
Part 29 " Siblings Time "
Siang ini, Morgan dan Monica sampai di salah satu mall terbesar di ibukota.
Morgan menuruti semua keinginan Monica yang hari ini belanja gila gila an memanfaatkan black card kakak nya.
" Bagus yang mana kak? " Tanya Monica sambil membanding kan dua dress branded di salah satu outlet merk ternama.
" Semuanya bagus. " Jawab Morgan santai.
Yah walau pun hatinya begitu sedih akhir akhir ini, namun kehadiran Monica sedikit mengisi kekosongannya.. apalagi tingkah laku Monica cukup mirip dengan Sesil yang ceria.
" Ok, aku ambil keduanya. " Kata Monica memberikan pakaian itu ke staf toko yang melayaninya.
Ia pun mendekat ke arah Morgan yang duduk di sofa dan terlihat merenungkan sesuatu.
" Kenapa kak? " Tanya Monica tanpa sungkan.
" Tidak, aku hanya menyadari sesuatu hal. " Jawab Morgan sambil menatap ke arah adik nya.
" Apa kak? " Monica semakin penasaran melihat ekspresi Morgan.
" Aku belum pernah memberinya hadiah. Aku hanya memberi luka untuknya. " Jawab Morgan dengan wajah sendu nya.
Monica pun langsung memahami perkataan Morgan, meskipun ia belum mengenal wanita itu.. tapi dia memahami nya.
Monica menyandarkan kepalanya ke bahu Morgan dan menepuk nepuk lengan Morgan.
" Its ok. Kakak sendiri juga terluka. Kalian sama sama terluka. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri kak. " Kata Monica mencoba menguatkan Morgan.
" Ehm.. ayo, kita lanjut kak. Aku tidak boleh menyia nyiakan black card unlimited mu. " Sahut Monica sambil menarik tangan Morgan untuk berpindah ke outlet lain, sekaligus mengalihkan perhatian Morgan.
Hari ini mall terlihat cukup ramai pengunjung, Morgan hanya mengikuti saja kemana pun langkah Monica pergi sebagai dompet berjalan.
Hingga asisten Monica sedikit kewalahan membawa beberapa belanjaan Monica di kedua tangannya.
Kali ini Monica berpindah ke toko aksesoris wanita dan melihat berbagai macam aksesoris cantik disana, tentunya juga tidak murah.
Tiba tiba kedua mata Morgan tertarik pada sebuah bros cantik bertahta kan permata kecil.
Ia mendekat ke meja kaca yang menyuguhkan berbagai pilihan, namun kedua mata Morgan tidak beralih pada apa yang menarik bagi nya.
" Cantik kak, beli aja. " Sahut Monica tiba tiba membubarkan lamunan Morgan.
" Ini limited edition pak. Sangat cantik dan tidak banyak di produksi. " Kata staf yang melayani mereka.
" Tuh kak, ambil aja. Cantik banget. " Usuk Monica lagi.
Namun Morgan tampak ragu, bukan karena dia tidak mampu membelinya.. namun karena wanita yang ia bayangkan akan memakai bros ini, sudah tidak bersamanya.
" Sudahlah. Aku hanya melihat lihat saja. " Kata Morgan menghindar dan pergi dari meja itu.
__ADS_1
Monica pun lagi lagi memahami kondisi hati kakaknya dan tidak ingin memaksa lebih lagi.
Selesai belanja bersama, Morgan mengantar Monica pulang.
Namun ia tidak langsung kembali ke apartmen, melainkan bersantai di ruang keluarga.
" Kakak, ga pulang?? Kak Rosa sendirian lho. " Sahut Monica mengingatkan.
" Sebentar lagi. Aku masih ingin disini. " Jawab Morgan sambil menyandarkan rasa lelahnya di sofa.
" Biarkan saja, biarkan kakak mu istirahat disini. " Sahut ibu Morgan yang turun menyambut kehadiran anak anak nya.
" Ma.. kakak.. galau parah. " Bisik Monica ke arah ibu nya.
" Mama tau, karena itu.. jaga kakak mu. Luangkan banyak waktu untuk nya, bukannha gila belanja aja. " Gumam ibu Morgan menasehati putrinya.
Ibu Morgan menghampiri putra nya dan duduj di sebelahnya.
" Morgan.. kamu mau makan sesuatu? " Tanya ibu nya perhatian.
" Aku tidak nafsu makan ma. " Jawab Morgan lesu, kemudian menyandarkan kepalanya di pangkuan hangat ibu nya.
Dengan penuh kasih sayang, ibu Morgan membelai kepala putra sulungnya yang berubah tidak bersemangat dan tidak berkharisma seperti sebelumnya.
" Morgan.. mama tahu kalau kamu sedang tidak baik baik saja. Tapi bagaimana pun, Rosa sudah menjadi istri mu.. bagian dari keluarga mu.. apalagi dia sedang mengandung. Kamu tidak boleh terus terusan seperti ini nak. Jaga dan perhatikan dia. " Nasehat ibu Morgan baik.
" Mama tahu, memang sulit.. tapi perlahan, kamu pasti akan bisa menyembuhkan luka mu. " Lanjut ibu Morgan.
" Aku masih tidak percaya dengan semua ini. " Lanjut Morgan, dan entah mengapa di pangkuan ibu nya.. air mata nya menetes perlahan.
" Kamu adalah anak kebanggaan mama.. anak yang kuat, anak yang baik dan anak yang bertanggung jawab.. mama percaya kamu pasti bisa melalui semua ini. " kata ibu Morgan memberi semangat kepada Morgan.
Dan lelaki itu hanya terdiam merenungkan perkataan orang tuanya walaupun sulit untuk menjalaninya.
Rutinitas Morgan sebagai CEO pun kembali, ia saat ini lebih senang menghabiskan waktu dengan pekerjaan yang menumpuk.
Ia merasa bisa mengalihkan perhatiannya dengan bekerja, hingga Adit juga ikut kelelahan dengan semangat kerja Morgan.
Sedangkan kehidupanku..
Aku banyak menghabiskan waktu bersama teman teman ku dan membangun karier ku dalam dunia news anchor.
Beberapa waktu yang rumit kulalui seiring berjalannya waktu mulai pudar dari perhatian publik, dan aku kembali menjadi Sesil sebelum mengenal Morgan.
" Good morning.. aku bawa kopi nih buat kalian." Kata Nindi menghampiri meja kerja ku yang bersebelahan dengan Steve sambil membawa 2 gelas kopi.
Hari ini akhirnya Steve bisa bergabung dalam siaran berita, dia mendapatkan waktu di slot berita siang.
" Good luck ya buat siaran perdana mu. " Kata Nindi menyemangati Steve.
" Semangat. " Sahut Steve merespon positif.
__ADS_1
" Jangan sampai lupa dengan semua materi yang kamu pelajari. Aku akan memantau mu siaran nanti. " Kata ku sebagai senior.
" Tentu saja. Aku tidak akan mengecewakan mu." Jawab Steve memandang ku.
" Uhuk.. uhuk.. begini ya rasanya jadi obat nyamuk. " Sindir Nindi yang melihat kedekatan kami.
" Btw.. minggu depan kita kan ada MT.. pada bisa ikut kan?? " Tanya Nindi mengingatkan ku.
" Bukannya itu buat para anak baru aja ya? " Tanya ku salah presepsi.
" No no no. Semua. Junior dan senior mesti ikut. " Sahut Nindi yang lebih update dengan info manajemen kantor.
" Ya kalau wajib, ya harus ikut. " Sahut ku santai, sekalian mencari udara segar di villa kaki gunung milik perusahaan.
" Refreshing tipis tipis. " Kata Nindi senang sambil meneguk kopi nya.
Sedangkan Steve hanya menjadi pendengar kami yang setia sambil membalik lembar demi lembar materi siarannya siang ini.
Siang hari di studio..
Steve sudah tampak rapi dengan setelan jas lengkap berdasi dan rambut yang tertata rapi.
" Jangan gugup. " Kata ku sambil menepuk bahu Steve.
Aku dengan senang hati menemani nya untuk siaran perdana.
" Bagaimana penampilanku? Sudah rapi? " Tanya Steve menanyakan pendapatku.
Dengan sigap tanpa pikir panjang kedua mata ku memperhatikan penampilannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
" Oke sih. Sebentar.. ini sedikit kurang rapi. " Jawab ku tanpa sadar mendekat dan merapikan ikat dasi Steve yang sedikir longgar dari kerah kemeja nya.
Terlihat Steve mengalihkan pandangan nya dengan salah tingkah dan wajah merona.
" Ehem.. ehem.. Thanks. " Kata nya terdengar gugup.
" Selesai. " Sahut ku setelah membantunya merapikan dasi.
" Goodluck. " Kata ku menyemangati nya.
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1
Siaran dimulai,
Steve mengawali setiap part berita dengan sangat baik dan penuh kharisma.
Ia begitu terlihat berbeda ketika kamera mulai menyorot padanya, aura Steve begitu memancarkan kharisma. Suaranya terdengar tegas dan begitu memikat.
Benar saja.. bahkan beberapa staff dan asisten wanita begitu takjub melihat siaran perdana Steve.
" Siap siap punya fansclub. " Gumam ku sambil tersenyum lucu melihat respon antusias penonton melihat ketampanan Steve.
__ADS_1