
Part 28 " Rumah Tangga Morgan "
Pernikahan pun berlangsung sesuai harapan Rosa yang saat ini sangat bahagia bisa memiliki seorang Morgan Ricardo yang berhasil dia permainkan.
Mereka mengucapkan janji pernikahan di hadapan keluarga masing masing, dan otomatis juga mempererat kerja sama di antara dua pilar bisnis ternama ini.
Rosa pun mulai berpindah ke apartmen Morgan, ia sangat antusias berbanding terbalik dengan Morgan yang bahkan selalu dalam suasana hati yang buruk.
Senyumannya seakan hilang tidak bersisa. Lelaki itu membawa dua koper besar milik Rosa masuk ke apartmen.
Namun aneh nya, Morgan mengantarnya masuk ke kamar tamu.. bukan kamar utama yang ditiduri oleh Morgan.
" Sementara, ini menjadi kamarmu. " Kata Morgan jutek.
" Kita.. tidur terpisah? " Tanya Rosa kecewa.
" Hmm.. aku masih perlu waktu untuk menjernihkan pikiran ku. " Jawab Morgan sambil bergegas meninggalkan Rosa.
Namun wanita itu tidak ingin kalah, ia berlari menghampiri dan memeluk Morgan dari belakang.
" Jangan seperti itu kepadaku. " Kata Rosa memelas.
" Kita sudah menjadi suami istri, kamu harus menyadari kenyataan itu. Tidak ada yang lain selain aku, itulah yang harus kamu pikirkan. " Jawab Rosa agresif seperti ingin mengikat Morgan hingga akhir.
Namun Morgan hanya terdiam dengan ekspresi murung. Ia melepaskan pelukan Rosa dan berjalan masuk ke kamarnya tanpa sepatah kata pun.
Sedangkan Rosa menghapus air mata palsunya dan semakik bertekad untuk memenangkan hati Morgan.
" Akan aku pastikan, kamu menjadi milikku seutuhnya. " Gumam Rosa bertekad.
Berbeda dengan Morgan yang seharian ini berdiam diri di kamar. Ia hanya menghabiskan waktu dengan kemurungan serta kesedihan.
Setiap kali ia melihat cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya, ia merasa begitu sakit.
Alkohol menjadi salah satu sasaran pelampiasannya saat ini.
Berbagai ucapan selamat yang berdering di ponselnya hingga menumpuk, ia abaikan.
Saat ini setiap kenangan dirinya bersama Sesil menjadi begitu berharga di ingatannya.
Tanpa terasa air mata menetes begitu saja dan membuatnya begitu sedih ingin memutar kembali waktu.
Seakan memiliki ikatan batin dengan putra sulungnya,
Ibu Morgan juga tampak bersedih di dalam kamar. Setelah acara pernikahan selesai, seharusnya kebahagiaan melingkupi keluarga mereka.. namun malah sebaliknya.
Melihat kesedihan Morgan, hati ibu nya juga ikut sedih.
__ADS_1
Ayah Morgan pun menghampiri istrinya dan memberi tepukan di punggung istrinya yang terlihat khawatir.
" Dia sudah dewasa. Dia bisa memutuskan sendiri apa yang harus menjadi tanggung jawabnya. " Kata ayah Morgan.
" Tapi dia tidak bahagia. Bagaimana aku bisa melihat putra ku tidak bahagia. " Jawab ibu Morgan.
" Hmm.. seiring berjalannya waktu, dia pasti akan membaik. " Kata ayah Morgan lagi.
" Tapi.. aku juga merasa kasihan pada Sesil. Dia tidak tahu apapun.. dan hanya merasakan kehilangan yang tiba tiba. " Jawab ibu Morgan yang dengan tulus juga mengkhawatirkan Sesil, gadis ceria yang Morgan perkenalkan untuk pertama kali nya sebagai kekasih.
" Dia gadis yang baik, aku yakin.. dia pasti juga akan melepaskan Morgan untuk bertanggung jawab. " Kata ayah Morgan bijaksana.
Di tengah perbincangan itu, terlihat seorang wanita muda yang begitu fresh dan cantik berdiri mendengarkan percakapan mereka.
Gadis itu adalah Monica, adik perempuan Morgan yang pulang untuk menghadiri pernikahan kakaknya yang mendadak.
Dari sini lah ia tahu kisah memilukan kakaknya dan ikut merasakan bagaimana sedihnya harus menikahi wanita yang tidak dia cintai.
Ia berjalan masuk ke kamar dan mengambil ponsel nya.
Ia mencoba menghubungi Morgan, namun tidak ada jawaban hingga berkali kali.
Mon : Apa yang sedang kakak lakukan? Kenapa tidak menjawab telpon ku?
Mon : Halooo... kenapa tidak dijawab. Kakak tidak rindu kepadaku?
Mon : Aku berharap kakak baik baik saja.
Sejak kecil mereka tumbuh dengan didikan yang baik dan penuh kasih sayang, mereka berdua selalu saling mengandalkan dan menyayangi satu sama lain.. bahkan saat mereka beranjak dewasa pun, sifat itu tidak berubah.
Keesokan pagi nya di apartmen Morgan..
Rosa yang sudah menyiapkan sarapan untuk menunjukkan sisi istri teladan dan berharap mendapatkan simpati Morgan, berusaha terus mengetuk pintu kamar Morgan yang terkunci.
" Morgan.. " Sudah ke sekian kali ia memanggil nama Morgan, namun tidak ada respon.
' Sialan. Dia benar benar menjadikan ku seperti pengemis. ' Kata hati Rosa yang penuh kepalsuan.
Tak lama kemudian terdengar bel rumah berbunyi dan ketika Rosa membuka pintu.. terlihat Monica sudah berdiri di sana.
" Hai Monica.. ada apa pagi pagi datang kesini?? Ayo masuk. " Sapa Rosa sok akrab.
Namun ekspresi Monica terlihat cuek.
" Hai. Aku ingin bertemu kak Morgan. " Jawab Monica to the point.
" Dia ada di kamar, dari tadi aku mencoba membangunkannya tapi tidak bisa. " Jawab Rosa mencari simpati.
__ADS_1
Duk duk duk
" Kaaakkk... ini aku... " Sahut Monica dengan suara yang cukup keras.
Hanya sekali panggilan, Morgan membukakan pintu untuk adiknya dan membiarkan Monica masuk ke kamarnya tepat di depan mata Rosa yang merasa terkesampingkan.
" Brengsek. " Gumam Rosa kesal.
Monica yang berada dalam kamar begitu kaget melihat kondisi kakaknya yang biasa tampil tampan begitu berantakan terlebih lagi, kamar Morgan dipenuhi bau alkohol yang menyengat.
" Aduuhh.. bau alkohol semua. " Sahut Monica mengeluh sambil mengibaskan tangannya.
" Kenapa pagi pagi begini nyari aku? " Tanya Morgan yang tidak bersemangat.
" Salah sendiri.. dari kemarin aku hubungi tidak dijawab. Are you ok? " Kata Monica.
" Hmm.. yah seperti yang kamu lihat. " Jawab Morgan lesu dan sedikit pusing karena terlalu banyak minum.
Monica pun menyadari alasan dibalik tangisan ibunya.
Seorang putra yang baik dan bahagia, dalam sekejap berubah tidak karuan seperti ini.
" Aku rindu pada kakak. " Sahut Monica sambil memberi pelukan kepada Morgan.
Pelukan seorang adik yang begitu menyayangi kakaknya.
" Aku juga rindu padamu. Maaf karena kepulangan mu tidak kusambut dengan baik. " Kata Morgan membalas pelukan adik mungilnya.
" Ehmm.. tidak bisa begitu. " Sahut Monica tiba tiba sambil melepas pelukannya.
" Cepat mandi dan belanjakan aku. " Kata Monica berusaha membuat Morgan sedikit terhibur.
" Kamu kan punya uang sendiri, kenapa minta kakak." Jawab Morgan menggoda adiknya dan sedikit bida tersenyum.
" Karena uang kakak jauh lebih banyak. Sudah.. cepaattt... aku tunggu di depan. " Sahut Monica sambil mendorong paksa kakak nya ke arah kamar mandi.
Setelah selesai bersiap, mereka duduk di meja makan dengan beberapa makanan yang Rosa buat.
Situasi kembali menjadi tidak nyaman untuk Morgan yang beberapa saat lalu sempat terhibur.
" Kalian mau pergi? " Tanya Rosa penasaran.
" Iya. " Jawab Morgan seperlunya.
" Kemana?? Apa aku juga boleh ikut? Aku bosan di rumah sendirian. " Kata Rosa menyodorkan diri.
" Ehm.. sorry kak, tapi aku mau kencan berdua dengan kak Morgan.. aku sangat merindukannya, jadi sehari ini.. aku pinjam ya. " Sahut Monica memahami situasi.
__ADS_1
Jika ia mengijinkan Rosa ikut, usahanya untuk menghibur kakaknya akan sia sia.
" Oh.. its ok. Nikmati waktu kalian berdua. " Jawab Rosa dengan senyuman terpaksa.