
Part 24 " Perubahan Sikap Morgan "
Setelah keanehan yang kurasakan waktu itu, waktu ku bersama Morgan semakin hari semakin terasa berbeda dan berkurang.
Sudah tiga minggu ini Morgan sangat sibuk dengan pekerjaannya bahkan sangat jarang meluangkan waktu untuk menemui ku.
Sekalinya aku rindu dan ingin bertemu walau hanya sekedar makan bersama, ia selalu terkesan diam dan terburu buru.
Entah beban apa yang sedang ia rasakan, aku hanya berharap bahwa dia akan berbagi dengan ku. Namun sepertinya ia belum sepenuhnya percaya padaku.
Sore itu, tampak mobil Morgan terparkir di basement kantor Rosa.
Rosa yang selesai bekerja, berjalan dan masuk menuju mobil Morgan yang sudah kurang lebih 15 menit terparkir disana menunggu wanita itu.
" Maaf Rosa, aku baru bisa menemui mu. Aku banyak pekerjaan akhir akhir ini. " Kata Morgan yang tampak murung dan akhirnya siap menemui Rosa setelah kejadian malam itu.
" Morgan, ada yang ingin kusampaikan. Aku sebenarnya tidak ingin membebani mu.. tapi aku takut. " Kata Rosa memasang ekspresi memelas mencari perhatian Morgan yang sulit ia temui.
Ia mengeluarkan sesuatu dari tas nya, yaitu sebuah tespek dengan dua garis. Hasil hubungan tidak disengaja mereka, malam itu.
" Apa yang harus kita lakukan Morgan? " Kata Rosa menangis.
Seakan bom waktu terjatuh di depan mata Morgan, ia begitu terkejut mengetahui kehamilan Rosa yang sama sekali tidak diduganya.
Selama berminggu minggu ia terus memikirkan kejadian yang tidak ia inginkan itu, berharap menemukan suatu titik terang untuk memperbaiki keadaan.. namun masalah pun bertambah.
" Aku sudah telat haid 5 hari, siang tadi aku mencoba mengetes nya.. dan ini hasil nya.. hasil hubungan kita malam itu. " Kata Rosa yang sangat berbakat dengan sandiwaranya.
Morgan semakin frustasi dan membenturkan kepalanya ke kemudi mobil. Ia seakan menghadapi jalan buntu.
" Kalau kamu tidak menginginkannya.. aku bisa membesarkannya sendiri. Aku hanya ingin kamu tahu, karena bagaimana pun.. kamu ayahnya. " Tambah Rosa semakin membuat hati Morgan pilu dan merasa bersalah.
" Aku.. aku tidak akan meninggalkan anak itu begitu saja. Hmmm.. " Jawab Morgan yang tetap memiliki sisi gentle.
" Lalu kita harus bagaimana Morgan.. hiks hiks hiks.. "
Melihat Rosa yang lemah dan menangis di hadapannya, sebagai pria Morgan merasa begitu simpati.. ia memeluk Rosa dan mencoba menberi ketenangan, walaupun ia sendiri hancur.
" Tenang.. kita pikirkan jalan keluar bersama. Sekarang aku akan mengantarmu ke dokter. " Sahut Morgan melepas pelukan sesaatnya dan menyalakan mobil untuk bergegas menemui dokter.
__ADS_1
Usia kehamilan Rosa memasuki hari ke 16, masih sangat kecil dan rawan.. Morgan begitu terharu namun juga galau melihat sebuah kantung kecil di layar usg.
Setelah selesai memeriksa kan Rosa, ia menunggu di loby untuk menyelesaikan administrasi.
Di tengah tengah situasi itu, ia melihat layar ponsel nya.. dan ternyata itu adalah panggilan dari kekasihnya, Sesil.
Tangan Morgan gemetaran tidak sanggup menerima panggilan itu. Ia begitu kacau dan menyalahkan diri sendiri bahkan air mata nya mengalir begitu saja.
Rosa yang melihat kegilaan Morgan, hanya bisa tersenyum penuh kemenangan di sebrang sana.
"Kamu tidak bisa kemana mana lagi Morgan, karena aku tahu.. kamu adalah lelaki baik yang penuh tanggung jawab. " Gumam Rosa puas dengan keberhasilan rencananya.
Bahkan mendapatkan bonus yang semakin mengikat Morgan padanya, yaitu kehamilannya.
Sebanyak 5 kali Morgan mengabaikan panggilanku dan membuatku khawatir.
Ekspresi badmood ku sangat mudah terbaca sore ini.
Steve tiba tiba datang dan meletakkan secangkir kopi di meja ku.
" Thanks. " Kataku jutek.
" Seharian lesu sekali, lagi sakit? " Tanya Steve.
" Kenapa? Ada yang bisa kubantu?" Tanya Steve peduli.
" Tidak ada. " Jawab ku singkat.
Di tengah tengah situasi itu, bisa bisa nya perut ku memanggil pertanda lapar.
Steve pun tersenyum mendengar suara perut keroncongan ku.
" Ayo makan. " Kata Steve dengan sigap menarik tangan ku.
" Eh. Eh tunggu.. mau kemana? " Sahut ku yang tertarik oleh kekuatan Steve bahkan kesulitan meraih tas dan jaketku.
Ia mengajak ku makan pasta di dekat kantor, dan hari ini entah bagaimana ceritanya.. teman makan malam ku adalah Steve bukan Morgan.
Saat makan aku sesekali melihat layar ponsel ku, berharap Morgan memberi kabar kepadaku. Namun zonk.
__ADS_1
" Dia tidak memberi mu kabar sama sekali ya?" Kata Steve tanggap dengan tingkah laku ku.
" Ehmm.. mungkin dia sibuk. Haha. " Kata ku canggung berusaha menutupi sesak di dadaku atas perubahan sikap Morgan.
" Temui saja dia kalau penasaran, jangan hanya di pendam. " Kata Steve tiba tiba begitu menyentuh ku hingga tanpa sadar aku meneteskan air mata.
Tubuhku ternyata lebih cepat merespon dari pada hati ku.
" Ini.. sudah biasa terjadi padaku. Selalu aku yang khawatir, selalu aku yang cemas dan selalu aku yang mencoba memperbaiki sebuah hubungan. Aku kira dia akan berbeda dengan yang lain (mantan Sesil)... Hahaha. " Jawab ku mulai melantur.
" Makanya.. langsung temui dan tanyakan saja. Setiap hari aku melihat mu murung.. tidak nafsu makan.. tidak ceria.. tidak fokus dan terus melihat ke layar ponsel mu.. itu sangat mengganggu. " Ungkao Steve yang selama ini memperhatikan aku terlihat kesal.
" Waahh.. kamu membuatku malu. " Sahut ku sambil mengusap air mata ku.
" Aku memang tipe pacar yang seperti itu. Menyedihkan bukan? " Kataku sadar diri.
" Itu hanya karena kamu merindukannya dan sangat menyukainya. " Kata Steve memahami ku lagi.
Ia pun tiba tiba menarik tangan ku tanpa menyelesaikan makanan kami.
" Steve.. mau kemana?" Teriakku tidak mengerti.
" Membawa mu menemui nya. " Jawab Steve tegas karena muak melihat sikap ku akhir akhir ini.
Aku pun akhirnya kooperatif dengan ajakan Steve yang tegas. Aku memberanikan diri menelepon Adit, asisten Morgan untuk mengetahui keberadaan bosnya apakah masih di kantor atau tidak.
Namun adit memberiku jawaban bahwa sejak sore Morgan sudah meninggalkan kantor lebih dulu.
Steve pun bergegas mengantarku ke apartmen Morgan. Ketika aku memasuki parkiran basement apartmen, begitu terbelalak kaget aku melihat Morgan sedang bersama Rosa saat itu.
Sejenak aku memperhatikan apa yang mereka lakukan di depan mobil Morgan yang sudah terparkir.
Aku dan Steve turun ingin menghampiri mereka, namun tiba tiba Morgan memeluk Rosa tepat di depan mata ku, hingga langkah ku terhenti begitu saja.
Kaki ku seakan membeku dan tidak percaya dengan apa yang kulihat, benarkah itu nyata.
Steve pun yang awalnya berada dibelakang ku.. ia dengan segera melangkah ke depan ku dan menggunakan tubuhnya untuk menutupi pandangan ku.
Air mata ku kembali terjatuh, aku seakan tidak siap jika apa yang ada dalam pikiran ku saat ini benar. Morgan menjauh dariku karena Rosa.
__ADS_1
" Lebih baik jangan melihatnya. " Kata Steve memegang dua lenganku mencoba mencegah aku untuk melihatnya, namun terlanjur.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang.. aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa, aku hanya takut.. takut kalau wanita itu adalah alasan Morgan berubah padaku. " Ungkap ku dengan gemetar dan air mata terus menetes tidak tertahan lagi.