
Part 39 " Patah Hati Steve "
Suasana kantor ku cukup crowded dengan banyak nya pekerjaan pada divisi masing masing.
Beberapa kali tentu saja aku bertemu dengan Steve namun tidak ada perubahan dengan keadaan hubungan kami, yang bahkan semakin terasa canggung.
Begitu terlihat Steve menghindar bertatap mata dengan ku, entag karena merasa malu dengan kejadian sebelumnya ketika ia hendak menciumku atau karena alasan lain.
Hari ini di studio 3, Monica sedang melakukan pemotretan produk nya untuk dipasarkan lewat STAR Corp. Aku berjalan ke studio untuk menyapa dan memberi selamat kepadanya atas kelancaran kerja sama Monica.
" Hai. " Sapa ku menghampiri Monica yang sedang bersiap, karena dia akan menjadi salah satu model foto pakaiannya bersama beberapa model lain.
" Hai. " Sahut Monica senang membalas sapaanku.
" Semoga semua berjalan dengan lancar ya. " Kata ku tulus dan ikut bangga.
" Thankyou ya. Disempetin mampir kesini. " Jawab Monica.
" Aku lagi break, siaran ku masih beberapa jam lagi. "
Kami pun melanjutkan beberapa obrolan sederhana kami, sampai waktu nya Monica unjuk kebolehan dengan berpose manis menampilkan aura model dan keindahan pakaian yang ia buat.
Ketika aku melihat dan kagum dengan pesona Monica, aku mendengar beberapa staf bergunjing di belakang ku.
" Jadi dia ya ceweknya pak Steve?? " Staf 1
" Gosipnya sih begitu. Beberapa hari ini mereka kelihatam dekat.. apalagi ada yang bilang, mereka melakukan hal tidak senonoh dalam ruangan. " Staf 2
Entah mengapa aku merasa terganggu mendengar percakapan mereka yang tidak berdasar fakta, apalagi aku juga ada di sana saat kejadian ciuman itu terjadi tanpa sengaja.
" Uhuk.. uhuk.. " Aku pun berusaha memberi kode kepada mereka untuk berhenti bergosip.
" Fokus pada pekerjaan, jangan bicara sembarang.. banyak telinga disini. " Gumam ku memberi peringatan kepada mereka dan bergegas pergi meninggalkan studio untuk melanjutkan pekerjaan ku.
Ketika aku baru saja melangkah keluar dari studio, begitu terkejutnya aku ketika melihat Steve yang sudah berdiri dengan ragu di depan studio.
Begitu ia melihatku, dengan cepat ia berbalik dan mengambil arah yang berlawanan.
" Tunggu Steve. " Dengan berani, aku pun mencoba menyelesaikan segala ketidak jelasan dan kecanggungan di antara kami yang kemarin sempat tertunda karena insidennya dengan Monica.
" Bisakah kita bicara berdua?? " Tanya ku to the point.
Rooftop kantor menjadi pilihan kami untuk berbincang jauh dari banyaknya pandangan staff lain.
__ADS_1
Aku pun memberanikan diri untuk membuka percakapan walaupun aku melihat rasa tidak nyaman di wajah Steve.
" Ehm.. tentang yang waktu itu... " Aku pun ragu.
" Tidak perlu dibahas. Aku sudah tahu kenapa Monica melakukannya. Karena dia adik Morgan." Sahut Steve langsung mengerti maksud dan arah pembicaraanku.
" Kamu tahu darimana? " Aku pun heran.
" Kami sempat bertemu dan mengobrol. "Jawab Steve seperlunya.
" Oh begitu.. " Aku mulai kehilangan kata kata lagi.
" Kenapa? Tidak mungkin kamu mengajakku bicara hanya untuk itu. " Sahut Steve dingin.
" Aku memutuskan untuk kembali bersama Morgan. " Jawab ku tanpa basa basi dan langsung pada intinya.
Begitu aku mengatakannya, Steve pun terdiam dan hanya menatapku dengan kecewa. Hal itu semakin membuatku yakin, bahwa lelaki ini menyukai ku.
" Oh.. ya.. selamat. " Jawab Steve tergagap.
" Maafkan aku. " Sahut ku yang merasa tidak enak.
" Waahh.. aku tidak bisa ber kata kata lagi. " Kata Steve seperti memendam emosi nya.
" Aku tidak ingin hubungan kita jadi canggung karena ketidak jelasan. Karena itu, maafkan aku. Aku harus mengatakan ini. " Kata ku lagi.
" Ehm.. aku tahu. Aku.. menghargai keputusanmu. " Jawab Steve dengan raut wajah yang murung dan mata ber kaca kaca.
" Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, aku kembali dulu. Banyak pekerjaan menungguku. " Pamit Steve meninggalkan ku.
Setelah ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi hubungan kami, apakah kami bisa kembali berteman atau malah sebaliknya.. menjadi semakin asing.
Namun setidaknya aku memiliki perasaan lega karena aku tidak mengulur waktu lagi dan memberikan harapan lebih kepada Steve, karena bagaimanapun hati ku tertuju kepada Morgan.
Selesai bekerja, Morgan menjemputku di kantor. Ketika aku menunggu nya di lobby, tanpa sengaja Steve juga keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan ku, dan seorang driver membukakan pintu untuknya.
Kami saling bertatap mata meskipun suasana tampak belum membaik di antara kami, tidak ada sapaan.. tidak ada senyuman.. Steve yang selama ini kukenal sebagai junior yang menyenangkan dan ramah, berubah dalam sekejap di hadapan ku.
Ia tidak mengambil banyak waktu dan sesegera mungkin berpaling dari ku masuk ke dalam mobil miliknya.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan meyakinkan diriku bahwa semua pasti akan segera berlalu seiring berjalannya waktu.
Terdengar suara klakson mobil dan ternyata Morgan sudah datang tepat di belakang mobil Steve.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, aku langsung masuk ke dalam mobil Morgan dan bergegas pergi bersamanya.
" Kenapa kamu terlihat lesu?? Lagi sakit? " Tanya Morgan mengkhawatirkan aku.
" Oh.. engga, aku baik baik aja. " Jawabku menghindari pertanyaan Morgan.
" Jangan bohong. Aku tahu kalau kamu memikirkan sesuatu. " Tebak Morgan tepat sasaran.
" Ehm.. aku hanya sedang merasa tidak enak hati terhadap Steve. " Jawab ku mulai bercerita jujur.
" Steve?? CEO sombong itu? " Kata Morgan yang memang sejak awal tidak menyukai Steve.
" Aku.. hari ini aku menolak perasaannya. " Sahut ku to the point.
Dan Morgan yang terkejut tanpa sadar menghentikan mobil dengan mendadak ke tepi jalan.
CKiiiitttt
" Kenapa??? " Sontak aku kaget dengan kejadian berbahaya ini.
" Apa maksud mu? Jadi dia ingin berusaha merebutmu dari ku??? Kurang ajar.. " Sahut Morgan terbakar cemburu.
" Bukan.. bukan begitu. Ehmm... Dia memang sempat ingin meminta kesempatan padaku, tapi dia belum sampai menembak ku kok.. Dan hari ini aku secara langsung mengatakan bahwa aku tidak bisa bersamanya. " Kata ku menjelaskan.
" Bagus lah. Seharusnya dia tahu diri dong, jelas jelas kamu itu punya aku.. " Kata Morgan membuat ku tertawa lucu. Akhirnya aku bisa kembali melihat sikap menggemaskan CEO ini.
" Kamu jangan dekat dekat dia lagi.. Aku takut dia akan melakukan seuatu padamu. " Lanjut Morgan khawatir dan berpikir jauh.
" Jangan negatif thinking.. Steve bukan lelaki seperti itu kok. Yaahh.. walaupun mungkin kami akan canggung, tapi aku tidak mau menggantung perasaannya. " Ungkap ku mencoba membela Steve.
Kemudian tiba tiba Morgan menyentuh dagu ku hingga aku melihat ke arah wajahnya yang mendekat.
" Mulai hari ini aku akan semakin protektif kepadamu.. aku percaya kepadamu, tapi aku tidak percaya pada lelaki lelaki yang ada di sekitarmu. Seharusnya sejak awal aku sungguh sungguh membeli perusahaan mu. " Gumam Morgan seperti anak kecil.
Aku pun sangat merasa gemas melihat tingkah Morgan, dengan spontan aku mengecup pipinya.
" Dasar cemburuan. " Guman ku mengejek Morgan yang jadi tersipu malu mendapat ciuman mendadak dari ku.
" Kamu kok ga kasih aba aba, aku kan belum siap. " Ucap nya tergagap.
" Memang nya lomba lari, pake aba aba segala."
Ciuman kecil itu ternyata ampuh untuk mengembalikan mood Morgan yang sempat terbakar cemburu.
__ADS_1
Kami pun melanjutkan perjalanan dan Morgan menggenggam tangan ku selama perjalanan menuju restoran untuk makan malam bersama.