Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
STEVE


__ADS_3

Part 30 " Steve "


Siaran pertama Steve bisa dikatakan berhasil dan berjalan mulus.


Bahkan aku sempat bertanya tanya, aura yang ditunjukkan Steve se akan akan menunjukkan bahwa ia seorang profesional yang terbiasa menghadapi banyak orang.


Selesai siaran kami berjalan bersama untuk membeli makanan ringan di cafe dekat kantor.


" Kamu tadi.. seperti profesional. " Kata ku memuji nya.


" Benarkah?? Itu semua berkat bimbinganmu. " Jawab Steve rendah hati.


" Bahkan aku tidak cukup membimbingmu dengan baik. " Gumam ku sambil terus berjalan di samping nya.


Kami berhenti di zebra cross bersama beberapa kerumunan orang yang hendak menyeberang.


Lampu traffic pun berubah dalam hitungan detik, semua kendaraan berhenti memberi waktu bagi para pejalan kaki untuk menyeberang.


Namun sialnya di tengah tengah perjalanan ku untuk menyeberang, heels sepatu ku tersangkut di jalan yang berlubang kecil hingga aku kesulitan melanjutkan perjalanan.


Aku pun spontan menarik tangan Steve dan menghentikan langkah nya.


" Gimana nih? " Tanya ku yang begitu malu dan panik.


Se akan akan keadaan darurat ku menjadi tontonan banyak orang yang berada di kendaraan masing masing menunggu lampu traffic berubah menjadi hijau.


" Lepaskan sepatumu. " Sahut Steve yang cepat tanggap dan merunduk membantu kaki ku lepas dari sepatu yang masih tersangkut.


Ia menarik paksa sepatu ku hingga heels ku patah, dan sebenarnya aku cukup sedih.. karena sepatu itu baru saja kubeli dan baru kupakai.


Saat ini satu kaki ku terangkat tanpa alas kaki, ketika aku hendak berjalan dengan terpincang pincang.. Steve dengan segera meraih pinggang ku dan menggendongku sampai ujung jalan selesai menyeberang.


" Bahaya, sebentar lagi hijau. " Gumam Steve dengan cool menggendong ku.


Aku menjadi semakin malu dengan kejadian ini, banyak orang melihat kami dan sesekali tersenyum karena bagi mereka itu adalah hal yang terlihat romantis.


Setelah selesai menyeberang, Steve tidak juga menurunkan aku.


" Turunkan aku. " Bisik ku sambil malu menutupi setengah wajahku.


" Nanti kaki mu kotor. Sampai cafe baru kuturunkan. " Jawab Steve begitu gentle.


Aku bisa melihat wajahnya dari dekat, mungkin wanita lain yang mendapat perlakuan seperti ini akan langsung jatuh cinta dan berdebar dengan sikap Steve.


Namun entah mengapa.. hati ku masih mati rasa.


Sampai di cafe ia menurunkan ku, dan aku duduk sambil mengambil tissue membersihkan sebelah telapak kaki ku.


" Sepatu mu rusak. " Kata Steve yang menarik paksa sepatu ku yang terangkut.


" Tidak apa. Mau bagaimana lagi. " Jawab ku pasrah.


" Kamu pesan saja dulu, aku ke minimarket sebentar. " Pamit Steve tiba tiba.


" Kamu mau minum apa? "


" Sama seperti kamu. " Jawab Steve sambil berlalu pergi meninggalkanku.

__ADS_1


Dua mango squash dan pancake tersaji di meja ku beberapa menit kemudian.


Terlihat juga Steve yang kembali setelah membeli sesuatu untuk ku.


" Hanya ini yang aku temukan di minimarket. " Kata Steve menunjukkan sebuah slipper berbahan karet berwarna merah muda.


" Jadi kamu kesana untuk membeli ini? " Kata ku yang tidak menyangka bahwa Steve jauh jauh berjalan ke minimarket untuk membeli slipper.


" Tentu saja. Supaya kamu bisa berjalan dengan nyaman. " Sahut Steve yang tiba tiba tanpa pikir panjang berlutut di hadapan ku.


" Aku bisa melakukannya sendiri. " Kata ku yang jadi tidak enak hati dengan perhatian Steve.


" Diam saja, biar aku yang lakukan. " Jawab Steve sambil menyentuh kaki ku.


Ia menggunakan tangan kosongnya untuk mengusap dan membersihkan telapak kaki ku,kemudian memakai kan slipper yang ia beli meski agak kebesaran karena ukuran yang tidak pas.


" Selesai. " Kata Steve lega.


" Thanks Steve. Tapi lain kali jangan sampai seperti ini. Aku.. aku merasa tidak nyaman. " Kata ku apa adanya.


" Ini balasan ku. Tadi kan kamu juga membantu ku di studio. " Jawab Steve santai.


" Aku melakukannya kan karena memang aku seniormu. "


Mendengar jawaban ku, tatapan kedua mata Steve pun berubah dalam sekejap.


Ia memandang ku dengan begitu serius.


" Tidak bisakah.. aku lebih dekat dengan mu? Jangan hanya anggap aku sebagai juniormu.. tapi, bisakah kamu menganggap ku sebagai seorang pria dewasa. " Ungkap Steve tiba tiba membuatku terdiam, seketika otakku terasa berhenti berpikir dan tidak bisa memberikan jawaban apapun.


Suasana begitu canggung tampak diantara aku dan Steve.


Aku tidak ingin besar kepala dan menganggap bahwa Steve hanya melontarkan candaan kepadaku.


" Lho, sepatu mu mana? " Tanya Nindi terkejut melihatku menggunakan slipper.


" Hmm.. rusak, tadi tersangkut. " Jawab ku dengan ekspresi sedih.


" Kok bisa sih.. ada ada aja. Trus nanti siaran mu gimana? " Tanya Nindi khawatir.


" Mau bagaimana lagi, pinjamkan aku sepatu. " Kata ku yang mencoba meminta pertolongan Nindi.


" Aku ga bawa sepatu cadangan, lagian ukuran kaki mu lebih kecil kan. " Kata Nindi yang jadi ikut was was juga.


" Ya mau gimana lagi, daripada pakai ini. Lebih tidak mungkin lagi. " Kata ku sambil menunjuk ke bawah dimana terlihat kedua kaki ku memakai slipper yang tidak nyaman.


" Hmmm... oke. Hati hati ya, jangan sampai jatuh. " Sahut Nindi perhatian, karena ukuran kaki kami yanh berbeda 2 nomor.. pasti tidak nyaman dan susah berjalan untuk ku.


Tapi hanya itu yang bisa kupikirkan saat ini dan bersyukur karena memiliki sahabat yang sangat mengerti aku.


Aku pun dengan segera bersiap merapikan pakaian dan juga make up tipis di wajah ku. Nindi datang tepat waktu ke meja ku untuk meminjamkam sepatu miliknya.


Benar saja, sangat tidak nyaman dan seakan setiap kali berjalan.. sepatu Nindi ingin terlepaa dari kaki ku.


Steve pun mengikuti ku ke studio tanpa bertanya lebih dulu kepadaku.


" Kenapa kamu ikut kesini? " Tanya ku heran sesampainya di studio.

__ADS_1


" Aku.. ingin melihatmu, siapa tahu ada yang bisa kupelajari untuk siaran ku berikutnya. " Kata Steve mencari cari alasan.


" Oh.. ya sudah. " Jawab ku cuek.


" Kamu sepertinya tidak nyaman dengan sepatu itu. " Kata Steve menghentikan langkah ku.


" Mau bagaimana lagi, aku hanya perlu menahan nya selama 30 menit. " Jawab ku pasrah dengan keadaan ku saat ini yang menggunakan sepatu kebesaran dengan heels 7 cm.. tinggi favorit Nindi.


Siaran ku pun dimulai, aku menahan rasa tidak nyaman dan sakit di kaki ku.


Hari ini aku membawakan berita dengan sikap profesional dan sebisa mungkin tidak beranjak dari tempat ku berdiri.


Beberapa menit berlalu dengan aman dan terkendali.


Memasuki segmen terakhir setelah iklan, kamera mulai merekam ku dan mulai kusapa semua pemirsa di rumah yang sedang menonton.


Tanpa sadar aku mengubah posisi berdiri ku dan kehilangan keseimbangan.


BRuukk


Dan aku pun terjatuh ketika kondisi masih on air di menit menit terakhir.


Begitu sakit kurasakan menjalar di mata kaki ku.


Namun sebisa mungkin aku kembali berdiri dan meminta maaf atas kecerobohanku kemudian menyelesaikan kalimat penutup ku.


' Sungguh sangat sangat memalukan. ' Kata hati ku yang hari ini begitu sial hanya karena sepasang sepatu. Tidak ada yang berjalan dengan benar.


Selesai siaran, aku yang menahan rasa sakit di kaki ku.. dan pergi ke balik layar..


Benar saja, pak produser sudah bersiap dengan wajah marah dan stock cacian untuk ku.


Aku saat ini benar benar pasrah dengan nasib karier ku.


" Sesil.. kamu mau pensiun dini ya?? Kenapa ceroboh sekali dan selalu buat onar saat on air. " Bentak pak produser di hadapan semua staf.


" Maaf pak. Tadi ga sengaja. " Jawab ku hanya bisa pasrah.


" Kamu mau saya skors lagi? Kamu itu seorang pembawa berita.. bukan komedian. Makin lama makin tidak profesional. Sejak kasus kesalahan mu dengan Morgan.. semua pekerjaan mu tidak ada yang benar. " Kata pak produser lagi lebih parah bahkan menyinggung nama Morgan yang membuat ku kembali teriris.


" Bisakah bapak tidak keluar dari konteks? Tidak perlu mengungkit hal yang tidak ada hubungannya. " Sahut ku berani.


" Tentu saja berhubungan. Semenjak kamu di tinggal menikah, kamu jadi tidak profesional. Sekarang terbukti kan.. memalukan. Kalau sudah tidak ingin melanjutkan karier, serahkan saja surat resign mu pada manajemen." Bentak nya lagi


Mendengar itu aku menyadari satu hal, pak produser adalah tipe manusia yang menjijikan.


Ketika aku bersama Morgan, dia begitu baik padaku. Tapi ketika aku tidak lagi bersama Morgan, satu kesalahan saja membuat nya merendahkan ku sampai seperti ini.


" Kenapa tidak anda saja yang resign??!! " Sahut Steve dengan berani dan terlihat memendam emosi dari belakang ku.


Aneh nya mendengar itu, pak produser tidak menjawab dan tertunduk.


' Steve?? ' Batinku heran.


" Anda memperlakukan staf anda dengan semena mena, tidak mempedulikan apakah dia kesakitan atau tidak. Kalau memang anda punya banyak keluhan.. serahkan saja surat resign anda. Masih banyak produser yang ingin bergabung dengan perusahaan ini. " Timpal Steve lagi dengan postur tegas dan tegap nya.


" Maaf pak. Saya tidak bermaksud seperti itu. Maafkan saya, saya hanya terpancing emosi. " Jawab pak produser ketakutan.

__ADS_1


Semua mata memandang ke arah Steve yang benar benar berbeda dari biasanya.


Saat ini yang terlihat dari seorang Steve adalah aura kepemimpinan.


__ADS_2