Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
SEPERTI MIMPI


__ADS_3

Part 53 " Seperti Mimpi "


Silau sinar matahari membuat ku terbangun dari tidurku.


Kepalaku begitu terasa berat, dan perut ku terasa mual karena terlalu banyak minum semalam.


Semakin aku membuka mata semakin aku mulai menyadari.


' Ini bukan kamar ku.' Kata hati ku sambil melihat ke sekeliling.


Aku segera bangun dan memeriksa ponsel ku, namun kehabisan daya dan mati.


" Sudah bangun?? " Terdengar suara berat yang tak asing di telinga ku.


Aku melihat Morgan yang sudah rapi dan tampan berdiri di hadapan ku dengan setelan jas hitam nya.


Antara percaya dan tidak percaya, kurasa.. itu hanya lah halusinasi ku.


Aku mendekat dan memegang pipi nya, terasa begitu nyata.


" Kenapa pegang pegang. " Katanya jutek sambil menampik tangan ku.


Terasa sakit, dan aku sadar bahwa ini adalah kenyataan.. bukan mimpi.


" Aaaaaa.... " Aku pun reflek berteriak karena sangat terkejut.


Flashback 10 jam sebelumnya.


Sesil kehilangan kesadaran karena terlalu banyak minum dan kelelahan karena aktifitas nya bersama Nindi.


Nindi yang masih bisa menahan kesadaran, menepuk nepuk bahu Sesil untuk membangunkannya.


" Hei.. jangan tidur disini. " Kata Nindi, namun Sesil tidak merespon.


Ia mengambil ponsel Sesil dan mulai melakukan sesuatu.


Ia mencari nomor telepon Morgan yang ternyata masih tersimpan di ponsel Sesil.


Berkali kali Nindi mencoba menghubungi Morgan, tetapi di reject oleh lelaki itu.


Menandakan bahwa mereka masih saling menyimpan nomor telepon masing masing.


Hp Sesil yang kehabisan daya pun mati.


Akhir nya Nindi tidak kehabisan ide, ia mengambil ponsel milik nya dan menelepon Morgan.


M : Halo


N : Morgan?


M : Siapa ini?


N : Morgan.. tolong Sesil, dia jatuh.. dia tidak sadarkan diri.. Cepat.


M : Dimana? ( Morgan terkejut dan langsung panik)

__ADS_1


N : Di xxxxxx


Setelah mengerjai Morgan dan membuat lelaki itu panik, Nindi pun meninggalkan sahabatnya.


Dia percaya dan yakin bahwa Morgan masih sangat mempedulikan Sesil.


Ketika Morgan sampai disana, ia menemukan Sesil yang tertidur dengan kepala beralaskan meja bar.


Ia bertanya pada bartender yang melayani Sesil.


" Kenapa dia??" Tanya Morgan cuek.


" Terlalu banyak minum. Syukurlah anda datang, kami sudah hampir tutup.. tapi teman nya tidak juga kembali. " Kata si bartender.


" Hmm.... " Ekspresi cemberut Morgan sambil membuang nafas panjang.


Mau tidak mau, dia yang sudah tertipu oleh panggilan Nindi.. mengambil tas Sesil..


Ia menggendong Sesil di kedua tangan nya dan memasukkan Sesil dalam mobil nya.


Morgan tidak langsung mengemudikan mobilnya, dia merasa tidak nyaman dengan keberadaan Sesil.. namun juga tidak mungkin meninggalkannya.


Dalam keheningan malam itu, kedua mata Morgan terus tertarik untuk lebih lama memandang wajah manis Sesil.


Pipinya yang merah merona, bibir nya yang lembut.. sempat membuat Morgan goyah dan ingin menyentuh nya.


Namun sentuhan itu tak terjadi karena tertahan oleh rasa kecewa Morgan.


Ia pun memutuskan membawa Sesil ke hotel, tidak ada tujuan lain.


Aku begitu berantakan saat ini, rambut pakaian dan wajah bangun tidur.


Aku begitu shock bisa berhadapan dengan Morgan pagi ini, bagaimana bisa lelaki ini bersama ku.


" Kenapa.. aku bisa bersama mu?? Seingat ku kemarin.. aku bersama Nindi. " Kata ku merasa malu dan kembali bersembunyi menutupi setengah wajahku dengan selimut.


" Tanya saja teman mu. Dia meninggalkan mu dan membuat ku kerepotan. " Jawab Morgan jutek tanpa basa basi.


" Seharusnya kemarin jangan menuruti orang yang sedang mabuk. " Gumam ku pelan.


" Kamu bodoh ya, minum alkohol sebanyak itu. Sampai tidak sadarkan diri, dengan mudahnya di bawa lelaki. Ceroboh !!! " Tegur Morgan dengan nada suara yang keras.


" Kan lelaki itu kamu, untuk apa aku takut. " Aku pun reflek menjawab dengan mudah nya.


Morgan pun menatap ku tajam, ia mendekat ke arah ku.. dan terus mendekat hingga aku tak berkutik.


" Kenapa kamu tidak takut kalau lelaki itu adalah aku?? Bukankah sekarang aku hanyalah orang asing untuk mu. " Sindir Morgan dengan penuh penekanan, dan sangat terlihat sekali rasa kesal di kedua matanya yang saat ini sedang bertatapan dengan ku.


" Aku.. ke.. toilet dulu. " Kabur adalah cara terbaik saat ini. Aku begitu gugup berada di dekat Morgan.


Aku secepat khilat beranjak dari ranjang hendak membersihkan diri, namun tiba tiba Morgan menarik tangan ku dan menghentikan ku.


" Kuharap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi. Lebih baik, kita tidak bertemu lagi. Anggap saja semalam aku melunasi hutang ku, karena kamu menolong putri ku waktu itu. " Ucap Morgan seakan mati rasa terhadap ku.


Tanpa ragu ia pergi meninggalkan ku.

__ADS_1


Perkataan Morgan begitu menusuk hati ku, di tengah kemurungan ku.. aku melihat di sudut meja.. terdapat sebuah obat pengar tergeletak disana.


" Kalau jahat.. ya jahat saja.. tidak perlu memperhatikan ku. " Gerutu ku kesal dengan perlakuan Morgan.


Setelah beberapa saat aku selesai bersiap diri, dengan kondisi yang belum membaik.. aku pulang ke rumah.


Di dalam rumah, mama sudah menyambutku dengan rasa khawatir.


" Sesil, akhirnya kamu pulang juga. Semalaman kamu dimana, kenapa ga ada kabar sih nak?" Tanya mama khawatir.


" Maaf ma, hp ku mati. Aku baik baik aja kok. Cuma sedikit lelah. Kemarin seharian hangout sampe ga kenal jam. " Jawab ku lesu.


" Lalu.. kamu menginap dimana?" Tanya mama to the point membuat ku tersentak.


" Oh itu.. aku.. tidur di rumah Nindi. " Jawab ku berbohong dengan sendirinya tanpa pikir panjang.


" Oh begitu. Ya sudah. Istirahat sana. " Kata mama melepaskan ku.


Dengan segera aku berlari masuk ke kamar, mengambil charger dan menyalakan ponsel ku.


Terlihat beberapa pesan dan panggilan yang tertunda di layar ponsel ku.


Aku yang geram dan belum selesai berurusan dengan Nindi, segera meneleponnya.


N : Halo


S : Nindi.. kamu pengkhianat.


N : Hahaha.. oh itu. Sorry Sil. Kamu kan tahu kemarin aku juga ga sadar nelpon Morgan.


S : Duuhh aku malu banget Nin. Aku kikuk banget.


N : Jadi.. dia beneran dateng jemput kamu??


S : Iya. Bahkan saat aku bangun tidur, dia masih bersama ku.


N : Waahh so sweet.. dia bener bener dateng jagain kamu. Itu artinya dia masih ada rasa dengan mu.


Mendengar perkataan Nindi membuat ku terdiam.


N : Helloooo.. masih ada orang kan ini...


S : Dia bilang.. untuk tidak saling bertemu lagi. Hiks hiks hiks


N : Lhoh.. kamu nangis?? Padahal aku berharap pertemuan kalian akan membawa hasil yang bagus.


S : Hiks hiks hiks.. Sepertinya, dia benar benar membenci ku. Tapi.. bagaimana dengan ku..


S : Saat melihatnya.. aku terus berdebar.. aku rasa.. aku masih mencintai nya Nin.. hiks hiks..


N : Stay strong Sesil.. Duuhh jangan nangis.. aku yakin kok kalo perasaan Morgan juga sebenarnya seperti yang kamu rasakan.. kalian hanya butuh waktu untuk saling memahami situasi masing masing.


N : Sorry ya Sil.. aku ga tahu kalo akan jadi begini..


Nindi pun jadi merasa bersalah kepadaku yang tiba tiba menangis setelah bertemu dengan Morgan.

__ADS_1


__ADS_2