Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
BERTEMU ORANGTUA MORGAN


__ADS_3

Part 9 " Bertemu Orangtua Morgan "


" Selamat malam, bertemu kembali bersama saya.. Sesilia Deana Putri.. Malam ini berita pertama akan diawali dengan perkembangan kasus pasien covid yang relatif menurun sebesar 12% dari minggu sebelumnya.. diketahui bahwa.... "


Begitulah hari hari ku yang kembali menjadi pembawa berita setelah melalui berbagai musibah beberapa minggu lalu.


Semua memperlakukan ku berbeda setelah aku menyandang status sebagai kekasih Morgan, bahkan aku bisa menyesuaikan jadwal siaran ku yang selama ini hanya ada pada jam malam.


Selesai siaran, aku berjalan lega ke meja kerja ku.. terlihat disana terdapat bucket bunga mawar sudah tergeletak rapi.


Aku melihat sekeliling, dan beberapa rekan kerja yang seruangan dengan ku tersenyum menggoda ku.


" Dari siapa? Tidak ada namanya. " Gumam ku bingung sambil memperhatikan bucket bunga yang sedang ku genggam.


" Ciiee.. love is in the air. " Goda Nindi yang menghampiri meja kerja ku.


" Gak tau dari siapa. " Jawab ku sambil meletakkan nya.


" Dari siapa lagi. Morgan lah.. emang kamu punya pacar lain?" Kata Nindi baru menyadarkan ku bahwa saat ini status ku punya pacar.


" Oh.. bisa jadi sih. Tapi dalam rangka apa? Aneh. " Gumam ku sekali lagi merasa aneh dengan perlakuan manis ini.


Aku pun tidak ambil pusing dan bersiap untuk pulang, aku keluar dari gedung kantor dan masuk ke dalam mobil ku.


Dengan segera aku menghubungi Morgan untuk memastikan.


M : Halo


S : Kamu kirim bunga ke kantor?


M : Adit yang kirim.


S : Buat apa?


M : Biar romantis katanya


S : Hadeehh.. ga perlu Morgan, semua juga tahu kalo aku ini pacar kamu. Aku tidak suka jadi pusat perhatian dengan hal hal seperti ini.


M : Padahal baru bunga aja.. aku lagi berencana beli mobil baru dan rumah buat kamu. Yaahh walaupun settingan.. aku tetap harus tanggung jawab kan.


S : Morgan.. Jangan gila !!! Aku tidak butuh itu semua darimu. (Membentak)


M : Berisik banget, aku ga tuli.


S : Awas ya kalau kamu kirim macam macam seperti itu.


M : Bawel


Kami pun mengakhiri pembicaraan, dan aku mengemudikan mobilku kembali ke apartmen.


Begitu terkejutnya aku ketika membuka pintu apartmen, hal yang tidak kubayangkan terjadi.. dimana semua barang di apartmen ku berantakan.


" Hah.. apa yang terjadi. " Gumam ku.

__ADS_1


Vas bunga pecah, barang barang ku berserakan tidak karuan.


Aku masih tidak percaya bahwa ada pencuri yang bisa melewati keamanan apartmen ku yang terjaga ketat.


Rasa takut dan gelisah pun mulai menghampiri ku, dengan gemetaran dan memastikan sekeliling.. aku segera melapor ke petugas keamanan di apartmen.


Beberapa menit kemudian mereka menghampiri ku dan memeriksa sekeliling, memastikan tidak ada penguntit di dalam apartmen mu.


Saat melihat ke cctv lorong pun, percuma karena di buat dengan sengaja sehingga menjadi error dan tak terlihat apapun.


" Siapa lagi yang mengetahui pasword rumah anda? " Tanya petugas itu.


" Ehm.. hanya aku pak. " Jawab ku khawatir.


" Kami akan menyelidiki nya lebih lanjut, tapi saya sarankan anda jangan tinggal sendiri dulu. Karena kita tidak pernah tahu motif orang tersebut melakukan ini. " Kata petugas keamanan lagi.


" Baik pak. Saya akan menginap di rumah kerabat. " Jawab ku sambil mencoba menghubungi Nindi.


Namun sayang, Nindi sedang tidak berada di rumah karena harus menjaga mama nya yang sakit.


Aku tanpa pikir panjang ingin menghubungi kak Shelo, namun langsung kubatalkan.. karena tidak ingin membuat mereka khawatir.


Dan tujuan akhir ku, yang cukup berpengaruh dan bisa membantu ku adalah Morgan.


Benar saja.. setelah mendengar kabar dari ku, ia langsung berkendara ke apartmen ku dan berlari menemui ku di ruangan keamanan.


" Sesil. " Panggil Morgan yang terlihat tidak serapi biasanya, dan terengah engah setelah berlari menghampiri ku.


" Morgan. Sorry merepotkan. " Jawab ku juga merasa tidak enak.


" Aku baik baik saja. Tapi rumah ku... hmmm. " Jawab ku lesu, rasa gemetar dan takut sedikit demi sedikit hilang setelah kedatangan Morgan.


" Ke rumah ku saja malam ini. " Sahut Morgan tanpa pikir panjang.


Hati ku seraya berdebar mendengar ajakan Morgan yang to the point.


Seakan tidak ada pilihan lain, aku pun mengikuti nya.


Sepanjang perjalanan Morgan hanya diam dan sama sekali tidak melihat ke arahku yang duduk di sebelahnya.


Aku pun juga merasa gugup harus memulai pembicaraan darimana. Hingga akhirnya kami tiba di rumah Morgan yang mewah di salah satu perumahan elite yang penjagaan nya lebih ketat karena kawasan itu banyak ditinggali oleh pengusaha dan beberapa selebriti papan atas.


Aku begitu takjub melihat rumah demi rumah yang kulewati, namun aku lupa untuk menanyakan.. jika dia membawa ku, maka aku akan bertemu dengan orangtua nya.


" Stop. Morgan. " Bentak ku membuat nya kaget dan menghentikan mobil dengan mendadak.


" Bikin kaget aja. Bahaya tau. " Bentak Morgan kesal.


" Jangan bilang.. di rumah mu, aku akan bertemu orang tua mu. Jangan gila Morgan. "


" Yah mau gimana lagi.. aku cuma bisa membawa mu ke sini, yang pasti aman.. daripada ke apartmen ku. " Jawab Morgan perlahan mengemudikan mobil lagi hingga sampai di depan rumah.


" Jadi kamu tidak tinggal disini.. terus ngapain bawa aku kesini? " Tanya ku tidak mengerti.

__ADS_1


" Ini rumah orangtua ku. Aku tinggal sendiri di apartmen ku. Tidak mungkin aku membawa mu ke apartmen ku.. dan tidak mungkin juga aku membawamu ke hotel.. karena penguntit itu mungkin saja mengikuti mu. Jadi.. ini tempat teraman. " Jawab Morgan menjelaskan kemudian keluar membukakan pintu mobil ku.


" Ayo, turun. Orangtua ku welcome kok. " Kata Morgan mencoba meyakinkan, tapi kaki ku sangat berat untuk turun.


" Aku ikut ke apartmen mu saja ya, aku bisa tidur di sofa. " Jawab ku tanpa pikir panjang dan membuat Morgan tersipu malu.


" Uhuk.. uhuk.. dasar wanita aneh. Jangan macam macam. " Jawab Morgan jadi salah tingkah.


" Morgan, aku berubah pikiran. Antar aku ke rumah kakak ku saja. Aku akan tidur disana. " Sekali lagi aku mencoba bernegosiasi.


" Jangan buat keluarga mu khawatir. Sudah ayo.. sudah semakin malam, aku besok harus ke kantor pagi. " Jawab Morgan yang mulai tidak sabar dan menarik tangan ku.


Para pelayan dengan tersenyum ramah menyambutku, ketika pintu megah terbuka.. terlihat seorang wanita setengah baya menyambutku dengan cantik dan anggun bersebelahan dengan lelaki yang terlihat lebih tua tersenyum melihat ku.


Jantungku berdebar berkali kali lipat daripada sebelumnya, aku sama sekali tidak membayangkan akan menjadi sejauh ini.


" Welcome Sesil.. " Sapa wanita yang ternyata adalah ibu Morgan memeluk ku.


" Malam tante.. maaf mengganggu malam malam begini. " Kata ku gugup.


" Tidak sama sekali nak. Kami malah senang, akhirnya Morgan mengajak pacar nya berkunjung kesini. " Jawab mama Morgan sangat baik.


" Hebat kamu nak, gentle. Papa bangga. " Sahut papa Morgan sambil menepuk bahu anak sulungnya.


Mereka pun mengajak ku masuk dan duduk di sofa ruang tengah yang indah dengan desain interior ala eropa dengan berbagai macam barang mahal di dalamnya.


" Morgan bilang.. kamu akan menginap disini ya, tante sedang menyiapkan kamarmu. " Kata mama Morgan lagi.


" Ehm.. itu tante.. apartmen saya.. "


" Iya, Morgan sudah cerita kok.. kamu bisa tinggal disini sampai kapan pun kamu mau. " Sela mama Morgan begitu welcome hingga membuat ku tidak enak hati.


Aku sempat berpikir bahwa mereka akan menjadi seperti orangtua kolot yang memilihkan jodoh khusus untuk anak nya, ternyata tidak semua konglomerat seperti itu.


" Kamu tidur disini saja sekalian nak. " Ajak papa Morgan yang meski sudah tua pun masih terlihat aura wibawanya.


" Enggak pa. Aku pulang ke apartmen aja, masih ada yang harus aku selesaikan. Aku nitip dia aja disini. " Jawab Morgan tersenyum puas mengerjai ku.


" Kamu tenang aja. Pacar kamu aman disini. " Jawab Papa Morgan seiring sejalan ikut menggodaku.


" Permisi Nyonya Teresa, Kamar nona Sesil sudah siap. " Kata salah seorang pelayan di rumah itu.


" Ok, terimakasih ya. Mulai malam ini kamu yang bertugas melayani semua yang dibutuhkan Sesil ya. " Kata Mama Morgan begitu lembut.


" Baik nyonya. "


" Ehm.. tante, jangan repot repot.. aku bisa mengurus diriku sendiri. " Jawab ku semakin merasa sungkan.


" Jangan khawatir, kamu kan tamu penting di rumah kami.. tentu kami harus membuat mu nyaman. " Jawab mama Morgan menghujani ku dengan kebaikan.


" Ya udah ma.. pa.. aku pamit. " Pamit Morgan setelah berhasil memasukkan ku ke kandang nya.


" Sayang.. aku pulang dulu ya.. baik baik sama mama papa. " Kata Morgan sambil memeluk ku sejenak dan berpamitan dengan senyum licik yang sangat terlihat.

__ADS_1


" T e r i m a ka sih.. " Jawab ku penuh penekanan sambil memandang tajam ke arahnya dan sontak membuat nya tertawa kecil.


__ADS_2