Love Is On Air With Mr.CEO

Love Is On Air With Mr.CEO
MORGAN VS MITZY


__ADS_3

Part 64 " Morgan Vs Mitzy "


Hari Minggu adalah hari yang di nanti nanti kan banyak orang yang lelah bekerja selama seminggu.


Minggu pagi ku malah sebalik nya, aku menemui Steve karena ada pembicaraan penting yang ingin dia sampaikan.


Ketika aku sudah bersiap dan hendak pergi, hanya bu Asih yang sudah beraktifitas di dapur.


" Mereka masih tidur ya? " Tanya ku sambil meneguk segelas susu yang disiapkan bu Asih.


" Iya, mereka masih tidur nyenyak. " Jawab bu Asih.


" Oh.. ya udah, biarin aja mereka menikmati weekend. Kasian Morgan. " Kata ku dan mengambil tas ku.


" Nyonya mau pergi? " Tanya bu Asih yang memperhatikan ku.


" Iya, aku ada janji dengan Steve. Aku berangkat dulu ya. " Pamit ku pada bu Asih dan bergegas pergi.


Steve memberiku alamat tempat dimana ia ingin menemui ku, yaitu di salah satu coffee shop tengah kota yang memakan waktu 2 jam perjalanan dari penthouse Morgan.


Di sepanjang perjalanan, aku yang duduk di bangku belakang terus melihat ke luar jendela dimana masih belum banyak orang memadati jalan.


Beberapa saat kemudian, ketika aku tiba di cafe.. aku sudah melihat Steve yang duduk sambil membaca sebuah buku di sudut cafe.


" Hai.. udah lama nunggu? " Tanya ku sambil menghampiri nya.


" Hai.. engga kok. Baru 10 menit. Duduklah. " Sahut Steve santai.


" Kenapa ngajak ketemu pagi pagi begini? Emang ga bisa dibicarakan lewat telepon? " Sindir ku sambil bercanda padanya.


" Soalnya nanti sore aku ada janji. " Jawab Steve meletakkan buku nya dan fokus bicara padaku di tengah hari liburnya.


" Ehm.. kamu, benar benar tidak mau kembali membangun karir mu sebagai news anchor??? " Tanya Steve mendadak dan to the point membuat ku terdiam.


" Perusahaan membutuhkan news anchor, selama kamu pergi.. beberapa yang kami rekrut untuk menggantikan mu, kurang memuaskan. " Kata Steve mencoba menggiring pembicaraan tentang karir ku yang sudah kutinggalkan 3 tahun lalu.


" Sorry Steve, tapi kurasa.. aku sudah tidak bisa berhadapan dengan pekerjaan di depan layar lagi. " Jawab ku ragu dan takut, namun tidak bisa dipungkiri bahwa aku juga rindu.


" Come on Sesil. Semua sudah clear. Kamu ga perlu takut.. banyak yang mendukung mu. Ini juga sebagian rasa bersalah ku yang tidak bisa membantu mu waktu itu.. pikirkan lah kembali. " Kata Steve mencoba mempengaruhi ku.


Pikiran ku pun jadi cukup terganggu karena perkataan Steve yang kembali memunculkan harapan kepadaku. Membuatku bimbang, membuatku berharap.


Di penthouse Morgan


Morgan dan Mitzy yang barubsaja bangun, keluar dari kamar dengan penampilan yang masih berantakan.


" Selamat pagi Tuan.. selamat pagi nona Mitzyyy... " Sapa bu Asih sangat ramah.


Morgan yang mulai memenuhi kesadaran diri nya, sesekali menengok dan memperhatikan sekeliling yang terasa hening.


" Dimana Sesil? Masih tidur?? " Tanya Morgan to the point.

__ADS_1


" Oh.. nyonya sudah pergi keluar dari tadi pagi. " Jawab Bu Asih sambil mengurusi Mitzy yang lapar.


" Pergi?? Kemana??? " Tanya Morgan semakin penasaran.


" Kata nya menemui seseorang.. kalau tidak salah, namanya Steve. " Jawab bu Asih apa adanya.


Mendengar nama itu, ekspresi Morgan pun tampak kesal.. sangat terlihat bahwa ia masih cemburu dengan kehadiran Steve.


Dengan sigap, ia mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Sesil.. namun tidak mendapat respon.


" Mommy kemana?? " Tanya Mitzy kepada Morgan yang tampak panik.


" Entahlah, daddy masih berusaha menghubungi mommy. " Jawab Morgan sambil terus fokus pada ponsel nya.


" Mommy ninggal daddy ya.. " Perkataan polos Mitzy, membuat Morgan semakin khawatir.


Padahal baru sehari ia di tinggal pergi oleh Sesil.


" Ga sayang. Daddy ga akan membiarkan mommy di rebut orang lain. " Sahut Morgan penuh ambisi hanya karena pertanyaan sepele Mitzy yang tidak memahami situasi.


Malam hari nya, sekitar pukul 19.15 aku sampai di penthouse.


Karena asyik mengobrol dan makan bersama Steve, membuat ku lupa waktu. Terlebih lagi membuat ku berpikir keras tentang tawaran Steve.


Aku membuka pintu masuk dan sangat terkejut ketika melihat Morgan sudah berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan tangam di dada.


Aku sangat mengetahui ekspresi wajah nya yang muram dan menatap ku tajam.


" Halo sayang.. nunggu in mommy ya. " Sahut ku sambil menggendong dan mencium anak lucu ini.


" Daddy juga nunggu mommy... daddy marah. " Kata Mitzy dengan polos nya membuat ku menelan ludah dan takut dengan keseriusan ekspresi Morgan yang dingin.


Aku pun berjalan masuk mencoba menghindari Morgan. Dan dia mulai mengikuti setiap langkah ku.


" Dari mana? Kenapa lama? Ngapain aja? Sama siapa? " Pertanyaan bertubi tubi ia lemparkan kepadaku.


" Aku ketemuan sama Steve, karena ada sesuatu yang harus dibicarakan. Tadi nya aku mau memberitahu mu, tapi aku tidak tega mengganggu tidur mu dan Mitzy. " Jawab ku dengan cepat menjelaskan, agar tidak membuatnya salah paham.


" Bicara apa? Ga bisa lewat telepon? " Tanya Morgan jutek.


" Ehm.. lebih enak kalau dibicarakan langsung. " Kata ku menjawab berusaha tenang.


" Mommy.. main ini.. " Mitzy pun menyela di tengah perbincangan kami, sambil membawa mainan nya.


" Sebentar Mitzy.. daddy masih mau bicara sama mommy. Main sama bu Asih dulu. " Sahut Morgan tidak senang.


" Ga mau.. mau sama mommy.. " Kata Mitzy sambil menarik tangan ku.


" Iya iya.. ayo... " Aku berusaha menggunakan kesempatan ini untuk menghindar, tetapi Morgan menghalangi jalan ku.


" Kita belum selesai bicara... " Kata Morgan yang masih penasaran.

__ADS_1


" Ayo mommy... disana.. " Kata Mitzy sambil menarik ku.


Kedua manusia ini membuat ku begitu bingung dan tidak tahu harus bagaimana.


" Morgan, ngalah dulu ya sama Mitzy.. Nanti kita bicara lagi. " Sahut ku bergegas pergi mengikuti Mitzy dan aku tahu bahwa Morgan semakin kesal kepadaku.


Ia pun pergi masuk ke kamar nya begitu saja.


Hari semakin malam, Mitzy pun bersiap tidur bersama bu Asih.


Sedangkan Morgan terakhir kali terlihat sedang berada di ruang kerja nya.


Aku pun memanfaatkan situasi untuk berdamai, segelas susu hangat kubawa sambil menemui lelaki itu di ruang kerja nya.


Ia terlihat sedang serius sambil melihat laptop kerja nya dengan tenang.


" Morgan.. apa yang sedang kamu lakukan? " Tanya ku berusaha santai namun dia tidak bergeming sedikitpun.


" Aku bawa susu hangat untuk mu. " Kata ku lagi mendekat padanya, namun tetap tidak direspon bahkan melihat ku saja tidak.


" Hmm.. jangan marah terus, aku akan cerita semua padamu. " Kata ku lembut membelai pipinya.


Tampak nya sikap manis ku mulai mempengaruhi nya.


Ia dengan segera menarik tubuhku hingga terduduk di atas pangkuannya.


" Jangan ada yang terlewat sedikit pun. " Kata nya dingin dan memeluk ku erat dalam pangkuannya.


" Kamu tetap saja.. belum punya anak atau sudah punya anak.. selalu seperti ini.. lucu sekali.. " Kata ku yang sangat gemas kepada lelaki 33 tahun ini.


Aku pun mulai menceritakan semua yang aku lakukan dan bicarakan dengan Steve hari ini tanpa terlewat.


Namun respon yang kudapati adalah..


" Kenapa dia ingin merekrutmu lagi?? Itu hanya alasan saja supaya dia bisa dekat dekat dengan mu. " Sahut Morgan yang menyalah artikan maksud baik Steve.


" Bukan Morgan. Kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Tidak akan terjadi hal seperti itu di antara kami. " Jawab ku percaya diri, setelah mengetahui hubungan Steve dan Monica yang sebenarnya siang tadi.


Dimana Steve percaya padaku, dan menceritakan tentang hubungan nya bersama Monica yang terjalin tanpa sepengetahuan Morgan.


" Aku tidak yakin. Steve kan pernah menyukai mu.. seperti nya sampai sekarang masih menyukai mu.. aku tidak suka. " Jawab Morgan cemburu dan membuat ku tertawa.


" Kalau masalah karier mu, aku sangat mendukung mu untuk kembali. Melakukan apapun yang memang kamu suka. Dan kamu tidak perlu takut karena aku sudah membereskan kesalah pahaman publik. Tapi.. aku tidak ingin kamu sering bersama Steve.. atau lelaki lain manapun... aku... "


Sebuah ciuman kuberikan pada bibir hangat nya di tengah perkataan nya yang belum selesai dan membuat ku sangat gemas.


Ia pun tersipu malu karena ciuman mendadak dari ku.


" Kamu.. sangat menyukai ku ya?! " Kata ku menggoda nya.


" Sangat.. sangat suka dan sangat cinta. " Jawab nya tanpa ragu dan membalas ciuman ku dalam sekejap.

__ADS_1


" Malam ini, aku mau tidur di kamar mu. " Bisik Morgan balas menggoda ku yang masih berada dalam pangkuannya.


__ADS_2