
Part 37 " Ternyata "
Aku dan Monica terusir dari ruangan Steve, tujuanku yang ingin mendamaikan keadaan malah menjadi semakin kacau dengan keterlibatan Monica.
" Kamu tadi kenapa seperti itu sih?? " Tanya ku tidak mengerti dengan tindakan wanita ini.
" Aku awalnya memang ada janji untuk kelanjutan projek ku, tapi pak GM menyuruhku langsung ke ruangan dia. " Kata Monica dengan nada kesal.
" Maksud ku, kenapa kamu mendorong ku. Kan sekarang jadi kamu yang kena... " Kata ku merasa tidak enak kepada wanita yang baru ke kenal itu.
" Aku tadi reflek. Aku tidak rela kalau dia mencium mu. " Gumam Monica dengan wajah kembali merona.
" Apa jangan jangan, kamu kekasihnya Steve ya?" Sahut ku to the point, karena hanya itu yang terlintas di pikiran ku.
" Bukan !!! Jangan ngawur. " Sahut Monica tidak terima.
" Lalu?? Kenapa kamu tidak rela? " Tanya ku yang semakin penasaran sambil terus berjalan kembali ke ruangan ku.
" Pokoknya, aku adalah fansmu. Aku mau kisah cinta mu happy ending. " Jawab Monica mengisyaratkan sesuatu dalam senyumannya yang tulus.
" Kamu... adiknya Morgan ya? " Kata ku yang tiba tiba mengingat, bahwa Morgan memang memiliki seorang adik perempuan.
" Akhirnya, kamu mengenali ku. " Jawab Monica sangat welcome.
Perlakuan nya sama persis seperti perlakuan kedua orang tua Morgan yang baik dan hangat ketika menyambut ku di rumah Morgan di saat awal kami pacaran, walau masih settingan waktu itu.
Aku dan Monica pun memutuskan untuk berbincang di cafe.
" Senang bertemu dengan mu, maaf karena aku baru mengenalimu. " Kata ku jadi canggung.
" Aku juga sangat senang bertemu denganmu. Tidak perlu minta maaf, kan memang sebelumnya kita memang belum pernah ketemu." Jawab Monica welcome.
" Kamu sudah selesai kuliahnya? " Tanya ku kepada nya.
" Aku baru menyelesaikannya, dan memulai bisnis ini. " Jawab Monica dengan senyuman manis nya.
Tiba tiba situasi yang semakin canggung membuat ku bingung harus berbincang apa lagi kepada Monica.
" Ehm.. tentang perkataan ku yang ingin kisah cinta mu happy ending, aku serius mengatakannya. " Ungkap Monica tiba tiba membuat ku terkejut.
" Kenapa kamu tiba tiba membahasnya.. haha " Sahut ku tergagap.
" Karena aku sangat menyayangi kakak ku, dan tidak suka melihatnya menderita. " Kata Monica yang aura nya ceria tiba tiba murung.
" Kehidupan kakak ku setelah menikah hanya dipenuhi dengan pekerjaan. Makan minum tidak teratur bahkan untuk melihat senyumannya yang biasa dia obral kepadaku, sekarang sangat jarang. " Curhat Monica.
__ADS_1
" Hmmm... aku tidak bisa melakukan apapun untuk kakak mu. Dia sudah terikat dengan Rosa, sekalipun tidak sepenuhnya salah Morgan.. tapi hubungan kami sudah terlanjur seperti ini. Bahkan ketika dia menyuruhku untuk menunggu, aku tidak berani untuk berharap lebih. " Kata ku yang tiba tiba mengalir begitu saja.
" Tunggu.. apa maksud mu bukan sepenuhnya salah kakak?? Dan apa maksud nya menunggu??" Monica pun jadi sangat penasaran dengan perkataan ku.
" Morgan.. malam itu, saat dia tidur dengan Rosa.. sebenarnya.. Rosa menjebak nya, tes darah Morgan menunjukkan ada larutan obat dalam wine yang dia minum. Tapi Rosa sudah terlanjur mengandung anak Morgan.. tidak mungkin Morgan setega itu lapor polisi. Yang bisa Morgan rencanakan adalah menunggu sampai anak itu lahir dan menceraikan Rosa.. karena itu lah dia meminta ku menunggu nya. " Ungkap ku menjelaskan semuanya dan membuat Monica geram.
Tanpa pikir panjang, Monica bergegas pergi dengan wajah penuh kemarahan.. dan aku tahu kemana dia akan pergi.
Aku pun memutuskan untuk mengikuti nya, dan menghubungi Morgan untuk berjaga jaga. Dan benar saja, setelah sampai di apartmen Morgan..
PLAAAKKK
Monica menampar Rosa dengan sangat keras.
" APA YANG KAMU LAKUKAN??!!" Bentak Rosa tidak terima.
" Dasar wanita menjijik kan, aku sudah berfirasat dari awal.. kakak ku tidak mungkin serendah itu. Dasar wanita jalaang. " Sahut Monica tersulut emosi ingin menyakiti Rosa.
Dan aku berusaha melerai pertengkaran itu.
" Lepaskan aku. Gara gara dia, kakak ku harus hidup menderita. " Teriak Monica marah.
Namun ketika aku berusaha menenangkan Monica, sebuah tamparan dari tangan Rosa mendarat di pipi ku.
" Pasti kamu.. Kamu mengadu domba aku dengan Monica kan. Sampai kapan sih, kamu mau mengemis cinta Morgan. " Sahut Rosa dengan licik nya memutar balikkan fakta.
" Monica, kamu jangan langsung percaya sama dia.. Dia itu tidak terima karena Morgan menikahi ku. Dari awal, dia mengejar Morgan hanya untuk mendapat keuntungan. Dia mendekati Morgan karena karier nya hampir hancur, karena itu.. kakak mu dimanfaatkan, dan tidak jadi menikahi ku. " Cerita Rosa memutar balikkan fakta dan melempar kesalahan kepada ku.
Monica pun yang tidak tahu kisah cinta kami dari awal, sempat terdiam dan juga menatap ku. Antara percaya atau tidak percaya.
Saat itu lah aku merasa sekali lagi direndahkan oleh Rosa, padahal sebagai sesama wanita.. aku menggunakan hati nurani ku untuk menolak tawaran Morgan.
Beberapa saat kemudian, Morgan datang setelah melihat pesan yang ku kirimkan.
Dan saat itu lah aku sadar, Rosa akan tetap menjadi Rosa.. Jikan dia tidak menggunakan hati nurani nya, untuk apa aku memikirkan perasaannya juga.. meskipun dia sedang mengandung anak Morgan saat ini.
" Apa yang kalian bertiga lakukan?? " Tanya Morgan dengan wajah dingin nya.
Tanpa pikir panjang aku segera berlari ke arah nya, meraih leher nya dan mendekatkan wajah ku.. spontan mencium bibirnya.
Morgan pun terkejut dengan sikap ku yang mendadak.
Rosa pun juga terbelalak kaget dengan apa yang dia lihat, pembalasan lebih kejam dari tamparan yang kudapatkan.
" Morgan. Aku akan menunggu mu. Itulah jawaban ku. " Sahut ku penuh keyakinan tanpa memikirkan keadaan Rosa lagi.
__ADS_1
Morgan pun tersenyum mendengar jawaban dari ku, dan terlihat dia semakin mantap untuk menceraikan Rosa setelah anak itu lahir.
" Kamu.. sudah dengar itu kan?? " Sindir Morgan dengan senyum sinis ke arah Rosa yang diam terpatung.
" Aku tidak perlu repot repot menyingkirkan mu.. Kamu bisa menyingkir sendiri dari hidup ku. " Kata Morgan jahat kepada Rosa, dan kali ini aku mendukungnya.
" Ayo, kita pergi dari sini. " Sahut Morgan menggandeng tangan ku dan juga menggandeng tangan Monica.
Sebelum keluar dari apartmen, Morgan mengangkat kedua gandengan di tangannya dan mencemooh Rosa.
" Lihat. Tidak ada tempat untuk mu. Sama sekali tidak ada. " Sahut Morgan kejam mempermalukan Rosa.
" ANAK MUU. " Teriak Rosa yang kembali mulai mengancam.
" Aku bisa melakukan apapun terhadap anak ini.. Morgan. " Ancam Rosa, membuatku dan Monica terkejut.
Dan semakin menyadari betapa jahatnya Rosa, bahkan menjadikan darah daging sebagai alat untuk mengancam.
" Lakukan apapun mau mu. Jika terjadi sesuatu pada anak itu, maka kamu juga akan mati. " Jawab Morgan dengan begitu menakutkan, sangat menakutkan di mata ku untuk pertama kalinya.
Setelah kami bertiga pergi, kemarahan Rosa yang merasa kalah pun meluap luap tidak karuan.
Dia berteriak dan membanting semua barang barang di dekatnya.
Ia merasa sangat frustasi, bahkan dengan jebakan ampuh seperti ini.. tidak menjadikan Morgan menjadi miliknya seutuhnya.
Dengan kejahatan Rosa, dia pun menjadi semakin menderita sendiri.
Morgan pun mengantarkan ku kembali ke kantor, saat hendak turun dari mobil.. ia menahan tangan ku sejenak.
" Kita masih harus bicara. " Kata nya kepadaku.
" Nanti sepulang kerja, aku akan menghubungi mu. " Jawab ku sedikit malu mengingat apa yang kulakukan baru saja di hadapan Monica.
Aku pun bergegas masuk ke kantor, bersiap untuk siaran.. karena waktu yang tanpa terasa terbuang oleh insiden ini.
Tersisa Monica dan Morgan saja di dalam mobil saat ini dan mereka lanjut berkendara.
" ehem ehem.. ada yang lagi berbunga bunga nih. " Sindir Monica menggoda.
" Keliatan banget ya di wajah ku. " Sahut Morgan merasa.
" Kakak harus berterima kasih kepadaku, karena aku menghampiri Rosa.. semua jadi begini." Sahut Monica mulai iseng.
" Iya.. iya.. Makasih ya adik ku sayang. " kata Morgan penuh kasih sayang ke Monica.
__ADS_1
" Black card dong. Ga ada yang gratis di dunia ini kak. " Canda Monica.
Ia pun ikut bahagia melihat aura dan senyuman Morgan yang kembali muncul.