
Part 56 " Berdebar "
Kebersamaan kami bertiga kemarin membuat ku merasa bahagia, hati ku terasa begitu nyaman dan damai untuk pertama kali nya dalam 3 tahun ini.
Aku saat ini sedang bersantai di ruang tengah bersama Arshel, sesekali sebuah senyuman menghiasi wajahku dan membuat Arshel memperhatikan ku.
" Aunty, lagi happy banget ya. " Kata Arshel, yang sudah beranjak 8 tahun.
" Iya, happy banget. " Jawab ku tanpa pikir panjang.
" Kemarin ada urusan apa emang nya?? Kok pulang duluan?? " Tanya kak Arvi yang tiba tiba muncul membuat ku terkejut.
" Oh itu kak, aku.. lupa, ada janji sama teman. " Jawab ku mencari cari alasan.
" Oh.. kenapa ga bilang dari awal, kan driver kakak bisa antar kamu. " Kata kak Arvi yang hari ini berangkat ke kantor lebih siang.
" Ehm.. kemarin buru buru kak. " Sahut ku mencari cari alasan lagi, membuat ku gugup.
Di sela sela pembicaraan ku, tiba tiba aku mendapatkan pesan singkat dari Monica.
Mon : Sesil, lagi sibuk ga??
Aku pun yang takut ketahuan kalau masih berhubungan dengan keluarga Morgan, dengan segera meninggalkan kak Arvi serta Arshel..
" Aku mau ganti baju dulu. " Gumam ku seraya pergi masuk ke kamar ku.
Ketika aku sudah berada dalam kamar, aku baru memiliki keberanian untuk memberikan balasan kepada Monica.
S : Ga juga sih, lagi di rumah. Knapa?
Mon : Im so sorry, aku butuh bantuan. Hari ini aku ada meeting produk baru. Aku ga bisa menemani Mitzy buat fitting baju. Bisa gantikan aku?
S : Ehm.. sorry Mon, bukan nya aku ga mau menemani. Tapi aku takut, Morgan akan salah paham. Kami sepakat untuk ga ketemu.
Mon : Please.. ga ada lagi yang bisa kupercaya buat jaga Mitzy. Mama papa ku lagi liburan. Tersisa aku dan kak Morgan aja. Please.
Membaca pesan Monica, membuat hati ku dilema. Aku mengingat dengan jelas teguran Morgan untuk tidak saling bertemu lagi, tapi Monica membutuhkan bantuan ku juga. Terlebih lagi, Mitzy yang masih sangat kecil.. tidak mengenal sosok ibu.
Dengan memantapkan hati, aku pun bersedia membantu. Aku dengan segera berganti pakaian dan meriaa tipis wajah ku secukupnya.
Monica mengirimkan alamat boutiqe tempat Mitzy fitting kepadaku.
Sekitar 45 menit perjalanan ku kesana, dan tepat ketika aku sampai disana.. aku melihat Monica dan Mitzy turun dari mobil mereka.
" Sesil. " Sapa Monica setelah melihat ku turun dari mobil.
" Hai. " Kata ku membalas sapaan nya.
" Sorry ya, lagi lagi ngrepotin. Jadi Mitzy kan 2 minggu lagi ultah, hari ini dia waktu nya fitting baju sekalian yang lain lain. Tapi mendadak meeting ku jadwal nya berubah. " Kata Monica menjelaskan.
" Its ok. Selama aku bisa bantu. " Jawab ku mengerti posisi Monica.
" Waahh.. ada yang mau ulang tahun yaa... " Lanjut ku menggoda Mitzy yang terlihat antusias.
__ADS_1
" Ayo.. ayo mommy, beli baju. " Kata Mitzy menarik tangan ku.
Monica pun jadi begitu tercengang mendengar Mitzy tanpa ragu memanggilku mommy, dan membuat ku sedikit tidak enak hati.
" Wow.. mommy?? " Kata Monica tersenyum.
" Ehm.. jangan salah paham, aku juga tidak tahu.. setiap ketemu aku.. dia panggil aku mommy.. tapi serius, aku ga pernah ngajarin.. " Kata ku yang mencoba meluruskan.
" Good job Mitzy. Sekali diajarin langsung bisa. " Sahut Monica senang.
" Hah?? Jadi.. kamu yang ajarin dia.. " Tanya ku heran.
" Iya, waktu dia ketemu kamu.. tiap kali selalu nyari.. aku iseng iseng ajarin dia bilang mommy.. dan di praktekin ke kamu.. anak pintar. " Kata Monica sambil membelai Mitzy dengan penuh kasih sayang.
" Thanks ya Sesil, kamu baik banget sama Mitzy." Sahut Monica terharu dan memberi ku pelukan sebelum ia pergi ke kantor nya.
Dalam perjalanan Monica ke kantor, ia yang sudah duduk di dalam mobil.. terlihat mengambil ponsel nya dan mengetik sebuah pesan untuk Morgan.
Mon : Kak, jangan lupa.. hari ini fitting baju buat ultah Mitzy.
Setelah pesan terkirim, Monica pun tersenyum puas.
" Good Job Monica. " Kata nya memuji diri sendiri.
Keadaan kembali ke dalam boutiqe..
Begitu banyak gaun gaun mewah yang terpampang di sana.
Mereka mengambil beberapa contoh gaun yang akan dipakai oleh Mitzy.
" Anda wali nya Mitzy?? Dimana pak Morgan? " Tanya salah satu pelayan yanv terlihat senior disana.
" Ehm.. Morgan seperti nya masih sibuk, kemudian Monica juga ada meeting mendadak." Jawab ku jadi gugup.
" Mommy.. ini, mau ini. " Kata Mitzy yang tiba tiba memberikan sebuah gaun pilihannya padaku.
Para pelayan pun jadi salah paham, ketika me dengar anak kecil ini memanggilku mommy.
" Mitzy mau coba yang ini?? " Tanya ku sambil menerima gaun warna merah maroon yang ia pilih.
" Waahh.. putri anda kecil kecil sudah pintar memilih. " Sahut pelayan itu memuji.
" Iya, yang ini.. cantik sekali. " Kata ku sambil memakaikan gaun itu ke tubuh kecil Mitzy.
" Waahh cantik.. Mitzy, suka yang ini?" Tanya ku memastikan.
" Mau ini.. " Jawab nya memutuskan.
" Ok. Kalau begitu, kurasa size nya bisa sedikit dikecilkan.. di bagian dada, masih terlalu besar untuk Mitzy. " Kata ku menyarankan demi kenyamanan Mitzy.
" Baik bu, akan saya persiapkan. " Jawab pelayan itu.
Kukira semua selesai dengan begitu cepat nya, namun beberapa pelayan berganti mendatangi ku setelah melayani Mitzy.
__ADS_1
Salah satu dari mereka membuka tirai dan membuat ku terkejut.
" Nah.. sekarang giliran anda untuk mencoba nya. " Sahut pelayan itu mengejutkan ku.
" Hah?? Tidak.. anda salah paham, saya hanya menemani Mitzy untuk fitting. Itu bukan gaun saya. " Kata ku menolak.
Terlihat sebuah gaun indah yang terurai oanjang dengan warna dan model yang sama seperti Mitzy, bisa di katakan couple ibu dan anak.
" Tapi ini adalah gaun pasangan.. harus dicoba bu, supaya kami bisa menentukan ukuran nya. " Kata pelayan itu memaksa.
" Untuk gaun itu, biar Monica saja nanti yang fitting. Saya hanya menemani. " Jawab ku tetap menolak.
Namun sebuah pandangan sedih, seperti anak anjing yang malang terlihat dari kedua mata Mitzy.
" Ga mau.. buang.. " Kata Mitzy yang tiba tiba marah karena menyadari penolakan ku.
" Ok ok.. ehm aku coba, mewakili Monica ya.. Ukuran kami sepertinya tidak beda jauh. " Gumam ku menuruti keinginan Mitzy dan para pelayan.
Mereka pun mulai menutup tirai dan membantu ku memakai gaun cantik itu.
Ketika semua sudah pas di tubuh ku, seorang pelayan membukakan tirai berharap Mitzy senang melihat ku memakai gaun yang sama dengan nya.
Sreeekkkkk
Aku pun memalingkan tubuh ku ke arah Mitzy yang menunggu di balik tirai.
Deg deg deg
Begitu terkejut dan berdebar nya aku, ketika melihat Morgan sudah berdiri disana.. di samping Mitzy.
Morgan pun juga tak kalah terkejut nya dengan ku, kedua mata nya bahkan tak berkedip dan wajah nya merah merona terus memandang ke arah ku.
" Mommy.. cantik. " Sahut Mitzy senang.
Deg deg deg deg deg.. Morgan berdebar melihay kecantikan wanita yang saat ini anggun berdiri di depan nya.
Morgan mulai salah tingkah bahkan sampai tersedak.
" Morgan.. aku bisa jelaskan.. ini.. " Belum selesai aku bicara, ia langsung menyela sambil membuka jas nya.
" Uhuk.. uhuk.. ehm.. dimana jas yang harus kucoba? " Tanya nya yang salah tingkah mengabaikan ku.
" Disebelah sini pak. " Kata pelayan membuka tirai selanjutnya, dimana jas dengan warna senada sudah disiapkan.
" Karena putri dan istri anda memilih gaun ini, maka kami juga sudah mempersiapkan untuk anda dengan warna yang senada. " kata pelayan itu menjelaskan.
Namun aneh nya Morgan tidak mengelak atau memprotes perkataan pelayan itu, yang menyebutku sebagai istri.
Morgan mencoba jas nya dan merapikan nya, ia berjalan ke arah ku tiba tiba..
Tanpa basa basi, ia meraih pinggang ku dan menarikku begitu dekat tanpa jarak dengan tubuh nya.
" Bagaimana?? Serasi?? " Bisik Morgan yang wajah nya begitu dekat dengan telinga ku, hingga membuat jantung ku berdebar tak karuan.
__ADS_1