
Part 15 " Kasmaran "
Matahari pagi mulai menyingsing, kami bertiga tidur bersama di ranjang milik Morgan.
Arshel terlihat tidur dengan sangat nyaman di tengah tengah ku dan Morgan.
Pagi itu aku bangun melihat pemandangan indah yang jarang terjadi dalam kehidupan ku.
Melihat dua lelaki yang aku sayangi tidur nyenyak bersama.
Jiwa keibuan ku tiba tiba terpanggil, dengan segera aku mencuci muka dan sikat gigi kemudian menyiapkan sarapan untuk mereka.
Telur goreng, toast, dan irisan alpukat untuk menambah gizi.
Tak lupa segelas susu untuk Arshel dan secangkir kopi untuk Morgan.
Tak lama setelah semua nya siap, mereka berdua terbangun dari tidur dan bersiap.
Morgan bersiap untuk pergi ke kantor, dan aku membantu Arshel bersiap untuk pulang karena kak Shelo dan Kak Arvi sudah pulang dari luar kota.
Mereka berdua pun kompak duduk bersama di meja makan.
Arshel si anak pintar dengan segera meminum susu buatan ku, namun berbeda dengan Morgan.
" Mana punya ku? " Tanya Morgan kepadaku, yang jelas jelas semua sudah ku letakkan di hadapannya.
" Kamu masih ngantuk ya? " Sindir ku tidak mengerti dengan apa mau Morgan.
" Aku tidak mau minum kopi, aku mau minum susu juga. " Jawab Morgan.
Aku pun tersentak kaget mendengarnya, karena semalam ia berjuang keras tidak menyukai susu.
Aku hanya menggeleng kan kepalaku tidak habis pikir bahwa pagi ku hari ini harus mengasuh dua anak kecil.
Aku pun dengan segera memberikan susu untuk Morgan dan ia meneguk nya hingga tetes terakhir.
Ia tersenyum membanggakan diri di hadapan ku, dan mengarahkan jari telunjuk ke pipinya.
" Hadiah ku. " Sahut nya pagi pagi sudah menggoda ku.
Dengan malu malu di depan Arshel aku memberikan ciuman singkat di pipi nya.
Tidak kusangka sikapnya langsung berubah manja seperti ini setelah menyatakan cinta kepadaku semalam, bahkan menghujani ku dengan ciuman.
" Achel juga.. kiss kiss. " Sahut Arshel yang merasa tersaingi oleh Morgan.
Tanpa pikir panjang aku juga memberikan kecupan singkat ke hidung Arshel.
" Arshel.. mulai sekarang, kiss kiss nya aunty lebih banyak untuk uncle ya. " Sahut Morgan mulai cemburu lagi.
Aku pun reflek memperingatkannya dan memukul lengan nya.
" Gak mau.. aunty punya nya Achel. " Kata Arshel mulai cemberut.
" Jangan pelit, bagi bagi dong sama uncle.. " Sahut Morgan juga tidak mau kalah.
" Sudah.. sudah, nanti terlambat.. Ayo. " Aku pun dengan segera memotong pembicaraan antara dua anak ini yang semakin terasa sengit.
__ADS_1
Morgan mengantarkan kami terlebih dulu ke tempat ku bekerja.
" Thankyou uncle. Bye bye. " Pamit Arshel sopan.
Dan kami bertiga pun berpisah dengan aktifitas masing masing untuk sementara.
Hubungan kami berjalan semakin membaik setelah mengakui perasaan satu sama lain, terutama Morgan yang bersikap berbeda setelah kejadian romantis malam itu.
Ia memberikan aku banyak perhatian dan kasih sayang yang tulus, bisa dibilang hubungan kami yang mula nya settingan berubah menjadi hubungan yang nyata.
Morgan selalu menyempatkan makan siang bersama ku, bahkan juga makan malam bersama.
Seperti layaknya sepasang kekasih baru yang di mabuk asmara, Morgan tidak ingin melewatkan moment bersama ku.
Canda tawa selalu mengiringi setiap kami bersama,
Genggaman tangan nya yang besar dan hangat begitu membuat ku nyaman,
Suara nya yang berat setiap hari setidak nya 3x menelepon ku meski hanya untuk bertukar kabar,
Komunikasi kami berjalan sangat baik..
Saat ini kami berjalan mengikuti hati kami, bukan mengikuti apa pendapat orang lain..
Hubungan yang kami jalin terasa semakin intens, Morgan tidak pernah bosan dan ragu menyentuh ku bahkan memberikan ciuman kepadaku.
Ia beberapa kali merengek ingin menginap di apartmen ku namun kutolak, mengingat hubungan kami masih seumur jagung.. berjalan 2 bulan sejak pertemuan pertama kami.
" Kenapa aku tidak boleh menginap? " Tanya Morgan tidak terima karena waktu yang sudah malam dan aku menyuruhnya untuk meninggalkan rumah ku.
" Ya pokok nya tidak boleh Morgan. Tidak pantas jika ada yang melihat kita. " Jawab ku tegas kepada rengekan Morgan.
Ia terus mencoba meyakinkan aku, setelah menjalin hubungan dengannya..
Sekarang aku tahu, bahwa perawakan yang berwibawa dan karismatik seorang Morgan hanya bisa kita lihat di depan umum.
Kepribadiannya ketika berdua saja, begitu menggemaskan.
Ia tidak melepaskan kedua tangan nya yang melingkar di perut ku.
Morgan terus memelukku dari belakang bahkan bisa dikatakan menempel kemana pun aku melangkah.
" Lepas Morgan. Aku jadi susah berjalan. " Bentak ku yang mulai risih.
" Ijinkan aku menginap kalau begitu. " Jiwa pebisnis Morgan muncul untuk bernegosiasi.
" Kenapa dari kemarin kamu ingin sekali menginap? Tiga hari ini kita rutin selalu bertemu.. bahkan berciuman.. " Aku pun keceplosan dan mengeluarkan kata kata yang semakin memancing Morgan.
" Jadi.. tidak apa kalau kita membahasnya. " Kata Morgan menggodaku dengan senyum liciknya.
" Maksud ku, aku takut kalau kamu akan bosan jika terus menempel padaku seperti ini. " Sahut ku sambil melepaskan diri dari pelukan Morgan.
Morgan pun tidak tinggal diam, dia meraih pinggang ku hingga nafas dan aroma tubuhnya yang wangi tercium di hidungku.
Ia memandang ku dengan penuh ketulusan,
" Aku ingin setiap hari bersama mu, menyentuh mu dan.. mencium mu. Aku tidak pernah bosan, malah semakin hari semakin menyukai mu. " Kata Morgan yang semakin mendekat dan mendaratkan ciuman nya ke bibir ku.
__ADS_1
Dengan lembut Morgan menggerakkan bibirnya, aku yang juga semakin menyukai Morgan.. tidak bisa menutupi perasaan ku dan selalu terbawa suasana.
Aku melingkarkan kedua tangan ku ke leher Morgan yang lebih tinggi.
Karena tinggi badan kami, Morgan harus merendahkan tubuhnya untuk ku. Namun malam itu, ia menyentuh kedua pahaku hingga tubuhku terangkat dan berada dalam gendongan kedua tangan Morgan.
Bibir kami masih terpaut bahkan semakin terpaut lebih agresif.
Morgan merebahkan tubuh ku yang saat ini mengenakan piyama ke atas sofa di ruang tengah.
Morgan berhenti mencium ku sejenak dan melepaskan dasi serta membuka beberapa kancing kemeja nya sehingga tubuh bidang nya terekspos di depan mata ku.
Ia kembali menindih ku dan mencium bibir ku lagi, beralih ke leher.. begitu geli kurasakan hingga kedua tangan ku tanpa sadar membuat rambut rapi Morgan berantakan.
Ia membuka kedua kancing piyama ku dan mulai menelusuri bagian bawah leher ku.
Pakaian dalam dan belahan dada ku tentu terlihat olehnya malam itu, bibir nya semakin turun menjelajah ke bawah leherku dan kemudian kembali ke bibir ku.
TRiiiiiiing
Suasana intens kami yang sedang memanas tiba tiba terpecah keheningannya karena suara ponsel Morgan yang mendapat panggilan.
Seperti tidak ingin mempedulikannya, Morgan melanjutkan membuka kancing ketiga dan ke empat piyamaku. Ia menurunkan tali bra di bahu ku dan kembali mencium bahuku.
Namun tangan ku perlahan mendorongnya menjauh.
" Hentikan Morgan. Siapa tahu itu urusan yang penting.. lebih baik kamu mengangkatnya. " Kata ku menyarankan kepada Morgan untuk mengangkat panggilan telepon.
Selain itu aku juga merasa belum siap jika Morgan melakukan lebih dari itu.
Menyadari posisi kami yang sudah rawan, kami segera bangun dari sofa dan merapikan pakaian kami.
Morgan pun terlihat kesal dan tetap menuruti perkataan ku.
Benar saja, bahwa itu adalah panggilan dari asisten Morgan yang mendadak membawa kabar kurang menyenangkan.
Beberapa menit setelah Morgan menyelesaikan percakapannya di telepon.
" Besok lusa, aku harus berangkat ke Makau. " Kata Morgan lesu.
" Kenapa mendadak? " Tanya ku kaget.
" Ada masalah pekerjaan disana.. mungkin akan menghabiskan waktu sekitar seminggu. " Kata Morgan semakin lesu.
" Ya sudah.. mau bagaimana lagi. " Aku pun juga sebenarnya sedih.. karena percintaan kami yang sedang mekar mekar nya harus terjeda karena perjalanan bisnis.
" Maka nya, ijinkan aku menginap. " Kata Morgan memanfaatkan kesempatan untuk merengek lagi.
" Morgan.. kalau kamu menginap, aku takut.. kita akan berbuat kesalahan. " Jawab ku gugup.
" Saat ini.. jujur memang aku sangat menginginkannya.. tetapi jika kamu tidak mengijinkan, aku hanya akan tidur di samping mu dan memelukmu saja. Oke?? Please... " Kata Morgan dewasa.
Aku pun tersenyum melihat kegigihan Morgan, dan akhirnya memberi ijin kepadanya untuk menginap.
Alhasil.. malam itu aku percaya dan tidur dengan nyenyak..
Sedangkan Morgan, begitu gelisah dan tidak bisa tidur.. apalagi membayangkan apa yang kami lakukan ketika di sofa beberapa saat lalu.
__ADS_1
" Sepulang dari Makau, aku tidak akan melepaskanmu. " Gumam Morgan sambil memandang dan menyentuh bibirku dengan lembut.