
Part 34 " Akrab "
Acara MT membuat ku kembali pusing dengan keadaan setelah mengetahui cerita tentang kelalaian Morgan.
Namun bagaimana pun tanggung jawab tetaplah tanggug jawab.
Hari ini aku mencoba memfokuskan diri dengan bekerja sebaik mungkin.
Saat ini, Steve yang sudah menjabat sebagai CEO perusahaan menggantikan ayahnya, tampak jarang terlihat dan bertegur sapa dengan ku.
Entah karena memang ia disibukkan dengan pekerjaan, atau memang dia menghindari ku setelah situasi situasi tidak nyaman yang terjadi selama MT.
Aku berjalan ke cafetaria sendirian untuk menghilangkan penat dan membeli minuman bersoda.
Tanpa sengaja aku berpapasan dan bertabrakan bahu dengan seorang gadis muda yang sangat cantik dan berpenampilan elegant.
" Maaf. " Kata nya sopan kepadaku.
" Ah iya, tidak apa. " Jawab ku sambil membantu nya mengambil beberapa kertas yang jatuh dari dalam map nya.
Aneh nya ia terus memperhatikan wajahku dengan senyuman, sedangkan aku merasa asing.
" Oh.. jadi kamu ya orangnya. " Gumam Monica.
" Ya??? " Aku masih bertanya tanya tidak mengerti.
" Perkenalkan, nama ku Monica. " Sapa nya ramah sambil mengulurkan tangan.
" Aku Sesil. " Jawab ku membalasnya juga dengan ramah.
Meski aku tidak mengenali wajahnya, namun entah mengapa nama itu terasa tidak asing di telinga ku.
" Ehm.. maaf sebelumnya, apa aku bisa meminta bantuan mu? " Tanya Monica kepadaku.
" Apa yang bisa kubantu? " Jawab ku dengan senang hati.
" Bisakah kamu mengantarku ke ruang general manager?? Aku baru kali ini masuk ke sini. " Katanya jujur.
" Tentu. Mari kuantarkan. " Sahut ku menunjukkan arah kepada gadis bernama Monica itu.
Kami pun sedikit mengobrol saat lift sedang melaju naik.
" Kamu pegawai baru? " Tanya ku penasaran.
" Oh bukan.. aku datang untuk memberika sketsa produk ku. Aku berbisnis clothing, yaahh.. masih belajar juga sih, tapi orangtua ku mendukungku dan menyarankan aku untuk mulai memasarkan produk ku salah satu nya lewat perusahaan ini. " Katanya menjawab detail.
" Waahh.. kamu hebat ya, masih sangat muda sudah punya bisnis. " Puji ku mengagumi sosoknya.
" Kalau kamu?? Sepertinya aku sering melihat mu di layar tv. " Sahut nya ganti penasaran.
" Iya.. aku news anchor. " Jawab ku kepadanya.
__ADS_1
Di tengah pembicaraan kami, lift berhenti di lantai 3 dan saat pintu terbuka.. Steve bersama kedua asistennya sudah berdiri menawan.
Kami saling bertatap mata, namun tidak bisa dipungkiri bahwa tatapan mata Steve menyiratkan sesuatu yang kurang nyaman bagiku.
Sikapnya menjadi lebih dingin dari biasanya.
Monica yang berdiri di sebelahku pun ikut memperhatikan suasana kecanggungan ini.
Dan kami pun berada dalam lift yang salah.
Steve tepat berdiri di depan Monica tanpa sapaan dan sepatah katapun.
" Ruangannya di lantai berapa? " Tanya Monica kepada ku.
" Di lantai 7. " Jawab ku pelan.
" Oh.. apa para manager atau atasan disini rewel? " Tanya Monica dengan polosnya, tanpa pengetahui bahwa lelaki rapi yang berdiri di depannya ada CEO baru.
" Ah itu.. tidak kok. Semua disini profesional. " Jawab ku dengan senyum getir.
" Baguslah. Karena aku dengar ada pergantian CEO disini. Kalau pemimpin baru, otomatis cara kerja nya juga berubah.. sejauh ini hanya ada 1 CEO yang kukagumi. Yang lain nya, terlalu rewel." Lanjut Monica berbicara tanpa beban.
Monica yang berbicara, aku yang merasa tegang.
Aku seakan ingin menghentikan perkataan Monica, namun apa daya perkataan nya mengalir begitu saja sampai kami tiba di lantai 7.
Lantai dimana ruangan General manajer berada.
Saat akan turun Monica terhalangi oleh tubuh Steve yang tetap berdiri tegak di hadapannya.
Terlihat wajah Steve yang menahan kekesalan dalam diamnya, dan pilihan terbaik ku saat ini adalah menghindar secepat mungkin.
" Nah. Itu ruangannya. " Kata ku menunjukkan ruangan general manajer yang ada di ujung.
" Terima kasih ya, maaf sudah merepotkan. " Kata nya sopan kepadaku.
" Sama sama. Semoga semua berjalan lancar ya. Semangat. " Sahut ku memberi semangat.
" Kamu juga.. Semangat !!! " Sahut nya memberiku semangat dengan senyum ceria nya.
Dan kami pun berpisah dengan kesan yang baik satu sama lain.
Saat ini Monica sedang berdiskusi dengan general manajer.
Monica adalah sosok wanita yang penuh semangat dan tidak menggunakan kekuasaan keluarga nya dengan semena mena.
Ia hampir mirip dengan karakter Sesil yang ingin berjuang dengan mandiri.
" Sketsa produk anda sangat menarik, saya akan buat kontrak pemasaran dalam beberapa hari lagi. " Kata pak GM menyukai penawaran kerja sama Monica.
" Waahh.. terima kasih pak. Saya akan melakukan yang terbaik. " Sahut Monica senang.
__ADS_1
" Tidak. Aku tidak menyetujui nya. " Terdengar suara tegas yang tiba tiba masuk ke dalam ruangan.
" Pak Steve. " Sahut pak GM langsung menundukkan diri.
" Kamu kerja sama dengan perusahaan lain saja. " Perintah Steve tiba tiba sambil menatap tajam ke arah Monica.
" Hah?? Kamu siapa? Kenapa ikut campur. " Sahut Monica tidak mengenal takut.
" Saya yang berkuasa memutuskan disini. Bukankah tadi kamu bilang, kamu hanya mengagumi 1 CEO yang bekerja profesional.. bekerja sama lah dengan nya, kenapa kamu kesini. " Kata Steve yang mendengar dengan detail ucapan Monica di dalam lift.
" Ooohh.. sekarang aku ingat. Kamu yang barusan menghalangi jalan ku di lift tadi kan? " Kata Monica mulai mengingat wajah tampan Steve yang menjengkelkan.
" Aku adalah CEO baru yang kamu bicarakan dan kamu ragukan tadi. " Sahut Steve dengan percaya diri.
" Sudah kuduga. Dasar tidak profesional. " Monica pun menunjukkan reaksi yang berbeda.
Steve kira, wanita itu akan merasa bersalah setelah mendengar siapa Steve yang sebenarnya.. namun wanita ini sungguh tidak kenal takut.
" Kamu.. benar benar membuatku kesal. " Gumam Steve mendekat ke arah Monica.
" Kamu juga.. Menyalahgunakan kekuasaan. Dengan begini, membuktikan kalau apa yang kukatakan semuanya benar. Kalau ada dendam pribadi dengan saya, jangan libatkan pekerjaan." Sahut Monica tidak mau kalah dan membalas tatapan tajam dari Steve.
Suasana yang semakin menegang membuat pak GM kebingungan harus bagaimana, karena ia pun juga harus mengikuti perintah pimpinannya.
Sore hari..
Aku berjalan keluar dari gedung kantor dan tanpa sengaja, aku kembali bertemu dengan Monica yang sudah berada di depan sambil meneguk minuman kaleng dengan cepat.
Namun aura wanita itu yang ceria terlihat sedang tidak baik dan dalam mood yang buruk.
" Kamu, baru selesai? " Tanya ku tiba tiba menghampirinya.
" Hmm.. semua gara gara lelaki sialan itu. " Umpatnya tiba tiba membuatku terkejut.
" Hah?? Pak GM?? " Kata ku menuduh.
" Bukan.. lelaki yang satu lift dengan kita tadi. Ternyata dia adalah CEO baru disini. " Sahut Monica yang terlihat begitu geram.
" Oh.. Steve. " Aku pun mengetahui situasinya.
" Maaf ya, seharusnya tadi aku memberitahumu." Jawabku jadi merasa bersalah.
" Sudahlah, tidak apa. Memang lelaki itu yang aneh, tidak profesional. Mempersulitku. " Gumam Monica yang masih terlihat kesal.
" Ehm.. Mau makan ice cream?? Kata seseorang.. ice cream sangat membantu mengubah mood wanita. " Kata ku sambil mengingat Morgan yang dulu juga pernah mengatakannya padaku.
Monica pun tersenyum mendengar perkataan ku.
" Kamu mengingatkan ku pada seseorang. " Sahut Monica.
" Siapa?? " Tanya ku penasaran.
__ADS_1
" Ada. Seseorang yang juga sering membelikan aku ice cream. " Jawab Monica penuh teka teki.
Kami pun memutuskan untuk pergi ke kedai ice cream di persimpangan kantor bersama.