Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
THE POWER OF MORGAN


__ADS_3

Part 18 " The Power Of Morgan "


Suasana di ruang kerja ku dalam sekejap hening dan semua mata terpana melihat seorang Morgan yang saat ini hanya diam mengamati berdiri di sebelahku.


Seorang pengusaha muda yang beberapa kali masul dalam headlight berita kami, berada disinu entah dengan tujuan apa.


Dunia ku seakan runtuh dan malu menghadapi kenyataan ini.


Baru beberapa menit yang lalu aku merasakan surga ketika Morgan bersikap romantis kepada ku, sekarang suasana mendadak menjadi neraka.


" Kamu mau ngapain? Kenapa ga balik ke kantor. " Bisik ku penuh penekanan pada pacar misterius ku ini.


" Aku sedang mengamati gedung kantor mu ini." Jawab nya santai sambil tersenyum licik.


" Untuk apa Morgan?? Kamu ga malu.. kita jadi pusat perhatian begini. " Sahut ku dengan senyum terpaksa.


Sesaat kemudian produser ku datang dan langsung terkejut melihat kehadiran Morgan.


Ia pun membersihkan tangannya dan dengan sopan memberikan salam hangat kepada Morgan.


" Selamat pagi pak.. tidak menyangka, anda akan mampir ke kantor kami. Apa yang bisa kami bantu pak?" Kata pak produser sangat sopan.


" Ehm.. kebetulan, saya sedang menemui Sesil. " Jawab Morgan sambil mengangkat tangannya yang sedang menggandeng ku dengan bangga.


" Oh begitu.. tenang saja.. Saya dan rekan rekan selalu menjaga Sesil. Dia adalah anchor kebanggaan kami. " Puji pak produser tiba tiba membuatku mual.


Aku sangat merinding dengan situasi ini, begitu canggung dan tidak nyaman.


" Terima kasih banyak. Ngomong ngomong.. apa saya bisa bertemu dengan CEO disini? " Tanya Morgan mendadak membuat semua orang tercengan dan penasaran, terlebih lagi aku.


" Anda ingin menemui CEO kami?? Apakah sudah memiliki janji temu sebelumnya? " Tanya pak produser ragu.


" Belum sih. Pemikiran ku ini muncul dengan mendadak saat sampai disini. Ehm.. aku ingin mengakuisisi perusahaan ini. " Kata Morgan dengan percaya diri dan senyum penuh keyakinan.


Kedua bola mata ku langsung terbelalak kaget mendengar perkataan gila yang keluar dari mulut Morgan di hadapan para karyawan.


" Permisi pak.. saya perlu bicara sebentar dengan pak Morgan. " Sahut ku dengan segera menghentikan omong kosong ini dan menarik Morgan ke tempat sepi di tangga darurat kantor yang jarang dilewati staf.


" Kenapa?? Aku belum selesai bicara. " Kata Morgan tidak terima.


" Morgan.. kamu habis makan apa sih? Kenapa jadi aneh.. pagi pagi bersikap romantis tidak seperti biasanya, sekarang kamu mau membeli perusahaan.. apa kamu tidak waras? " Tegur ku merasa kesal.


" Memang nya salah ya seorang pebisnis sepertiku ingin mengakuisisi perusahaan.. aku belum melebarkan bisnis ku ke dunia pertelevisian.. aku pikir aku bisa mencobanya.. lagipula kita juga bisa setiap hari bertemu, aku bisa setiap saat mengajakmu pergi tanpa memandang jam kerja.. karena kantor ini milik ku dan aku bosnya. " Kata Morgan dengan gampangnya menjelaskan rencana tidak masuk akal itu.

__ADS_1


" Hmmmm... " Aku hanya menarik nafas dalam dan menahan emosi ku, karena bagaimana pun  kami baru bertemu setelah LDR.


" Kamu.. kamu gak setuju? " Tanya Morgan mulai khawatir melihat ekspresi ku.


" GAK. " Jawab ku membentak.


" Gunakan saja uang mu untuk yang lain.. jangan manfaatkan tempatku bekerja untuk kepuasan mu sendiri dong. Aku tidak mau punya hubungan seperti itu. Berpacaran denganmu itu sudah cukup sulit.. banyak orang akan berkata bahwa aku terlalu beruntung.. karier ku akan bagus karenamu, aku akan sukses juga karena namamu.. aku tidak suka.. aku lebih suka orang lain menghargai hasil kerja keras ku, bukan karena dukungan seorang Morgan Ricardo. " Ungkap ku meluapkan semua isi hati dan membuat Morgan terdiam.


" Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meremehkan pekerjaan mu. Aku hanya ingin mencari cara agar setiap hari bisa bersamamu." Kata Morgan yang tiba tiba memelas, dan membuatku merasa bersalah telah memarahinya.


" Morgan.. kita jalani hubungan ini seperti pasangan biasa pada umumnya saja ya. Jangan gunakan uang atau kekuasaan mu, aku hanya ingin kita menjalin hubungan biasa.. " Kata ku mencoba membuat pemikiran rumit Morgan menjadi sederhana.


Ia pun menarik tubuhku dan memeluk ku dengan lembut.


" Iya iya.. aku tidak akan begitu lagi. Sorry, jangan marah lagi. " Jawab nya membuat ku lega dan bisa tersenyum kembali.


" Maafkan aku juga, sudah membentakmu. " Kata ku meminta maaf dan kami pun akhirnya bisa selaras kembali.


" Kalau begitu, aku kembali ke kantor dulu ya. " Pamit Morgan yang masih punya banyak pekerjaan di kantornya dan melepaskan pelukannya.


Aku pun berhasil berpisah dengan Morgan pagi itu dengan damai, namun ketika aku membuka pintu ruang kerja ku..


Banyak pasang mata sudah menantikan kelanjutan cerita pagi ini, termasuk pak produser yang begitu mengidolakan seorang Morgan.


Meski mereka tidak berani membuka mulut untuk bertanya padaku, namun aku sudah mengetahui isi otak mereka semua.


Dan mereka pun membubarkan diri karena rasa penasaran yang telah terjawab tentang niat Morgan yang tiba tiba dengan berani ingin mengakuisisi perusahaan tempat kami bekerja selama bertahun tahun.


Nindi pun tertawa sejadi jadi nya melihat kejadian ini.


" Hahaha.. orang kaya kalau bucin beda ya. Orang biasa beli nya bunga.. coklat.. perhiasan.. mobil.. rumah.. Ini mau beli perusahaan.. Morgan emang Top. " Kata Nindi mulai menggodaku.


" Hentikan.. Aku juga tidak pernah mengira punya pacar segila itu. " Jawab ku yang juga merasa lucu jika mengingat tingkah kekanakan seorang Morgan Ricardo.. begitu menggemaskan.


Hari mulai sore, aku membereskan meja kerja ku setelah selesai siaran membawakan berita.. Nindi sudah pulang lebih dulu karena ada acara..


Kemudian terlihat seorang lelaki tinggi sekitar 180cm, berkulit putih dan tubuh yang cukup bidang berotot berjalan dengan tampan ke arah ku.


Ia merapikan rambut kecoklatannya yang tidak begitu rapi dan menebar senyuman pada setiap staf yang menyapa nya.


Aku mengalihkan pandangan ku dari nya, karena aku memang merasa asing dan tidak mengenalnya.


" Selamat sore. " Terdengar suara gentle nya begitu dekat di hadapan ku.

__ADS_1


" Ya?? Ada yang bisa saya bantu? " Tanya ku ragu dan bertanya tanya, siapakan pria ini.


" Ehm... apa aku bisa menemui pak produser? " Tanya nya kepada ku.


Aku pun mengernyit heran, baru kali ini pak produser mendapatkan tamu setampan ini.


" Oh.. kamu lurus saja, ruangannya di sebelah kanan.. dekat lemari arsip itu. " Aku pun tanpa ragu mengarahkannya.. namun kedua mata nya tidak melihat ke arah petunjuk ku, malah melihat ke arah ku dan tertawa kecil.


" Kamu menertawakan ku? " Aku pun jadi merasa tersindir.


" Sorry.. aku ga bermaksud begitu. Hanya saja, aku jadi teringat sesuatu. " Jawab nya tanpa rasa sungkan.


" Oh.. begitu. " Dari situ ekspresi ku seakan menyimpulkan bahwa lelaki ini aneh.


" Thanks ya. Ehm btw.. nama ku Steve.  Senang bertemu dengan mu, Sesil. " Kata nya bersikap ramah sambil membaca nama ku di id card yang tergantung di leher ku.


" Sama.. Sama... " Jawab ku semakin tidak nyaman dan aneh dengan lelaki ini.


Dia pun melangkah pergi ke ruang pak produsee yang kutunjukkan, dan aku mencoba tidak mengambil pusing keanehannya.


Aku dengan segera mengambil blesser dan tas ku, bergegas keluar dari kantor.


Karena aku dan Morgan ada janji makan malam bersama.


Ketika aku sudah berada di lobby kantor, terlihat Morgan sudah standby di depan mobil nya sambil menyilangkan tangan ke dadanya.


" Tumben lama? " Kata nya yang sudah 20 menit menunggu ku.


" Oh itu.. tadi aku melupakan sesuatu. " Jawab ku tidak ingin panjang lebar.


Morgan pun tidak menjadikannya masalah dan membuka kan pintu mobil untukku.


Dan kami pun berkendara pergi menjauhi kantor dan mengisi perut kami yang sama sama menahan lapar agar bisa makan malam bersama.


" Malam ini mau makan apa? " Tanya Morgan kepadaku.


" Ehm... gimana kalau makan pizza.. " Jawab ku menyarankan.


" Yakin jam segini mau makan pizza? Ga takut gendut? " Sahut Morgan menggoda ku.


" Aku memang ingin menggendutkan diri, untuk mengetes kamu.. masih mau ga sama aku, kalau gendut. " Pungkas ku dengan sengaja memancing Morgan.


" Kalo aku sih ga masalah.. tapi kamu siap siap jadi pengangguran. " Jawab Morgan santai.

__ADS_1


" Ga masalah juga, kan ada kamu yang bisa menghidupi ku. " Canda ku menggodanya sekali lagi.


" Ya brati, kamu harus menikah sama aku.. supaya aku bisa menghidupi mu seumur hidup. " Jawab Morgan dengan santai, namun kata kata yang terucap membuat ku terdiam dan tidak bisa membalasnya lagi.. bahkan aku jadi tersipu malu dan memalingkan pandangan ku ke luar mobil.


__ADS_2