
Part 36 " Tunggu Aku "
Kami bertiga duduk di taman bersama, sambil membiarkan Arshel menikmati beberapa mainan yang ada disana.
Sedangkan aku dengan cermat melihat apa yang ditunjukkan Morgan melalui ponsel nya. Tentang kebenaran malam itu, dimana ia dijebak oleh Rosa dengan obat dalam wine yang ia minum hingga membuat nya meniduri Rosa.
Bukti tes darah yang Morgan lakukan secara diam diam, dan menganalisis semua kejadian secara beruntun.
Dalam cctv apartmen Morgan pun memang telihat bahwa Rosa memapah Morgan yang lemas kemudian mereka berdua bermalam bersama, dan Morgan tidak memungkiri bahwa ia mengingat saat meniduri Rosa.
Namun itu semua bukan murni kesalahan Morgan, melainkan jebakan Rosa yang beruntungnya berjalan mulus.
Aku pun begitu tercengang dan sedih melihat kesialan ini, kesialan yang membuat hubungan kami hancur.
" Lalu.. setelah semua nya terungkap.. apa kamu kira semua akan berubah? Kamu tetaplah ayah dari anak yang dia kandung. " Kata ku yang memang sudah putus asa.
" Aku tahu, ini semua juga kelalaian ku yang terlalu mudah masuk perangkap nya.. tapi aku juga tidak bisa melanjutkan hidupku terus bersamanya. " Kata Morgan sambil menghela nafas panjang.
" Sesil... " Kata Morgan sambil menggenggam tangan ku.
" Apa kamu bisa menunggu ku?? " Tanya Morgan serius.
" Menunggu mu? Apa maksud mu? " Tanya ku tidak mengerti.
" Setelah anak ku lahir, aku akan menceraikan Rosa. Aku tahu.. aku tidak pantas meminta kesempatan kepadamu dengan keadaan ku yang seperti itu (duda anak 1).. tapi aku tetap ingin mencoba bertanya kepadamu.. Apa kamu mau menunggu ku? " Kata Morgan menatap dalam kepadaku.
Jantungku pun berdebar tidak karuan seperti pertama kalinya Morgan menyatakan cintanya kepadaku.
Bibirku tidak kuasa memberi jawaban, terlalu rumit dan berkecamuk dalam hati pikiran ku.
" Morgan. Apa yang sudah berakhir.. biarkan saja berakhir. Aku tidak mau terluka lagi karena berurusan dengan mu. " Jawab ku ragu dengan keputusan Morgan itu.
" Sekarang.. semua ini bukan hanya keputusan kita berdua.. tetapi juga berdampak pada keluarga mu. Pikirkan itu baik baik. " Lanjut ku berusaha bijaksana agar Morgan berpikir lebih tenang sebelum memutuskan.
Meski hati ku ingin terus berlari padanya, namun aku belum bisa meruntuhkan tembok penghalang kami yang begitu kuat.
Dengan segera aku beranjak pergi meninggalkannya dan membawa Arshel pulang.
Morgan pun terlihat tertunduk dan seakan kepalanya mau pecah mencari solusi untuk kebahagiaan kami.
' Aku ingin menunggu mu. Tentu saja aku ingin. Tapi apakah semuanya akan baik baik saja setelah itu. ' Kata hati ku yang takut membayangkan hari esok ku.
Malam hari..
Aku dan Nindi memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama, dia menginap di apartmen ku dan membawa berbagai macam cemilan dan juga alkohol (soju) yang baru saja ia beli.
__ADS_1
Kami bercengkerama bersama melepas penat dan cerita masing masing.
Tentu saja aku menceritakan semua yang terjadi padaku hari ini saat bertemu Morgan dan Rosa.
" Selama ini aku begitu membenci nya, tapi ketika dia datang membawa semua bukti kepadaku.. aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.. " Ceritaku pada Nindi yang setia menjadi pendengar di samping ku.
" Dia menyuruhku untuk menunggu nya sampai anak nya lahir.. dan dia akan menceraikan Rosa. Entah mengapa, aku merasa memiliki sebuah tempat untuk bernafas lega. Sebagai sesama wanita, aku adalah wanita yang jahat kan? " Sahut ku yang sudah sedikit terpengaruh oleh alkohol, hingga tanpa beban mencurahkan semua perasaan ku.
" Ehm.. menurutku, kamu tidak jahat kok. Karena Rosa lah yang lebih dulu menyakiti mu, dia berbuat nekad.. aku pun juga memahami posisi Morgan, dia adalah lelaki yang baik.. dia juga pasti sudah memikirkan semuanya sebelum mengambil keputusan. Bahkan seharusnya Morgan bisa memenjarakan Rosa, tapi dia punya hati nurani. " Kata Nindi yang cukup memuji kebaikan Morgan, meski tampang luarnya terlihat arogan.
" Apa yang harus aku lakukan Nin?? " Tanya ku sambil terus meneguk minuman sebagai pelampiasan.
" Ikuti saja kata hati mu. Aku tahu bahwa sebenernya, kamu masih ingin bersama dengan Morgan. Ini bukan kesalahan kalian. " Jawab Nindi memberi ku semangat untuk berjuang lagi.
Malam hari kami pun terus berlanjut hingga semua makanan ringan di atas meja habis dan botol botol soju kami habis tak bersisa.
Keesokan pagi nya, kami yang begitu berantakan menerima karma nya.
Kepala pusing, perut mual dan lemas.
" Jam berapa ini? " Gumam ku dengan pakaian dan rambut berantakan melihat jam di layar ponsel ku yang sudah menunjukkan waktu 8.15 pagi.
" Nin.. bangun. Kita kesiangan. " Ucapku gelagapan sambil membangunkan Nindi yang tidur seranjang dengan ku.
Cuci muka, sikat gigi dan berganti pakaian.
Namum tidak bisa di pungkiri bahwa bau alkohol yang menyengat masih begitu terasa dalam setiap hembusan nafas kami.
Kami berlarian bersama pergi ke kantor menggunakan masker untuk mengurangi bau alkohol yang menyengat.
Dengan terengah engah kami masuk ke dalam lift, dan benar saja.. sirkulasi udara yang pengap membuat orang orang di sekitar kami menyadari bau alkohol yang berasal dari nafas kami.
Dan sial nya, Steve yang sekarang menjadi pimpinan ku.. ikut masuk bersama dalam satu lift.
Secara spontan aku dan Nindi saling menatap
Semenjak pulang dari acara MT, perlakuan Steve memang tampak berbeda.
Ia menjadi jauh lebih dingin, padahal sebelumnya ia sangat welcome kepada aku dan Nindi meskipun ia menjabat sebagai CEO perusahaan kami.
Kecanggungan itu semakin terasa ketika beberapa kali kami bertemu, namun Steve seakan tidak melihat ku.
Aku dan Nindi sampai di meja kerja kami dan segera meneguk obat penghilang pengar untuk memulihkan perut kami.
Tak lama setelah itu, seorang staf dari divisi Steve datang menemui ku dan membawa sekotak utuh obat penghilang pengar.
__ADS_1
" Ada titipan untuk mu. " Kata staf yang tidak ku kenal itu, karena kami berbeda divisi.
" Dari siapa? " Tanya ku penasaran.
Namun staf itu tidak menjawab, ia hanya mengisyaratkan jari telunjuk nya ke atas.. dan seperti nya aku mengetahui siapa pengirim misterius ini.
Beberapa saat setelah pengar ku hilang, aku membawa kotak obat itu menuju lantai ruangan Steve dan tanpa pikir panjang menemui nya.
" Steve. " Panggil ku membubarkan pandangannya yang terfokus ke komputer.
" Kamu?? Ada perlu apa? " Sahut nya terkejut namun berusaha jaim.
" Kamu kan yang memberiku ini? " Kata ku to the point.
" Bukan. " Jawabnya cuek.
Aku pun mendekat dan meletakkan kotak obat itu di meja nya.
" Mari kita bicarakan. Aku tidak nyaman dengan situasi canggung ini. Katakan padaku, aku salah apa? Bukankah kamu sendiri yang bilang.. kalau kita bisa tetap berteman seperti biasa. " Sahut ku tanpa ragu demi sebuah kenyamanan hubungan lagi, karena hampir setiap kami bertemu di kantor.
Steve pun dengan ekspresi serius berdiri dari kursi kerja nya menghampiri ku, berdiri tegak tepat di depan ku.
" Apa aku tidak punya kesempatan sama sekali di mata mu?? " Katanya tiba tiba tegas.
" Hah?? Kesempatan?? " Tanya ku yang masih tidak memahami maksud Steve.
" Aku melihatmu dan Morgan bersama di acara MT. Hubungan kalian sudah berakhir kan? Tidak bisakah aku menggantikan posisi Morgan di hati mu. " Sahut Steve membuat ku shock setengah mati.
Aku sama sekali tidak mengharapkan situasi yang seperti ini, bukan situasi sejauh ini.. mendapat pengakuan rasa dari Steve.
" Ehm.. itu.. " Aku bahkan tidak bisa berkata kata karena rasa terkejut ku.
Namun wajah Steve semakin mendekatiku yang saat ini blank.
Semakin dekat dan semakin dekat aku bisa merasakan hembusan nafasnya di pipiku.
Tiba tiba seseorang mendorong ku ke samping dan ciuman Steve mendarat di bibir wanita itu tanpa sengaja.
" Mon.. Monica?? " Gumam ku semakin terkejut dengan pemandangan di hadapan ku.
Mereka pun reflek menjauh dan ciuman singkat mereka berakhir.
" Dasar bodoh. Apa apaan sih kamu. " Bentak Steve marah.
" Kamu yang apa apaan. Aku bisa melaporkan mu karena pelecehan karyawan di kantor. " Balas Monica yang tidak kenal takut, namun aku bisa melihat.. wajah mereka berdua merah merona.
__ADS_1