
Part 42 " Pilihan Tersulit "
Selama beberapa minggu setelah berbagai berita itu muncul dan menyeret nama ku, aku hanya bisa berdiam di rumah bersama mama dan kak Shelo.
Mereka menjaga ku dengan ketat supaya tidak berhubungan lagi dengan Morgan. Kak Arvi pun sampai menugaskan beberapa bodyguard di rumah, terutama untuk melindungi kami dari niat niat buruk orang asing yang membenci ku.
Aku yang jarang sekali memegang ponsel selama beberapa minggu, hanya bisa menyaksikan Morgan lewat televisi.
Semua penuh pro dan kontra, terlebih lagi dengan berani dan tanpa ragu Morgan mengungkap kisah yang sebenarnya tentang jebakan Rosa.
Harga saham perusahaan Morgan pun terdampak mengalami kerugian, kerja sama nya dengan perusahaan Rosa juga mengalami kerugian.
Ada yang tetap membela Rosa, namun tidak sedikit juga yang kehilangan simpati pada wanita itu.
Setiap kali aku melihat berita buruk itu, hati ku terasa sakit dan merasa bersalah..
Aku tidak pernah menyangka bahwa kisah cinta seorang gadis biasa seperti ku bisa membawa dampak seperti ini..
Sama seperti yang pernah dialami oleh kakak ku bersama kak Arvi.
" Sekarang kamu tahu kan.. semua ini hanya menyulitkan mu. Berurusan dengan lelaki penuh kekuasaan, bergelimang harta dan dikenal publik.. begitu menyakitkan. Kamu bahkan kehilangan pekerjaanmu karena kisah cinta mu." Ungkap mama yang sedih dengan nasib cinta ku.
Aku pun hanya terdiam dan tertunduk, begitu berat begitu sesak dalam setiap tarikan nafasku.
Beberapa saat kemudian, seorang staf di rumah menyampaikan bahwa ada seseorang yang datang mencari ku.
" Siapa? " Tanya kak Shelo yang tidak mau menerima sembarang tamu.
" Nama nya Steve nyonya, dia teman nona Sesil." Kata petugas keamanan di rumah.
" Bukan Morgan kan?? Kamu yakin? " Tanya kak Shelo memastikan lagi.
" Bukan nyonya, kartu identitas nya benar. " Jawab petugas itu.
Setelah memastikan identitas tamu itu, kak Shelo pun mengijinkannya masuk ke rumah dan memanggilku untuk menemui nya.
Setelah beberapa saat hubungan ku dan Steve menjauh karena aku menolak perasaannya, hari ini dia menemui ku untuk melihat kondisi ku yang sudah tidak lagi bekerja di perusahaannya.
Kami pun memutuskan mengobrol di tepi kolam renang.
" Maaf, aku tidak bisa membantu mempertahankanmu di kantor. " Kata Steve merasa bersalah.
" Tidak apa. Jangan merasa bersalah. Semua memang menjadi kacau begitu saja. " Jawab ku mengikhlaskan karier ku.
__ADS_1
" Semua keputusan pemegang saham dan ayah ku, sepakat untuk mengeluarkan mu karena masalah yang berlarut larut ini.. karena citra mu yang sudah buruk di mata mereka.. Aku benar benar merasa tidak enak padamu. " Kata Steve lagi.
" Sudahlah.. ini memang konsekuensi ku, aku memutuskan untuk kembali kepada Morgan.. dan aku harus membayar harga nya. " Sahut ku menyadari.
" Apa setelah semua seperti ini, kamu masih akan melanjutkan hubungan mu dengan nya? " Tanya Steve to the point dan aku hanya terdiam.
" Saat ini keadaan Morgan sedang kacau, apalagi dia menggugat cerai Rosa yang sedang hamil. Kalau kamu tidak melepaskannya, kamu akan terseret dalam masalah lagi. " Kata Steve memperingatkanku dan membuatku berpikir.
" Aku.. tentu saja aku ingin keluar dari semua belenggu ini.. tapi perasaan ku pada Morgan.. sulit untuk aku buang.. Terakhir kali dia meminta ku untuk menunggu nya.. untuk tidak melepaskannya.. Dia sedang membereskan semuanya.. " Bibirku seakan berat untuk melanjutkan perkataan ku karena perasaan ku yang campur aduk.
" Sesil.. bukan maksud ku meragukan cinta kalian dan perjuangan Morgan untuk menyelesaikan semua ini.. Tapi menurutku, saat ini.. bukan waktu yang tepat untuk menunggu nya.. Aku mengatakan ini, bukan karena aku egois atau cemburu.. tapi aku mengatakannya sebagai teman mu yang peduli dengan mu.. " Saran Steve yang peduli padaku.. dan air mata ku tidak berhenti mengalir.
Setelah berbincang dengan Stevw cukup lama, malam hari nya aku begitu memikirkan perkataan semua orang..
Tidak ada satu pun yang memberiku dukungan untuk memperjuangkan Morgan, termasuk keluarga ku..
Terlebih lagi saat ini banyak yang harus Morgan selesaikan, termasuk urusan perceraiannya dengan Rosa yang sedang mengandung. Hubungan mereka dari awal memang selalu salam ambang kehancuran, ditambah lagi dengan keegoisan dan kejahatan Rosa.
Ketika aku sedang termenung berpikir di balkon kamarku, kak Shelo datang menghampiri ku dan memberikan sebuah tiket pesawat.
" Ini. " Kata kak Shelo.
" Apa ini kak? " Tanya ku tidak mengerti.
" Maksud kakak.. aku.. "
" Kalau kami terus berada disini, kamu akan kesulitan dan menderita. Kamu kehilangan impian mu, kamu menangis, kamu di hujat banyak orang.. kami tidak tahan dengan semua itu Sesil. Sekali saja.. mengalah lah... " Kata kak Shelo memberikan pilihan terbaik yang harus kuambil.
" Hiks hiks.. tapi kak.. "
" Kamu bisa memulai semuanya kembali disana.. tanpa Morgan.. Aku tahu, Morgan tidak bersalah.. dia pria yang baik.. tapi Sesil, jalan yang kalian tempuh begitu rumit dan menyisakan rasa sakit. Sekali ini, dengarkan kakak. " Kata Kak Shelo yang begitu menyayangi ku dan kami pun berpelukan dengan tangisan haru satu sama lain.
Keberangkatan ku dijadwalkan 2 minggu ke depan.
Setelah berpikir begitu keras, aku mencoba mengambil keputusan tersulit dalam hidupku karena kekacauan ini.
Aku memutuskan untuk pergi tanpa memberitahu Morgan.. karena saat ini, waktu nya sudah habis untuk membereskan semua masalah termasuk membersihkan namaku dari predikat pelakor.
Sore hari ini aku dan kak Shelo pergi ke mall untuk berbelanja beberapa baju hangat untuk ku yang akan tinggal di Kanada. Kak Shelo begitu menginginkan kehidupan yang lebih baik untukku, sampai sampai dia melakukan apapun dan menjaga ku dengan sangat ketat.
Ketika berada disana, tanpa sengaja aku bertemu dengan Rosa yang tengah hamil besar dan menyalurkan segala stresnya dengan belanja hingga ratusan juta.
Namun kesedihan tidak terbesit di wajahnya atas gugatam cerai Morgan.
__ADS_1
Kedua mata kami pun saling memandang dan aku memutuskan untuk menghampiri nya.. begitu juga dirinya.
Aku meninggalkan kak Shelo yang sedang sibuk memilih pakaian.
" Kamu.. waahh.. ga malu ya muncul di tempat umum begini. " Sindir Rosa memulai keributan.
" Untuk apa malu.. aku tidak merasa salah. " Jawab ku percaya diri.
" Hahaha.. jadi merebut suami orang, bukan perbuatan yang salah... Dasar murahan. " Umpat Rosa tanpa pikir panjang.
" Kamu sendiri.. bukannya sedang sibuk mengurus perceraian.. tapi malah disini.. " Aku pun berhasil membuat senyuman licik Rosa berubah.
" Kamu kira.. kamu sudah menang karena Morgan menceraikan aku hah???? Aku masih punya ribuan cara untuk menghancurkanmu. " Bisik Rosa mendekat ke arah ku.
" Hentikan Rosa. Simpan saja ribuan cara mu itu untuk membesarkan anak tidak berdosa ini. " Kata ku memberi nasehat.
" Jangan Mimpi. Kalau aku.. seorang Rosa tidak bisa memiliki Morgan.. Maka, tidak ada orang lain yang bisa memiliki nya.. siapapun itu. " Ancam Rosa.
" Apa kamu bahagia hidup dengan hati seperti itu?? Apa kamu benar benar bahagia?? " Tanya ku tiba tiba membuat Rosa terdiam.
" Semulus apapun rencana mu menjebak Morgan, pernikahan kalian tidak pernah bahagia.. Aku tahu apa yang kamu rasakan sebenarnya.. kamu, menderita Rosa.. hati mu menderita. " Sahut ku to the point dan menancap tepat sasaran di hati Rosa.
" Tutup mulutmu. " Bentak Rosa yang terbaca olehku.
" Hentikan semua ini Rosa.. Aku menyarankan mu bukan sebagai musuh, tetapi sebagai sesama wanita. Kebahagiaan hanya akan datang ketika kita saling mencintai.. bukan Memaksa untuk dicintai. " Ucapku lagi.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat air mata Rosa mengalir.
Aku yang telah cukup merenung, menyadari bahwa sebenarnya Rosa juga sedang menderita.. hanya saja semua cara yang ia pakai adalah SALAH.
" Jangan sok menasehati ku. Lakukan saja usaha terbaik mu untuk merebut Morgan dariku. " Sahut Rosa membuat ku tertawa.
" Aku tidak akan merebut siapa siapa. Aku hanya akan berjalan sesuai takdir. Kalau memang Morgan milik ku, waktu yang akan menjawab. " Jawab ku santai.
Di tengah pembicaraan kami.. Rosa pun mulai berkeringat dan merasakan sakit pada perutnya.
" Aaarrgghhh... Aarrgh.. sakiiit. "
Mendengar rintihan Rosa membuatku panik, aku pun dengan segera memapah tubuh Rosa yang sepertinya akan melahirkan.
" Rosa.. Bertahanlah. "
Tepat saat itu kak Shelo datang membantuku membawa Rosa ke mobil dan kami pun tanpa pikir panjang pergi ke rumah sakit terdekat disana.
__ADS_1