
Part 8 " First Date "
Setelah diketahui publik bahwa aku adalah kekasih Morgan Ricardo, lambat laun aku sedikit bisa bernafas.
Meskipun tidak semua orang mengubah pandangan negatif nya pada ku, namun setidak nya aku berhasil mendapatkan perlakuan baik lagi dari para rekan kerja ku.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang mendekati ku untuk mengulik beberapa informasi antara aku dan Morgan seperti.
Kapan pertama kali kalian bertemu..
Bagaimana sifat asli Morgan, apakah dia pria yang romantis..
Apakah kalian sering pergi berlibur bersama..
Namun aku tidak pernah memberi penjelasan apapun, karena aku tidak memiliki jawaban atas itu semua..
Aku hanya bisa tersenyum dan mengatakan bahwa " Itu privasi kami."
Tidak hanya rekan kerja ku, bahkan pak produser yang awalnya men skors ku.. kini 180 derajat berubah baik kepadaku.
Entah karena power seorang Morgan Ricardo, atau memang efek berita yang sudah diluruskan.. yang jelas aku senang dapat kembali bekerja dan membawakan berita malam seperti semula.
Aku malah lebih khawatir dengan respon keluarga ku, terutama kakak ku yang terkejut saat melihat media.
Dia seperti merasa bahwa posisi ku saat ini sama seperti dirinya beberapa tahun lalu, ketika berurusan dengan CEO bahkan di liput oleh media.
Namun sebisa mungkin aku meyakinkannya, bahwa semua akan baik baik saja.
Hari ini aku memiliki janji temu dengan Morgan di sela sela jadwal kerja nya yang padat.
Untuk semakin meyakinkan semua orang tentang hubungan kami, Morgan dan asisten nya merencanakan kencan sore ini.
Kami akan berkencan layaknya pasangan lain pada umumnya, hanya saja Adit sudah mempersiapkan fotografer yang siap mengambil beberapa foto candid kami.
Hari ini seorang Morgan Ricardo menunggu di depan restoran dengan pakaian semi formal nya yang serba branded.
Aku berlari ringan menghampirinya dan tanpa segan meraih lengan nya.
" Maaf, aku terlambat. " Kata ku dengan senyuman yang sebisa mungkin terlihat natural.
" Aku juga baru sampai. Ayo.. " Jawab Morgan lembut, jauh berbeda dengan asli nya.
Ia menggandeng tangan mungil ku dan berjalan masuk ke restoran.
Beberapa pasang mata yang ada di sana tersenyum melihat kami bersama.
Entah karena kemistri kami terlihat cocok atau malah sebaliknya.
Aku dan Morgan makan bersama se rileks mungkin seperti pasangan sesungguhnya. Sesekali aku menyuapkan sesendok makanan ku ke mulut nya, dan berulang hingga ia memiliki pipi tupai yang lucu.
Aku mengetahui dari pandangan mata nya yang mulai kesal dengan ulah ku, tapi aku hanya bisa menertawakan dan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengerjai nya. Kapan lagi ya kan? Hitung hitung.. ini adalah pembalasan ku ketika basah kuyup di pulau waktu itu.
__ADS_1
" Kamu sudah bisa kembali bekerja?? " Tanya Morgan tiba tiba peduli dengan karier ku.
" Aku akan mulai siaran lagi besok malam. Pastikan kamu melihatnya, sayang.. " Jawab ku sambil menggoda nya.
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan ke bioskop.. disini kami menemui perbedaan genre film.
Morgan ingin menonton film action, sedangkan aku film horor.
" Ya sudah, kita nonton sendiri sendiri saja. " Sahutku memberi solusi daripada berdebat terlalu lama dan memancing perhatian.
" Bagaimana bisa, kita melakukan ini supaya terlihat seperti kencan.. Apa guna nya kalau kita berpisah theater. " Sahut Morgan dingin dan tidak mau mengalah.
" Hmm.. kalau begitu kita suit saja. Yang kalah harus menurut. " Aku pun mengambil keputusan adil, saat ini perbandingan kami 50:50.
Batu kertas gunting..
Aku dan Morgan sama sama mengeluarkan batu dan seri, namun tanpa di sangka.. Morgan menambah 2 jari nya sehingga berubah menjadi gunting.
Hati ku tiba tiba berdebar padahal hanya karena suit, seorang Morgan mengalah padaku.
" Ke.. kenapa kamu mengubah nya? " Tanya ku tiba tiba gugup.
" Sudahlah.. aku turuti saja. Di lain waktu, kamu yang harus menurut pada selera ku. " Jawab nya sambil melangkah ke counter untuk membeli tiket.
Dalam hati aku merasa aneh.. kenapa aku berdebar dengan hal sepele seperti ini.
Film pun dimulai, lampu dimatikan dan menjadi sangat gelap hanya mengandalkan cahaya dari layar proyektor film.
Dengan santai nya aku mengikuti cerita sambil makan pop corn, namun aku merasakan sesuatu yang aneh.
Morgan terus memandang ke arah ku.
" Kamu ga mau lihat? " Aku bertanya penasaran.
" Aku takut nanti tidak bisa tidur. " Jawab nya sok cool, namun ekspresi wajahnya yang tegang tidak dapat dipungkiri.
" Hahaha.. jadi kamu takut ya. " Aku mulai menggodanya, dan merasa lucu.. seorang Morgan takut dengan film horror.
" Biasanyaa.. kalau kita nonton film horor, ada beberapa makhluk yang tertarik dan mengikuti kita. " Bisik ku semakin ingin menggodanya.
" Sesil. " Bentak Morgan kesal, dan tangan nya mencengkeram tangan ku tiba tiba.
Benar saja.. aku merasakan tangan nya yang begitu dingin, dia tidak bercanda dengan perkataan nya.
" Aku hanya bercanda. Ya sudah jangan lihat.. tidur saja. " Kata ku tidak tega untuk menggoda nya lebih lagi.
Selama 2 jam aku menikmati film itu hingga selesai, ketika lampu mulai di nyalakan.. aku baru melihat dan menyadari bahwa ketenangan Morgan adalah karena dia berhasil tertidur.
Namun yang mengusik ku, walau kedua matanya terpejam.. tangan nya tetap memegangku dan tidak terlepas walau sedetik.
" Ckckck.. dimana keangkuhan mu.. kamu sekarang terlihat seperti orang bodoh. " Gumam ku sambil memandang wajahnya yang tertidur pulas.
__ADS_1
Aku menjentikkan jari ku ke dahi nya agar dia bisa segera bangun.
Tuk
" Auww.. sakit. " Rintihnya terbangun dari tidur.
" Salahmu sendiri, susah sekali dibangunkan. Lihat.. hanya tinggal kita berdua disini. " Kata ku sambil memperlihatkan ke sekeliling.
Ia pun mulai menyadari genggaman tangan nya kepadaku, dan dengan salah tingkah.. ia melepaskannya.
" Ayo.. " Kata nya tiba tiba salah tingkah dan meninggalkan ku terlebih dahulu.
" Tunggu.. " Teriak ku yang merasa di khianati. Aku menunggu nya bangun dari tidur, tetapi seenaknya saja ditinggal.
Hari sudah berlalu begitu cepat ketika aku bersama nya.
Kami berjalan santai di tepian taman sambil meneguk kopi susu hangat di tengah udara yang lumayan dingin.
Kami tidak memiliki banyak pembicaraan sehingga terasa canggung, namun entah mengapa.. walaupun kami hanya pacaran karena settingan, aku merasa perlakuan Morgan begitu terkesan dibandingkan perlakuan mantan pacarku sebelumnya.
Aku yang lebih sering menunggu,
Aku yang lebih sering mengalah,
Aku yang lebih sering memperhatikan..
Hingga pada akhirnya, aku yang diputuskan.
Tetapi lelaki inii...
Tanpa sadar kedua mata ku ber kaca kaca sambil terus memandang ke arah Morgan yang sesekali melihat layar ponsel nya dan meneguk kopi hangat miliknya.
Kemudian tanpa sengaja, aku tersandung dan hampir jatuh karena terlalu fokus melihat Morgan.
Namun lagi lagi.. kedua tangan nya yang penuh memegang ponsel dan kopi, tetap sigap menangkap tubuh ku..
Walau ia harus mengorbankan kopi dan ponselnya jatuh ke trotoar.
PRaakk
" Kenapa selalu ceroboh sih jadi orang. " Kata nya ketus sambil memegang kedua lengan ku.
" Ehm.... sorry. " Aku yang tersadar dari lamunan ku langsung menegak kan kembali tubuh ku yang begitu dekat dengan Morgan.
" Kamu minum punya ku saja. Sorry. " Aku merasa bersalah dan memberikan kopi milik ku kepadanya.
" Kamu mau kita berciuman lagi ya. " Sahut Morgan tanpa filter, membuatku tersipu.
" Kamu bicara apa sih.. aku kan cuma menawarkan kopi. " Bentak ku yang jadi salah tingkah.
" Itu kan bekas bibir mu. Dasaarrr, tidak sopan. " Jawab Morgan ketus lagi dan membuat ku terdiam.
" Ayo.. aku antar pulang. Kurasa hari ini sudah cukup. " Kata Morgan sambil menggandeng tangan ku menuju parkiran mobil.
__ADS_1
Lagi dan lagi.. aku tidak bisa mengendalikan debaran jantungku yang gugup sampai sampai aku lupa bahwa sedari tadi fotografer selalu mengikuti setiap langkah dan aktifitas kami, entah berapa puluh foto yang sudah ia dapatkan.. namun aku merasa semua mengalir seperti kenyataan.