Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
WORK DAY


__ADS_3

Part 48 " Work Day "


Aku dan Tiara sudah bangun lebih pagi hari ini, kami bersiap dan berdandan serapi serta semenarik mungkin untuk mengikuti meeting project hari ini.


Aku memutuskan untuk memakai slim dress berwarna mustard dilengkapi blezzer putih dan sepatu heels putih yang membuat kaki ku lebih jenjang.


Aku sedikit menata rambut ku setengah kebelakang dan merias tipis wajah ku, hingga terpancar aura keanggunan.


Aku membawa ipad ku yang berisi materi dan siap untuk menjadi moderator perusahaan bahkan menajamkan banyak bahasa untuk membantu Tiara ketika bernegosiasi dengan para rival asing lainnya yang pasti hadir juga di meeting itu.


Dengan percaya diri aku dan Tiara melangkah memasuki ruangan.


Terlihat beberapa orang asing dari berbagai perusahaam sudah berkumpul disana dan siap mempresentasikan materi masing masing.


Masing masing juga membawa public speaking masing masing untuk menunjang pekerjaan.


Dan disini lah, ketegangan dimulai selama beberapa jam ke depan.


Sedangkan di Kamar Morgan,


Ting tong.. suara bel kamar Morgan berbunyi.


Morgan yang sedang menyisir rambut ikal Mitzy pun bergegas membukakan pintu.


" Hai kak.. " Sapa Monica yang menyusul mereka ke Kuala Lumpur setelah urusan pekerjaannya selesai.


" Ayo masuk. "


" Waahhh... Mitzy ku sudah mandi.. Mandi sama daddy yaa.. " Ucap Monica sambil menghujani Mitzy dengan ciuman.


" Hari ini jadwal ku padat.. ada 2 klien yang harus kutemui. " Kata Morgan kepada Monica sambil memasang dasi dengan mandiri.


" Tenang aja kak. Biar aku yang urus Mitzy. " Kata Monica yang kemudian sigap membantu kakak nya merapikan dasi.


" Thankyou. Kakak ga tau apa jadi nya kalau ga ada kamu. " Kata Morgan berhutang budi pada Monica.


Dalam sekejap, ekspresi Monica berubah menjadi gelisah.


" Kak.. boleh aku mengatakan sesuatu?" Tanya Monica ragu.


" Apa?? Katakan saja. " Sahut Morgan dengan santai sambil memakai jas nya.


" Sampai kapan kakak mau menyendiri? Mitzy dan kakak.. membutuhkan seseorang untuk merawat kalian. " Ungkap Monica mengkhawatirkan Morgan dan Mitzy.


" Untuk apa.. kan aku punya kamu.. punya mama papa dan punya Adit.. " Jawab Morgan santai tanpa pikir panjang.


" Tapi suatu saat.. aku tidak mungkin bersama kakak terus kan.. mama papa juga.. " Perkataan Monica pun membuat Morgan terdiam dan sedikit berpikir.

__ADS_1


" Kita pikirkan itu nanti. Jangan merasa terbebani, kamu bebas dengan hidup mu.. ketika saatnya nanti kamu menikah, kakak sendiri yang akan full menjaga Mitzy. " Jawaban Morgan yang tetap kukuh dengan kesendiriannya.


" Kak.. jangan egois. Mungkin kakak bisa hidup sendiri, tapi bagaimana dengan Mitzy? Dia juga butuh sosok yang bisa membantu mengikat rambut nya.. memilihkan pakaian untuk nya.. mendandani nya ketika bertumbuh remaja.. " Bentak Monica yang begitu geram dengan kesendirian kakak nya, seperti mayat hidup.


Perkataan Monica tentu menyentuh hati Morgan, tetapi hati nya yang sudah keras membuat nya tidak bisa luluh lagi.


" Aku akan melakukan semuanya. Aku tidak ingin mempercayai siapapun lagi, apalagi memberikan hati ku kepada siapapun. Kamu tahu, bagaimana sakit nya ketika aku sedang berjuang.. namun dengan mudah aku ditinggalkan bahkan tanpa sepatah kata.. Kamu pasti masih mengingatnya kan, bagaimana menderitanya aku. " Jawab Morgan dengan nada yang mulai emosional, namun Monica bukan merasa takut.. tapi merasa semakin kasihan pada kakak nya.


" Sudahlah.. aku tidak ingin berdebat lebih panjang dengan mu. Aku pergi dulu. " Pamit Morgan dan mencium Mitzy sebelum ia pergi.


Ia juga membelai kepala Monica yang saat ini meneteskan air mata melihat kehidupan kakak nya yang tampak tak berarti.


Di mata orang lain, Morgan adalah lelaki hebat yang memiliki dan mencapai segalanya..


Namun di mata Monica dan keluarga nya, Morgan hanyalah seorang pria kesepian yang patah hati begitu dalam.


Situasi kembali pada ku..


Aku dan Tiara sudah menyelesaikan apa yang menjadi bagian kami, dan sekarang tinggal menunggu hasil yang akan di umumkan seminggu kemudian.


Aku dan Tiara berjalan lega menuju cafe hotel untuk membeli minuman yang bisa menyegarkan kami.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat karena pertemuan yang menegangkan selama beberapa jam tadi.


" Sesil.. aku ke kamar dulu ya. " Pamit Tiara tiba tiba, padahal ia belum sempat menikmati minumannya.


" Aku rasa sedang tidak aman (datang bulan).. aku akan segera kembali menemani mu. Tunggu ya. " Tiara pun bergegas lari sebelum ia membuat malu dirinya sendiri.


Aku pun tersenyum kecil melihat tingkah Tiara.


Dengan santai dan merilekskan tubuh ku, aku meneguk minuman dingin yang disajikan.


Tanpa sengaja mata ku terarah ke kursi balita dan melihat anak perempuan yang bertemu dengan ku kemarin.


Lagi lagi aku melihat nya duduk sendirian, namun situasi saat ini berbeda.. dimana aku melihat ada 2 pria berjas hitam berdiri tidak jauh dari meja nya.


" Mitzy.. " Karena rasa gemas ku dan rasa suka ku melihat anak itu, aku iseng menghampiri nya dan melambaikan tangan.


" Hai.. kamu ingat aku?" Kata ku sambil duduk di samping nya.


Entah mengapa.. aku begitu menyukai anak ini.


" Ma.. ma.. maaa... " Sahut nya dengan suara lucu tersenyum melihat ku.


" Oh.. kamu mau makan.. pintarnyaa... " Sahut ku memberikan sepotong kentang goreng yang terlihat tersaji di meja nya.


" Anda siapa??? " Terdengar suara seorang wanita yang cukup keras dari arah belakang ku.

__ADS_1


" Sorry.. aku cuma... "


Begitu terkejutnya aku ketika memalingkan tubuh ku, bibir ku berhenti bicara dan sangat shock melihat seorang Monica yang selama 3 tahun tidak berjumpa dengan ku.


" Sesil !!! " Teriak Monica tidak kalah shock nya dengan ku.


Tanpa pikir panjang, kami pun saling berpelukan dengan tangis haru.


" Bagaimana bisa.. kita bertemu disini. " Kata ku yang terharu tidak menyangka.


" Bagaimana kabar mu... aku tidak percaya kita bisa bertemu disini. Hiks hiks hiks. " Sahut Monica yang begitu senang bertemu dengan ku hingga berderai air mata.


Sesaat kemudian kami melepas pelukan dan berbincang dengan lebih tenang.


" Aku ga nyangka bisa ketemu kamu disini. Gimana kabar mu??" Tanya ku pada Monica.


" Aku baik baik saja. Aku benar benar sangat senang bisa bertemu dengan mu. " Jawab Monica, dan tiba tiba ekspresi wajahnya berubah saat melihat ku berada di samping Mitzy.


" Kamu.. mengenalnya? " Kata Monica sambil mengarahkan pandangannya ke arah si kecil Mitzy.


" Dia putri mu ya? Aku sempat bertemu dengan nya kemarin. " Jawab ku tanpa curiga.


Monica pun menggendong Mitzy dan memperkenalkannya kepadaku.


" Dia bukan anak ku, dia Mitzy.. putri kak Morgan."


Mendengar itu, jantung ku sangat berdebar dan seperti di hantam dengan keras.


Aku sungguh tidak menyangka bahwa anak kecil yang mencuri perhatian ku sejak kemarin adalah putri Morgan.


" Pu..tri.. Morgan??" Kata ku tergagap tidak percaya sambil membelai lembut pipi anak itu.


Aku tidak menyangka, dia sudah tumbuh secantik dan selucu ini.


" Lalu.. dimana.. Rosa??? " Tanya ku sambil melihat sekeliling mencari keberadaan ibu kandung Mitzy.


" Dia.. sudah tidak bersama dengan kami. " Jawab Monica sedih.


" Maksud mu, mereka benar benar sudah bercerai?? " Tanya ku merasa kasihan melihat Mitzy.


" Mereka tidak bercerai.. Rosa.. meninggal seminggu setelah melahirkan. " Jawab Monica lagi lagi membuat ku shock tidak percaya dengan apa yang kudengar.


Tangis ku pun pecah dan kaki ku serasa lemas mendengar kabar itu dari Monica.


" Oh iya.. bisakah kamu ikut aku sebentar?? " Tanya Monica mengisyaratkan sesuatu.


Aku pun mengikuti nya dengan perasaan yang campur aduk.

__ADS_1


Di satu sisi aku senang karena anak Morgan bisa lahir dengan selamat mengingat perbuatan Rosa yang berulang kali membahayakan, namun di sisi lain aku juga sedih mendengar kepergian Rosa bahkan disaat ia belum sempat membesarkan anaknya.


__ADS_2