
Part 44 " Kecewa "
Hosh hosh hosh
Terdengar nafas Morgan yang terengah engah setelah berlarian secepat yang ia bisa untuk sampai ke bandara namun hasilnya mengecewakan, karena pesawat ku yang sudah terbang ke Kanada.
Serapat apapun aku menutupi kepergian ku ke Kanada untuk memulai kehidupan yang baru, Morgan tetap saja mengetahui nya di menit menit terakhir.
" Kenapa kamu tidak mengatakan apapun? Kamu bilang.. kamu ingin menunggu ku. " Gumam Morgan kecewa dan kesal dalam hati nya, namun air mata kesedihan mengalir begitu saja di pipinya.
Monica dan Steve yang baru saja berbalik setelah berpamitan dengan ku, sangat terkejut saat melihat Morgan di tengah keramaian bandara.
" Kak Morgan. " Sahut Monica berlari menghampiri kakak nya.
Tanpa sepatah kata, melihat air mata Morgan.. Monica pun segera memeluk kakak nya yang sedang patah hati.
" Kenapa kamu tidak menahan nya? " Kata Morgan sambil sesegukan menangis di bahu Monica.
" Maafkan aku kak. " Jawab Monica yang tidak bisa berbuat banyak untuk Morgan, dan hanya bisa memberi semangat dengan tepukan lembut di punggung Morgan.
Morgan pun seperti kehilangan arah, perasaan nya campur aduk.. antara merasa sedih, kecewa dan sakit hati dengan keputusan yang telah kuambil.
Ia berjalan perlahan menuju pintu keluar bandara.
Keadaannya membuat Monica dan Steve semakin khawatir.
" Morgan. " Panggil Steve menghentikan langkah Morgan.
" Mau apa lagi? Sudah puas kan melihat ku berpisah dengan Sesil? " Sindir Morgan yang jadi sensitif terutama ia mengetahui perasaan Steve kepadaku.
" Aku bukan ingin bertengkar dengan mu. Aku mengerti apa yang kamu rasakan, tapi ini adalah pilihan Sesil untuk kelanjutan hidupnya. " Sahut Steve membenarkan perbuatanku, untuk tidak menunggu Morgan.
" Tutup mulutmu. Aku tidak butuh pendapatmu. " Bentak Morgan kembali ke mode arogannya dan pergi meninggalkan mereka.
Monica pun jadi khawatir melihat sikap kakak nya, dengan segera ia menyusul Morgan dan sementara waktu menemani Morgan yang tertimpa masalah bertubi tubi.
Sedangkan aku..
Memusatkan pandangan ku keluar jendela pesawat.
Pikiran ku terus melayang seperti keberadaan ku saat ini yang berada di atas awan.
__ADS_1
Di satu sisi aku merasa bersalah karena tidak menepati perkataan ku untuk menunggu Morgan. Namun di sisi lain, aku ingin menjaga perasaan keluarga ku yang tidak bisa melihat kehidupan ku hancur.
Aku kehilangan pekerjaan ku, di hujat banyak orang.. bahkan orang yang sama sekali tidak pernah aku kenal.
Jika mengingat kerumitan hubungan ku dan Morgan akan seperti ini, membawa banyak dampak yang buruk.. seharus nya, aku menyudahi settingan hubungan kami sebelum perasaan kami terkait sedalam ini.
Air mata ku menetes dengan sendiri nya, semakin aku menjauh meninggalkan Morgan dan mendekat ke kehidupan baru.. dada ku terasa semakin sakit.
Hiks hiks hiks hiks..
Tangisan ku pun pecah saat ini..
Aku berusaha menahannya sebaik mungkin saat berpamitan dengan Monica dan Steve, namun kali ini.. aku tidak berhasil menahannya.
Selama beberapa jam, aku akhir nya sampai di Kanada.
Benar saja, semua sudah di persiapkan kak Shelo dan kak Arvi untuk kepindahan ku.
Mulai dari mobil dan rumah minimalis indah yang sedang tertutup salju karena memasuki musim dingin.
Aku membawa beberapa barang ku dan masuk ke rumah baru ku.
Tampak hening dan begitu hampa.
Aku harus melakukan apa.
Aku harus memikirkan apa.
Aku berharap ketenangan ini bisa mengalihkan pikiran ku dari Morgan.
Apalagi saat ini, aku berharap Morgan bisa fokus mengurus putri nya yang baru saja lahir dan menemukan solusi terbaik tentang hubungannya dengan Rosa.
Selain itu aku juga berharap, bahwa masyarakat lambat laun bisa melupakan nama Sesilia yang selama ini sudah di cap negatif semenjak Morgan dan aku menjalin hubungan.
Ketika aku sibuk mengeluarkan beberapa barang, seseorang mengetuk pintu rumah ku.
Dengan segera aku membukakan pintu, tampak seorang wanita seusia ku dan berparas cantik sudah berdiri di ambang pintu.
" Hai.. Welcome Sesil. " Sapa wanita yang bernama Tiara.
" Hai.. ehm, apa kamu mengenalku. " Jawab ku ragu, karena aku merasa belum mengenal siapapun disini.
__ADS_1
" Tentu saja. Aku teman Arvi, kakak iparmu. Sekaligus manager perusahaannya di cabang Kanada. Boleh aku masuk? " Kata Tiara yang begitu ramah.
" Oh.. tentu, silahkan. " Sahut ku mempersilahkannya masuk.
" Arvi memberiku pesan untuk membantu mu selama disini. Kudengar, kamu memutuskan untuk menetap disini?" Tanya Tiara penasaran.
" Ehm.. yah begitulah.. kurasa. " Jawabku ragu.
" Kalau butuh apapun, hubungi aku. Ini kartu nama ku." Kata Tiara sambil memberikan kartu namanya.
" Thankyou Tiara. Ehm.... aku masih belum tau ingin melakukan apa disini.. Mungkin sementara waktu, aku hanya perlu menghabiskan uang?? Hahaha. " Canda ku mencairkan suasana dan melanjutkan obrolan kami.
Move on
Banyak orang selalu bilang, segera Move on dari kekecewaan hati mu adalah jalan terbaik.. namun untuk melakukan nya sangat lah sulit, apalagi ketika kita memiliki begitu banyak kenangan yang membekas di hati kita.
Saat ini pun aku juga bisa merasakan betapa kecewa nya Morgan kepadaku.
Aku yang bilang akan menunggunya..
Aku yang bilang siap menerima keadaannya..
Aku yang bilang akan menemani nya..
Pergi begitu saja tanpa sepatah kata di tengah kondisi dia sedang berjuang menyelesaikan semua masalah..
Aku merasa seperti pengecut.. ya.. itulah yang kurasakan..
Aku seakan terombang ambing, antara perasaan ku tetapi juga kekhawatiran keluarga ku..
Satu hal yang membuat ku lega adalah menyadari bahwa aku tidak pernah mengatakan..
" Aku mencintai mu Morgan. "
Kalimat yang tertahan di hati ku, belum sempat aku ungkapkan padanya..
Namun kurasa lebih baik seperti itu, Morgan hanya akan semakin kecewa padaku jika ia mendengarnya.. dan aku tidak akan bisa menghadapinya..
" Maafkan aku Morgan. "
Aku hanya akan berjalan kemana takdir membawaku melangkah..
__ADS_1
Jika pun suatu saat keadaan sudah terkendali dan kita bertemu lagi..
Apakah kamu akan memaafkan aku.. Apakah setidaknya kita bisa menjadi teman untuk saling menyapa..