Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
BERTIGA


__ADS_3

Part 55 " Bertiga "


Morgan mendapatkan petunjuk keberadaan Mitzy. Ia segera berlari dan menemukan sebuah pintu besi yang memang tertutup bertuliskan laundry room.


Tanpa pikir panjang dia melakukan panggilan kepada manajer hotel meminta bantuan.


Beberapa saat kemudian, permintaan Morgan dengan cepat di respon.


Pintu ruangan itu terbuka, Morgan langsung masuk ke dalam dan mencari keberadaan putri kecil nya.


Ia begitu terkejut ketika melihat ke sudut ruangan, Mitzy sedang tertidur nyenyak di pangkuan wanita yang ia benci.


Hosh hosh hosh


Nafas Morgan terengah engah, ia terdiam sejenak dan entah mengapa mulai terharu.


Mitzy terlihat begitu nyenyak dan damai ketika kepalanya bersandar di dada ku.


" Morgan. " Kata ku lega melihat kedatangan Morgan.


" Kenapa kalian.. bisa disini. " Kata Morgan perlahan, tidak ingin membangunkan Mitzy.


" Aku tidak sengaja melihatnya, dan mengikuti nya sampai kesini. " Jawab ku pelan.


Setelah itu terlihat Adit dan asisten Morgan berlari menyusul. Adit begitu merasa bersalah dan juga terkejut melihat keberadaan ku.


" Anda?? " Sahut Adit terkejut melihatku.


" Siapkan mobil. " perintah Morgan tanpa basa basi.


Ketika Morgan hendak mengambil Mitzy dari dekapan ku, aku dengan segera menghentikannya.


" Biarkan dia tidur. Jangan bangunkan dia, aku baru saja berhasil menidurkannya. " Kata ku dengan berani pada Morgan, meskipun aku tidak punya hak atas anak ini.


Aku pun bergegas menggendong dan membuat Mitzy tenang dalam tidur nya.


Anehnya Morgan menuruti ku, dan mendampingi ku sampai masuk ke dalam mobil nya.


Ia membukakan pintu mobil untukku dan menjaga kepala ku agar tidak terbentur.


Di sela sela keheningan perjalanan kami, aku mengirimkan pesan kepada kak Arvi bahwa mendadak aku harus pergi.


Aku ingin segera menghindar sebelum ia mengetahui bahwa aku bertemu dengan Morgan di hotel.


Suasana kembali hening, Morgan sama sekali tidak mengajak ku berbincang. Sedangkan Mitzy masih tetap tertidur nyenyak dalam dekapan ku.


Mobil yang membawa kami berhenti di tepi jalan yang terlihat sepi dan menenangkan karena banyaknya deretan pohon yang teduh.


Adit keluar dari mobil memberikan sedikit privasi bagi kami.


Saat ini aku begitu merasa dilema harus berbuat atau mengatakan apa.


" Kenapa?? Kenapa kamu sangat peduli pada Mitzy?? " Tanya Morgan tanpa memandangku dan mengalihkan kedua matanya melihat ke luar jendela.


" Aku.. hanya tidak sengaja bertemu dengan nya.. aku tidak tahu kalau kami akan terkunci disana. " Jawab ku gugup dan juga takut.

__ADS_1


" Maksud ku.. kenapa selalu kamu?? Di kuala lumpur dan disini.. selalu kamu.. " Bentak Morgan protes.


" Aku sendiri juga tidak tahu. Jangan menyalahkan aku. Kamu sendiri yang ceroboh, seharusnya kamu tidak menugaskan Adit untuk menjaga putri mu.. pekerjaan nya sudah cukup banyak kan, kemudian jadi lalai. " Balas ku tidak mau kalah.


Kali ini aku harus bisa mengendalikan situasi.


" Morgan.. apa kamu benar benar sangat membenci ku??? Sampai sampai.. kebetulan seperti ini membuat mu marah. " Tanya ku to the point.


Morgan pun langsung memalingkan wajahnya dan menatap ke kedua mata ku.


" Ya. Aku sangat membenci mu. Kamu mematahkan hati ku Sesil. Dan sekarang dengan mudahnya, kamu datang kembali ke hadapan ku. " Jawab Morgan tanpa ragu.


" Kamu pikir semua itu sengaja kulakukan.. aku juga menderita Morgan.. Aku kehilangan karier ku, aku dihujat banyak orang, keluarga ku menangis karena aku.. aku berada dalam pilihan yang sulit. " Jawab ku juga membela diri.


" Kesulitan itu bisa kita lewati bersama seandainya saja kamu mau menungguku sedikiiit lagi.. " Kata Morgan yang masih keras hati.


Di tengah perdebatan kami, terlihat Mitzy terganggu dan bangun dari tidur nya.


" Daddy. " Panggil Mitzy ketika melihat Morgan.


" Mitzy ku sudah bangun. " Sahut Morgan yang langsung berubah drastis di hadapan anaknya.


Entah mengapa melihat perubahan itu membuat ku tersenyum kecil.


" Nah Mitzy.. sana ikut daddy, aunty mau pulang." Kata ku sambil mencoba menurunkan Mitzy dari pangkuan ku.


" Jangan pergi.. mommy. " sahut Mitzy kembali memelukku.


Begitu membuat ku terenyuh, ketika Mitzy.. si anak kecil yang polos ini berkata begitu.


" Mitzyy... ehm.. kalau begitu, mau makan ice cream?? " Tanya ku mencoba mencairkan suasana mengharukan ini.


" Apa apaan kamu. " Bisik Morgan yang merasa tidak nyaman.


Dengan berani aku menutup mulutnya dengan sebelah tangan ku.


" Daddy mu sangat berisik.. kita suruh daddy belikan ice cream ya. " Sahut ku mencoba menghibur diri, walau setiap aku melihat anak ini.. air mata ku nyaris tak tertahan.


Mitzy tersenyum bahagia.


Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan ke toko dessert terdekat untuk menyenangkan hati Mitzy.


Adit yang duduk di kursi driver, sesekali mengintip kami lewat kaca spion dan ikut merasakan suasana kekeluargaan yang selama ini terasa dingin.


" Itu apa?? "


" Mobil. "


" Pintaarr.. kalau itu? " Aku mencoba mengajak Mitzy berbicara untuk mengatasi rasa canggung di antara ku dan Morgan.


" Itu nama nya sepeda. Coba bilang.. se-pe-da.." Kataku mengajari.


" Se.. pe.. da.. " Sahut Mitzy mengikuti perkataan ku.


" Yeeeyy... pintarnyaaa... kiss kiss. " Aku yang terbiasa mengurusi anak kecil (Arshel) dengan mudahnya berbaur dengan Mitzy yang tidak sungkan menghujani ku dengan tawa, pelukan, dan ciuman.

__ADS_1


Morgan yang duduk di sebelah ku terlihat sesekali ikut terpancing dan tersenyum tipis melihat keceriaan Mitzy saat berada dalam pangkuan ku.


Kini perjalanan Mitzy dan Morgan, tidak lagi terasa sepi seperti biasanya.


Sesampai nya di toko dessert pilihan Morgan, aku merasa aneh.. kenapa begitu sepi tidak ada seorang pun, padahal toko dessert ini adalah salah satu yang terkenal di pusat kota.


Benar saja, saat aku dan Mitzy masuk.. tampak papan close sudah tergantung di pintu dan seperti dugaan ku, Morgan membooking semuanya.


Aku pun menatap tajam ke arah Morgan yang berjalan di belakang ku dan Mitzy.


" Kebiasaan. " Gumam ku yang masih mengingat sikap boros Morgan bahkan semenjak kami masih pacaran.


Dia pun tetap mempertahankan wibawa nya yang cool dan tsundere.


" Kamu mau rasa apa?? "


" Coklat.. " Sahut Mitzy menunjuk ke sisi coklat.


" Okey.. tambah permen yaa, biar cantik kayak kamu. "


Pelayan toko pun dengan ramah melayani kami.


Namun satu hal yang membuat ku tidak suka, suasana yang sangat sepi.


Jika Morgan introvert seperti ini, aku merasa kasihan pada Mitzy yang nanti nya akan sulit bersosialisasi.


Tanpa pikir panjang, aku berjalan ke pintu dan membalik papan close menjadi open.


" Nah, begini lebih baik. "


Mengetahui apa yang kulakukan, Morgan pun terlihat kesal dan menghampiri ku.


" Apa yang kamu lakukan? Aku kan memang membooking semuanya untuk Mitzy. " Bentak Morgan kepadaku.


" Jangan egois. Memang yang pengen makan ice cream cuma kita. Kasian pengunjung yang lain. " Jawab ku berani.


" Kenapa jadi kamu yang ngatur ngatur, kalau terlalu ramai nanti kasihan Mitzy. " Sahut Morgan mode bapak protektif.


" Lebih kasian lagi kalau Mitzy tidak bisa bersosialisasi. Tumbuh kembang Mitzy kan juga bergantung pada lingkungan. " Jawab ku menentang pemikiran Morgan.


Aku dan Morgan tampak seperti sepasang orang tua yang berdebat masalah anak sekarang ini.


Mitzy dan adit beserta para pelayan toko hanya bisa menjadi penonton melihat perdebatan kami.


" Mitzy, bilang sama daddy dan mommy mu. Jangan bertengkar.. nanti ice cream nya leleh. " Bisik Adit mempengaruhi Mitzy dengan mudah nya.


Gadis kecil itu berlari membawa ice cream dan memberikannya padaku.


" Daddy.. Mommy.. ice kim. " Sahut Mitzy.


Melihat itu aku pun kembali memasang senyuman dan menerima ice cream yang Mitzy berikan.


" Aku tetap tidak setu... " belum selesai Morgan bicara, sesuap ice cream coklat full kumasukkan dalam mulutnya.


" Sudah, jangan berdebat lagi. " Kata ku menghentikan perdebatan dan membuat Morgan terdiam kaget dengan dinginnya ice cream yang meleleh di mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2