Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
BRAAKKK


__ADS_3

Part 71 " Braakkk "


Hari ini aku mengisi jadwal siaran untuk berita pagi, aku melakukan nya dengan baik dan lancar.


Aku dan Nindi berjalan bersama dengan penuh canda menuju kafetaria untuk mengisi perut kami yang kelaparan.


" Hari ini menu nya apa yaa? " Gumam Nindi seketika memasuki kafetaria yang sudah nampak lalu lalang para staf yang juga sedang sarapan disana.


" Laper banget. " Kata ku menambahkan saat tercium aroma masakan yang harum masuk ke hidung ku.


Saat aku sedang menunggu Nindi memilih makanan nya, aku dengan santai memeriksa ponsel ku dan mendapati Morgan mengirimkan sebuah pesan berupa foto.


Senyuman ku pun langsung merekah ketika melihat foto selfie kedua kesayangan ku, yaitu Morgan dan Mitzy yang terlihat sedang berada di dalam mobil.


Sesaat kemudian Morgan menambahkan pesan di bawah foto..


" Kami menunggu mu Mommy " Pesan Morgan.


Kemudian aku pun menyadari bahwa mereka berdua sedang menunggu ku di luar gedung kantor.


Karena saking semangat nya, aku pun mengurungkan niat ku untuk sarapan di kafetaria.


" Nin, aku keluar sebentar ya. " Pamit ku tidak setia kawan (peace)


" Mau kemana? ga jadi makan? " Tanya Nindi menahan ku.


" Morgan dan Mitzy menunggu ku di depan. " Jawab ku dan hendak bergegas pergi, namun tanpa sengaja dengan ceroboh aku menjatuhkan sebuah gelas yang ada di samping ku.


PRaaakkk


Gelas itu pun hancur ber keping keping dan menjadi pusat perhatian orang yang ada di sana.


" Sorry... " Gumam ku merasa bersalah dan inisiatif ingin memungut pecahan gelas.


" Jangan Sesil. Kamu ga pake sarung tangan, nanti luka." Sahut Nindi mencegah ku.


Tak butuh waktu lama, petugas kebersihan pun membantu ku membersihkannya.


" Makasih ya. " Kata ku.


" Kamu tinggal aja, buruan sana. " Sahut Nindi baik hati.


Kemudian aku pergi ke luar gedung kantor untuk menemui mereka berdua yang sudah menunggu ku.


" Mommy. " Teriak Mitzy yang langsung berlari menghampiri ku dengan ceria.


" Mitzy.. jangan lari, nanti jatuh. " Kata ku dengan cepat juga menghampiri Mitzy yang beberapa hari tidak kutemui.


" I miss you mommy. " Sahut nya yang senang berada dalam pelukan ku.


" I miss you too sayang. Kamu sehat kan? Sudah makan?? Sudah minum susu?? " Tanya ku ber tubi tubi.

__ADS_1


" Uhuk uhuk. " Sindir Morgan yang merasa terasingkan.


Aku dan Mitzy pun melihat ke arah Morgan yang terlihat merasa terasingkan.


" Obat nyamuk. " Gumam Morgan mulai kekanakkan.


" Dasar. Daddy mu, cemburuan. " Kata ku seraya memeluk Morgan.


" I miss you. " Kata ku pada Morgan.


Dan aku pun bisa melihat senyuman lelaki itu, ia membalas pelukan ku dengan lebih erat.


Tiba tiba Mitzy memisahkan pelukan di antara kami.


" Jangan lama. Daddy kan sudah besar. " Kata Mitzy dengan gemas nya membuat kami berdua tertawa.


" Kamu sudah sarapan?? " Tanya Morgan kepadaku.


" Belum. Saat kamu menghubungi ku, aku sedang di kafetaria. Jadi aku membatalkan sarapan ku. " Jawab ku.


" Ya udah, bagus lah. Kita sarapan bersama. " Kata Morgan mengajak ku.


" Di ujung jalan sana, ada toko pastry dan milkshake. Mau sarapan disana? " Kata ku menyarankan.


" Anything you want. " Jawab Morgan penuh kasih sayang membelai rambut ku, dan kemudian menggandeng Mitzy dan aku menuju ke mobil.


Kami bertiga pun menghabiskan waktu untuk makan bersama dengan perasaan bahagia bahkan sampai lupa waktu.


Aku berinteraksi dengan Mitzy semakin dekat dan sesekali kompak menggoda Morgan yang terkadang masih suka cemburu jika ia dikesampingkan seperti anak kecil.


Aku dan Mitzy menunggu di depan toko, aku memeriksa waktu dan dalam sekejap Mitzy hilang dari pantau an ku hendak menyebrang jalanan raya yang ramai dengan lalu lalang.


" MITZY. " Teriak ku menghentikan langkah kaki kecil nya.


Aku berlari sedikit ke tengah untuk membawa nya segera kembali ke pinggir jalan.


Namun sebuah mobil pick up dengan kecepatan tinggi menerobos lampu kuning yang menandakan untuk hati hati.


Reflek aku mendorong Mitzy lebih dulu ke trotoar jalan hingga ia terjatuh.


Aku pun sedikit memakan waktu untuk menyiapkan kaki ku berdiri dan berlari.


BRAAAKKK BRAAAKKK


Semua seakan terjadi begitu cepat seperti khilat, mobil Morgan tampak menghadang dan memotong jalan pick up itu hingga kecelakaan pun terjadi.


Demi melindungi ku, mobil Morgan terguling dan rusak total.


" Daddyyy... " Teriak Mitzy.


" Mor.. Morgan... " Sekujur tubuh ku gemetar tak karuan, aku sungguh tidak percaya semua ini terjadi begitu cepat.. bahkan seper sekian detik.

__ADS_1


Lelaki itu mengorbankan dirinya, untuk melindungi ku.


Ambulans pun segera datang.. aku menangis terisak melihat kondisi Morgan yang tak sadarkan diri dengan lumuran darah di kepala serta tangan nya.


" Please Morgan, bertahanlah. " Aku terus menangis sambil menemani nya sampai pintu ruang operasi.


Aku merasa sebagian dari diriku hilang, nafas dan dada ku begitu sesak melihat keadaan Morgan.


Tangan nya yang selalu hangat, mulai menjadi dingin.


Wajah nya yang selalu menatapku penuh cinta, semua berlumur darah.


Sedangkan Mitzy, aku menghubungi Monica untuk membawanya.


Aku tidak ingin, ia melihat keadaan Morgan yang seperti ini.


Pikiran ku kacau, hati ku tidak tenang.


Bahkan ada goresan di kaki ku, namun aku tidak bisa merasakan perihnya.


Selama 3 jam lebih ruangan operasi tampak tenang dan aku tidak bisa mendengar apapun.


Hanya air mata yang mewakili perasaan ku saat ini.


Adit pun datang menemui ku..


" Bagaimana keadaan Pak Morgan?? " Tanya nya yang terlihat terengah engah setelah berlarian mendengar kabar.


Aku pun tidak bisa memberinya jawaban.


" Kumohon pak, bertahanlah. " Gumam Adit si asisten setia.


Waktu terus berlanjut dan akhirnya dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah lesu.


" Bagaimana dok?? " Tanya ku sigap.


" Keadaan pak Morgan masih kritis. Kami akan terus memantau nya dan semoga beliau bisa melalui masa kritis ini. Benturan di kepala nya sangat keras hingga terjadi pendarahan, kami berhasil menghentikan nya.. tapi kami belum bisa memastikan hasil nya. " Kata dokter menjelaskan.


Mendengar itu, kedua kaki ku terasa lemas tak berdaya hingga hampir tersungkur di lantai.


Adit pun menopang kedua lengan ku agar tidak terjatuh.


" Morgan.. hiks hiks hiks.. Maafkan aku... " Gumam ku tidak bisa menghentikan tangisan ku yang terus terisak.


Segala kecemasan, ketakutan berkumpul dalam hati dan pikiran ku..


Sama seperti gelas yang pecah, serpihan serpihan itu seakan menyayat hati ku saat ini.


Mengapa cobaan kami.. belum juga selesai..


Mengapa begitu sulit bagi kami untuk sejenak menikmati waktu dan cinta bersama..

__ADS_1


Mengapa lelaki itu.. harus menggantikan aku dan menanggung penderitaan ini..


Mengapa.....


__ADS_2