
Halo readers ku tercinta.. Maaf ya seminggu lebih belum sempat update bab baru, karena kerjaan lagi numpuk yang mengharuskan ke luar kota..
Terima kasih untuk semua readers yang setia menanti.. mari kita lanjutkan perjalanan cinta Morgan dan Sesil.. love love love 💕
Part 65 " Teringat Rosa "
Pagi hari yang tenang, aktifitas di penthouse Morgan berlalu seperti biasa dengan aura penuh cinta. Memasuki hari ke 43, aku dan Morgan sudah saling jujur dengan perasaan masing masing.
Walaupun setiap hari kami bertemu, saling memberi kasih sayang.. namun masih terasa tidak ingin jauh.
Semakin hari hubungan ku dengan Mitzy juga semakin erat, bahkan aku sudah tidak asing lagi diperlakukan sebagai ibu olehnya.
Di tengah lamunan ku yang duduk di sebelah Mitzy yang sedang asyik bermain, tiba tiba senyuman gadis kecil ini mengingatkan ku pada bayangan seorang Rosa.
Untuk sesaat, aku yang terlena dengan kebahagiaan ku bersama Morgan.. melupakan sesuatu, bahwa sampai kapan pun.. Rosa adalah ibu yang melahirkannya.
" Bu Asih. " Panggil ku tiba tiba menghampiri bu Asih yang sedang mencuci buah di dapur.
" Ya nyonya.. anda membutuhkan sesuatu?" Tanya bu Asih.
" Ehm.. aku ingin mengetahui sesuatu.. " Kata ku ragu.
" Tanyakan saja nyonya, selama saya bisa membantu.. pasti saya jawab. "
" Apa Morgan pernah membicarakan tentang Rosa kepada Mitzy? " Tanya ku membuat ekspresi bu Asih tertunduk dalam kesedihan.
" Hmmm.... " Bu Asih tiba tiba menghela nafas panjang.
" Dari semenjak Nona Mitzy hadir, satu hal yang selalu di khawatirkan oleh Tuan Morgan.. ketika gadis kecil itu kelak beranjak dewasa, dan menanyakan tentang ibu nya. " Jawab bu Asih mulai bercerita.
" Selama ini Tuan Morgan tidak pernah membiarkan Nona Mitzy kekurangan kasih sayang. Namun beliau juga tidak pernah membahas tentang bu Rosa di hadapan anaknya. " Jawab bu Asih membuat ku terharu.
" Jadi selama ini.. Mitzy.. tidak pernah mendengar nama ibu kandung nya? " Gumam ku jadi sedih.
__ADS_1
" Benar nyonya.. Dunia Nona Mitzy hanyalah Tuan Morgan seorang. " Kata bu Asih mempertegas.
Setelah beberapa saat kami berbincang, aku pun memutuskan untuk mengajak Mitzy keluar rumah.
Aku dengan yakin membawa Mitzy ke makam Rosa atas petunjuk bu Asih.
Meski menempuh perjalanan yang cukup jauh karena berada di tempat pemakaman elit, aku tetap teguh dan yakin untuk pergi menemui Rosa sambil membawa beberapa bunga mawar putih untuk wanita itu.
Langkah demi langkah kecil Mitzy mengikuti ku tanpa mengetahui kemana aku akan mengajaknya.
Setelah beberapa saat, aku bisa melihat makam yang ditumbuhi rumput hijau yang segar dan sebuah nisan keramik yang tertulis nama Rosa.
Aku meletakkan bunga di atas makam nya, dan tanpa terasa air mata ku terus mengalir.
" Mommy.. ini apa? " Tanya Mitzy dengan polosnya.
" Hiks hiks hiks.. " Namun aku yang masih sesegukan, belum bisa menjawab Mitzy.
" Mommy.. kenapa nangis? mommy sakit? " Tanya Mitzy sekali lagi sambil memeluk ku.
" Maafkan aku baru datang mengunjungi mu.. Aku terlalu sibuk memikirkan perasaan ku sendiri, hingga aku sempat lupa tentang mu. Hiks hiks.. aku sudah membaca surat mu.. surat yang membuat ku begitu kecewa, karena kita tidak sempat bertemu dan berdamai.. " Kata ku dalam tangisan.
" Mitzy.. " Aku pun mencoba membuat Mitzy untuk melihat ke arah makam ibu nya.
" Kelak.. ketika kamu sudah dewasa, mommy.. akan men menceritakan semua nya kepada mu.. jangan pernah melupakan tempat ini.. hiks hiks.. " Kata ku lembut pada Mitzy yang terlihat bingung.
Hari pun mulai malam, aku dan Mitzy yang menempuh perjalanan cukup jauh dan melelahkan akhirnya sampai di rumah.
Tampak Morgan yang sudah duduk santai sambil menyesap secangkir kopi menunggu kami.
Mitzy yang terlelap dalam tidur dengan segera di ambil alih oleh bu Asih dan dekapan ku.
" Kalian dari mana saja? Kenapa kamu tidak bisa dihubungi??" Tanya Morgan khawatir.
__ADS_1
" Oh.. itu.. aku abis jalan jalan sama Mitzy. Aku kehabisan batrei. " Jawab ku menutupi, untuk menjaga perasaan Morgan.
" Nah.. kan.. firasatku tidak pernah salah, inilah alasan kenapa kamu harus selalu pergi dengan pengawal ku.. " Sindir Morgan yang merasa lega karena memperketat penjagaan penthouse miliknya.
" Kamu aja yang lebay.. lagian aku juga jarang kok kehabisan batrei. " Jawab ku sambil duduk di sebelahnya.
" Oya.. jadi.. kapan??? " Tanya Morgan tiba tiba kepadaku dengan senyum nakal di wajahnya.
" Hah?? apanya?? " Sahut ku tidak mengerti.
" Ya kapan aku bisa menemui keluarga mu.. dan mengatakan semuanya tentang hubungan kita. " Kata Morgan to the point.
" Morgan.. jangan buru buru.. timing nya masih belum tepat. " Jawab ku yang belum memikirkan sejauh itu.
" Terus yang tepat itu kapan?? Jangan bilang.. kamu meragukan aku.. dan mau meninggalkan aku lagi.. " Sahut Morgan memandang tajam dan semakin mendekat ke arah ku.
" Jangan negatif thinking. Sabar.. kita jalani dulu semua satu satu.. " Kata ku merasa terintimidasi.
" Hmm.. sebenarnya aku sudah sangat tidak sabar untuk memiliki mu seutuhnya.. aku ingin, segera menikahi mu. " Ungkap Morgan to the point membuat ku sangat terkejut.
" Morgan.. aku gak menyangka kamu sudah berpikir sejauh itu, padahal kita kembali bersama belum ada sebulan. " Sahut ku yang merasa lucu melihat tekad Morgan.
" Hmm jangan menertawakan aku.. sejak berpacaran dengan mu, aku memang sudah serius. Hanya saja, banyak rintangan yang mengharuskan kita berpisah.. " Gumam Morgan sambil menggenggam tangan ku.
" Aku tidak mau kehilangan kamu lagi.. karena itu, aku ingin menjadikan ku milik ku sepenuhnya. " Lanjut Morgan sambil menatap ke kedua mata ku.
Aku bahkan bisa merasakan keseriusan Morgan saat mengatakannya, hal itu membuat jantung ku berdebar setengah mati namun apa daya.. keluarga ku masih sulit untuk dijangkau olehnya, apalagi.. status Morgan yang saat ini adalah seorang duda beranak 1.
" Morgan.. aku.. juga ingin selalu bersama mu dan Mitzy.. tapi masih banyak hal yang harus kita lalui, terutama keluarga ku.. perlahan tapi pasti.. kita pasti bisa.. " Kata ku mencoba meyakinkan Morgan sambil menyentuh pipi nya.
" Hmmm.. yaahh.. brati kasian Mitzy harus sabar nunggu adik nya jadi, entah berapa tahun lagi. " Sindir Morgan menggoda dan membuat ku tersipu malu.
" Morgan.. kamu ngomong apa sih.. nanti di dengar bu Asih, kan malu. " Sahut ku sambil mencubit pipi Morgan yang iseng.
__ADS_1
Canda tawa pun kembali menghiasi suasana kami yang tadi nya sedang serius membicarakan masa depan hubungan kami.
Meskipun masih belum terlihat dan tidak bisa kami ketahui apa yang selanjutnya akan dilalui, namun kali ini aku dan Morgan ingin saling menggenggam erat satu sama lain.. tidak ingin saling kehilangan untuk yang kedua kali nya.