
Part 54 " Terkunci "
Hari ini aku berdandan semi formal untuk menemani kak Arvi bekerja.
Asisten nya yang cuti membuat ku mendapatkan tugas menggantikannya sementara waktu, dan kebetulan aku juga sedang cuti.
Aku berpikir untuk melakukannya, daripada aku harus berdiam di rumah dan banyak memikirkan hal yang membuat ku sedih.
Aku menyusul ke kantor kak Arvi pagi ini karena akan ada pertemuan dengan investor asing dan sejumlah perusahaan raksasa.
Tempat pertemuan kali ini sedikit berbeda, karena sekaligus ada jamuan makan siang merayakan ulangtahun dari salah seorang investor.
Aku sampai di sebuah balroom hotel dan menemui kak Arvi beserta sekretaris nya yang bernama Reza.
" Hai kak.. " Sapa ku.
" Hai.. kamu sudah datang. Sorry ya kakak jadi mengganggu cuti mu. " Kata kak Arvi tidak enak hati.
" Its oke kak. Kapan lagi aku bisa kerja barens kak Arvi. Siapa tahu kan langsung dapat bonus triple. " Canda ku seperti biasa karena kami memang sangat dekat.
Aku bisa melihat banyak orang orang hebat yang berkumpul disini.
Jika biasanya CEO hebat yang ku elu elu kan hanya Morgan dan kak Arvi, sebenarnya di luaran sana masih banyak juga orang orang hebat yang menginspirasi.
" Ini draft kamu. Pertemuan hari ini akan membahas tentang acara amal dan juga trend saham. " Kata Reza membantuku sambil memberikan sebuah berkas untuk kupelajari.
" Hari ini tamu nya datang dari berbagai negara, kami mengandalkan mu. " Kata Reza menyemangati ku yang akan menjadi penerjemah dan moderator kak Arvi hari ini.
" Aku berharap sih semua pake bahasa inggris aja, jadi kak Arvi ga terlalu perlu bantuan ku. " Canda ku yang ingin makan gaji buta membuat Reza tertawa.
Sesekali aku melihat ke sekeliling, karna aku yakin.. di pertemuan sebesar dan berkelas seperti ini, setidaknya nama Morgan pasti diperhitungkan.
Namun sejauh ini, sejauh aku menemani dan mengikuti setiap langkah kak Arvi.. aku tidak menemukannya.
Di lobby hotel..
Benar saja yang menjadi pemikiran Sesil, terlihat Morgan, Adit dan satu asisten lagi baru saja sampai.
Mengejutkannya, Morgan hari ini membawa Mitzy bersama dengan nya.
Hari ini Morgan terpaksa membawa Mitzy ke acara perusahaan, karena ayah dan ibu nya sedang berlibur.. Monica masih sibuk dengan pekerjaannya.. sedangkan Morgan tidak suka mempercayakan putri nya kepada orang lain termasuk para pelayan di rumah nya.
" Adit.. hari ini kamu tidak perlu mengikuti ku. Temani saja Mitzy sampai acara selesai. " Perintah Morgan sambil merapikan jas nya kemudian menggandeng tangan mungil Mitzy yang hari ini begitu lucu dengan dresa bunga warna pink.
" Tapi pak.. hari ini kita akan bertemu banyak kolega, apa anda yakin tidak memerlukan saya?" Tanya Adit khawatir.
Karena selama bertahun tahun lamanya, ia selalu menemani dan membantu segala urusan Morgan.
" Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya. " Jawab Morgan percaya diri.
__ADS_1
Ia pun berlutut dan menasehati Mitzy sebelum mereka terpisah.
" Mitzy.. hari ini main sama uncle Adit ya. Jangan nakal dan jangan nangis ya. Nanti Daddy akan segera kembali. Mitzy pakai gelang dari daddy kan? " Tanya Morgan penuh kasih sayang.
" Ini daddy. " Mitzy menunjukkan sebuah gelang kecil yang sudah melingkar di tangan kiri nya.
" Pintar. Kiss daddy dulu. " Kata Morgan sambil menghujani Mitzy dengan kasih sayang seorang ayah.
" Ok. Adit, jaga Mitzy ya. " Pamit Morgan sambil berlalu pergi bersama asisten nya yang lain.
" Baik pak. " Kata Adit yang sebenarnya juga khawatir, karena terakhir kali saat menjaga Mitzy.. dia sempat ceroboh.
Setelah melihat Morgan pergi, Adit pun mengajak Mitzy untuk pergi ke taman main anak anak yang menjadi fasilitas hotel.
Beberapa jam berlalu, acara pertemuan berjalan lancar dilanjutkan dengan jamuan makan siang.
Sekitar 100 orang lebih berkumpul di balroom.
Aku yang sudah menyelesaikan tugas ku memutuskan untuk mencari udara segar, karena mendengar banyak orang membicarakan masalah bisnis, jujur saja membuat ku pusing.
" Aku keluar sebentar ya. " Pamit ku pada Reza.
" Ok. Take your time. " Sahut Reza baik hati.
Aku pun berjalan menyusuri beberapa bagian di hotel mewah ini, dan menikmati udara yang hari ini sangat sejuk.
Tanpa sengaja aku melihat seorang anak yang mirip dengan Mitzy berlari membelakangi ku.
Situasi di ruang laundry hotel..
Puluhan mesin cuci terlihat beroperasi, membersikan begitu banyak kain yang selesai digunakan oleh para pengunjung hotel.
Mitzy yang mungil lagi lagi terlepas dari pandangan Adit yang sesaat memeriksa ipadnya untuk masalah pekerjaan.
Mitzy dengan rasa penasaran yang tinggi, selalu mengikuti beberapa orang asing.
Dan tertarik dengan sesuatu yang jarang terlihat, termasuk kereta dorong para pelayan hotel yang menumpuk banyak kain.
" Mitzy?? " Panggilku yang mengikuti nya sampai masuk dalam ruang laundry yang sepi tak ada seorang pun.
Beberapa mesin pengering masih menyala hingga menghasilkan suara yang cukup keras.
3 orang pelayan hotel bagian laundry tampak memasuk kan sebuah kereta dorong bertumpuk kain lagi dan mengunci ruangan itu dari luar.
" Mommy.. " Sahut Mitzy yang teralihkan karena kedatangan ku. Ia berlari menghampiri ku dan memeluk ku.
" Kenapa kamu sendirian disini?? " Tanya ku heran.
Untuk kedua kalinya Mitzy lepas dari pengawasan.
__ADS_1
" Daddy pergi.. " Jawab nya polos begitu menggemaskan.
" Ayo.. kuantar, semua orang pasti mengkhawatirkan mu. "
Aku pun meraih tangan Mitzy dan hendak mengajaknya keluar dari ruangan itu.
Namun aku begitu terkejut, karena pintu besi yang tertutup rapat.
" Lho.. kok terkunci, padahal tadi terbuka. " Sahut ku panik.
Duk duk duk duk
" Apa ada orang di luar??? Tolong buka pintu nya. " Namun tangan kecil ku tidak mampu membuat suara keras terlebih lagi ruangan ini tampak kedap suara.
Mengingat mesin cuci bisa mengganggu kenyamanan pengunjung, ruangan ini di buat kedap suara.
Situasi panik di alami oleh Adit untuk yang kedua kali nya..
Morgan tampak berlari menghampiri Adit dengan ekspresi marah.
" Dimana Mitzy?? Kenapa bisa sampai hilang. " Bentak Morgan marah.
" Maaf pak. Tadi dia masih bermain disini, tapi ketika aku mengirim email pekerjaan sebentar, dia pergi entah kemana.. Maafkan aku pak. " A
Sahut Adit yang tak kalah panik.
" Cari di setiap sudut hotel. Bilang pada manager untuk mengerahkan semua pekerja disini. Siapapun yang berhasil menemukan Mitzy.. akan kuberi imbalan. CEPAATT. " Teriak Morgan yang sangat marah.
Sedangkan Arvi yang menyadari Sesil yang tak kunjung kembali juga mulai khawatir.
" Dimana Sesil?? " Tanya Arvi.
" Tadi katanya mau jalan jalan mencari udara segar. " Jawab Reza tanpa mengetahui keadaan Sesil yang ikut terjebak di ruangan laundry.
" Acara ku sudah hampir selesai. Coba kamu hubungi dia. " Perintah Arvi perhatian.
Situasi kembali ke Morgan yang terus mencari Mitzy sambil menyalakan ponsel nya.
Ia terlihat membuka sebuah aplikasi yang ternyata bisa tersambung ke gelang yang Mitzy pakai dimana Morgan dengan pintarnya bisa melacak Mitzy ketika darurat seperti ini.
Namun entah mengapa, titik merah pertanda keberadaan Mitzy begitu tidak stabil.
Hal itu terjadi karena Mitzy berada di tempat yang kedap, sama hal nya dengan ponsel Sesil yang tidak mendapat kan signal di ruang tertutup.
" Duuhh kenapa ga bisa.. " Gumam Sesil mulai panik.
" Ayo pulang.. mommy. " Kata Mitzy mulai merasa tidak nyaman.
" Sebentar ya.. jangan takut.. seseorang pasti akan segera datang. " Jawab ku mencoba menghibur Mitzy.
__ADS_1
" Dapat. " Ucap Morgan menemukan sebuah titik terang tentang keberadaan Mitzy.