Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
IKHLAS


__ADS_3

Part 27 " Ikhlas "


Suasana hening dan begitu dingin, aku rasakan dalam ruangan Morgan.


Tanpa sepatah kata, lelaki itu hanya memandang ku dengan tatapan sedih yang membuat ku salah tingkah.


" Apa kamu sakit? Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Morgan yang mengkhawatirkan aku padahal dia lah yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


" Jangan penasaran lagi dengan apapun tentang ku. " Jawab ku ketus tidak tau harus berbuat apa.


" Aku hanya kebetulan lewat dan asisten mu memaksa ku menemui mu. " Tanpa pikir panjang, aku membuat alasan untuk menjaga harga diri ku.


" Maafkan aku. " Lagi dan lagi.. entah sudah berapa kali kata maaf terucap dari mulutnya dan kembali menggores hati ku.


" Ehm.. " Aku berusaha menahan air mata ku yang sudah menggenang.


" Aku hanya ingin bilang. Selamat atas pernikahan mu, semoga kamu bahagia. " Sahut ku tidak berani memandang kedua mata Morgan yang sayu.


" Sesil.. aku.. "


" Tidak perlu menjelaskan apapun lagi. Kita sudah putus, dan aku berusaha bersikap sewajarnya. Morgan.. " Kalimat ku terhenti karena air mata ku yang tiba tiba menetes.


" Morgan.. aku akan melepaskan mu dengan ikhlas. " Kata ku ingin mengakhiri pembicaraan dan beranjak pergi.


Namun Morgan menahan tangan ku dengan erat.


" Aku tidak bisa melepaskan mu, Sesil. " Ungkap Morgan yang terdengar begitu egois di telinga ku.


" Tidak Morgan. Kamu lah yang lebih dulu melepaskan aku. " Gumam ku yang memang begitu kecewa dengan lelaki ini.


" Sesil. " Suara kak Shelo tiba tiba memanggilku dengan tegas dan ia ternyata menyusulku sampai ke kamar Morgan.


" Ayo kita pulang. " Sahut Kak Shelo begitu sinis dan melepas paksa tangan Morgan yang masih erat menggenggam tangan ku.


Air mata ku tak kuasa terbendung dan sekuat tenaga, aku tidak ingin menengok ke belakang.


' Selamat tinggal Morgan. ' Ucapku dalam batin ku yang remuk sambil berjalan keluar dari kamar Morgan.


Life must go on


Aku melanjutkan kehidupan ku dan berusaha untuk memulihkan perasaan ku dengan kembali bekerja.


Meskipun pagi ini, tentu saja aku menjadi pusat perhatian sebagai seorang gadis yang ditinggal menikah oleh sang kekasih.


Aku ingin mengatasi rasa tidak nyaman ku dan bersikap cuek pada apapun pendapat orang lain terhadap ku.


Setidaknya aku memiliki Nindi di samping ku, bahkan ia pun enggan untuk membahas atau bertanya tentang kisah sebenarnya kenapa Morgan tiba tiba menikahi Rosa.

__ADS_1


Ia lebih memilih menghabiskan waktu bersamaku seakan tidak terjadi apapun.


" Akhirnya.. siaran lagi. Kangeeeen. " Sahut Nindi yang menghampiri ku di meja kerja dan memeluk ku.


" Ehm.. aku juga, sepi banget ga denger suaramu. " Kata ku mulai ceria.


" Good Morning. " Sapa Steve sambil meletak kan segelas kopi di meja ku.


" Hai Steve, morning. Thanks. " Jawab ku ramah.


" Ini script hari ini. " Kata Steve memberikan script berita kepadaku.


Aku mulai membuka lembar demi lembar dan sejenak terdiam.


" Pernikahan CEO Group JJ dan Putri CEO group Triple S di gelar tertutup. "


Entah sengaja atau tidak sengaja, aku mendapatkan bagian script yang tidak ingin aku bahas.


Nindi dan Steve pun peka saat melihat ekspresi ku, mereka pun membaca script yang kuterima.


" Ehm.. kenapa berita nya ga mutu begini sih. " Gumam Nindi kesal.


" Aku coba revisi kan ke pak produser dulu. " Sahut Steve yang mengkhawatirkan ku.


Namun aku dengan cepat mengambil kertas itu dan menegakkan kepala ku dengan percaya diri.


" Jangan memaksa kan diri.. daripada kamu tidak fokus nanti. " Saran Nindi yang juga khawatir.


" Kenapa harus hilang fokus. Aku sudah mengikhlaskan nya dan melepaskannya baik baik. Tenang saja. Aku akan pelajari dulu ini. " Sahut ku mencoba meyakinkan mereka bahwa aku baik baik saja, meskipun ekspresi wajah mereka tidak bisa di pungkiri.. mereka tidak yakin dengan keadaanku.


10 9 8 7 6 5 4 3 2 1


Aku mencoba menegakkan kepala ku dan mengembalikan aura sebagai pembawa berita seperti 5 tahun ini, aku mengesampingkan urusan pribadi ku ketika kamera mulai menyorot figur ku sebagai anchor yang profesional.


Senyuman kembali kupancarkan semaksimal mungkin seperti tidak terjadi apapun dalam hidup ku.


Di hadapan ku terlihat Steve yang mengawasi ku tanpa berkedip sekali pun, begitu juga dengan Nindi. Dua orang yang selalu mengkhawatirkan ku seakan menjadi penyemangat ku untuk kembali menjalani hidup lebih baik lagi.


Namun hatiku tiba tiba goyah ketika..


" Berita selanjutnya datang dari Morgan Ricardo, pengusaha muda yang memimpin Group JJ tepat pada hari ini... "


Ucapanku terasa semakin berat dan sulit untuk keluar dari bibir ku.. aku terus berusaha memfokuskan pikiran ku agar tidak goyang dan tidak meneteskan air mata, karena jutaan pemirsa melihatku saat ini.


" Hari ini melangsungkan pernikahan dengan putri Group Triple S. Suasana pernikahan tampak begitu tertutup.. dan sakral yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat.. " Aku menyelesaikan kalimat ku disertai nafas yang terasa sesak di dadaku.


Selama 30 menit akhirnya siaran ku malam ini selesai.

__ADS_1


Entah mengapa aku merasa begitu lelah seakan energi ku terkuras habis.


Aku berjalan lesu di atas tumpuan kaki ku yang kehilangan tenaga sambil melepas blesser ku.


Beberapa staf lain yang lalu lalang di hadapan ku mengubah tatapan nya kepadaku menjadi tatapan penuh rasa iba.


" Kasihan ya. Di ghosting. "


" Pasti dia sedih banget, bawain berita mantannya. "


" Dia terlihat hampir menangis. Kasihan. "


Kurang lebih begitulah beberapa kalimat yang sempat terdengar di telinga ku, membuat ku semakin tidak ingin kembali ke ruangan kerja ku yang terasa sesak.


Aku memutuskan untuk naik ke rooftop gedung untuk mencari udara segar disana.


Ketika aku berdiri di terpa dingin nya angin malam, aku bisa melihat begitu indahnya gemerlap lampu lampu seluruh kota malam ini.


Kenangan ku bersama Morgan kembali muncul di benak ku.


Walaupun hubungan kami hanya seumur jagung, namun kesan yang dibuatnya mengalahkan semua kesan dari pria lain yang sempat singgah di hidupku.


" Sesil. " Terdengar suara seorang lelaki yang tanpa kusadari sudah berada di tempat yang sama dengan ku.


" Steve.. kenapa kamu kesini?" Tanya ku tidak menyangka akan bertemu Steve disini.


" Aku daritadi mencari mu, karena kamu langsung tidak terlihat setelah selesai siaran. " Jawab nya dengan nafas terengah engah mengkhawatirkan ku.


" Aku.. hanya ingin mencari udara segar. " Kata ku sambil kembali memandang ke ribuan gemerlap lampu kota di bawah kaki ku.


" Kamu.. baik baik saja? " Tanya Steve yang mendekat di samping ku.


" Tentu. Aku baik baik saja. Aku hanya perlu melanjutkan kehidupan ku. " Jawab ku mencoba sesantai mungkin, meski kedua mata ku yang mulai menggenang tidak dapat dipungkiri.


Steve pun melihat ke sekeliling memastikan keadaan sepi.


" Menangislah. Disini hanya ada aku. Akh pandai menjaga rahasia. " Kata Steve mengerti isi hatiku yang begitu sesak.


" Hahaha. Tidak ada yang perlu ditangisi. " Kata ku menghindari tatapan mata Steve.


" Kamu akan baik baik saja. Aku yakin itu. Kamu seseorang yang ceria dan kuat. Aku juga tahu itu. " Sahut Steve mencoba memberiku semangat, namun entah mengapa malah membuat ku semakin sedih.


Hiks hiks hiks hiks hiks.. tangis ku mulai pecah tanpa sepatah kata pun.


Steve pun mendekat dan memeluk ku, sesekali menepuk punggung ku.


Saat ini, aku yang roboh berada dalam pelukan juniorku yang hangat dan menangis sepuas hati.

__ADS_1


__ADS_2