
Part 69 " Lelaki ku "
" Kembali jadi News Anchor?? " Sahut kak Shelo terkejut dengan keinginan ku setelah bertemu dan berbincang bersama Steve yang memang memberi ku tawaran untuk kembali ke perusahaan nya.
" Iya kak.. Ini kesempatan untuk aku berkarier lagi. " Jawab ku menceritakan semua nya kepada kakak.
" Kamu yakin?? Kamu siap menghadapi publik lagi? " Tanya kak Shelo khawatir.
" Setelah beberapa saat aku memikirkan nya.. sampai kapan aku harus terus kabur.. semua permasalahan di masa lalu sudah selesai.. dan.. aku ingin bekerja sesuai dengan apa yang menjadi passion ku kak. Tolong, bantu aku membujuk mama.. aku tidak mau kembali ke Kanada. " Ungkap ku memohon pada kak Shelo untuk mensupport ku.
" Hmm.. Kakak sih tidak melarang, karena sejak awal memang kamu sangat menyukai pekerjaan mu.. tapi, kakak cuma khawatir aja.. kejadian yang dulu terulang lagi.. " Jawab kak Shelo ragu.
" Jangan khawatir kak.. aku tidak akan membiarkan masa lalu terjadi kembali.. semua akan baik baik saja.. Pleeaaaseee.... " Kata ku terus mencoba memelas kepada kak Shelo.
Setelah perbincangan panjang kami, kak Shelo pun akhir nya menganggukkan kepala dan mencoba sedikit demi sedikit meyakinkan mama.
Kak Shelo sekuat tenaga menjelaskan dan memberi pengertian kepada mama, untuk sedikit memberiku ruang gerak.
Aku bukan lagi gadis remaja yang harus di kekang dan di atur, meski aku tahu bahwa semua itu beliau lakukan karena begitu menyayangi ku.
Seminggu setelah mama mencerna semua penjelasan kak Shelo dan aku, akhirnya mama sedikit melunak dan memberi ku sedikit kebebasan untuk kembali berkarier.
Namun bukan berarti mama memberiku restu untuk bersama Morgan.
Tepat di hari Senin pagi, aku sudah bersiap dengan pakaian formal ku untuk melakukan interview di kantor Steve.
Aku begitu bersemangat, walaupun semua ini berkat kesempatan yang Steve berikan.. bukan berarti aku tidak mengikuti semua prosedur layaknya karyawan baru.
Beberapa pasang mata para pegawai yang seangkatan dengan ku, tentu sangat terkejut melihat aku kembali menginjakkan kaki di perusahaan.
" Sesil... " Panggil Nindi yang begitu senang menyambut ku kembali.
Ia berlari menghampiri ku dan memeluk ku bahkan sebelum aku sampai ke ruangan interview.
" Nindi.. Kangen banget. " Sahut ku membalas pelukan Nindi.
" Akhirnya kamu kembali.... terharu banget.. " Kata Nindi, sahabat baik ku yang mengetahui segala kisah hidup ku.
" Aku juga ga nyangka.. akan dapat kesempatan lagi.. Aku benar benar merindukan pekerjaan ini. " Gumam ku bahagia namun juga gugup menghadapi interview di hadapan beberapa pejabat kantor dan juga Steve.
" Good luck Sesil. " Kata Nindi memberiku semangat.
__ADS_1
Langkah kaki pun berlanjut memasuki ruangan interview dan membuat ku bernostalgia, ketika pertama kali aku mendapatkan pekerjaan sebagai asisten anchor.
Ruangan yang sama dan dengan suasana menegangkan yang sama pula.
Aku menjalani interview selama kurang lebih 1 jam 30 menit dengan berbagai pertanyaan serta ulasan yang tidak asing bagi ku.
Walaupun Steve bilang bahwa interview ini hanya sebagai formalitas, namun aku tetap memberikan jawaban terbaik ku.
" Selamat bergabung kembali, Sesilia. " Kata General Manager beberapa saat setelah interview sambil memberikan nametag yang sudah dipersiapkan.
Entah mengapa, air mata ku mulai menggenang dan tidak bisa kutahan lagi.
Perasaan yang begitu campur aduk dan membuatku terharu.
" Terima kasih pak. " Kata ku bahagia.
" Karena kamu tidak perlu training, jadi untuk jadwal siaran.. akan saya kirim via email. Apakah kamu siap?? " Tanya pak General Manager yang tanpa ragu langsung memberiku jadwal untuk siaran.
" Tentu saja pak. Saya.. Siap.. Terimakasih. " Jawab ku tanpa ragu.
Setelah keluar dari ruangan interview, aku belum bisa berbicara lebih banyak dan menemui Nindi.. karena ia sedang melanjutkan pekerjaan.
Aku berjalan ke loby dan hendak meninggalkan kantor, Aku memasukkan name tag ku ke dalam tas.
Lelaki penuh kasih sayang yang begitu aku rindukan..
Senyuman nya..
Aroma tubuh nya..
Pelukan hangat nya..
Dan suara berat nya..
Aku begitu merindukan lelaki ini..
Karena rintangan yang sedang kami jalani, membuat beberapa minggu berlalu tanpa pertemuan dan komunikasi.
Melihat dia berdiri dengan tampan nya di hadapan ku, membuat ku takut bahwa semua ini hanya halusinasi belaka.
__ADS_1
" Congrats.. my favorit news Anchor. "
Suara nya yang terdengar jelas di telinga ku, membuatku yakin bahwa Morgan.. memang sedang berada di hadapan ku saat ini.
Langkah ku pun semakin cepat, dan aku berlari ke pelukan lelaki itu yang menyambut ku dengan kedua tangan nya.
" Morgan.. " Sahut ku begitu terharu karena kebahagiaan ku hari ini terasa begitu lengkap.
Aku mendapatkan ijin untuk tidak kembali ke Kanada..
Aku bisa kembali melakukan pekerjaan yang aku suka..
Dan.. aku bisa kembali memeluk lelaki ini..
" I miss you so much. " Bisik Morgan yang masih memeluk ku sambil membawa bunga.
" Aku juga Morgan. " Gumam ku yang begitu menikmati kenyamanan pelukan Morgan.
Kemudian sejenak kami melepas pelukan dan saling menatap, Morgan memberikan bunga yang sedari tadi dia bawa kepadaku.
" Thankyou. " Sahut ku senang menerima perlakuan romantis Morgan.
" Ayo, selagi kamu di luar.. kita habiskan waktu bersama." Kata Morgan sambil menggandeng tangan ku beranjak dari tempat itu.
" Kamu hari ini tidak bekerja?? " Tanya ku yang sadar akan sesuatu.
" Ini adalah waktu yang langka setelah berminggu minggu terpisah dari mu.. bahkan tidak berkomunikasi.. Mana mungkin aku sia siakan. " Jawab Morgan sambil membawa ku masuk ke dalam mobil nya.
" Hmm.. Maaf ya Morgan, semua jadi sulit karena keluarga ku. " Kata ku yang mulai lesu ketika menghadapi kenyataan.
" Keluarga mu tidak salah.. Mereka sangat menyayangi mu.. Jadi biarkan aku berusaha meyakinkan mereka.. Tunggu aku. " Sahut Morgan dengan penuh keyakinan sambil menatap ku.
" Lalu.. beberapa hari yang lalu, Mitzy ikut bersama Monica menemui ku.. apa dia baik baik saja? " Tanya ku teringat Mitzy.
" Hmm.. Dia jadi kurang ceria semenjak berpisah dengan mu.. Namun aku selalu berusaha memberi nya harapan, bahwa aku akan membawa mu pulang kembali.. " Jawab Morgan sambil menyentuh pipi ku.
" Aku akan membawa mu pulang sebagai istri ku dan ibu yang sesungguhnya untuk Mitzy.. " Lanjut Morgan dengan tatapan yang begitu tulus.
Kedua mata Morgan seakan penuh harapan dan semakin meyakinkan ku untuk melanjutkan perjuangan kisah cinta kami.
Ia perlahan mendekat kan wajah nya, dan dengan lembut memberi ciuman hangat di bibir ku.
__ADS_1
Debaran dalam jantung ku kembali tak terkendali, selalu merasakan nya setiap berada di dekat Morgan.. jatuh cinta pada nya setiap saat..