Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
JADI SENIOR


__ADS_3

Part 19 " Jadi Senior "


" Good Morning. " Sapa ku ke beberapa staff yang kukenal.


Cuaca yang cerah membuat suasana hati ku juga sangat cerah, terlebih lagi hubungan ku dengan Morgan yang semakin hari semakin romantis dan serius.


Sampai saat ini, aku masih tidak menyangka bahwa hubungan kami bisa sejauh ini.. padahal awalnya hanya settingan untuk menguntungkan satu sama lain.


Berita tentang kami pun lambat laun menyusut karena berbagai berita viral yang baru, dan membuat ku semakin senang.


Hari ini aku masuk untuk dua jadwal siaran, yaitu siang dan siaran sekilas info.


Seperti biasa aku harus segera memperlajari script yang sudah di siapkan asisten produser.


Namun pemandangan tampak berbedandi sebelah meja ku, beberapa teknisi sedang merakit komputer di atas meja yang baru.


Dan tepatnya, berada di sebelah ku. Aku bertanya tanya dan melihat ke sekeliling, namun hanya senyum godaan yang kudapat.



Aku melepas bleser putih ku dan menggantung nya di kursi kerja ku sambil terus melihat penasaran di meja sebelah ku yang tidak ada jarak.


" Selamat pagi semuanyaa... " Sahut pak produser mengagetkanku.


Ia berjalan dari arah ruangannya di ikuti oleh lelaki aneh yang sempat berbicang dengan ku kemarin sore.


" Saya ada pengumuman.. kita kehadiran junior anchor yang baru. Perkenalkan dirimu. " Kata Pak produser mempersilahkan lelaki itu berkenalan.


Wajah dan perawakan nya yang tampan tentu mencuri perhatian. Bahkan dalam waktu singkat, dia pasti menjadi pembawa berita favorit.


" Selamat pagi, perkenalkan nama saya Steve.. usia 26 tahun. Saya berharap bisa bekerja sama dengan semua senior yang ada disini. " Kata nya memperkenalkan diri dengan singkat.


" Terima kasih Steve, sudah memilih departmen News dan bergabung bersama kami. Nah.. karna Steve masih baru dan belum berpengalaman membawakan berbagai berita di televisi, maka saya ingin kalian bekerja sama membimbing nya. " Kata pak produser lagi, dan lama kelamaan pandangan nya beralih ke arah ku dengan senyuman seperti menyiratkan kode.


" Sesil. Dia akan menjadi junior mu, bimbing Steve dengan baik ya. " Kata pak produser dengan yakin.


Aku pun terkejut dan tidak percaya, masih banyak senior anchor yang bekerja di dunia pertelevisian lebih lama dari aku.. tapi kenapa malah aku yang harus membimbingnya.


" Ehm.. pak.. saya, saya sendiri juga merasa masih harus banyak belajar. Hehe. " Jawab ku dengan senyuman getir.


" Tidak masalah, kita semua disini juga pasti terus belajar. Jangan khawatir. Nah Steve.. ini meja kerja mu. " Sahut pak produser tidak mempedulikan opini ku, dan malah menunjukkan dengan lugas tempat duduk nya yang bersebelahan dengan ku.


" Terima kasih pak. " Sahut nya ceria dan menghampiri meja di sebelahku yang sudah tertata rapi.


Intermezo perkenalan pun selesai dan semua staf kembali pada pekerjaan masing masing.

__ADS_1


Sedangkan aku, merasa begitu canggung.


" Brati.. aku harus memanggil mu kakak.. iya kan? " Katanya tiba tiba memulai pembicaraan sok akrab dengan ku.


" Kakak apanya.. panggil namaku saja. Aku kan cm lebih tua setahun. Tidak perlu terlalu formal. " Jawab ku tidak ingin dipanggil kakak, entah mengapa aku merasa tidak nyaman.


" Ok, Sesil. " Sahutnya begitu lugas.


" Ini.. kamu baca ini. Dulu waktu aku masih baru seperti mu, aku membuat rangkuman tentang etika dasar menjadi seorang anchor. Jika ada yang tidak mengerti, kamu tanyakan saja. " Kata ku sambil memberikan buku tulis ku yang cukup usang dan tebal.. hasil perjuangan ku 5 tahun lalu sebelum di percaya membawakan berita di televisi.


Ia pun mulai membuka buku ku dan aku kembali fokus ke script yang harus kupelajari, karena kurang dari 30 menit lagi.. aku akan siaran.


" Cantik. " Gumam nya mengalihkan fokus ku.


" Apa katamu barusan? " Tanya ku memastikan apa yang kudengar sayu sayu.


" Aku bilang cantik. " Ucapnya sambil mendekat memandang ke kedua mata ku sehingga membuat ku terkejut dan reflek mundur.


" Berani berani nya kamu.. baru hari pertama sudah begini pada seniormu. " Kata ku entah mengapa jadi terpengaruh dan salah tingkah.


" Maksud ku.. tulisan mu yang cantik. Ini. " Jawab Steve sambil menunjukkan beberapa tulisan di buku ku.


Aku pun seperti ingin menghilang seperti ninja karena tidak sanggup menahan rasa malu. Dengan wajah merona, aku membawa script dan bleser ku menghindar daripada semakin malu.


" Aku.. aku siaran dulu. Kamu pelajari sendiri ya. Bye. " Dengan cepat aku bergegas meninggalkannya sendirian. Begitu malu nya aku yang merasa terlalu percaya diri bahkan hanya dengan sepatah kata.. cantik.


10 9 8 7 6 5 4 3 2 1


Setiap kali aku mendengar aba aba dari para staf studio, senyuman dan aura anggun harus nampak dalam diri ku.


Kedua mata ku fokus pada kamera dan script yang terpampang di layar nya, untuk membantu ku selalu mengingat berita apa yang hari ini aku sampaikan.


Saat itu terlihat Steve yang tiba tiba datang ke studio melihat siaran ku secara langsung, aku mencoba fokus tapi pandangan nya tidak beralih dari ku seakan dunia berpusat kepada ku.


Dia berdiri tampan dengan setelan kemeja biru, menyilangkan kedua tangan di dadanya dan terus memandangku.


30 menit berlalu, aku melakukan penutupan untuk berita hari ini.


" Sekian berita terkini untuk malam ini, Saya Sesilia Deana undur diri.. sampai jumpa dan sehat selalu. "


Cut


Siapapun penyiarnya, setiap kali menyelesaikan pekerjaan dengan lancar.. selalu di akhiri dengan tepukan tangan kru.


Aku berjalan melepas mikrofon kecil di pakaianku, dan berjalan keluar dari studio di ikuti oleh Steve.

__ADS_1


" Kenapa kamu ikut ke studio?? " Tanya ku sambil berjalan menuju ruanganku.


" Karena aku ingin melihat mu. " Jawab nya to the point.


" Seharusnya kamu pelajari materi nya dulu sebelum ke studio. " Nasehat ku kepadanya, seperti yang pernah kudapat waktu masih junior.


" Sudah banyak yang kupelajari dari buku catatan mu. " Jawab nya terus mengikuti berjalan di samping ku.


" Apa ada yang ingin kamu tanyakan? " Aku berhenti dan melihatnya memberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan seputar catatan yang kuberikan.


" Ada. " Jawab nya tanpa ragu.


" Apa kamu sudah punya pacar?? " Tanya nya menyimpang dari apa yang aku maksud.


" Kamu ini bicara apa, kenapa tanya hal pribadi." Tegur ku tanpa basa basi.


" Aku penasaran tentang mu. " Kata nya lagi.


" Kamu tidak pernah lihat media sosial akhir akhir ini ya. " Sindir ku, karena aku rasa seharusnya dia tahu hubungan ku dengan Morgan yang sudah go public 2 bulan lalu.


" Aku ingin jawaban langsung dari mu. " Sahut nya dengan ekspresi yang tiba tiba serius membuat ku canggung.


" Sudah, aku sudah punya pacar. Puas kan? Sekarang.. aku tidak menerima pertanyaan pribadi apapun lagi, hanya seputar pekerjaan yang akan aku jawab. " Kata ku menegaskan dan berlalu meninggalkan nya, karena suasana juga mendadak menjadi tidak nyaman.


Setiba nya aku di ruangan, aku memeriksa ponsel ku dan terlihat Morgan mengirimkan beberapa pesan.


M : Sudah selesai siaran nya? Apa besok lusa kamu bisa ambil cuti?


S : Maaf aku baru baca pesan mu, aku baru selesai siaran. Cuti??


M : Hmm.. Aku ingin kamu ikut dengan ku menghadiri acara pernikahan teman ku. Temani aku.


S : Apa harus sampai cuti?


M : Karena tidak mungkin hanya sehari, teman ku ada di New Zealand. Dia juga rekan bisnisku.


S : Oh.. Aku harus bicara dulu pada atasan ku. Aku akan mengabari mu nanti.


Kantor Morgan


" Menyiapkan 2 tiket? " Tanya Adit yang mendapat perintah dari Morgan untuk menyiapkan 2 tiket bussiness class.


" Hmm.. aku akan mengajak Sesil. Mulai sekarang sebisa mungkin, ketika aku harus bepergian jauh.. aku ingin pergi bersamanya. " Kata Morgan terlihat tegas.


Entah mengapa Morgan merasa tidak nyaman jika bepergian sendiri jika mengingat kejadian tidak terduga yang dilakukan Rosa di Makau terhadapnya.

__ADS_1


Ia merasa menjadi lelaki pengecut dan tidak setia yang menduakan kekasihnya, karena itu muncul pemikiran dan keinginan Morgan untuk selalu bersama dengan Sesil kemana pun ia pergi.. Apalagi dalam beberapa acara kehadiran Rosa tidak bisa ia hindari, termasuk undangan pernikahan kolega nya di New Zealand ini.


Meski Morgan juga menyadari akan sulit untuk menyesuaikan waktu, melihat Sesil yang juga bekerja.


__ADS_2