggal ya? " Tanya ku tiba tiba penasaran.


" Tidak Non.. Tuan Morgan memiliki adik perempuan yang sekarang masih melanjutkan pendidikan di Amerika. Sudah hampir 2 tahun belum pulang, sehingga tuan dan nyonya seringkali kesepian. " Jawab Nora menjelaskan situasi rumah.


" Oh.. jadi dia punya adik. Aku kira anak tunggal." Gumam ku lagi yang sedikit mengetahui lebih kehidupan pribadi Morgan.


Tanpa memperpanjang percakapan lagi, aku segera bersiap dan memakai pakaian cantik yang diberikan oleh mama Morgan.


Kebetulan hari ini aku tidak memiliki jadwa siaran, sehingga aku tidak perlu pergi ke kantor pagi.


Setelah bersiap mengenakan dress biru muda bermotif bunga yang pas di tubuh ku, aku turun menemui orangtua nya untuk sarapan bersama.


" Selamat pagi om.. tante. " Sapa ku sopan dan kembali gugup.


" Waahh.. cantik sekali. Tante ga salah pilih. " Jawab mama Morgan senang melihatku.


" Terima kasih tante untuk pakaiannya. " Kata ku yang duduk berhadapan di meja makan yang sudah begitu harum dengan bau hidangan yang menggugah selera.

__ADS_1


" Sama sama. Karena awalnya tante membeli untuk Monica, tapi dia belum bisa pulang.. syukurlah cocok juga di kamu nak. " Kata mama Morgan. (Monica adalah adik Morgan)


Kami pun mulai sarapan bersama dan sesekali berbincang. Orangtua Morgan ternyata sudah mengetahui profesi ku bahkan mereka juga sesekali menyaksikan siaran berita malam yang kubawakan saat sedang bersantai di rumah.


Sesekali juga aku berusaha mencairkan suasana dengan canda tawa pagi itu.


Perlakuan orang tua Morgan kepadaku begitu baik.


Di sela sela waktu sarapan kami, Morgan yang sudah rapi dengan setelan jasnya.. mampir sebelum berangkat ke kantor.


" Morning. " Sapa Morgan yang tiba tiba masuk menghampiri meja makan dan suasana yang tadi nya ceria tiba tiba menjadi sedikit hening.


" Apa yang kalian bicarakan, kenapa jadi hening? " Tanya Morgan curiga sambil menatap ke arah kami bertiga.


" Rahasia. " Jawab ku balik menggoda nya.


" Kalian pasti lagi ngomongin aku ya. " Tebak Morgan tepat sasaran.


Sebelum kedatangan nya, orangtua Morgan menceritakan berbagai kisah masa kecil Morgan yang ternyata menggemaskan.


" Enggaa.. ge er kamu. Sini, sarapan bareng. " Kata mama Morgan.


Ia pun duduk di sebelahku dengan tatapan masih curiga dan mulai membalikkan piring di hadapannya.


" Mama cerita apa? " Bisik Morgan mendekat ke arah ku.


Namun tanpa kuduga, reaksi serius Morgan sontak menarik lengan ku mendekat ke arahnya.


" Kasih tau gak? "


" Gak akan.. bweekk. " Sahutku makin ingin menggoda.


Kami berdua menjadi sibuk saling menggoda sendiri sampai sampai melupakan orangtua Morgan yang tersenyum memperhatikan kami.


" Ehem.. ehem.. " papa Morgan berdeham.


" Apa mama papa pergi dulu, daripada jadi obat nyamuk. " Canda papa Morgan menyindir.


Candaan itu membuat kami tersadar dan jadi salah tingkah dan kembali fokus pada sarapan kami.


Keadaan masih begitu menyenangkan dan ceria saat kami berempat makan bersama, sebelum kedatangan Rosa yang mendadak pagi itu sambil membawa beberapa bingkisan vitamin herbal untuk orangtua Morgan.


Disitulah aku merasa risau, tiba tiba perasaan takut jika di banding banding kan muncul di benak ku, meskipun aku tahu hubungan ku dengan Morgan hanya settingan dan tinggal menunggu waktu untuk diakhiri.


" Good morning.. " Sapa Rosa yang langsung terkejut melihat keberadaan ku.

__ADS_1


" Rosaa... apa kabar sayang? " Sapa mama Morgan ramah.


Ekspresi tidak nyaman pun tergambar jelas di wajah Morgan yang berubah 180 derajat dalam sekejap.


" Baik tante. Ehm.. lagi ada tamu ya, sorry aku ganggu pagi pagi. " Jawab Rosa mulai mencari simpati.


" its oke Rosa, kamu ikut sarapan sekalian sama kita. " Jawab papa Morgan yang memang terlihat sudah dekat dengan Rosa.


" Aku sudah sarapan om, terimakasih. Aku mampir kesini untuk memberikan vitamin herbal buat om dan tante. Ini khusus aku pesan dari Cina. Bagus untuk kesehatan. " Sahut Rosa cari muka dan memberikan bingkisannya ke para pelayan.


" Waahh.. terima kasih banyak sayang. Kamu perhatian sekali. Oh iya, Rosa kenalkan.. ini Sesil, pacar Morgan. Sesil.. ini Rosa, teman Morgan. Dia sudah kami anggap seperti putri sendiri. " Kata mama Morgan tanpa menyimpan curiga tentang ketegangan hubungan kami bertiga.


" Hai.. Senang bertemu dengan mu. " Sapa menjabat tangannya lebih dulu.


" Aku juga. " Sahut nya tersenyum sinis.


" Morgan, kamu kok masih disini.. gimana kalau kita berangkat ke kantor bersama, kan searah. " Sahut Rosa berusaha menjauhkan Morgan dariku atau lebih tepatnya, ia ingin membuat ku sadar bahwa aku tidak ada apa apa nya dibandingkan dia.


" Ehm.. aku masih mau disini menemani Sesil. " Jawaban tak terduga keluar dari mulut Morgan, meski dengan ekspresi datar dan tidak memandang ke arah Rosa sedikitpun.


" Oh.. begitu.. padahal ada yang ingin kubicarakan.. penting. " Jawab Rosa tidak menyerah.


" Morgan, kamu berangkat aja sama Rosa.. tenang aja, Sesil aman bersama mama di rumah. " Sahut mama Morgan mencoba meyakinkan Morgan.


" Iya, kamu berangkat aja. Lagipula, aku juga mau keluar kok sebentar lagi. Ada urusan. " Aku pun memutuskan menyela pembicaraan mereka dan menjauhkan diri sebelum semakin rumit.


" Kamu mau kemana? " Tanya Morgan kepadaku.


" Aku mau ke apartmen, mengambil beberapa barang. " Jawab ku yang memang berencana mengambil beberapa pakaian dan menginap di rumah kak Shelo untuk beberapa hari, sampai penguntit itu tertangkap.


" Jangan lama lama disana, bahaya. " Lagi lagi Morgan mengungkapkan perkataan yang membuat ku berdebar.


" Iya, tenang saja. Kamu berangkat kerja yang hati hati. Semangat. " Kata ku menyemangati Morgan dengan spontan, membuat mama papa Morgan tersenyum gemas.


" Ayo Morgan. " Ajak Rosa sambil mengaitkan tangan nya ke lengan Morgan tanpa sungkan.


Namun Morgan reflek menghindar dan meraih tangan ku dengan lembut.


" Antar aku sampai depan. " Sahut Morgan menggandeng ku berjalan hingga pintu depan meninggalkan Rosa yang terlihat sangat sangat kesal.


" Aku permisi ya om.. tante. " Pamit Rosa dengan ekspresi dinginnya.


Sedangkan aku dan Morgan yang sudah di ambang pintu rumah.


" Kamu lagi ngibarin bendera perang ya? " Bisik ku sambil melepaskan genggaman tangan Morgan.

__ADS_1


" Kali ini giliran mu membantu ku. " Bisik Morgan yang seraya mendekatkan wajahnya dan mencium kening ku, tepat di hadapan Rosa yang berjalan ke arah pintu dan melihat adegan manis kami berdua.


__ADS_2