Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
100 HARI


__ADS_3

Part 57 " 100 hari Meluluhkanmu "


Selesai fitting, Morgan menarik tangan ku keluar dari boutiqe dengan tatapan penuh kekesalan.


Ia membawa ku menjauh dari banyak orang dan juga Mitzy yang sudah duduk aman di dalam mobil Morgan bersama driver nya.


Aku pun melepaskan genggaman erat Morgan di pergelangan tangan ku.


" Kamu jangan salah paham Morgan. Aku bukan dengan sengaja melakukan semua ini. " Kata ku yang sudah memahami apa yang akan Morgan katakan.


" Bukan kah aku sudah bilang, lebih baik kita tidak bertemu lagi. Jangan memberi harapan kosong kepada Mitzy.. apa tidak cukup, aku saja yang kamu buat menderita. " Kata Morgan emosional cukup keras kepadaku.


Seperti bukan Morgan yang selama ini kukenal dan pernah menjadi kekasih ku.


" Apa aku sebegitu membuat mu menderita?? Sampai kamu seperti ini.. aku juga menderita Morgan. Bukan cuma kamu yang punya hati.. aku juga.. " Sahut ku yang juga terpancing.


" Sesil.. yang ditinggalkan, selalu lebih terluka. Aku berjuang untuk melupakan mu dan membenci mu.. tidak bisakah, semua ini kita akhiri saja?? Aku mencintai mu.. tapi bukan berarti kamu bisa datang dan pergi sesuka mu. " Kata Morgan sedih, sangat sedih hingga ia bampir menangis.


" 3 tahun.. setiap kali aku mengingat mu, aku memiliki satu penyesalan yang sangat mendalam.. " Kata ku berurai air mata, aku merasa.. aku tidak mampu menahannya lagi.


Morgan pun seakan tidak ingin mendengarkan ku, ia selangkah 2 langkah ingin meninggalkan ku.. namun dengan berani aku menahan nya, memegang tangan nya.


" Aku mencintai mu. " Ungkap ku tiba tiba mengikuti perasaan ku.


Morgan begitu terkejut dan berpaling memandang ku.


" Aku mencintai mu Morgan.. Penyesalan ku setelah pergi meninggalkan mu adalah karena aku belum sempat mengatakan nya kepadamu." Lanjut ku semakin mencurahkan isi hati ku yang paling jujur.


" Begitu sakit nya aku ketika di hadapkan pada pilihan.. menunggu mu atau menuruti keluarga ku. " Ungkap ku lagi berharap Morgan bisa berlapang dada menghapus kekecewaan nya yang mendalam.


" Terlambat Sesil. Tidak ada guna nya kamu mengatakan itu sekarang.. fakta bahwa kamu tidak mau menunggu ku di tengah tengah perjuangan ku, tidak bisa terhapus semudah itu." Jawab Morgan yang masih keras hati.


" Aku tahu.. waktu tidak bisa di putar kembali.. tapi setidak nya, aku memiliki kesempatan untuk mengatakannya padamu. " Kata ku tidak menyerah.


" 3 tahun lalu.. aku selalu terang terangan mengutarakan apa yang kurasakan.. selalu ingin berada di dekat mu.. selalu memberikan seluruh cintaku padamu.. tapi kali ini, mendengar mu mengatakan hal itu membuat ku semakin jengkel.. jadi itu tanda nya, aku.. tidak bisa membuang rasa kecewa ku. " Jawab Morgan tegas.


" 100 hari... " Teriak ku mengusulkan sesuatu yang gila.


Aku hari ini begitu gila.. aku tidak waras sampai sampai berusaha begitu keras mencari kesempatan kedua untuk menebus rasa bersalah ku pada Morgan.

__ADS_1


" Beri aku waktu 100 hari untuk meluluhkan mu.. jika tidak berhasil, aku akan kembali tempatku.. jauh dari mu.. dan juga Mitzy.. " Aku dengan berani menawarkan hal gila di depan Morgan.


Selain karena aku ingin menyembuhkan rasa kecewa Morgan, aku juga ingin berusaha memenuhi keinginan Rosa.


Aku mencoba meyakinkan diri ku, bahwa alasan ku hanyalah sebatas itu..


Aku ingin menyangkal bahwa, aku melakukannya terutama juga karena.. aku masih mencintai lelaki ini.


" Apa????" Sahut Morgan terkejut dengan tantangan dari ku.


" Kenapa?? Kamu takut?? Itu arti nya kamu masih mencintai ku Morgan.. hanya saja, kamu terlalu gengsi untuk memaafkan ku. " Kata ku memancing Morgan.


Ia pun terlihat merasa tertantang dengan perkataan ku, Morgan mendekat ke arah ku dengan tatapan yakin bahwa dia tidak akan goyah kepadaku.


" Deal. Coba lah sekuat tenaga mu untuk meluluhkan ku. " Jawab Morgan tegas.


Tiba tiba Morgan menelepon seseorang tepat di hadapan ku.


" Adit, bersihkan penthouse ku. Selama 100 hari.. aku akan tinggal disana bersama Mitzy, dan juga.. seorang tamu. " Kata Morgan terus memandang ku kemudian menutup panggilannya.


" Penthouse??? " Tanya ku terkejut, apa tujuan Morgan dengan itu semua.


" O.. oke.. deal. " Sahut ku yang sebenarnya sedikit ragu, namun aku tidak ingin menyerah sampai Morgan tidak lagi menyimpan dendam padaku, dan juga aku bisa memenuhi keinginan Rosa untuk merawat putri nya.


Hanya saja di sepanjang perjalanan pulang ku.. rasanya begitu frustasi..


Selama 100 hari, apa yang harus ku katakan kepada keluarga ku..


Tidak mungkin aku mengatakan yang sesungguhnya.. dan itu membuatku berpikir keras..


Seminggu kemudian...


Waktu yang telah kujanjikan untuk tinggal bersama Morgan dan Mitzy selama taruhan 100 hari ku tiba.


Aku mengemas semua pakaian ku.. menjadwalkan kembali kepulangan ku ke Kanada dan terpaksa membuat alasan kepada keluarga ku..


" Kenapa tiba tiba kamu mau pergi ke luar kota?? " Tanya mama yang membantuku berkemas.


" Ehmm.. aku bosan ma, mumpung aku disini.. jadi sekalian aja ambil kelas kursus.. cuma 3 bulan kok ma pelatihannya.. nambah skill public relation ku juga kan. " Kata ku beralasan dan sangat merasa bersalah karena tidak bisa berkata jujur.

__ADS_1


" Hmm.. jaga kesehatan ya.. jangan terlalu semangat belajar sampai lupa waktu.. sempatkan pulang juga, kan di luar kota.. cuma butuh beberapa jam buat berkendara. " Nasehat mama yang sedih harus melepasku selama 3 bulan lama nya.


" Iya, mama tenang aja.. aku pasti sering sering pulang. Kan ini bukan ke Kanada. " Kata ku sambil memeluk mama dengan rasa bersalah karena harus berbohong.


Setelah berhasil keluar dari rumah.. aku berkendara menuju alamat yang sudah Morgan kirimkan.


Benar saja.. kisah kami akan kembali dimulai selama 100 hari lamanya di penthouse Morgan, tepat nya di pinggiran kota yang masih banyak sekali pemandangan alami yang belum tergerus pembangunan seperti di pusat kota.


Begitu menyejukkan dan damai di sepanjang perjalanan ku kesana.


Terlihat sebuah private apartmen yang mewah namun jauh dari kebisingan kota.


Banyak konglomerat yang menginvestasikan uang nya untuk membeli kediaman di sana, walau hanya untuk sekedar mencari ketenangan.. salah satu nya adalah Morgan.


Aku membawa 1 koper besar dan mulai menuju ke lantai atas tempat penthouse Morgan yang jarang di huni.


Ketika menginjakkan kaki ku disana, terlihat Adit.. Morgan dan juga Mitzy sudah duduk nyaman di sofa.


" Kenapa bengong? Masuk. " Sahut Morgan yang belum apa apa sudah terlihat mengintimidasi.


Dengan yakin aku masuk dan sesekali melihat ke sekeliling kemewahan penthouse Morgan.


" Selamat datang di penthouse pak Morgan. Disini nyaman, tenang dan indah. Semoga anda betah berada disini. " Sambut Adit ramah kepadaku.



" Ehm.. yah.. thankyou. " Jawab ku tersenyum getir, dan harus segera beradaptasi.


" Aku ragu kalau wanita ini akan betah.. kan dia hobi meninggalkan orang sesuka hati. " Sindir Morgan tanpa ragu di hadapan ku.


" Justru aku yang ragu kalau kamu akan betah berada disini bersama ku.. hati hati, nanti berdebar debat setiap hari. " Balas ku tidak ingin kalah.


Mitzy pun tiba tiba mendekat padaku, ia menarik tangan ku dan mengajak nya pergi ke kamar miliknya.


" Pak, apa anda yakin akan tinggal disini?? Mitzy bagaimana?? Dia akan jauh dari bu Monica dan orang tua anda. " Kata Adit khawatir.


" Hmm.. aku sudah menjelaskan semua kondisi nya kepada Monica. Dia malah sangat mendukungku, dan membantu ku mencarikan alasan pada mama dan papa. Sedangkan untuk Mitzy.. kamu tidak perlu khawatir.. kamu kan tahu sendiri, akhir akhir ini.. dia begitu bahagia berada bersama Sesil. " Jawab Morgan mencoba santai.


" Oh.. lalu apa saya salah ya.. seharusnya yang saya khawatirkan adalah anda.. kalau kalau anda goyah. " Canda Adit menggoda Morgan yang memang dalam hati nya sedang khawatir.

__ADS_1


Apakah dia mampu menahan perasaan nya saat berada dalam satu atap dengan Sesil dan berinteraksi setiap hari.


__ADS_2