
Part 32 " MT (Management Trainee) "
Aku sedang berada dalam perjalanan MT ke sebuah villa mewah milik perusahaan.
Aku dan Nindi duduk santai di dalam bus yang saat ini sedang melewati berbagai lembah dan bukit yang hijau dan sejuk udaranya.
Program management trainee memberi keuntungan untuk perusahaan karena dapat mengidentifikasi kandidat potensial.
Management trainee akan memberikan pemahaman lebih baik tentang komunikasi secara efektif, termasuk saat berdiskusi dengan klien atau rekan kerja, baik lewat telepon atau surat elektronik. Terutama gaya komunikasi verbal umumnya yang menjadi pekerjaan inti kami sebagai pembawa berita atau lain sebagainya.
Semua divisi baik senior maupun junior mengikuti perjalanan wajib yang biasa di adakan setahun sekali ini.
Kami memakai pakaian lebih santai yang diberikan perusahaan, yaitu kaos dengan warna dasar putih bercorak biru dan dipadupadankan dengan celana jeans hitam serta sepatu kets.
Sesampainya disana, sudah terlihat Steve yang bukan rahasia lagi bahwa ia adalah penerus kerajaan bisnis ayahnya sudah berdiri menyambut kami di teras villa bersama beberapa ajudannya.
Hubungan kami sudah renggang sejak seminggu lalu, tepat setelah kebenaran tentanf dirinya terungkap.
Aku tentu saja dengan sigap menjaga jarak karena aku merasa tidak nyaman.
Namun hal berbeda di tunjukkan dengan perlakuan Steve yang seperti tidak terjadi apapun.
" Hai. " Sahut nya sambil memberiku sebotol air mineral.
" Oh.. hai, maksud ku.. selamat pagi. " Kataku merevisi karena lupa jika statusnya sudah berubah.
" Sudah kubilang jangan terlalu formal seperti itu. " Kata Steve protes.
" Bisakah.. saat di tempat kerja, kita bersikap profesional saja.. jangan memperlakukan ku berbeda dengan yang lain, aku tidak ingin terjerat masalah lagi. " Jawabku mempertegas keadaan dan Steve pun langsung menunjukkan ekspresi kurang senang.
Namun aku tidak mengindahkannya dan pergi meninggalkan dirinya untuk memasuki aula villa yang luas dan terlihat sekitar 70 kursi sudah tertata rapi disana.
Acara kami akan sering di isi dengan seminar, baik seminar pengetahuan maupun succes story. Tak lupa juga akan diselingi dengan game game outdoor.
Aku mengetahui informasi iti dari Nindi yamg ditunjuk sebagai koordinator, jadi tidak heran jika dia sesekali akan meninggalkanku karena mengurus sesuatu.
Semua staf duduk di bangku masing masing dan menyiapkan beberap alat tulis.
Ketika semua sudah terkoordinasi, pembicara tamu pun masuk ke aula kami.
Morgan Ricardo.
Pembicara tamu yang secara khusus di undang oleh ayah Steve untuk memberi materi seminar.
__ADS_1
Ia berjalan dengan tegap sambil menebar senyuman cool memakai kaos yang sama seperti peserta dilengkapi jas dan jeans casual.
Semua mata terutama staf wanita begitu antusiaa melihat perawakan yang hampir sempurna itu, namun aku.. tiba tiba rasa pusing melanda kepala ku.
' Kenapa?? Kenapa harus bertemu dia disini. ' Kata hatiku dalam sekejap lemas dan menyandarkan kepala ku ke meja.
Rasanya ingin pulaaaang....
Namun berbeda dengan staf di sebelah maupun belakang tempat duduk ku.
" Waahh.. aku rela MT berhari hari, kalau begini caranya. Ada Morgan.. ada Steve.. pemandangan yang jarang terjadi. "
" Ini sih refreshing mata namanya. "
" Iya, mana bisa konsen kalau banyak pangeran bertebaran begini. "
Yaahh kurang lebih begitulah pembicaraan mereka yang begitu menikmati visual dua lelaki itu.
Namun mengapa.. mengapa bagiku, dua lelaki itu begitu memusingkan di kepala ku.
Morgan pun membuka seminar dengan kharisma yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Sebisa mungkin aku menundukkan kepala ku tidak ingin melihatnya dan bersembunyi di balik punggun rekan ku yang duduk di deretan depan.
' Oh my God. Aku pasti jadi trending topic lagi. ' Batin ku yang pasrah, dimana sekejap yang lalu orang orang lupa.. bahwa aku adalah mantan kekasih Morgan.
" Lalu bagaimana menjadi news atau presenter anchor yanh baik?? Sama dalam dunia bisnis.. prinsip ini selalu saya tanamkan dalam benak saya.. Jangan pernah malu dan berhenti untuk belajar.. termasuk belajar dari orang lain. " Ucapan demi ucapan Morgan memang terdengar begitu indah, hingga sempat membuat ku terbuai dan tidak bisa membohongi perasaan ku bahwa.. aku masih menyukainya.. sangat menyukai nya.
Tiba tiba di tengah lamunan ku, lagi lagi kedua mata Morgan tertuju padaku dan memberi sebuah pertanyaan.
" Menurut anda.. karena anda adalah news anchor favorit saya.. Menurut anda, apa yang harus dilakukan untuk menjadi news anchor yang baik?"
BOOM.. sebuah pernyataan dan pertanyaan tak terduga, Morgan berikan kepadaku dan membuatku kembali menjadi pusat perhatian.
" Ehm.. untuk menjadi news anchor yang baik.. bekal pengetahuan dan wawasan luas sangat wajib.. ehm kemudian.. melatih intonasi suara... laluu... mau belajar dan Seorang news anchor harus memiliki sikap yang baik karena mereka juga sesekali harus bertemu dan berinteraksi langsung dengan orang lain. " Jawab ku sebisa yang terlintas dalam benak ku dengan sangat gugup.
" Nah.. bersikap baik adalah point paling penting.. Dalam hidup, kita akan selalu bertemu dengan berbagai macam karakter manusia.. seberapapun dia tidak menyenangkan, seberapapun tidak nyaman dalam berinteraksi dengan nya.. setidak nya, kita bisa tetap baik menghadapi nya. Benar begitu kan?? " Tanggapan Morgan yang penuh penekanan seakan memang ditujukan untuk ku yang selalu bersikap tidak baik kepadanya setelah hubungan kami berakhir.
" Tidak sepenuhnya benar. " Jawab ku dengan berani dan tatapan tegas kepadanya.
" Sesekali menunjukkan apa yang ada dalam hati, itu lebih baik daripada harus berpura pura Baik Baik saja. Itu hanya pendapat pribadi saya tentang bersikap baik.. tapi untuk seorang news anchor, apapun itu.. saat bekerja, ya memang harus bersikap baik.. itu sudah sewajarnya. " Jawab ku membalas dengan penuh penekanan juga, tidak ingin terintimidasi oleh Morgan.
Mendengar jawaban ku.. lelaki itu malah tersenyum dan kembali ke panggung nya.
__ADS_1
' Dia tidak berubah. Wanita ku.. yang selalu membuat ku bangga dengan pemikirannya. ' Kata hati Morgan merasa bernostalgia dengan sikap ku yang selalu bisa membela diri ketika mendapat serangan verbal, dan selalu menjadi diri sendiri apa adanya.
Ternyata tidak hanya Morgan yang tersenyum dan kagum padaku,
Tatapan dan senyuman lain juga datang dari arah Steve yang rela melihat ke bangku belakang untuk waktu lama, tempat dimana aku duduk dan dia memperhatikan ku.
" Good job Sesil, bangga banget. " Sahut Nindi saat setelah selesai seminar dan diberi waktu bebas untuk beristirahat.
Kami masuk ke kamar untuk meletakkan barang.
" Aku tidak akan terintimidasi olehnya. Dia duluan yang mencari masalah dengan ku. " Sahut ku bertekad.
" Aku pasti mendukungmu. Lelaki brengsek itu, harus diberi pelajaran. " Kata Nindi yang juga membenci seorang Morgan.
" Sepertinya.. memang sudah takdir ku berada dalam lingkaran CEO ini. Belum selesai hati ku membereskan tentang Morgan, sudah ada lagi Steve yang aneh. " Gumam ku mengeluh.
" Hmmm... sabaarrr.. " Kata Nindi menguatkanku.
Ketika jam bebas, terlihat para bos seperti Morgan dan Ayah Steve sedang berbicara santai di gazebo villa sambil menikmati secangkir teh hangat.
" Terima kasih Morgan, kamu mau meluangkan waktu untuk mengisi acara disini. Aku kira kamu akam sangat sibuk. " Ayah Steve.
" Sama sama pak. Sudah lama aku tidak mengikuti acara bebas seperti ini, begitu menyenangkan. " Jawab Morgan.
" Sebentar lagi aku akan mengikuti jejak papa mu. Aku akan menyerahkan semua urusan perusahaan kepada putra ku. Mohon bimbing dia Morgan, agar dia bisa sesukses dirimu. " Kata Ayah Steve yang mengagumi sosok Morgan.
" Tidak perlu pa. " Sahut Steve memotong pembicaraan, dan terlihat di ekspresi wajahnya.. ia tidak welcome dengan kehadiran Morgan.
" Nah Steve.. kebetulan.. perkenalkan, dia Morgan.. kamu bisa banyak bertuka pikiran dengannya dan mengikuti jejak kesuksesannya. " Kata ayah Steve tidak menyadari situasi.
" Aku akan lebih sukses darinya. Papa jangan khawatir. " Jawab Steve sambil menjabat dingin tangan Morgan yang menyadari ketidaksukaan Steve padanya.
" Buktikan kalau begitu. Buktikan kalau kamu bisa lebih sukses daripada aku. " Jawab Morgan tidak kalah dingin dan menunjukkan sikap angkuh.
Ayah Steve pun menerima panggilan dan meninggalkan mereka berdua mengobrol sendirian.
" Kamu terlihat jauh lebih muda dari ku. " Sahut Morgan yang 4 tahun lebih tua dari Steve.
" Walaupun aku jauh lebih muda, tapi aku rasa... aku lebih gentle dan bertanggung jawab. " Sindir Steve yang membenci Morgan karena mengetahui kisah cinta memilukan Sesil. Wanita yang disukai nya.
" Ehm.. aku tidak tahu alasan mengapa kamu begitu tidak menyukai ku. " Kata Morgan to the point, tanpa pandang bulu.
" Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan.. jangan membangunkan seekor singa yang sedang tidur. " Bisik Morgan sedikit mengintimidasi Steve.
__ADS_1