Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
KESEPIAN


__ADS_3

Part 68 " Kesepian "


Langkah kaki Morgan begitu berat..


Wajahnya begitu lesu dan tidak bersemangat..


Sekali lagi Morgan kehilangan bagian penting dalam hidup nya..


Ia masuk ke dalam rumah, yang sudah di sambut hangat oleh Monica dan Mitzy..


" Gimana kak?? " Tanya Monica yang mengetahui masalah baru ini dan bergegas memenuhi permintaan Morgan untuk menemani Mitzy.


Morgan hanya terdiam dan lesu sambil menggelengkan kepala nya.


Monica bisa melihat dengan jelas betapa sedih dan putus asa nya Morgan melalui kedua mata sembab sang kakak.


Monica pun memberi pelukan untuk menguatkan kakak nya yang lagi lagi harus menjalani pahitnya kisah cinta dalam hidup.


" Daddy... " Mitzy pun berlari menghampiri Morgan.


Seketika itu Morgan 180 derajat mengubah ekspresi sedihnya dengan senyuman.


" Sayang.... daddy rindu sekali, padahal baru berapa jam ga ketemu. " Gumam Morgan memeluk Mitzy dengan erat.


" Mommy mana? kenapa ga ikut pulang? " Tanya Mitzy tiba tiba sambil memperhatikan samping kanan kiri Morgan yang pulang sendirian.


Pertanyaan Mitzy begitu menusuk dalam hati Morgan yang sakit.


Ia bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan putri semata wayang nya yang begitu mengharapkan kehadiran Sesil.


Monica pun menangis melihat kesengsaraan ini, disaat Mitzy merasakan hangat nya sebuah keluarga dan kasih sayang seorang ibu.. secepat ini juga, semua harus menghilang.


" Nanti ya.. nanti daddy ajak mommy pulang. " Jawab Morgan dengan suara sendu nya, seperti menahan tangis sambil memeluk Mitzy.


Malam hari di ruang kerja Morgan..


Se kaleng beer dingin menemani nya malam ini dalam keheningan.


Suasana ceria dan penuh cinta yang akhir akhir ini mengisi hari hari Morgan, lenyap dalam sekejap.


Seakan menghadapi jalan buntu, begitulah rasa frustasi Morgan saat ini.


Perkataan mama Sesil, tentang kepergian Sesil yang akan kembali ke Kanada begitu memukul hati Morgan.


Imajinasi Morgan akan kehadiran Sesil, semakin terlihat nyata dalam kedua mata nya.


" Jangan kerja sampai malam. Cepat tidur. " Bayangan Sesil yang terasa nyata di hadapan Morgan.


" Hari ini aku dan Mitzy pergi bermain di taman, ternyata bagus banget. " Bayangan lain terus terlihat di kedua mata Morgan, dan tampak sangat nyata.

__ADS_1


Senyuman wanita itu..


Wangi rambut dan tubuh wanita itu..


Bahkan, suara ceria wanita itu..


Mata Morgan mulai berkaca kaca, dan dengan cepat ia meneguk kembali minuman nya dalam keheningan..


Monica diam diam melihat di sela pintu yang sedikit ia buka.


Pemandangan yang sama kelam kembali lagi setelah beberapa waktu berlalu.


" Aku tidak bisa membiarkan kakak jatuh lagi. " Gumam Monica yang sangat menyayangi kakak nya.


Keesokan pagi di rumah Sesil..


Pagi ini aku bangun dan beraktifitas dengan perasaan hampa,


kecanggungan terjadi di antara aku dan mama juga kak Shelo.


Bahkan saat sarapan pun, tidak banyak hal yang bisa kami bicarakan seperti biasanya.


Aku sama sekali tidak nafsu untuk menghabiskan sarapan ku, karena merasa begitu sesak dalam hati dan pikiran ku.


" Shel.. kamu sudah menyiapkan semuanya? " Tanya mama di tengan keheningan suasana meja makan.


" Belum ma. Aku ingin bicara dulu dengan Sesil. " Jawab kak shelo yang tiba tiba menyebut nama ku.


" Tidak perlu dibicarakan lagi. Mama yang memutuskan kali ini. Sesil harus kembali ke Kanada. " Kata Mama tegas begitu mengejutkan ku.


" Apa?? Kembali ke Kanada? " Sahut ku terkejut sambil meletakkan sendok garpu ku.


" Ma.. sabar, jangan gegabah.. kita bicarakan dulu semuanya dengan kepala dingin. " Kata kak Shelo menengahi dengan bijaksana.


" Mama ga bisa memutuskan secara sepihak begini.. 3 tahun lalu, aku mengikuti semua kemauan kalian.. tapi kali ini, beri aku kesempatan untuk memutuskannya sendiri. " Jawab ku ingin memperjuangkan hubungan ku.


Aku tidak ingin lari untuk kedua kalinya..


" Sesil.. ini adalah keputusan terbaik untuk kamu.. lupakan semua yang sudah terjadi.. kamu bisa hidup lebih tenang dan bahagia disana. " Kata mama yang berusaha meyakinkan ku.


" Engga ma.. aku sama sekali ga bahagia disana.. kemana pun mama ingin aku pergi, hati ku tidak bisa berbohong.. " Ungkap ku penuh kesedihan.


Tiba tiba di tengah pembicaraan kami yang lebih ke arah perdebatan, seorang pelayan mendatangi kami dan menyampaikan bahwa ada tamu yang datang mencari ku.


" Permisi non.. ada tamu untuk non Sesil.. " Kata pelayan itu sopan.


Aku pun berharap bahwa dia adalah Morgan.


" Tolak saja kalau itu Morgan.. tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. " Sahut mama sangat tegas.

__ADS_1


" Ehm.. bukan nyonya.. Nama nya Tuan Steve dan Bu Monica. " Jawab pelayan itu.


" Aku akan menemui mereka. " Kata ku tanpa pikir panjang berlari ke ruang tamu.


Aku begitu terkejut melihat Steve dan Monica sudah mengunjungi ku pagi ini, dan yang lebih mengejutkan lagi.. mereka membawa Mitzy bersama nya.


" Mommy.. " Sahut Mitzy yang langsung berlari memeluk ku.


" Mitzy... " Balas ku begitu merindukannya.


Steve dan Monica pun ikut tersenyum lega melihat Mitzy yang begitu menggemaskan dan tidak ingin melepaskan tangan ku.


" Apa kabar Sesil? " Sapa Steve ramah.


Dan melihat ekspresi Monica, aku tahu bahwa semua ini ia rencanakan bersama Steve agar bisa mempertemukan aku dengan Mitzy.


" Kenapa.. anak ini.. " Sahut mama yang tiba tiba ada di belakang ku, membuat ku sangat terkejut.


" Ma.. ehm ini.. ini Steve dan ini Monica. "


" Pagi tante. " Sapa Monica dan Steve yang jadi ikut grogi.


" Lalu anak ini.. " Kata mama yang lebih fokus ke arah Mitzy.


Namun begitu mengejutkan nya, dengan berani Mitzy menghampiri mama dan meraih tangan nya..


Seperti tidak biasa nya, Mitzy yang terbiasa hidup dengan orang orang terdekat.. tidak merasa takut sedikit pun di depan mama..


" Oma.. Nama ku Mitzy.. umur 3 tahun.. " Kata Mitzy memperkenalkan diri tanpa disuruh.


Mama yang memang pada dasarnya berhati baik dan penyayang, semarah apapun.. tidak serta merta melampiaskan pada seorang anak kecil yang polos.


" Halo Mitzy.. anak pintar.. kenapa pagi pagi datang kemari? " Tanya mama lembut.


" Aku kangen mommy. " Jawab Mitzy tanpa filter.


" Maaf tante.. sebenarnya kami kesini karena ingin membicarakan pekerjaan. Karena Mitzy rewel ingin bertemu Sesil, jadi kami ajak. " Alasan Monica sambil perlahan menarik tubuh Mitzy.


" Pekerjaan?? " Tanya ku tidak mengerti.


" Iya.. mengenai tawaran ku waktu itu. Apa kamu sudah memiliki jawaban?? Untuk.. kembali menjadi news anchor." Sahut Steve dan membuatku teringat akan pembicaraan kami beberapa waktu lalu.


" Oh.. itu.. ya aku ingat.. " Jawab ku.


Setelah mendengar pembicaraan itu, mama pun mulai membuang rasa curiga.. terlebih mama mengetahui Steve yang memang sebelumnya bekerja bersama ku.


" Kalian ngobrol saja, mama ke dalam dulu. " Sahut mama meninggalkan kami.


Begitu mama masuk ke dalam, Mitzy kembali berlari menghampiri ku dan memeluk ku.

__ADS_1


" Sssttt... hihihihi. " Kode Mitzy dengan lucu nya.


Membuat ku bisa kembali tersenyum, begitu pun Steve dan Monica yang kompak mendukung ku.


__ADS_2