Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
MORGAN SI BAPAKABLE


__ADS_3

Part 13 " Morgan si Bapakable"


" Sebenarnya apa yang kulakukan, memalukan. " Gumam Morgan yang sudah berbaring di ranjang kamar miliknya sambil terus memikirkan kejadian barusan dimana ia mencium bibir Sesil dengan intens dan terbawa suasana.


Ia semakin tidak mengerti dengan dirinya sendiri yang bahkan melakukan hal konyol dengan beralasan bahwa media mengikuti mereka malam itu, padahal Morgan sudah melihat sekeliling dan aman.


Semua alasan itu dilakukannya apakah hanya untuk bisa mencium Sesil.


Pikiran nya pun jadi kacau, jantungnya terus berdebar kencang dan ia merasa tidak tenang karena ketika mengingatnya, begitu terasa memalukan.



Keesokan hari nya tiba tiba Arshel di antar ke apartmen ku oleh Kak Shelo secara mendadak.


Arshel yang baru berusia 5 tahun sementara harus kujaga karena kak Shelo dan Kak Arvi harus menghadiri acara pernikahan kerabat di luar kota.



Sedangkan kak Shelo tidak tega jika harus merepotkan mama karena usia yang sudah tidak lagi muda.



Dengan senang hati aku menjaga Arshel, namun aku pun hari ini ada siaran berita malam hari dan akhirnya terpaksa aku harus mengajak Arshel pergi ke kantor mulai pagi.



Karena siaran ku hari ini tidak live, jadi aku harus rekaman 3 jam lebih awal.


Saat aku berada di meja kantor bersama Arshel yang sibuk mewarnai buku gambarnya, banyak rekan kerja ku yang sudah mengenalnya.. terutama Nindi.



" Arsheeelll... makin besar makin cakep aja nak." Kata Nindi sambil membelai kepala Arshel.



" Pak produser belum datang kan? Bisa kena ceramah kalau melihat Arshel disini. " Gumam ku sambil memangku Arshel.



" Belum datang, mungkin sebentar lagi. Selama siaran, titip ke cafe anak di seberang jalan aja. Selesai siaran kita jemput, mungkin sekitar 1 jam an. " Saran Nindi memberi ide, karena hari ini dia juga memiliki jadwal siaran sama seperti ku namun di studio yang berbeda.



Di sela sela pembicaraan kami.. Morgan mengirimkan pesan kepada ku, untuk makan siang bersama.


Tiba tiba ide gila terbersit di kepalaku.



" Aku tahu harus menitipkan Arshel kemana. " Sahut ku dengan senyum nakal.



" Dimana? "



" Di kantor Morgan. Dia kan bos nya, tidak akan ada yang berani melarang nya. " Kata ku menemukan solusi.



" Duuhh.. pinter banget, ga salah aku setia jadi sahabatmu. " Canda Nindi memberikan tos kepadaku.



Satu jam kemudian sebelum rekaman ku dimulai, aku dan Arshel bergandengan tangan menunggu di depan gedung.



" Sayang, kamu jangan nakal ya. Nanti kamu ikut uncle Morgan sebentar, lalu selesai kerja aunty jemput. " Kata ku sambil merendahkan tubuhku menasehati Arshel.



" Jangan lama, aunty. " Suara lucu Arshel yang terlihat cemas.



" Iya.. ga akan lama. Jangan takut, uncle Morgan baik kok. Pasti suka sama Arshel. " Aku berusaha membujuk nya agar tidak rewel.



Beberapa saat kemudian mobil Morgan datang menghampiri ku. Dia terkejut melihatku bersama seorang anak kecil.



" Siapa dia?? " Tanya Morgan tanpa basa basi.



" Ayo kenalan. Nama nya Arshel. Jabat tangan uncle. " Aku menggendong nya agar bisa dengan jelas berhadapan dengan Morgan.



Tangan mungil nya berjabat tangan dengan Morgan yang memang tidak aku beritahu sebelumnya.



" Hai.. Dia ikut sama kita? " Tanya Morgan sedikit keberatan.



" Iya, dia menginap di tempat ku. Tapi aku ada siaran sebentar lagi. Jadi aku mau minta tolong padamu, titip Arshel sebentar. Selesai siaran, aku akan langsung menjemputnya. " Aku mulai menjelaskan maksud dan tujuan ku.



" Waahh.. jadi kamu bohong ya. Kamu bilang mau makan siang dengan ku. " Bentak Morgan kesal.


__ADS_1


" iya nanti kita makan sama sama.. tapi untuk sekarang, tolong yaaa. " Aku mencoba memelas demi kenyamanan Arshel.



" Terus aku mesti ngapain dia?? Aku ga pernah berurusan sama anak kecil.. kalau nangis gimana? Kalau ngompol gimana? " Kata Morgan khawatir.



" Achel ga ompol, uncle. " Sahut Arshel tidak terima, dan aku tersenyum lucu.



" Nah.. dengar sendiri kan, Arshel ini pintar.. sudah besar, ga ngompol ya nak. Nanti main sebentar sama uncle sampai aunty selesai. Oke?" Aku pun segera membuat keputusan sepihak tanpa peduli dengan Morgan yang terlihat bingung.



Aku menurunkan Arshel dan dengan polos nya, anak itu meraih tangan Morgan yang jauh lebih besar.



" Uncle.. ayo.. Aunty mau kelja. " Kata Arshel berani padahal baru pertama kali bertemu Morgan.



Morgan pun tersentuh ketika tangan mungil itu menggandeng nya.



" Iya.. iya, ayo. Masuk mobil. " Jawab Morgan membuka pintu untuk Arshel.



" Sesil.. jangan lama lama ya. " Bisik Morgan yang ekspresi nya seperti anak kecil dengan segala kegelisahan.



" Iyaa.. beres, tenang saja. Thankyou Morgan. Bye bye Arshel.. " Aku melewatkan sesuatu yang biasa kulakukan dengan Arshel.



" Aunty.. kiss kiss. " Teriak Arshel sebelum Morgan masuk ke mobil juga.



" Oh iya.. aunty lupa. Kiss kiss. "


Aku menundukkan tubuh dan kepala ku setengah memasuki mobil dan mencium hidung Arshel sebelum berpamitan.



Morgan pun tersenyum melihatnya, dan kami berpisah untuk beberapa saat.



Morgan berjalan memasuki kantor nya sambil menggandeng Arshel.


Sosok Morgan langsung berubah seperti papa muda idaman di mata setiap karyawati nya.



Saat memasuki ruangan nya, dengan segera ia memanggil Adit.. asisten nya.



" kamu belikan makanan dan minuman ringan untuk anak anak, dan mainan apa saja.. semuanya bawa kemari. " Perintah Morgan tiba tiba, sedangkan Arshel duduk di sofa ruangan Morgan.



" Baik pak. " Jawab Adit tersenyum melihat tingkah bapakable Morgan.



" Nah, Arshel. Tunggu disini ya. Uncle ke meja kerja dulu. Sebentar lagi mainan mu datang. " Kata Morgan mencoba menghindari kerepotan mengurus Arshel dengan mainan dan makanan.



" Achel.. mau ini. " Tiba tiba ia mengeluarkan buku warna yang sempat ia warnai bersama Sesil, namun belum selesai.



" Ya gapapa. Terserah kamu aja mau ngapain. Oke? " Kata Morgan acuh dan kembali duduk di meja kerja nya.



Makanan minuman ringan dan mainan berjejer di depan Arshel, namun semua tampak membosankan.



Ia berlarian di ruangan Morgan dan lama lama juga jadi bosan lagi.


Morgan yang sedang konferensi online dihampiri oleh anak itu. Ia menarik narik jas Morgan.



" Aduh.. kenapa? Uncle masih sibuk. " Jawab Morgan risih.



" Mau lihat.. lihat. " Kata Arshel penasaran dengan apa yang Morgan lakukan.



" Uncle masih kerja, ini bukan mainan. " Kata Morgan mencoba menjelaskan.



Namun anak itu tetap gigih menarik jas Morgan hingga konsentrasi nya pecah.


Akhirnya ia mengangkat tubuh mungil Arshel dan memangku nya, sehingga wajah Arshel ikut terpampang bersama Morgan di konferensi online para direksi.

__ADS_1



" Maaf, lanjutkan saja. " Perintah Morgan menjaga wibawa nya.



Para direksi pun menahan tawa melihat Morgan yang melakukan konferensi sambil mengasuh seorang anak untuk pertama kali nya.



Lambat laun Arshel bersandar ke dada bidang Morgan dan tertidur.


Konferensi online pun selesai dan Morgan menyadari bahwa si kecil sudah tertidur di pangkuannya.



" Ma.. ma.. hiks.. mamaaa... " Dalam tidurnya Arshel yang selalu bersama dengan Shelo, mulai merengek.



Morgan yang sempat lega karena Arshel tertidur tenang, tiba tiba panik mendengar rengekan Arshel.



Ia pun segera menggendong anak itu, dan menyandarkan kepala Arshel agar nyaman tidur di bahu Morgan.



Sesekali Morgan menggoyangkan tubuh nya ke kanan dan ke kiri menimang nimang Arshel agar tidur dengan tenang.



Sambil memandang ke arah pemandangan kota, Morgan mulai merasa bisa dan nyaman dengan apa yang dia lakukan.



Ia menepuk nepuk punggung Arshel yang kembali tertidur dengan tenang dan tersenyum, dia tidak percaya bahwa seorang Morgan Ricardo melakukan hal seperti ini di dalam perusahaan nya sendiri.



Tempat dimana semua orang mengenalnya sebagai pemimpin yang penuh wibawa dan karismatik.



Hari mulai sore dan aku dengan terburu buru datang ke kantor Morgan. Aku merasa khawatir karena jam rekaman harus tertunda 1 jam lamanya.



Saat aku bergegas masuk ke ruangan Morgan, betapa takjubnya mataku melihat pemandangan indah dimana Morgan sedang asyik bermain dengan Arshel yang sudah bangun dari tidur siangnya.



Mereka mulai beradaptasi satu sama lain dan bermain bersama.


Perhatian mereka teralihkan ketika aku masuk ke ruangan Morgan.



" Auntyyyy... " Arshel berlari menghampiri ku dengan senang.



" Arshel.. sorry ya aunty telat. Kiss kiss. "


Aku memeluk dan mencium hidung Arshel seperti biasa.



Morgan pun ikut menghampiri ku dengan perawakan yang kembali dingin, padahal aku sudah melihat sisi kasih sayang nya beberapa menit yang lalu.



" Dasar. Tidak tepat janji. " Gerutu Morgan kesal.



" Sorry, tadi pak produser tiba tiba meeting dadakan. " Jawab ku merasa tak enak hati.



" Pekerjaan ku hampir berantakan hari ini. " Gerutu Morgan lagi.



" Aunty.. kiss kiss, kenapa uncle ga kiss kiss. " Sahut Arshel yang memperhatikan perdebatan mereka.



" Hah?? Kiss kiss nya aunty cuma buat Arshel. " Jawab ku menghindari ketidak nyamanan itu.



" Gak adil. " Gumam Morgan tiba tiba terdengar di telinga ku.



Dengan kesal ia berpaling ingin menuju meja kerja nya, namun aku dengan sengaja menghampirinya dan menarik tubuhnya agar melihat ku.



" Kiss kiss, thankyou. "



Aku pun mendaratkan ciuman ke pipi Morgan, meski kedua kaki ku harus berjinjit.



Sama seperti yang kulakukan kepada Arshel, dan Morgan pun terdiam sangat terkejut namun wajahnya tersipu merona.

__ADS_1


__ADS_2