
Part 47 " Kuala Lumpur "
Aku dan Tiara sudah berada di KL, kami menginap di hotel bintang lima yang sangat terkenal dan elite di negara ini.
Aku dan Tiara akan berbagi kamar dan sibuk mempersiapkan materi yang akan kami bicarakan dalam pertemuan project ini.
Bekerja sekaligus refreshing, itulah yang sekarang ada di otak ku.
Melihat pemandangan hotel dan fasilitas nya yang serba indah dan juga mewah.
" Looks so good. " Sahut Tiara sambil melihat ke sekeliling hotel.
Sedangkan aku berjalan masuk ke lift menuju kamar sambil bertukar kabar dengan kakak ku.
" Iya, aku sudah sampai kak. Wish me luck ya. " Kata ku meminta dukungan kak Shelo.
" Tentu kamu pasti berhasil. Karena itu kak Arvi percayakan project ini ke kalian. Semangaatt Sesil. " Ucap kak Shelo menyemangati walau hanya lewat panggilan.
Sampai di kamar hotel, aku merapikan beberapa pakaian yang kubawa untuk 3 hari ke depan.
Sedangkan Tiara juga melakukan hal yang sama.
" Gimana kalau ntar malam kita dinner keluar? Disini terkenal street foodnya, lumayan lah ngobati kangen kan. " Sahut Tiara mengusulkan.
" Ok, no problem. Sekalian menikmati suasana malam di luar. " Jawab ku bersemangat.
" Abis ini kita prepare in materi dulu, jadi besok pagi ga keburu buru. " Kata Tiara kemudian membuka laptop nya.
" Ehm.. aku sebentar lagi juga mau ketemu sama pak Andra, buat daftarin nama mita ke guest list meeting tender besok. Mana id card mu. " Kata ku sambil meminta id card Tiara.
Dengan pakaian semi casual aku turun ke lantai 5, sedangkan kamar ku ada di lantai 10. Ketika lift terbuka dan aku hendak keluar, seorang anak kecil yang lucu dan menggemaskan berlarian menabrak ku dan menangis.
Aku melihat ke sekeliling namun tidak ada satupun orang dewasa yang mengikuti nya.
Huuuuu huuuu
" Adik kecil, jangan nangis ya. Mana yang sakit?" Tanya ku lembut padanya.
" Daddyyy... " Kata nya sambil terus menangis.
Aku pun jadi panik dan kesal, kenapa anak sekecil ini, yang mungkin baru berusia 3 tahun sudah terlepas sendirian.
Dengan sigap aku menggendong dan menepuk nepuk punggung nya.
" Ssstt... jangan nangis lagi ya, anak pintar. Tante antar ke ruang informasi ya. " Kata ku menemukan solusi.
Dia pun terdiam dan menghentikan tangisannya saat berada dalam dekapan ku.
__ADS_1
Aku pun berbalik arah, masuk ke dalam lift lagi.. mencari tempat informasi untuk membantu nya kembali ke orang tua nya.
Pintu lift menutup.
Adit terlihat begitu terengah engah dan kewalahan, sekujur tubuh nya berkeringat dingin karena tidak menemukan Mitzy.
" Kalau pak Morgan tahu.. aku pasti langsung di bunuh. " Gumam Adit, asisten kepercayaan Morgan.
Ia yang lalai karena lengah dalam memperhatikan Mitzy yang masih sangat kecil, mudah terpancing dan mengikuti orang tak dikenal.. merasa begitu khawatir dan takut.
Adit terus mencari di setiap lantai dan ruangan yang terbuka, sesekali juga bertanya kepada pekerja hotel.
Bahkan para bodyguard pun ikut mencari keberadaan Mitzy.
" Kamu cari ke bagian informasi. Siapa tahu seseorang membawanya kesana. " Ide cemerlang Adit dan menugaskan salah satu bodyguard Morgan.
Padahal sedari tadi, Mitzy terus berada dalam gandengan tangan Adit. Hanya karena Adit menerima panggilan sebentar, Mitzy sudah terlepas dari genggamannya.. hingga ia memanggil bodyguard yang berjaga di setiap sudut ruangan meeting Morgan.
Aku pun sampai di ruang informasi, anak kecil itu menggenggam erat tangan ku dan tidak lagi menangis.
" Sebentar ya. Orangtua mu akan segera datang, jangan khawatir. " Gumam ku pada anak kecil lucu nan cantik itu.
" Nona Mitzy. " Tiba tiba lelaki berjas hitam datang menghampiri anak kecil itu.
" Daddyy.. daddyyy... " Gumam anak kecil itu seperti mengenali lelaki berjas hitam itu. (Mitzy mengenali bodyguard yang biasa bersama Morgan, kata dadyy merujuk pada ia ingin bersama ayahnya)
" Anda baik baik saja kan??? " Kata lelaki itu sambil memeriksa seluruh tubuh anak kecil itu.
" Benar. Terima kasih banyak. " Ucapnya sopan dan menggendong anak perempuan itu.
Tak lama mereka pun pergi dan aku menjadi lega.
Saat anak itu berada dalam dekapan lelaki itu, dia tersenyum lucu melihat ke arah ku, senyumannya begitu meluluhkan hati ku.
" May i help you Mis? " Tanya salah satu pekerja yang melewati ku dan melihat ku terdiam di sisi ruangan informasi.
" Oh, no thanks. " Jawab ku dan kemudian melanjutkan tujuan ku.
Morgan pun selesai berbincang dengan klien, ia melonggarkan dasi nya dan mencari Adit yang menjaga Mitzy.
Ketika keluar ruangan ia mendapati Adit sudah disana bersama putri kesayangannya.
" Mitzyyy... maaf ya lama. " Sahut Morgan menggendong putri nya.
" Kamu kenapa berkeringat begitu? Habis olahraga?? " Tanya Morgan yang heran melihat penampilan kacau Adit.
" Tidak pak.. saya tadi main kejar kejaran dengan Mitzy. Hahaha. " Kata Adit tergagap, takut ketahuan.
" Makasih ya sudah menjaga Mitzy. Ayo, makan siang. " Kata Morgan tegas sambil menurunkan Mitzy dan menggandeng nya menuju restauran hotel.
__ADS_1
" Ngomong ngomong.. bu Monica kapan menyusul kesini pak? " Tanya Adit yang berharap Monica cepat datang supaya bisa membantu nya menjaga Mitzy ya sedang aktif aktifnya.
" Besok pagi. " Jawab Morgan terlihat cuek.
Adit pun bisa sedikit bernafas lega.
" Ma... Ma.. Maa... " Tiba tiba gumam Mitzy sambil menunjuk ke arah keramaian lalu lalang orang di sekitar restauran hotel.
" Iya.. makan, Mitzy lapar ya. " Kata Morgan lembut.
Morgan, Mitzy dan Adit pun duduk di meja makan dan bersiap menikmati hidangan yang disajikan.
" Ma.. ma.. Maa.. " Gumam Mitzy sekali lagi.
" Iya, makan. Ini makanan Mitzy, daddy suapin ya." Morgan sedang berada di mode bapakable.
Namun Mitzy menolak makanan nya.. padahal sedari tadi, putri nya menyebut kata 'ma.. ma.. maa' dimana Morgan menangkap arti nya sebagai makan.
Ia pun jadi penasaran dan menoleh ke arah perhatian Mitzy, namun tidak ada satu pun orang yang dia kenal disana yang lalu lalang.
Morgan pun tidak mengindahkannya lebih lama dan fokus pada makanan Mitzy.
" Pak.. kenapa anda tidak mempekerjakan babysitter saja. Saya takut anda akan kelelahan, apalagi jika tidak bersama bu Monica. " Kata Adit yang berani mengkritik tuannya.
" Tidak perlu. Aku tidak mau mempercayakan Mitzy kepada siapapun selain keluarga ku. " Sahut Morgan dengan tegas, efek dari rasa kecewa nya yang sudah mempercayai wanita yang ia cintai, namun pada kenyataannya ditinggalkan ketika ia sedang berjuang.
' Hmm.. kasian pak Morgan, jadi semakin introvert. 'Kata hati Adit yang mengkhawatirkan banyak perubahan pada Morgan.
Kamar Tiara dan Sesil
Setelah aku selesai menyelesaikan tugas ku, aku masuk ke kamar dan beristirahat.
" Huuhh... capek nya. " Gumam ku sambil merebahkan tubuh ke ranjang.
" Kenapa? Nyasar? " Tanya Tiara penasaran.
" Engga sih.. abis gendong anak kecil nyari ruang informasi. " Jawabku ringan.
" Anak nya siapa??" Tanya Tiara heran.
" Bisa bisa nya ada anak kecil tapi ga ada yang jaga.. kalau sampe hilang gimana.. kan bahaya.." Gerutu ku jadi kesal sendiri.
" Trus gimana?? Udah ketemu orangtuanya? "
" Udah, kebetulan ketemu pas di ruang informasi. "
" Syukur deh. Biar buat pelajaran orang tua nya, lebih hati hati lagi. " Sahut Tiara.
" Hmm.. Mitzy.. " Tanpa sadar aku mengingat dan menyebutkan nama anak itu.
__ADS_1
Aku mendengar dengan jelas, lelaki berjas hitam itu memanggil anak perempuan yang lucu dan cantik itu dengan nama Mitzy.
Nama yang indah.